Cinta Nagin

Cinta Nagin
Bab 46 " Malangnya Nasib Mu Nagin"


__ADS_3

Disepanjang jalan, Bay selalu mengingat dimana map hijau itu. Bay menepikan mobilnya. Ia mengambil sesuatu dari sarung jok mobil belakang.


Ketika ia melihat kebelakang, ternyata disanalah map hijau itu. " Ya ampun, ternyata map itu ada di dalam mobil."


Bay pun merasa lega. Tiba - tiba saja, ia mengingat Nagin. Karena ia telah memarahinya tadi.


Tapi tak ada sedikit pun dihati Bay ingin memberitahukan kepada Nagin , bahwa map hijau itu sudah ketemu, apalagi meminta maaf padanya.


Tibalah waktunya jam makan siang. Nagin mengirimkan pesan kepada Bay, agar ia jangan lupa makan dan Nagin juga mengingatkan kalau hari ini adalah hari spesial buat mereka. Isi pesannya...


..." Mas Bay, jangan lupa makan siang ya? oh ya mas, mas tahu ga hari ini hari apa?hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita mas. Selamat ulang tahun pernikahan ya mas, semoga kita selalu baik - baik saja, selalu bahagia. Maafkan jika saya selalu berbuat salah ya mas..."...


Pesan terkirim. Bay membaca pesan tersebut. Tapi ia tak mau membalasnya.


Nagin menunggu balasan pesan dari suaminya itu. Tapi balasan pesan itu tak kunjung datang. " Mungkin mas Bay sibuk kali ya...!". Ucap Nagin.


Nagin mengambil bahan - bahan kuenya, ia mulai membuat cake ulang tahun pernikahan mereka. Kali ini, ia membuat cake itu sangat spesial dan sangat enak sekali.


Tak hanya cake dibuat Nagin. Ia juga memasak makanan yang lezat dan semua itu makanan kesukaan suaminya itu.


Nagin menatanya semua di meja makan. Semuanya kelihatan sempurna, pikir Nagin. Ia juga menambahkan setangkai mawar merah. Dan Nagin juga berharap, kado yang ada dikamar itu diberikan untuknya.


Hari sudah mulai sore. Nagin bersiap - siap untuk mandi. Ia pun segera mempercantik dirinya. Nagin masih saja wanita yang polos, ia hanya berdandan apa adanya saja.


Sudah mulai malam, tapi Bay belum juga pulang. Akhirnya Nagin pun ketiduran.


Jam 23.30 malam Bay pun pulang. Bay melihat semua hidangan dan cake ulang tahun itu.


" Nagin, bangun...!"


Nagin pun bangun dari tidurnya .


" Mas Bay uda pulang? "


" Ia. Nagin ada yang mau saya bilang ke kamu."


" Ia bilang aja mas." Nagin memberikan senyum manisnya itu.


" Gin, sampai kapan kita seperti ini? "


" Maksud mas Bay?"


" Maaf, kamu kan ??" Bay tidak bisa melanjutkan perkataannya. " Saya harus memikirkan hidup kedepannya, Gin. Saya ga punya saudara kandung. Kelak siapa yang akan meneruskan usaha saya, Gin. Kamu seharusnya berpikir, bagaimana kita kedepannya."


" Mas Bay mau menceraikan saya ya?"


" Saya minta maaf, Gin. Saya terpaksa harus melakukannya. Saya ga tahu harus gimana lagi. Saya ga mau melihat perusahaan saya hancur begitu saja. "


" Saya ngerti mas Bay." Air mata Nagin mulai berjatuhan.


" Kalau kamu setuju, kita akan selesaikan masalah ini dengan cepat ya?"

__ADS_1


Nagin hanya bisa mengangguk. Bay pun meninggalkan Nagin dan ia masuk kekamar. Tak sedikit pun ia mau mengucapkan selamat untuk hari ultah pernikahannya itu.


Nagin tidak bisa berkata apa - apa. Semuanya hancur begitu saja. Ia mencoba tegar. Tapi akhirnya tangisan itu pun pecah.


Nagin tidak bisa juga menyalahkan Bay. Bay berhak mencari kebahagiaan buat dirinya.


..." Kalau ini yang terbaik buat mu mas, ga papa kita pisah..!...


...Ucap Nagin sambil menghapus air matanya...


Nagin menatap cake dan hidangan - hidangan yang ada dimeja itu.


