
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, saatnya Nagin pulang kerja. Kevin memanggil Nagin dan ingin menanyakan mengenai Bay. Awalnya Nagin tidak mau membahas tentang Bay lagi. Tapi Kevin calon suaminya itu, memaksanya. Dan akhirnya Nagin pun mau bicara.
" Nagin, saya mau kejujuran dari kamu. Gimana perasaan kamu terhadap Bay? saya mau kamu jujur, Gin."
" Perasaan gimana mas, Vin ? saya ga ngerti ."
" Ya, perasaan kamu? Apakah kamu masih sayang sama Bay?"
" Hahahaha, ga lah mas, Vin. Mas Bay itu masa lalu kok. Sekarang hanya ada mas Kevin aja. Bener.."
" Saya lebih senang kalau kamu jujur. Ga ada artinya kita menikah kalau dihati kamu masih ada Bay, begitu juga sebaliknya . Bay itu teman baik saya, Gin. Jujur, mending saya kehilangan pacar dari pada sahabat. Karena sahabat itu melebihi saudara. Ya, bagi saya sih? Ga tau bagi orang lain. Bay itu baik banget, Gin. Saya tahu banget Bay itu gimana. Dia tu sangat menghargai wanita. Dia mabuk tu ya karena kamu? Kamu segalanya buat dia. Masa kamu ga ngerti sih, Gin?"
" Mas, Vin. Tapi saya ga ada perasaan sama sekali ke mas Bay, bener."
" Ya uda, baguslah..." Kevin hanya tersenyum.
Pada suatu hari, Kevin mendatangi kantor Bay. Ia sengaja datang ketika pas jam makan siang. Kevin sedikit gugup. Lisa memberitahukan kalau atasannya itu kedatangan tamu. Bay meyuruhnya masuk.
" Bay.....?"
" Ehh Kevin. Ohh silahkan duduk Vin. Tumben Vin. Ada apa ini ?"
" Bay, hhmm saya mau minta tolong sama kamu. Kamu mau kan ?"
" Minta tolong apa ni? jadi kepo ni hehehe..."
" Mau ga nemani saya ke toko perhiasan ? hhmm saya ga tau modelnya gimana, saya kurang ngerti Bay".
Bay bingung kenapa juga harus dia yang memilih cincin pernikahan mereka. Bay mencoba menenangkan hatinya.
" Kenapa harus saya, Vin? kan kamu bisa ajak Nagin. Nagin kan cewek pastilah lebih ngerti. Saya mahh ga ngerti yang gitu - gituan, Vin."
" Saya ingin kasih suprise buat Nagin. Makanya saya ajak kamu. Gimana? mau ga?"
" Hhmm ya da..ntar sore kita pergi."
" Nah...gitu dong..makasih ya Bay..!"
__ADS_1
" Sama - sama, Vin. "
Bay masih saja bingung. " Apa Kevin mau panas - panasin saya ya? Mereka yang mau nikah, kenapa jadi saya yang pilihin cincin mereka? Ahh sudahlah..kalau kata Nagin, menolong orang lain itu berkah. Ya, berkah..."Bay tersenyum.
Sore pun tiba. Bay dan Kevin telah tiba di toko perhiasaan itu. Bay diminta untuk memilih cincin perhiasannya. Bay sangat kebingungan , ia masih bertanya - tanya mengapa ia yang disuru pilihin cincinnya? "Ahh Kevin ada - ada aja" gumam Bay.
" Bay, tolong kamu pilihin dong? kira - kira mana yang bagus ya? saya beneran ga ngerti, Bay. Yang mana ya Bay? "
Bay menunjuk salah satu cincin pernikahan. Ia meminta kepada petugas toko itu agar bisa diperlihatkan ke Kevin. Petugas itu pun memperlihatkan nya kepada Kevin. Kevin pun suka dengan cincin pilihan Bay. Menurutnya cincin itu sangat bagus sekali.
" Bay, kalau itu menurut kamu bagus, ya udah itu aja. Saya ngikut aja Bay. Oh ya sekarang cobain deh ke jari kamu , kira - kira pas ga ya?"
