
Selesai liburan di Cambridge - London, Bay dan Nagin memutuskan untuk pindah negara.
Paris adalah pilihan kedua mereka untuk berbulan madu. Paris, dengan julukan kota paling romantis sedunia itu, membuat pasangan ini semakin menggebu untuk mengunjungi kota itu. Walaupun sebenarnya, Bay sudah sering berkunjung ke kota tersebut.
Dari London, mereka menaiki pesawat Air France, Armada Air France berjenis Air Bus A330, pesawat penumpang bertaraf internasional itu. Lagi - lagi kelas bisnis menjadi pilihan utama Bay dan Nagin.
Dari London ke Perancis memakan waktu 1 jam 21 menit. Tak terasa, waktu pun tiba. Pesawat itu pun landing di bandara Paris Charles De Gaulle.
Suasana di Paris, banyak yang hiruk pikuk di sekitaran kotanya. Banyak pasangan yang mereka temui. Ada yang berbulan madu, ada yang sedang merayakan anniversary pernikahan, ada yang hanya jalan - jalan sendirian, bersama keluarga dan lain sebagainya.
Sebuah taxi Easy Go Shuttle, membawa mereka ke penginapan termegah dan termahal di kota itu.
Hotel berbintang lima, dengan bangunan yang sangat megah dan mewah, Four Seasons Hotel George V, Paris, disanalah mereka akan menginap untuk beberapa hari.
Paris juga dijuluki tanah seni oleh para seniman. Di Paris sendiri, banyak ditemukan bangunan yang mewah dan cerita sejarah yang kuno.
Berkunjung ke Paris, membuat seseorang itu diperlakukan bak seorang raja dan ratu. Maka dari itu, Bay dan Nagin memilih kota Paris menjadi tempat berbulan madu mereka yang kedua.
Tidak lengkap rasanya jika ke Paris tidak berkunjung ke Menara Eiffel. Setelah mereka istirahat di hotel, mereka melanjutkan perjalanan ke Menara Eiffel. Lagi - lagi , Nagin sangat terpukau akan keindahan kota Paris itu.
Bay melihat jika Nagin, istrinya itu sangat bahagia sekali.
" Kamu suka, sayang?"
Nagin menganggukkan kepalanya, dan bersandar dibahu suaminya itu.
" Terima kasih ya, mas. Kamu uda baik banget ngajak saya ke sini. Ini seperti sebuah mimpi, mas. Dulu tau kota Paris itu hanya dari zaman sekolah. Tak akan pernah terbayangkan bisa ke kota ini."
" Sama - sama, sayang. Semoga kamu suka ya?"
" Suka sekali, mas. Tapi??"
" Tapi apa?"
" Laper....!" Wajah Nagin berubah menjadi manyun.
" Hahaha, ya da, sekarang kita cari makan ya..!"
Nagin pun tersenyum dan memegang tangan suaminya itu. Nagin tak pernah melepaskan tangan Bay, ia selalu saja memegang tangan suaminya itu.
Mereka kembali menyusuri jalanan kota itu. Tepat dekat dengan Menara Eiffel, mereka menemukan sebuah restaurant yang sangat terkenal itu.
__ADS_1
Le Jule Verne, restaurant milik Chef Alain Ducase, dimana makanannya sangat terkenal dan enak sekali. Banyak para pengunjung yang suka dengan makanannya. Tidak hanya wisatawan domestik saja ada disana, wisatawan mancanegara pun banyak juga berkunjung ke restaurant itu.
Pasangan suami istri itu memesan makanan terfavorite di tempat itu. Croque Monsieur terdiri dari ikan tuna, kacang panjang, irisan tomat, telur rebus, potongan kentang dan buah zaitun. Makanan tersebut menjadi pilihan menu Nagin. Bagi Nagin, itu masih makanan yang bisa ia makan, dan pas dilidahnya.
Sedangkan Bay, memilih menu Escargot. Daging siput lembut yang di bumbuhi dengan bawang putih, seledri dan mentega. Tak lupa juga minuman yang spesial dari restaurant tersebut.
Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Nagin sudah kelelahan. Tapi Bay, suaminya itu tetap memberikan semangat dan menghibur agar Nagin tidak menyerah.
Tibalah mereka di lokasi Menara Eiffel. Lagi - lagi, Bay tak lupa membidik kameranya. Ia mengambil beberapa fhoto Nagin. Paris memang sangat mampu menyajikan pemandangan yang sangat cocok untuk para pasangan yang sedang berbulan madu, seperti pasangan Bay dan Nagin.
