
" Selamat pagi, Gin?" Sapa Andi teman kerja Nagin.
" Selamat pagi juga, Ndi..." Jawab Nagin sambil memberikan senyuman manisnya.
" Gin, ntar pulang kerja, mau ga ikutan nonton bareng anak - anak. Filmnya seru lho ? "
( anak - anak itu karyawan resto. red )
" Eehhmmm lihat nanti ya, Ndi. Soalnya hari ini saya ada kerjaan."
Nagin selalu saja menolak jika diajak pergi oleh teman - temannya, ia takut uangnya habis. Karena ia harus bisa berhemat agar ia bisa membayar kontrakannya.
Nagin sudah tidak lagi menjadi karyawan training. Sehingga jam kerjanya tidak begitu panjang. Hari ini dia shif pagi. Itu artinya, Nagin pulang kerja jam 17.00 sore.
Siang itu cuaca sangat panas. Tiba waktunya jam makan siang. Bay yang tidak biasanya makan di resto itu, ia pun semakin rajin makan di sana. Sehingga semua pegawai tahu betul siapa pak Bay. Tapi tidak dengan Nagin, mereka tidak pernah bertemu. Belum takdir kali ya hehehehe....
Selesai makan, Bay memanggil seorang pelayan resto itu. Ia memberikan sebuah surat. Surat itu ditujukan buat Nagin. Isi suratnya ...
..." Nanti saya tunggu ditaman cendrawasih jam 17.00. Terimakasih"...
Ternyata Bay tidak bisa move on dari Nagin. Ia sudah mencobanya melupakan Nagin. Semakin ingin melupakan, semakin ada selalu bayang - bayang Nagin. Ia ga bisa menahan rindunya. Sebelum menikah, ingin rasanya ia bisa menemui Nagin.
Walaupun ia bersama Raisa, tapi hatinya selalu mengingat Nagin. Ia ingin sekali berjumpa dengan Nagin. Ia ingin memberitahukan rencana baiknya, yaitu ingin menikah dengan Raisa.
Berat memang ingin mengatakannya tapi ini mungkin jalan yang terbaik. Agar semua tidak menjadi salah paham. Karena ia merasa bersalah, pernah berjanji kepada asisten rumah tangganya itu akan menikahinya.
" Gin, ini ada surat buat kamu...!"
" Dari siapa, Mir?"
" Saya ndak tau, Gin."
Nagin membaca isi surat itu. Taman itu. Ya, taman Cendrawasih adalah taman dimana ia dan Bay selalu menghabiskan waktu disana.
Sepulang kerja ia pun menuju taman itu. Sampailah ia ditaman itu. Tidak ada siapa - siapa pikirnya.
..." Apa saya nunggu didalam aja ya?"...
...Gumam Nagin...
Nagin duduk disebuah kursi taman yang biasa ia dan Bay duduk. Sudah ada 10 menit ia menunggu.
Yang ditunggu - tunggu pun tak juga tiba. Ternyata Bay sudah lama berada ditaman itu, tapi ia tidak ada nyali untuk bertemu dengan Nagin. Ia takut kalau Nagin masih marah padanya.
__ADS_1
Nagin pun beranjak pergi. Ia sangat kecewa sekali. Ia pun keluar dari taman itu.
Ketika hendak menyebrang, ada sebuah mobil yang melaju kencang. Nagin tak melihat mobil itu. Dan akhirnya....
..." Bbbbrraaaaakkkkkkk..."...
...Nagin pun terpental....
Bay pun melihat kejadian itu....
" Naggiiiiinnnnnn...????? Bay pun langsung lari.
Bay dan orang - orang sekitar langsung menolong Nagin. Bay pun membawa Nagin ke rumah sakit.
Bay merasa bersalah. Coba kalau ia menemui Nagin, pasti ini tidak akan terjadi atau tidak menyuruh Nagin untuk datang ketaman itu.
Dokter pun memeriksa Nagin. Bay pun sangat khawatir dengan keadaan Nagin. Nagin belum juga sadarkan diri.
Betapa malangnya nasib Nagin, sudah dikecewain, kecelakaan pulak.
Akhirnya Nagin sadarkan diri. Ia tak tau apa yang terjadi. Dan dokter pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Nagin mencoba menggerakkan kaki sebelah kanannya, tapi sama sekali tak bisa. Ia mencobanya kembali, hasilnya sama saja.
