
Pukul 05.00 pagi Bay dan Nagin pun pergi ke bandara, mereka diantar oleh pak Jo.
Senyum sumringah terpancar dari wajah Nagin.Ya, seumur hidupnya, baru kali ini, ia bisa pergi dengan menaiki pesawat, dan itupun karena pergi honeymoon keluar negeri. Sungguh ini adalah seperti sebuah mimpi. Mimpi yang menjadi kenyataan bagi Nagin.
Bay melihat wajah istrinya itu. Senyum khas seorang Bay Hardinata pun terlihat saat menatap wajah cantik istrinya itu. Akhirnya Bay bisa memberikan kebahagiaan buat istrinya itu.
Pukul 06.00 pagi mereka tiba di bandara. Bay dan Nagin pun segera melakukan check in. Tak berapa lama, mereka pun menaiki pesawat tujuan London. Kelas bisnis menjadi pilihan utama pasangan suami istri itu.
Dari Jakarta ke London memerlukan waktu 16 jam 40 menit. Nagin sudah mulai tak tenang. Wajah cantik itu berubah menjadi pucat pasi. Perasaan dag dig dug meliputi seluruh hatinya.
" Nagin, kamu baik - baik sajakan?"
" Ia mas, saya baik - baik aja kok." Seketika itu, wajah Nagin pun sudah mulai berubah.
" Wajah kamu pucat sekali, sayang..!"
" Oh ya? saya? saya takut, mas."
"Hehehehe, ga papa, Gin. Kamu ga usah takut ya? semua akan baik - baik aja kok. Tenang kan hati dan pikiran kamu ya...!"
" Ia, mas." Nagin mencoba bersikap tenang. Ya, maklum saja ini kali pertama ia menaiki burung besi itu.
Pesawat itu pun lepas landas dan perasaan Nagin pun semakin kacau balau. Jantung terasa mau copot. Bay pun menenangkan istrinya itu. Ketika pesawat sudah dalam keadaan normal, akhirnya Nagin pun bisa tenang.
Ternyata Nagin membawa peralatan kesehatannya, seperti obat anti mabuk perjalanan. Nagin memakan obat tersebut. Ia menawarkannya pada suaminya itu. Bay hanya bisa tersenyum melihat istrinya itu.
" Kamu bawa obat apa?"
" Obat anti mual, muntah dan mabuk mas, hehehe...!"
" Astaga sayang, untuk apa?"
" Ya biar ga mabuk. Nih, sekarang mas minum ya? biar ga mual, muntah dan mabuk, gitu..!"
" Ga perlu sayang."
" Mas, dulu waktu saya datang ke kota, diperjalanan saya minum obat ini, biar ga pusing."
" Hahaha, ya ialah harus minum obat itu, kan jalan desa Bayaman ke kota waktu itu rusak parah."
" Rusak atau ga rusak, mas harus minum...! ayo buruan..!"
Para penumpang di kelas bisnis itu tidak begitu banyak, sehingga Bay terbebas dari rasa bully penumpang. Walaupun, sebagian ada yang senyam senyum melihat tingkah istrinya itu.
" Ga perlu sayang, kalau kamu merasa ga enakan kamu aja yang minum."
" Jadi mas ga mau nih?"
__ADS_1
" Ga Nagin....!"
" Ya da, awas mas kalau nanti muntah ya ?"
Nagin mengeluarkan perlengkapannya lagi. Yaitu syal. Bay tersenyum melihat istrinya itu.
" Itu apalagi si, Gin?"
" Ini syal mas biar ga masuk angin. Nih kaos kaki. Karna angin itu bisa masuk dari kaki lho, mas."
" Hahaha kamu ada - ada aja. Itu kaos kaki uda berapa lapis dipake ?"
" Hehehe 3 mas. Soalnya dingin sekali. Kata nenek, bawa kaos kaki banyak - banyak biar ga masuk angin. Mas Bay susah sih dibilangin, ga mau."
" Hahaha, ya da kamu istirahat ya ?"
" Saya ndak bisa istirahat mas, saya takut mas. Mas, bilangin dong sama sopirnya pelan - pelan bawa pesawatnya, saya takut mas."
" Pilot sayang bukan sopir."
" Oh ya, ntah apalah namanya, mas. Seng penting pelan - pelan aja, mas. "
" Kalau pelan - pelan kita ga sampai dong?"
Selama diperjalanan Nagin asyik bercerita terus, sehingga membuat para penumpang ada yang merasa terganggu dan ada yang merasa lucu melihat tingkah Nagin.