..." Ayah, ibu, ku pikir anak mu ini bisa bahagia. Tapi nyatanya??...


...Nagin pun menangis....


Ia pergi ke dapur. Makanan itu terlalu banyak. Sayang kalau dibuang. Ia pun membungkus semua makanan itu. Dan ia pun pergi ke jalanan. Ia mencari anak - anak pinggiran jalan yang masih saja berkeliaran.


" Nak.....! sini.." Nagin memanggil anak - anak jalanan itu.


" Ada apa Tante?"


" Kalian sudah makan belum?"


" Belum Tante..."


" Tante membawakan makanan ini buat kalian. Semoga kalian suka ya? ayok silahkan dibuka...!"


" Ya nak, sama - sama."


Nagin pun tersenyum melihat anak - anak itu.


..." Tuhan, apakah nanti saya masih bisa, kasih makanan buat anak - anak jalanan ini? sementara nasib saya?" Nagin menangis lagi....


Pagi harinya, Nagin mulai menyusun pakaiannya di tas koper yang kecil. Ia memasukan semua miliknya yang ia punya. Tiba - tiba saja Mooly datang kerumah itu.


" Mbak Mooly? apa kabar mbak? "


" Kabar baik, Gin. Kamu gimana kabarnya ?"


" Baik mbak"


" Gin, mbak datang kemari karena mau memberitahukan kamu, kalau rumah kamu di desa sudah dibongkar pak Suri. Karena katanya dulu ayah mu punya hutang. Mau tidak mau, rumah kamu jadi korban."


" Apa mbak? jadi saya ga punya rumah lagi? "


" Ga, Gin. Kamu sabar ya?"


Bay pun mendengar percakapan mereka. Lalu ia masuk kekamarnya.


Nagin menangis. Berat sekali cobaan yang ia hadapi. Nagin harus kehilangan rumahnya didesa. Ia tak akan punya apa - apa lagi.

__ADS_1


Mooly pun pamit. Nagin terduduk dilantai. Ia menangis histeris. Semua yang dimilikinya hilang begitu saja. Kehamilannya , suaminya dan rumahnya.


Bay sama sekali tidak perduli lagi dengan Nagin.


" Gin...!"


Bay memberikan sepucuk surat perceraian.


" Kamu harus tanda tangani ya?" Ucap Bay.


" Apa itu mas? " Tanya Nagin sambil mengusap matanya.


" Kamu baca aja sendiri...!"


Nagin membaca surat itu. Ya, itu adalah surat perceraian dari pengadilan agama.


Bay melihat air mata Nagin yang membasahi pipinya itu. Tapi Bay tidak bisa berbuat apa - apa, karena ia memikirkan untuk masa depannya.


" Kamu ikhlaskan, Gin?" Tanya Bay


"Ia mas Bay, saya ikhlas."


" Ya da kamu tanda tangani ya?"


" Kenapa harus seperti ini mas?"


" Saya ga punya pilihan lagi , Gin. Kamu lihat kan ? teman - teman saya semua sudah punya anak, Johan, Raisa, mereka hidup bahagia. Sedangkan saya? mereka pasti menertawakan saya, Gin. Sekarang kamu bisa pergi dari rumah ini, Gin." Ucap Bay sambil menahan tangisnya.


" Pergi ? sekarang mas?"


" Ia, sekarang." Mata Bay pun mulai berkaca - kaca.


Nagin langsung bangkit berdiri dan ia pun mengambil barang - barangnya.


" Ya da , saya pamit mas..." Ucap Nagin


Nagin pun pergi dari rumah itu. Dan Bay pun menangis. Ia sudah tak tahan dengan omongan teman, saudara dan tetangga jika istrinya itu tidak berguna lagi.


"Bu Nagin? ibu mau kemana?" Tanya pak Jo.


" Saya ga kemana - mana pak, saya titip mas Bay ya? jaga dia baik - baik ya?"


" Bu, Nagin...!! pak Jo menangis.


" Jangan menangis, pak Jo. Bapak baik - baik disini ya? " Nagin pun pergi meninggalkan rumah itu.


Bay langsung keluar rumah.


" Pak Jo? mana Nagin?"


" Sudah pergi, pak. "

__ADS_1


Seperti ada penyesalan dalam dirinya, tapi ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Nagin sudah begitu banyak membantunya, terlebih dalam melawan sakit kankernya.


__ADS_2