" Kok ke jari saya sih Vin? Kan kamu yang mau nikah. Ahh kamu payah Vin, kamu yang nikah kenapa saya yang coba? "
" Kamu ga lihat Bay jari saya luka? nihh lihat lagi di plester. Terkena benda tajam Bay, ga sengaja. Ya jadinya beginilah..ga bisa Bay. Mungkin esok Uda sembuh kali ni jari. Ya da kamu cobain ke jari kamu. Ayok dipake..!"
Kevin sengaja membuat tangannya terluka. Ia pun sengaja membuat jarinya diplester. Agar rencananya berhasil. Ya, cincin itu sebenarnya untuk nya.
" Jari kita beda tipis kok, lihat ni..lihat ni ..." Sambil menunjukkan jarinya yang berbalut plester itu kepada Bay.
" Kamu buat repot aja Vin. Ya da deh biar saya coba. Ya, ini pas kok. Jadi gimana, yang ini aja? atau kita cari yang lain?
" Oke...ini aja mbak..."
Petugas itu membungkus perhiasan itu. Lalu mereka pulang.
" Thanks ya bro..da mau Nemani saya." Ucap Kevin
" Sama - sama Vin. Vin maaf ya kalau kemaren2 saya da kasar sama kamu.
" Santai aja Bay.."
" Oh ya Vin, selamat ya semoga pesta pernikahan mu lancar sampai hari H. Saya berdoa semoga kalian berbahagia selalu.
" Ia Bay. Makasih ya? ehh kamu datang lho..awas kalau ga datang..awasss.."
" Oke saya akan usahakan datang ya? kalau ga ada halangan ya hehehe.."
__ADS_1
" Ga pake halangan - halangan dehh pokoknya kamu datang. "
Bay hanya bisa menghela nafasnya. Ia sudah ikhlas Nagin bersamanya. inilah yang tebaik buat Nagin.
" Semoga kamu selalu bahagia Nagin . Semua itu hanya kenangan. Tapi satu yang saya ingat dari kamu, kamu itu uda pernah berjuang buat nyawa saya. Kamu itu pahlawan buat saya. Walaupun, kita tidak jodoh tapi dengan menikahnya kamu dengan Kevin , saya bahagia, Gin. Doakan saya Gin kelak dapat wanita seperti mu yang baik dan pengertian. Maafkan saya kalau dulu saya pernah kasar sama kamu. Maafkan saya kalau dulu saya pernah berjanji, saya ga bisa tepati janji itu. Maafkan saya Nagin. Ya, sudah saatnya kamu bahagia dengan pilihan kamu. Selamat buat kalian berdua. "
Tak terasa air matanya pun mengalir. Ahh Bay teramat sedih...
Hari pernikahan Nagin dan Kevin semakin dekat. mereka sangat sibuk untuk menyiapkannya. Nagin tak ada waktu lagi berleha - lega. Ia benar - benar sibuk. Beda dengan Kevin, ia sangat santai, karena ia tahu Nagin bukan lah yang terbaik buatnya. Kevin melakukan ini semua itu agar Bay dan Nagin bisa bersatu. Ia ingin melihat sahabatnya itu bahagia. Ia tahu bahwa Bay tidak mempunyai orang tua lagi. Ia ingin ada yang mengurus Bay. Karena ia juga tahu, Naginlah yang berjuang demi keselamatan Bay ketika Bay sakit kanker.
Siang itu Bay mencari makan siang. Ia ingin sekali makan di kaki lima. Ia memilih tempat makan dimana Nagin dan Bay selalu makan.
Ketika mau pesan makanan ada seorang pengamen sedang bernyanyi
Ada satu kata memori
Waktu ku masih bersama mu
Kau dambaan hati ku
Dan juga selalu ku puja
Tersentak hati disaat itu
Kala ku terima surat dari mu
Perlahan dunia serasa gelap
Seirama memudar senja itu
Kau...kaulah yang ku damba
Dihati ini hanya ada kamu
Kau....kaulah yang ku puja
Tiba - tiba kau memutuskan cinta
__ADS_1
Tak lama makanan itu tiba..dan pengamen itu pun pergi meninggalkan Bay.