" Dokter..??? kaki saya???dokter, kaki saya kenapa ga bisa digerakkan dokter??? dokterrrrrrrrrr...??? kaki saya kenapa dokter ????jawab dokter...jawab dokter.." Nagin pun menangis.
" Patah??? tidak dok..tidak dokterrrrrrr..." Nagin kembali menangis
" Sabar ya, Nagin. Kamu pasti bisa jalan lagi. Kamu tenang ya?" Hibur dokter itu.
Bay menunggu diluar, ia tidak bisa berkata - kata. Ia sangat menyesali perbuatannya. Bagaimana mungkin ini semua terjadi. Kesedihan pun terlihat jelas diwajah pemuda tampan itu.
Atasan Nagin dan teman - temannya pun mengetahui kalau Nagin kecelakaan. Semua turut bersedih. Terlebih pak Kevin, ia sangat menyayangkan kejadian ini.
2 Hari lagi Bay dan Raisa akan menikah. Mau tidak mau, Bay menemui Nagin. Ia pun datang kerumah sakit.
Bay masuk ke ruangan itu. Ia melihat Nagin tertidur pulas. Ia duduk disampingnya.
..." Nagin, maafkan mas ya? ini salah mas, Gin. Kamu lekas sembuh ya?mas pamit....!"...
Bay pergi. Sedih rasanya melihat keadaan Nagin sekarang. Ia harus mengalami tulang kaki yang patah. Disatu sisi ia kan menikah dengan Raisa. Ia tidak bisa sepenuhnya melihat mantan pembantunya itu.
Nagin bangun. Seorang perawat sudah berada disampingnya.
__ADS_1
" Ehh, mbak Nagin sudah bangun..?"
" Suster ??"
" Saya akan periksa tekanan darah mbak Nagin ya?"
Nagin hanya menganggukan kepala.
Dokter menjelaskan bahwa besok Nagin akan menjalani operasi yang kedua kalinya. Ya, dengan waktu yang sama Bay dan Raisa pun melangsungkan pernikahan mereka.
Hari yang ditunggu pun tiba. Pukul 09.00 pagi Nagin akan dioperasi. Dan ia pun sudah bersiap - siap akan memasuki ruang kamar bedah.
" Nagin, kamu jangan takut ya? semua akan baik - baik saja.." Ucap dokter yang menangani Nagin.
" Ia dokter..." Jawab Nagin.
Air mata itu pun mengalir mengucur deras. Bagaimana tidak sedih, ia harus menjalani ini semua seorang diri.
Nagin benar - benar sedih, ia harus bisa kuat menerima kenyataan ini. Kabar Nagin di operasi pun terdengar ke pak Kevin. Ia pun datang menemui Nagin.
Ya, sebagai atasan Nagin, ia pun ingin bertanggung jawab kepada bawahannya.
Suster membawa Nagin keruang kamar bedah, dengan mendorong Nagin menggunakan rostur ( kursi roda ). Nagin sudah lengkap dengan pakaian operasinya.
Ketika sampai di pintu kamar bedah, pak Kevin memanggilnya...
" Nagin......!" Nagin pun menoleh kearah mana datangnya suara.
" Pak Kevin???"
Tampak kesedihan yang sangat mendalam di wajah bosnya itu.
" Kamu pasti kuat, jangan takut ya? kamu pasti lekas sembuh, semangat Nagin..!"
" Ia pak, makasih ya pak? doakan Nagin ya pak?"
" Pasti, Nagin." Mata pak Kevin pun sudah mulai berkaca - kaca melihat keadaan Nagin.
Begitu juga dengan Nagin, ia pun menangis.
Nagin masuk ke kamar bedah. Disana sudah ada beberapa dokter yang menangani Nagin. Ini baru pertama kalinya, ia melihat keadaan kamar bedah. Banyak alat - alat operasi, lampu yang besar dan semua team medis yang menangani Nagin sudah sangat steril pakaiannya .
" Nagin ?? kamu siap kan? kamu jangan takut ya?" Ucap dokter Teguh dokter spesialis bedah tulang yang menangani Nagin.
__ADS_1
Nagin pun di papah untuk naik ke bed bedah itu. Ia merasa kesakitan. Semua team medis itu pun akan bersiap - siap untuk melakukan tindakan operasi.
Nagin hanya bisa pasrah pada keadaan. Ia mengingat ayah dan ibunya. Air mata itu pun kembali mengalir. Tidak bisa ia sesali semua yang terjadi. Ini semua sudah kehendak yang di atas.