
Demi istri tercinta, Bay pun rela keliling mencari makanan yang diinginkan Nagin, walaupun sudah tengah malam.
Bay mencoba menawarkan roti atau makanan yang lain, tapi istrinya itu maunya makan nasi beserta sayur mayur dan lauknya. Hanya makan nasi yang bisa membuat Nagin tenang. Ya, namanya juga wong deso.
Bay memaklumi hal itu, dikarenakan Nagin sama sekali memang tidak pernah dan tidak terbiasa makan makanan Eropa.
Akhirnya, Bay pun menemukan makanan Indonesia. Makanan dari berbagai daerah ada disana. Lelahnya terbayar sudah.
Begitu melihat daftar menunya, Bay pun langsung memesan untuk istrinya itu. Tidak muluk - muluk, Nagin hanya meminta orek tempe dan cah kangkung. Bay sudah mengetahui kebiasaan makan istrinya itu. Untung saja di London ada yang menjual makanan sederhana itu.
Nagin memang gadis desa yang sangat sederhana, walaupun sekarang ia sudah menikah dengan orang terkaya di kota itu, tapi bagi Nagin, ia tidak pernah lupa akan makanan favoritenya. Nagin yang dulu masih sama dengan Nagin yang sekarang. Tidak pernah berubah, dari hal makanan ataupun pakaian. Ia tetap menjadi wanita yang sederhana. Ya, karena kesederhanaan dan sikap tulusnya lah yang membuat Bay jatuh cinta.
" Capek ga mas?"
Bay hanya tersenyum.
" Begitulah, heheheh...!"
" Demi istri lho mas...! gimana ntar kalau saya ngidam anak kamu ? pengen makan sesuatu, mau ga mau, ya mas Bay harus bisa mencarinya, hehehe...!"
" Ia, sayang. Saya ga marah kok. Hanya saja, ini kan di London agak susah cari makanannya."
" Hehehe ia mas, maaf ya...!"
" Ya da, sekarang kamu makan ya? makan yang banyak biar ga laper hehehe..!"
" Nanti saya semok dong mas ?"
" Hahaha, jangan sampai semok dong, sayang..!"
Nagin tertawa dan ia pun memakan makanan itu dengan lahapnya. Nagin menghabiskan makanannya, lalu mereka kembali ke hotel.
Bay langsung membersihkan tubuhnya, sementara Nagin sudah kelelahan. Bay melihat istrinya itu begitu capek, hingga tak sempat ia membersihkan tubuhnya.
Pagi hari, cuaca di kota itu sangat dingin sekali. Ya, karena memang di London saat ini musim dingin. Bay sudah terlebih dahulu bangun.
Ia mencoba membangunkan istrinya itu, agar segera mandi dan turun untuk sarapan. Nagin pun segera bangun. Ia melihat kalau suaminya itu sudah wangi dan rapi.
__ADS_1
" Selamat pagi, sayang..! ucap Bay pada istrinya itu.
Dengan mata yang masih mengantuk, Nagin menjawab sapaan suaminya itu.
" Selamat pagi juga, mas Bay...! uda rapi aja mas, hehehe..!"
" Ia sayang , ya da buruan mandi biar langsung turun buat sarapan."
" Males mandi, dingin."
" Kamu gimana sih? masa malas mandi ? Mau dimandi'in?" Ledek suaminya itu.
" Hehehehe...!"
" Pake ketawa lagi, ayo buruan mandi. Ada air hangatnya kok, ayo buruan atau saya tinggal..!"
" Trus kita mau kemana ?"
" Mau ke kota Cambridge, sayang...!"
" Dulu mas, disana kan kuliahnya?"
" Emang dari kota London ke sana, jauh ya mas?"
" Lumayan, sekitar 1 jam 19 menit. Uda cepatan mandinya..?"
" Gendong...!" Nagin merengek seperi anak kecil.
" Nagin bawel...!" Bay mencubit hidung mancung milik Nagin itu dan ia pun menggendong istrinya itu sampai ke kamar mandi.
Sarapan pagi telah selesai, mereka pun pergi ke kota Cambridge dengan menaiki kereta api.
Perjalanan pun tiba. Mereka sampailah di kota Cambridge. Cambridge adalah kota pelajar, mempunyai lembaga akademik tertinggi di Inggris.
Ya, disanalah dulu suami Nagin itu menyelesaikan study S2 nya. Bay sangat bahagia dan bangga, akhirnya ia berhasil membawa istrinya itu ke tempat yang paling ia banggakan.
