
Selesai beberes rumah, Nagin memasuki ruang kerja suaminya itu. Ia merapikan semua berkas - berkas yang ada dimeja itu.
Semua berkas itu tidak tertata rapi. Ia merapikan satu persatu berkas itu. Ketika Nagin hendak menyusunnya ke laci, sebuah amplop terjatuh.
Nagin mengambil amplop itu dan menaruhnya kedalam map itu. Tapi sekilas ia melihat ada tulisan RS Gelora Kasih.
Nagin penasaran dengan isi amplop itu. Ia pun mengambilnya kembali dan ia membacanya. Ia membaca keseluruhan isi dari surat itu.
Setelah mengetahui hasil lab nya, Nagin pun menangis. Ia sedih jika rahimnya ada masalah. Tangisan Nagin pun pecah, ia merasa tak ada gunanya lagi.
Sore hari pun tiba, Bay pun kembali dari kantor. Ia melihat Nagin dikamar sedang menangis.
" Sayang, kamu kenapa? kok nangis?"
Nagin memberikan amplop rumah sakit itu. Dan Bay menerimanya.
" Jadi, kamu sudah tahu? kamu sabar ya?"
" Mau sabar gimana, mas? ga ada artinya lagi." Kembali Nagin menangis.
" Kan kita ga tahu kuasa Tuhan. Bisa aja dokter memvonis kamu ga bisa hamil lagi, tapi Tuhan kalau sudah berkehendak, semua bisa terjadi, Gin."
" Mas Bay..."
" Sabar ya sayang, semua ini cobaan dari Tuhan. Kamu ga usah khawatir, mas masih sayang kamu kok. Banyak cara untuk mendapatkan anak, di adopsi bisakan?"
" Tapi kan??"
" Nagin, semenjak saya kenal dengan kamu, kamu itu uda banyak mengajarkan kebaikan, ketulusan, kesabaran. Jadi, saya yakin pasti kita bisa melewati ini semua."
" Saya ga berguna lagi mas Bay..."
" Hanya karena anak, kamu bilang, kamu ga berguna? mana Nagin yang mas kenal? kamu mau nyerah gitu aja? Nagin...semua akan baik - baik aja, kita serahkan aja pada Tuhan. Kita jalani aja kehendak Tuhan. Tuhan tidak pernah tidur, sayang. Tuhan melihat setiap tangisan dan doa kita. Kamu ga usah khawatir ya?"
" Ia, mas Bay.."
" Ya uda, mas mandi dulu ya? Janji jangan nangis lagi."
Nagin hanya mengangguk.
Malam itu Bay tampak sudah rapi sekali. Bay mengajak makan diluar. Dan Nagin pun menurutinya.
Mereka pergi ke sebuah mall terbesar di kota itu, tak sengaja mereka bertemu dengan Johan. Johan bersama anak dan istrinya.
" Hai Bay, wahh akhirnya kita bertemu di sini ya?"
" Ia Jo. Ohh ya, apa kabarnya?"
__ADS_1
" Kita baik - baik aja Bay. Oh ya kalian mau kemana ni?mau shooping ya?"
" Ga mas Jo, kita mau cari makan aja kok." Ucap Nagin.
" Kalian uda lama nikah ya? tapi kok belum ada juga anaknya ya mbak?" Sindir istri Johan.
" Sinta? kamu ngomong apa sih?" Bentak Johan.
" Lahh emang ia kan ? mereka uda lama nikah. Tapi kok belum ada anaknya, itu gimana ceritanya kok bisa lama gitu?"
" Kamu bisa ga sih jaga sikap kamu ?" Ucap Johan pada istrinya itu.
" Uda Jo, ga papa. Doain ya mbak, kita segera dikasih anak." Ucap Bay pada Sinta.
" Program dong, percuma banyak uang." Sindir istri Johan lagi.
Bay, Nagin dan Johan saling menatap.
" Oke ya Bay, Nagin, kita cabut dulu...!"
" Ia Jo, hati 2 ya...!"
Johan, anak dan istrinya itu pun pergi meninggalkan Bay dan Nagin.
" Gin, senyum dong? masa cemberut gitu?"
" Jangan dimasukin ke hati omongan Sinta tadi. Dia emang gitu suka blak blakan."
" Ia mas." Nagin tersenyum.
" Ya da kita cari makan ya, habis tu kita shooping hehehe..terserah kamu mau beli apa."
