Cinta Nagin

Cinta Nagin
Bab 63 " Negeri Singa "


__ADS_3

Hari terakhir mereka di kota Paris. Nagin belum bisa melupakan kota tersebut. Ia teramat sedih harus meninggalkan kota itu.


Kota Paris, banyak meninggalkan kenangan, kota yang sangat indah, Kota paling romantis sedunia. Bahagia rasanya ia dan suaminya berada di kota itu.


Hari ini, Bay menunda kepulangan mereka ke Jakarta. Bay dan Nagin memutuskan ke Singapore, kerumah kakek dan neneknya. Bay pun menghubungi Lisa, kalau kepulangan mereka hari ini ditunda untuk beberapa hari.


Dari Paris ke Singapore memakan waktu 12 jam 25 menit. Tibalah mereka di kota negeri singa itu.


Sebuah taxi pun meluncur ke kawasan perumahan kakek dan nenek Bay.


Taxi itu pun tiba di depan rumah kakek nenek Bay, sebuah perumahan elite Orchard River Valley ,kawasan perumahan yang sangat luas dan elite di kota tersebut.


Rumah mewah dengan cat warna ivory, turquoise dan putih itu tampak megah dan mewah. Dirumah itulah kakek dan nenek Bay tinggal.


Kakek dan nenek Bay pun menyambut kedatangan cucunya itu. Tak henti - hentinya, nenek Bay memeluk Bay dan Nagin.


" Nenek pikir, kalian tidak akan mampir kesini...! nenek sudah rindu sekali pada kalian berdua."


" Nek, Nagin sudah ingatkan saya agar mampir dirumah nenek."


" Oh ia, kalian beres - beres aja dulu, habis itu kita makan malam..!" Pinta nenek Bay.


" Ya, nek..!" Balas Bay.


Setelah membersihkan tubuh dan selesai beberes, mereka pun makan malam.


" Nagin, apakah kamu suka dengan honeymoon nya?" Tanya nenek Bay.


" Ya, nek. Saya sangat suka sekali."


" Baguslah. Semoga segera hamil ya hehehe..! Ucap nenek Bay.


Bay dan Nagin hanya bisa saling menatap dan tersenyum.


" Doakan aja ya, nek." Balas Bay.


Nagin merasa lelah. Ia terlebih dahulu untuk istirahat. Bay dan kakek neneknya sedang berbincang - bincang diruang tamu.


" Bay, gimana bulan madu mu? apakah lancar - lancar saja?" Tanya kakeknya.


" Ia, kek. Semuanya lancar - lancar saja, kek."


" Ketika di London atau Paris, apakah Nagin sakit?" Tanya nenek Bay.


" Ya, nek. Hanya kena flu ringan saja, nek. Biasalah pergantian cuaca, nek."


" Perusahaan mu, gimana? apakah ada masalah?" Tanya kakek Bay.


" Untuk sejauh ini tidak ada masalah, kek. Andre selalu memberitahukan keadaan perusahaan."


" Oh, syukurlah..!"


Tak terasa, waktu malam pun semakin larut. Bay pun masuk ke kamar yang begitu luas dan segera merebahkan dirinya di kasur yang amat empuk dan besar itu.


Ia melihat Nagin sudah tertidur pulas. Ia mencium kening istrinya itu. Dan Nagin pun terbangun kerena ciuman suaminya itu.


" Mas Bay ?"


" Kok bangun? terganggu ya? maaf ya, sayang..!"


" Ga papa kok, mas. Belum ngantuk ya?"


" Belum. Badannya pegel semua. Capek." Ucap Bay dengan sedikit sedih dan merintih kesakitan.


" Ya da, sini saya urut. Siapa tahu capeknya bisa ilang."


" Ia sayang, mau dong. Urutin, sakit banget nih..!"


Nagin pun memulai mengurut badan suaminya itu. Bay merintih kesakitan.


" Gin, capek ya?"


" Ga mas..!"

__ADS_1


" Maaf ya, saya mengganggu tidur kamu."


" Hehehe, biasa aja mas."


" Sayang....!"


" Ya."


" Mau ga diurutin?"


" Ga ah. Geli, tauk."


" Hahahaha.


Bay langsung memutar tubuhnya dan menatap istrinya itu. Sebuah ciuman berhasil mendarat di bibir istrinya itu.


" Mas Bay ada - ada aja, didengar kakek nenek, lho..!"


" Ga sayang, kamar ini terlalu besar. Mereka tidak akan dengar."


Bay pun mulai melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.


" Katanya capek, badannya sakit. Gimana sih mas?"


"Kalau untuk yang satu ini ga capek, sayang. Biar pulang - pulang kamu lekas hamil." Ucap Bay sambil tersenyum.


Nagin menepuk pundak suaminya itu. Bay hanya bisa tersenyum.


Pagi hari dikota Singapore. Nagin sudah terlebih dahulu bangun. Ia langsung menemui nenek didapur.


Kalau untuk urusan perut, nenek Bay tidak mau menyerahkan sepenuhnya kepada asisten rumah tangganya.