" Kan sama - sama bayar toh, mas..? ga masalah toh?"
" Ia, tapi kan mereka terganggu, Gin..!"
Nagin langsung cemberut.
" Ia deh wajahnya ga usah dijelekin gitu...!"
"Saya takut mas, makanya saya begini."
Bay kembali menenangkan istrinya itu. Tak terasa, perjalanan mereka pun telah tiba. Pesawat yang mereka naiki akhirnya landing di Bandara Internasional Heathrow - London.
Perasaan lega menghampiri Nagin. Akhirnya mereka sampai ditujuan dengan keadaan sehat dan selamat.
Udara dingin kota London membuat tubuh Nagin menggigil. Ia terpukau akan kota dimana suaminya itu dulu menuntut ilmu.
" Mas, ini kota London toh?"
" Ia, sayang. Baguskan?"
" Ya, mas. Bagus banget. Gedungnya tinggi - tinggi ya mas, banyak gedung tuanya juga."
__ADS_1
Bay dan Nagin menuju sebuah hotel mewah bintang lima yaitu Shangri_La The Shard London.
Hotel mewah berbintang lima dengan gedung yang sangat indah, dengan memiliki kemewahan dan pelayanan terbaik dan beberapa pemandangan yang cukup spektakuler. Dari bilik jendela hotel, akan terlihat jelas kota London.
Bay menatap istrinya itu, Nagin terlihat sangat bahagia sekali. Walaupun cuaca yang dingin, senyum manis itu tampak sumringah. Tak henti - hentinya Nagin mengucap syukur karena ia bisa berada dikota romantis itu.
Malam hari pun tiba, Bay pun mengajak Nagin makan malam di sebuah restaurant terfavorite di kota itu yaitu The Clink Restaurant.
Tibalah mereka di tempat itu, Nagin masih saja terkagum - kagum akan keindahan kota London, ia selalu bercerita bahwa ia sangat bahagia sekali bisa di kota ini.
" Sayang, kamu mau makan apa?"
" Mas aja deh yang pilih...! saya ga tahu mas, hehehe...!"
" Oke kalau begitu..!"
Bay pun memilih makanan untuk istrinya itu. Malam itu mereka memesan makan malam dengan Roast Meat, Bubble & Squeak dan Pie & Bir Peterseli dan minumannya.
Bay tak asing lagi dengan makanan itu. Karena waktu ia kuliah di London, ia sering juga makan makanan seperti itu, tapi tidak dengan Nagin. Sangat berbeda dengan lidahnya.
Mau tak mau, Nagin pun harus memakannya. Demi perut sejengkalnya.
Selesai makan malam, mereka pun melanjutkan perjalanannya, mereka berjalan sambil melihat - lihat kota London dimalam hari.
Bagi Bay, hal ini sudah biasa, tapi tidak dengan Nagin. Bay tak lupa membawa camera digital termahalnya. Sesekali ia mengambil fhoto istrinya itu.
Ntah sudah berapa fhoto yang ia bidik, ia tak mau melewatkan momen bahagia ini. Sesekali Bay menyuruh Nagin untuk memasang gayanya.
Malam dikota London, membuat Nagin sangat bahagia sekali. Tapi dari dalam hati Nagin, ia merasakan ada kesedihan, karena disatu sisi, ia dan suami sama - sama anak yatim piatu. Mereka tidak bisa pergi bersama orang tua mereka.
" Sayang, gimana kamu suka ga?"
" Ia mas, saya suka sekali."
Karena sudah kelelahan berjalan, perut Nagin pun mulai ribut. Makan malam tadi ternyata tidak membuat perutnya kenyang. Nagin merasakan kelaparan yang amat mendalam.
" Mas Bay, saya laperrrr...!"
" Hahahaha, kamu laper lagi?
" Ia. Saya ndak kuat lagi jalan, mas. Kayaknya perlu makan nasi ini mas, hehehe..!"
" Nasi ? kayaknya didekat sini ga ada yang jual nasi, sayang...! atau kita kesebrang jalan sana aja ya? kamu masih kuat jalankan? atau mau mas gendong?" Bay tersenyum melihat istrinya itu. Wajah Nagin berubah menjadi lesu.
" Banyak orang, malu." Wajah cantik itu pun masih saja manyun karena kelaparan.
" Hahahaha, ya da kita kesana ya..? jangan gitu dong wajahnya, senyum manisnya mana?" Tanya Bay sambil memegang tangan istrinya itu menyebrang jalanan kota itu.
__ADS_1