Nagin hanya tersenyum tipis. Bay selalu merangkul istrinya itu. Ya malam itu mereka sangat romantis sekali. Ga tau kedepannya gimana 🤔
Ketika mereka makan, Bay melihat Raisa juga ada disana. Ia melihat Raisa dan seorang pria dewasa. Ketika Raisa beranjak pergi, ia melihat Raisa dalam keadaan sudah hamil.
Nagin juga melihat Raisa. Nagin merasa sedih. Semua teman - teman suaminya itu sudah memiliki keturunan. Nagin melihat Bay yang sedang menatap Raisa itu.
" Mas Bay, itu mbak Raisa kan?"
" Ia sayang. Ehhmm ya da lanjut makannya."
Nagin melihat di wajah suaminya itu sedikit rasa sedih. Ntah sedih tidak jadi menikah dengan Raisa atau sedih karena ia tidak akan bisa punya anak.
Setelah Bay melihat Johan dan Raisa, sikap Bay pun berubah pada Nagin. Ia jadi sedikit pendiam dan kembali menjadi pria dingin.
Bay merasa sedih karena tidak ada penerusnya di perusahaannya kelak. Bay junior yang ia harapkan tidak akan pernah ada. Ya, karena Nagin di vonis dokter tidak akan bisa hamil lagi.
__ADS_1
Bay sudah lelah dengan semua ini. Bagaimana pun ia menginginkan seorang anak.
Bay menelpon neneknya. Nagin mendengar pembicaraan mereka. Ternyata Bay menginginkan seorang anak, dulu ia pernah mengatakan jika Bay bersedia mengadopsi anak, tapi kali ini ia menolak untuk mengadopsi anak.
Nagin menangis mendengar omongan suaminya itu. Nagin merasa tidak berguna lagi. Malam itu, Bay tidak mau tidur bersama dengan Nagin lagi. Mereka sudah tidur dikamar mereka masing - masing.
" Mas Bay ??"
" Ia gin, saya tidur dikamar saya aja ya? lagian uda lama juga tu kamar ga ditempati." Bay pergi dari kamar itu membawa bantal dan selimutnya.
" Ohh gitu, ya...silahkan mas Bay." Nagin menahan tangisnya.
Nagin hanya menatap suaminya itu. Tidak bisa dipungkiri, perusahaan dan kekayaan Bay sangat lah besar mau tidak mau Bay memang harus mempunyai keturunan untuk meneruskan perusahaan dan berbagai usaha miliknya.
Nagin masih saja termenung. Apa yang harus ia lakukan agar suaminya bisa bersikap seperti dulu lagi.
Ketika pagi hari, Bay sudah bersiap - siap untuk pergi kekantor.
" Mas, sarapan dulu...!"
" Maaf Gin, saya buru - buru."
" Atau saya buatin di tempat bekal ya mas?"
" Ga usah, Gin. Ntar saya cari diluar aja."
" Oh gitu, baiklah mas Bay."
Bay langsung pergi dan tanpa pamit pada istrinya itu. Biasanya kalau Bay berangkat ke kantor, pasti ia akan mencium kening Nagin. Tapi kali ini ciuman itu tidak ada lagi. Jangan kan ciuman, berpamitan saja pun tidak.
Nagin mengetahui jika sikap suaminya itu sudah berubah. Pagi itu Nagin mengunjungi dokter Prety. Ia ingin menanyakan bagaimana kondisi rahimnya.
" Bu Nagin maaf ya, hasil lab kami tidak salah bu. Ibu Nagin memang tidak akan bisa hamil lagi."
" Apa tidak bisa diobati gitu dok?"
" Tidak bisa, bu."
" Oh gitu ya dok." Nagin bersikap tegar didepan dokter cantik itu. Nagin pun meninggalkan dokter itu.
..." Apa yang harus saya lakukan Tuhan? apakah memang ia saya ga bisa hamil lagi? apakah, saya mencoba ke dokter lain aja ya?"...
...Gumam Nagin ...
Hari itu juga Nagin pergi ke rumah sakit lain. Ia mau memeriksakan dirinya kembali. Dan semua hasilnya sama aja.
..." Sudah mulai sore, besok saya akan pergi ke dokter lain lagi, siapa tahu hasilnya beda dengan dokter Prety dan dr Simon."...
__ADS_1
...Gumam Nagin lagi ...