
Sudah pukul 07.00 pagi. Bay akan berangkat kekantor. Tiba - tiba, Raisa menelpon. Raisa hanya mengucapkan selamat bekerja dan hati - hati dijalan.
Bay menyalakan mesin mobilnya. Ia pun pergi. Karena macet, Bay harus memutar arah. Ia melewati jalan rumah sakit Gelora Kasih. Ternyata di jalan itu pun macet total. Ia membaca tulisan rumah sakit itu.
Ia pun langsung mengingat ketika ia pernah dirawat di rumah sakit itu dengan bertarung nyawa. Ia pun mengingat nama Nagin.
..." Nagin. Apakabar anak bawel itu sekarang?". Gumam Bay...
Kembali ia melanjutkan perjalanannya. Ketika sampai dikantor, ia mendapatkan telpon kalau hari ini ada meeting mendadak.
Bay buru - buru masuk kekantor dan menyuruh sekretarisnya untuk menyiapkan semua keperluan meeting.
" Pak, klien kita dari PT. Bima, pak Hermanto, meminta meeting hari ini diadakan di restaurant sebelah pak. Sekalian makan siang disana nanti pak..." Ucap sekretarisnya itu.
" Oh, begitu. Ya uda kamu siapkan aja keperluan meeting." Jawab atasannya itu.
Bay dan sekretarisnya itu pun pergi menuju tempat meeting yang disebutkan itu. Mereka memasuki tempat itu. Dan sudah ada beberapa klien yan lain menunggu disana.
Ketika giliran Bay mau persentase, sekilas ia melihat Nagin. Tapi karena ini masih meeting ia pun kembali melanjutkan persentasenya.
Tak terasa waktu makan siang pun tiba. Semua para petinggi dari berbagai perusahaan itu pun memesan makanan. Tak terkecuali Bay. Para pelayan itu pun begitu repot melayani mereka.
Ketika Bay sedang berbicara dengan klien yang lain, ia pun melihat Nagin sedang melayani seorang suami istri yang sudah paruh baya.
Ya...Bay tidak salah lagi, ia melihat Nagin. Ia pun bertanya - tanya apakah Nagin bekerja disini.
Kebetulan Kevin ada disana. Ia pun melihat Bay. Ternyata Bay dan Kevin saling kenal. Mereka pun berbincang. Tapi Bay tidak menanyakan tentang Nagin kepada Kevin.
Setelah ia melihat Nagin bekerja di restaurant itu, ingin rasanya ia menemuinya. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya, tidak akan lagi mengganggu hidup Nagin. Nagin hanyalah kenangan lama baginya. Sekarang ia hanya fokus ke Raisa calon istrinya itu.
Malam itu, Raisa mengajak Bay makan malam. Raisa ingin makan di restaurant dekat kantor calon suaminya itu. Awalnya Bay tidak mau, tapi Raisa selalu mengajaknya. Akhirnya Bay menurutinya.
Mereka masuk dan mencari tempat duduk. Raisa ingin malam ini, mereka bisa makan dengan sangat romantis. Ia pun memesan ruangan VIP.
Malam itu banyak pengunjung. Raisa pun memanggil pelayan restaurant itu. Bay sibuk dengan ponselnya. Ia sibuk menelpon beberapa klien. Raisa memesan beberapa makanan.
Tak berapa lama, makanan pun tiba. Tinggal satu makanan lagi yang belum tiba. Nagin pun mengantarkan nya. Tiba - tiba saja, makanan itu tumpah dan baju Raisa pun kotor.
Raisa langsung memarahi Nagin. Nagin langsung meminta maaf dan membersihkan lantai. Bay yang mengetahui hal tersebut langsung saja memaki Nagin.
__ADS_1
Bay tidak tahu kalau yang ia maki itulah adalah Nagin, mantan pembantunya itu. Orang yang pernah ia janjikan akan dinikahi.
Nagin ingat betul suara itu. Dia hanya diam dan tertunduk. Ya itu suara Bay mantan majikannya itu.
" Kamu ga papa kan, sayang?" kata Bay kepada Raisa.
" Ga sayang. Hanya baju aja yang kotor." Jawab Raisa sambil membersihkan baju yang terkena tumpahan makanan itu.
Nagin mendengar percakapan mereka. Nagin pun pergi, tanpa dilihat Bay. Dibelakang Nagin pun nangis. Ia tak menyangka bahwa ia bisa mendengarkan suara tuannya itu lagi.
Ia pun berharap tidak akan pernah lagi bertemu dengan tuannya itu, biarlah ini yang terakhirnya. Karena Bay telah membuat sakit hati Nagin dan sudah sangat kasar kepada Nagin.
Makan malam pun selesai. Bay dan Raisa akhirnya pulang. Bay mengantarkan Raisa.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Restaurant itu pun tutup. Nagin pun berjalan menyusuri jalanan trotoar. Ia menunggu angkutan umum. Hampir 1 jam ia menunggu belum ada juga angkutan yang lewat. Ia pun melanjutkan perjalanannya lagi.