Karena dulu memang Bay pernah berkeinginan, jika suatu saat ia menikah, ia akan membawa istrinya ke tempat dimana ia pernah menuntut ilmu untuk bisa menggapai cita - citanya.
__ADS_1
" Sayang, inilah kota Cambridge. Dulu saya banyak menghabiskan waktu dikota ini." Ucap Bay sambil merangkul istrinya itu.
" Wah..bagus sekali mas..! mas Bay emang orang pintar, makanya bisa kuliah disini. Saya bangga sama papa Chandra dan mama Leoni, mas. Mereka bisa mendidik dan memberikan masa depan yang terbaik untuk mas Bay." Ucap Nagin sambil melirik suaminya itu.
" Hehehe, makasih ya sayang. Ya, ini semua karena kebaikan Tuhan, sayang..!"
" Mas Bay itu punya segalanya, pendidikan yang tinggi, kehidupan materi yang berkecukupan bahkan berlebih, punya wajah yang tampan juga, tapi kenapa mas Bay dulu tidak mencari yang sederajat dengan mas?"
" Emang kalau saya mencari wanita yang sederajat dengan saya, sudah tentu baik ya? "
"Ya, pastilah mas. Mas Bay tidak akan pernah malu, karena punya istri yang sama derajatnya dengan mas." Wajah Nagin pun berubah menjadi sedikit sedih.
" Nagin, saya ga pernah malu punya istri seperti kamu. Sekarang saya tanya sama kamu, kamu suka sama saya dengan alasan apa? dan kenapa juga kamu mau sama saya? kenapa ga kamu cari aja yang sama seperti kamu?"
Nagin menangis. Air matanya itu pun membasahi pipi nya.
" Kamu bisa jawab ga? Nagin..., semua orang itu sama, sayang. Tapi yang membedakan dirinya itu adalah hatinya. Hati manusia itu beda, sayang. Kenapa saya milih kamu? karena kamu punya hati yang berbeda. Dan itu ga dimiliki wanita lain. Saya bisa menemukan hati itu, yaitu di diri kamu. Kamu tahu ga? Jenni, Raisa, Nadine dan kamu, hanya kalianlah wanita yang saya kenal. Diantara kamu berempat, saya hanya bisa menemukan hati yang benar - benar saya cari, semua itu ada di kamu, ya kamu Nagin. Jujur, pertama lihat kamu itu, saya merasa ada yang beda dari kamu, Gin."
Nagin hanya bisa tertunduk dan ia masih kembali menangis.
" Nagin, jika kamu sayang sama saya, saya akan bisa lebih sayang sama kamu. Ya, walaupun dulu saya pernah kasar, tidak perduli sama kamu, tapi begitu saya kehilangan kamu, hati ini hampa, Gin. Kamu masih ingatkan? ketika saya mabuk, suka minum, pulang sampai larut malam. Itu semua karena kamu. Kamu hampir saja meniggalkan saya, Gin. Saya tipe orang paling ga suka berbuat seperti itu. Tapi karena cinta kamu, saya jadi buta. Benar - benar buta, Gin."
Bay menghapus air mata istrinya itu, dan memeluknya.
" Saya minta sama kamu, hargailah cinta dan kasih sayang saya, Gin...! Jangan pernah tinggalkan saya. Jadi, kalau kamu bertanya, kenapa saya bisa suka sama kamu? ya karena, saya sayang dan cinta sama kamu, kamu itu benar - benar wanita terbaik buat saya. Saya tidak memandang status kamu, bagaimana kehidupan kamu, bagaimana latar belakang keluarga mu, pendidikan mu. Saya hanya memandang kasih sayang mu, cinta mu yang tulus buat saya, perhatian mu dan pengorbanan mu."
" Mas Bay...!" Tangisan Nagin semakin pecah.
" Uda jangan nangis lagi..! kita datang ke London bukan buat curhat - curhatan, tapi kita honeymoon, sayang."
" Ia mas...!"
" Uda dong, jangan nangis lagi ya? senyum manisnya mana? mas pengen lihat lesung pipinya dong? hehehehe...!"
Nagin pun tersenyum. Lesung pipi manisnya pun kelihatan. Bay langsung memeluk istrinya itu.
" Pulang dari Eropa, Bay junior uda harus ada ya sayang, hehehehe...!"
__ADS_1
Nagin tertawa lepas mendengar ucapan suaminya itu.
Tak terasa sudah siang hari mereka ada di Kota Cambridge. Mereka pun mencari makan siang. Restaurant Don Pasquale jadi pilihan mereka, karena restaurant ini menjadi restaurant terfavorite di kota itu, terlebih bagi Bay dan keluarga Hardinata.