Mereka seperti baru saja menikah, tangan Bay selalu memegang tangan Nagin, terkadang sebuah pelukan selalu dilakukannya. Begitu juga ciuman dikening istrinya itu selalu mendarat dengan sempurna. Bay dan Nagin sangat bahagia sekali dengan momen yang sangat indah itu. Sehingga membuat Author menjadi cemburu ðŸ˜
Malam hari pun tiba, mereka masih saja berjalan menyusuri kota paling romantis sedunia itu. Menikmati makan malam di Paris, adalah hal paling romantis yang bisa dilakukan bagi para pasangan.
Dipinggiran jalan kota itu, terdapat tempat makan malam. Disana tersedia meja kecil, hanya ada 2 kursi. Ya, tempat itu hanya di kunjungi oleh para pasangan saja. Lengkap dengan lilin - lilin kecil, dan diiringi musik alunan biola, semakin membawa suasana semakin romantis.
Disepanjang jalan mereka melihat banyak para pasangan yang selalu berjalan berdua. Bercanda dan tertawa, mereka semua pun merasakan hal yang sama, yaitu bahagia dengan pasangan mereka masing - masing.
Di tempat tersebut ada juga pasangan yang berdansa. Mereka mengikuti alunan musik biola itu. Bay mengajak Nagin untuk mencobanya. Nagin hanya bisa tertawa dan malu.
" Apakah dia istri mu?" Tanya seorang turis pria dari negara Italia.
" Sungguh sangat cantik dan menawan, wajahnya seperti malaikat. Dia benar - benar wanita idaman. Kamu sangat beruntung sekali mempunyai istri seperti dia." Ucap Turis asing itu.
" Terimakasih untuk pujiannya. Salam kenal untuk mu." Balas Bay.
Nagin hanya bisa tersenyum dan malu - malu. Dia selalu di lihat lelaki para turis asing. Wajah Bay pun langsung berubah, cemburu pastinya.
" Kita pindah tempat ya, sayang..!" Ucap Bay pada Nagin.
" Terserah mas saja." Balas Nagin sambil memberikan senyum manisnya.
Nagin tahu kenapa suaminya itu minta pindah lokasi. Nagin hanya tersenyum dan memegang pinggang suaminya itu. Dekapan Nagin tak pernah Bay lepaskan. Mereka selalu berpegangan tangan, seperti terikat dengan lem, tak terpisahkan.
Selain menara Eiffel, mereka juga mengunjungi Jembatan Harapan. Jembatan Harapan adalah termasuk kota ter romantis sedunia. Konon katanya, kalau kita meminta sesuatu di atas jembatan itu dan mengunci harapan kita itu dengan sebuah ciuman akan mampu menjadi kenyataan.
Percaya tidak percaya, tapi Bay dan Nagin melakukannya, Bay dan Nagin meminta sepulangnya dari honeymoon, mereka segera mendapatkan anak.
" Semoga saja harapan kita terkabul ya, sayang...!" Ucap Bay pada Nagin.
" Ia, mas. Saya yakin kok, pasti Tuhan akan berikan apa yang kita minta." Balas Nagin.
__ADS_1
Mereka juga mengunjungi Arc De Triomphe dan Museum Louvre Paris. Semua tempat terindah dan bersejarah, mereka kunjungi.
Sudah pukul 23.30 malam waktu setempat. Nagin sudah merasa kelelahan. Ia tak sanggup lagi untuk berjalan.
" Capek ya?" Tanya Bay sambil merapikan rambut Nagin yang terkibas angin malam itu.
" Ia, mas. Kaki saya naik betis...!" Wajah Nagin sedikit sedih dan cemberut.
" Aduhh kasihan banget, jadi gimana ? kita pulang?"
Nagin menganggukan kepalanya.
" Ya da, kita pulang. Saya pesan taxi dulu ya...!"
" Ia, mas Bay."
Bay pun memesan taxi dan mereka kembali ke hotel.
Sampailah mereka di lobi hotel itu. Nagin benar - benar tak sanggup jalan lagi.
" Massss....! kaki saya sakit."
" Mau di gendong?"
" Ga ah, malu."
" Jadi, gimana dong ?"
Wajah Nagin kembali cemberut.
" Mau ditinggal disini?" Tanya Bay sambil tersenyum melihat istrinya itu.
" Hahaha, ga lah...!"
" Ya da, jalan pelan - pelan aja, ya...!"
" Ehhmm, ia deh...!"
Tingkah Nagin sesekali membuat Bay merasa jengkel terkadang merasa lucu. Perbedaan usia yang terpaut jauh membuat Bay kadang harus bisa mengalah kepada Nagin.
Setelah menikah, sikap Nagin terkadang kelihatan manja pada suaminya itu. Bay memaklumi hal itu, dikarenakan Nagin telah lama ditinggal ayah dan ibunya.
__ADS_1