Tibalah ia di lampu merah. Nagin mau menyebrang. Bay melihat Nagin. Bay buru - buru menepikan mobilnya. Ia pun terus mengikuti Nagin.
Angkutan umum yang ditunggu - tunggu Nagin pun belum juga tiba. Ia duduk di halte bus. Wajahnya sedikit kelelahan.
Ketika Bay mau menyebrang, angkutan umum itu pun datang dan Nagin pergi. Bay langsung mengambil mobilnya dan mengikutinya dari belakang.
Nagin memasuki sebuah gang kecil. Ya gang itu, dimana mereka pernah bersama ketika Bay dalam keadaan sakit dan kesusahan. Bay sangat ingat akan gang itu.
Bay hanya bisa diam. Nagin membuka pintu pagar itu. Ia melepaskan sepatunya. Dan membuka pintu kontrakan itu.
Air mata Bay menetes. Ia kembali mengingat semua tentang ia dan Nagin.
...Nagin...oh..Nagin..kamu mengingatkan ku kembali.....
...Gumam Bay....
Ya, kali ini hati Bay sudah tenang. tenyata Nagin sehat dan ia juga sudah tau dimana Nagin tinggal.
..." Nagin masih saja secantik yang dulu ia kenal, anak bawel itu kini telah kembali ke kota..."...
...Gumam Bay lagi.....
Hari - hari pun berlalu. Suasana Restaurant itu begitu sepi. Ketika jam makan siang, Bay sengaja mendatangi restaurant itu. Ia ingin melihat Nagin.
__ADS_1
Bay pun masuk. Ia tak melihat ada Nagin disana. Ia melihat Kevin. Mereka pun berbincang - bincang. Bay memberanikan diri menanyakan Nagin, karyawan barunya itu.
" Sepertinya ada karyawan baru ya, Vin? kemarin saya lihat ada anak baru masih putih hitam gitu pakaiannya? " Tanya Bay
" Ia, Bay. Namanya Nagin. Tapi hari ini dia off. Anaknya rajin banget Bay, kalau Nagin off, anak - anak kesepian."
" Oh gitu...." Jawab Bay sambil memikirkan sesuatu.
Hari itu, Raisa mengajak Bay pergi kesebuah mall, karena pesta pernikahan mereka akan segera tiba. Raisa ingin membeli sesuatu.
Ketika berada di mall, Bay lagi - lagi melihat Nagin . Nagin hanya sendirian. Ia sedang memilih model sepatu untuk dipakai kerja.
Bay jadi teringat, ketika ia membelikan Nagin sebuah sepatu. Nagin sangat menjaga sepatu pemberiannya itu.
Tapi ketika Nagin pergi dari rumahnya, Nagin meninggalkan semua pemberiannya.
Raisa minta ijin untuk pergi ke toilet sebentar. Ingin rasanya Bay menghampiri Nagin. Tapi ia ingat akan janjinya, ia tak akan lagi menemui Nagin. Apalagi Bay dan Raisa akan segera menikah.
Nagin tak jadi membeli sepatu itu. Ya karena kemahalan baginya. Ia pun meletakkannya kembali. Ia kembali berjalan menyusuri mall itu. Disudut ada sebuah tempat duduk, ia duduk disana sendiri. Bay masih saja memperhatikan Nagin.
Nagin menghitung uangnya. Wajah Nagin tampak sedih. Ya benar saja, uang Nagin tidak cukup untuk membeli sepatu itu.
Ia mengeluarkan sebuah fhoto. Fhoto kedua orang tuanya. Lalu ia melihat sepatunya. Sepatu yang sudah koyak ujungnya. Mata Nagin berkaca - kaca.
Nagin sama sekali tidak mempunyai ponsel. Ia menanyakan kepada pengunjung yang lewat sudah pukul berapa sekarang. Ketika ia beranjak mau pergi, ia melihat Johan. Ia pun senang sekali. Ia pun menyapanya.
" Mas Johan..??apa kabarnya mas? masih ingat dengan saya mas?" Ucap Nagin.
" Nagin ??? apa kabar kamu, Gin?, saya sehat kok. Kamu kemana aja kok ga pernah kelihatan?"
Ketika mereka sedang berbicara, datanglah seorang wanita. Ya wanita itu adalah istri Johan.
" Sayang, ini siapa?" Tanya wanita itu.
Sontak saja, Nagin kaget. Ia pun mencoba memberikan senyumannya kepada wanita itu dan menjabat tangannya. Tapi istri Johan menolak jabatan tangan Nagin itu.
" Sayang, ini Nagin. Nagin ini teman ku dulu...." Jawab Johan
Wanita itu pun melihat penampilan Nagin dari ujung kaki sampai ujung rambut. Nagin hanya bisa tertunduk dan wajahnya sedikit sedih.
__ADS_1
Dulu Bay pernah berjanji akan menikahinya, setelah sukses janji itu tidak ada dan Johan pernah mengatakan jika ia sangat mencintainya, tapi semua itu hanyalah kehaluan.