Nenek Bay lah yang selalu turun tangan untuk urusan sejengkal itu. Ia takut kalau makanan yang dimasak itu tidak steril.


Apalagi, karena mereka sudah tua, mau tidak mau, makanannya pun harus lebih sehat dan bergizi.


" Kamu sudah bangun ya, nak?"


" Sudah, nek. Ada yang bisa saya bantu, nek?"


" Maksudnya, nek?"


" Ga papa, sayang. Nenek senang biar kamu cepat hamil, hehehe...!''


Para asisten rumah tangga nenek Bay pun ikut tersenyum melihat leher sebelah kanan Nagin.


" Mbak Nagin, enak banget ya punya suami tampannya mirip babang Min Hoo, heheheh...!" Ucap Irma, asisten rumah tangga nenek Bay.


" Babang Min Hoo? itu siapa? saya ga tahu." Balas Nagin .


" Artis Korea lho, mbak. Itu bekas leher mbak, keren bingit heheheh..!".


" Kenapa dengan leher saya ?"


" Ada bekas cupangnya, mbak, hehehehe...! Tambah Tari menimpali.


Langsung saja wajah cantik Nagin berubah, ia malu dan berlari kekamar.


Ia langsung menarik selimut suaminya itu.


" Mas Bay jahat." Nagin mencubit bahu suaminya itu.


" Aduhh sakit....! Kamu kenapa? pagi - pagi uda cemberut aja ?main cubit lagi."


"Lihat ini, mas?" Sambil menunjuk lehernya.


" Mana sih?" Bay melihat leher Nagin. Ia pun langsung tertawa terbahak - bahak.


" Pake ketawa lagi. Ahh mas Bay payah."


" Maaf sayang, ga sengaja."


" Jadi ini gimana dong?malu nanti dilihat kakek, mas..!"

__ADS_1


" Rambut kamu digerai aja, biar ga ada yang lihat."


" Ga ada yang lihat gimana? nenek dan para asisten rumah tangganya uda pada lihat, mas. "


" Wkwkwkwkwk.."


Wajah Nagin langsung berubah merah, cemberut, manyun, marah, sedih semua campur aduk.


" Malu saya, mas."


" Kamu mau sarapan dikamar aja? biar saya yang ambilin."


Bay langsung keluar kamar dan pergi menuju dapur. Disana para asisten rumah tangga neneknya bekerja sambil menggibah.


" Kerja..kerja..kerja..pada gibah aja kerjanya."


" Ehh mas Lee Min Hoo tampan. Ada yang bisa saya bantu, mas?" Tanya Irma.


" Lee Min Hoo? sejak kapan nama saya, kamu ganti?"


" Sejak tadi, mas. Hehehe..!"


" Ada - ada aja kamu."


Bay mengambil sarapan untuk mereka berdua.


" Bay, Nagin mana?" Tanya neneknya.


" Tiba - tiba aja kepalanya pusing, nek."


" Mau sarapan dikamar?" Tanya nenek lagi.


Bay menganggukkan kepalanya. Nenek Bay hanya bisa tersenyum. Bay membawa sarapan itu kedalam kamar.


Disana Nagin mengusap - usap kissmark yang ada dilehernya itu. Bay melihatnya hanya bisa senyam senyum.


" Sayang, sarapan dulu."


" Ini gimana toh mas? malu saya?"


" Ia nanti saya bantu ilanginnya, sekarang kita sarapan dulu ya..! Uda jangan jutek gitu wajahnya, nanti mas tambahi, lho. Mau??"


" Mas Bay, ahh....!"


Bay kembali tersenyum melihat wajah istrinya itu. Mereka pun sarapan. Roti dan susu itulah menu sarapan mereka pagi ini.


" Saya ndak mau keluar dari kamar, mas."


" Kenapa ? malu ?" Lagi - lagi Bay tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


" Selesai sarapan, mas bantuin ilangin ini." Sambil menunjuk lehernya.


" Ia, Nagin bawel."


..." Gimana ilanginnya? saya juga ga tahu, sayang..!"...


...Gumam Bay...


Selesai olah raga, kakek Bay pun langsung menuju meja makan. Ia melihat disana tidak ada Bay dan Nagin.


" Bu, Bay dan Nagin kemana? kok ga ada kelihatan?" Tanya kakek Bay.


" Mereka masih dikamar, yah."


" Kenapa masih dikamar? apa mereka tidak sarapan?"


" Sudah. Mereka sarapannya dikamar. Kepala Nagin agak sedikit pusing."


" Pusing? jangan - jangan, Nagin ????"


" Jangan - jangan apa? mulai kepo yah, ayah?"


" Atau panggil aja dokter biar Nagin diperiksa..!"

__ADS_1


" Nanti juga sembuh kok, yah."


Kakek dan nenek Bay pun sarapan. Hanya mereka berdua saja sarapan dimeja makan pagi ini. Dikamar Nagin sibuk sekali menghapus bekas kissmarknya. Ia malu kalau dilihat kakek Bay.


__ADS_2