Cinta Nagin

Cinta Nagin
Bab 38 " Nagin Hamil "


__ADS_3

Sebulan telah berjalan. Bay dan Nagin melakukan aktivitas seperti biasanya. Pesanan cake pun semakin banyak. Terkadang Nagin sampai kelelahan mengerjakan seorang diri.


Bay sudah melarangnya jangan lagi menerima pesanan, tapi Nagin tidak mengindahkan larangan tersebut.


Demi menyenangkan hati para pelanggannya , Nagin selalu saja menerimanya. Kadang pun ada saja pelanggan yang tidak punya uang untuk membayarnya.


Tapi Nagin tidak perduli dengan itu. Baginya yang penting mereka semua suka dengan cake - cake Nagin. Ia pun selalu berbagi kue - kue buatannya kepada anak - anak yang kurang beruntung.


Jika ia kepasar, ia selalu membawanya buat anak - anak dipinggir jalan. Anak - anak itu pun jadi akrab dengan Nagin. Mereka memanggil Nagin dengan sebutan bunda Nagin.


Ya, Nagin semakin perduli terhadap orang - orang di sekitar. Tapi suaminya tidak mengetahui hal itu. Yang Bay tahu, Nagin hanya menerima pesanan cake untuk ia jual.


Suatu hari Nagin sedang mengerjakan cake ulang tahun. Setelah selesai Nagin menelpon si empunya cake. Cake itu pun diambilnya.


Ketika hendak pergi ke dapur ia merasa pusing. Matanya berkunang - kunang. Ia segera minum air putih. Tapi perutnya semakin mual sekali. Ia muntah dan sangat lemas sekali.


Ia tidak sanggup lagi membersihkan rumah. Ia pun merebahkan dirinya di kasur. Wajahnya pucat pasih. Ia selalu saja muntah.


Ia memberikan pesan kepada Bay jika ia sedang sakit. Siang itu Bay ada meeting penting yang tidak bisa di ganggu, sehingga pesan Nagin sangat lama sekali dibalas.


Nagin pun tertidur sampai sore hari. Ia tak tahu lagi kalau suaminya sudah pulang. Bay melihat Nagin tertidur sangat pulas. Ia mencoba membangunkan Nagin


" Gin, bangun uda sore ni? "


" Mas Bay? kamu sudah pulang ?"


" Ia, uda dari tadi.."


" Kamu kenapa lagi?"


" Ga tau mas, perut saya mual banget, palanya juga pusing. "


" Kan uda dibilang, jangan terima lagi orderan. Kamu sih ga bisa dibilangin?"


Tiba - tiba Nagin muntah. Wajahnya semakin pucat. Ia sangat lemas sekali.


" Nagin ? kamu ga papa?"


Nagin terduduk lemas...


" Gimana kalau kita ke dokter aja ya? takutnya tekanan darah kamu rendah lagi."


Nagin hanya menganggukan kepalanya. Mereka berdua pun pergi ke dokter.


Dokter Prety memeriksa Nagin. Dokter itu hanya senyum - senyum saja. Bay sudah takut jika Nagin terjadi sesuatu. Ia tak mau lagi melihat Nagin sakit. Bay telah berubah menjadi pria yang baik dan sudah mulai perhatian kepada Nagin. Ohh.. so sweet sekali 🥰🥰🤩


Kesabaran, cinta kasih dan perhatian Naginlah yang membuat Bay menjadi berubah. Bay semakin bisa menerima Nagin sebagai istrinya. Walaupun terkadang diantara mereka masih ada saja saling usil.


Nagin pun selesai diperiksa dokter Prety.


" Selamat buat kalian pak Bay dan Bu Nagin, kalian akan menjadi orang tua." Ucap dokter Prety.

__ADS_1


" Maksudnya gimana dok?" Tanya Bay.


" Ibu Nagin hamil pak Bay..!" Jawab dokter Prety.


" Hamil ?"Bay melirik Nagin. " Beneran hamil dok?" Tanya Bay penasaran.


" Ia. Kandungannya sudah memasuki 3 minggu. Oh ya untuk ibu Nagin, saya akan berikan vitamin dan penguat rahimnya ya? karena saya lihat rahim ibu Nagin lemah. Bu Nagin harus banyak istirahat ya? banyak minum, banyak makan sayur dan buah. Kalau bisa jangan dulu makan - makanan dari luar, sea food juga jangan dulu ya bu Nagin?"


" Ya dokter." Jawab Nagin yang masih saja lemas dan mual.


Mata Bay berkaca - kaca setelah mendengar penjelasan dokter Prety. Mereka pun meninggalkan ruangan dokter itu.


" Selamat ya sayang, akhirnya kamu hamil juga." Sambil mengelus perut Nagin.


" Ia mas. Makasih ya? "


" Hallo Bay junior? sehat - sehat di dalam peyut mama ya nak? jangan nakal - nakal ya nak? harus jadi anak baik budi ya sayang..!" Ucap Bay.


Semenjak kehamilan Nagin, suasana dirumah berubah. Nagin tidak diperbolehkan menerima pesanan cake lagi. Bay membuat papan pengumuman


... " Untuk Sementara Tidak Menerima Pesanan Cake. Terima Kasih. "...


Pekerjaan rumah Bay lah yang mengambil alih, terkadang dibantu pak Jo. Mau tidak mau, Bay juga yang memasak. Ia harus banyak belajar memasak. Google dan YouTube adalah guru terbaik bagi Bay.


Jika sudah pulang dari kantor, Bay lah yang belanja keperluan dapur. Terkadang Lisa mau membantu atasannya itu membeli keperluan di dapur.


Nagin hanya bisa berbaring dikamar. Karena mencium aroma masakan pun dia tak bisa, perutnya langsung mual. Ya, Bay junior itu sepertinya anak manja ya😍😍


Masalah pekerjaan di kantor pun ia menyerahkan kepada Lisa. Bay harus terlambat datang kekantor karena ia harus menyiapkan makanan dan vitamin untuk Nagin. Ia harus memastikan terlebih dahulu, jika Nagin ditinggal akan baik - baik saja.


Ada yang senang dengar kabar ini, dan ada juga yang tidak begitu senang. Tapi bagi Bay, dengan adanya kehamilan Nagin akan membuat ia semakin bahagia.


Hari itu Bay pulang lebih awal. Para pegawai sudah mengetahui hal ini. Sebagian kasihan melihat atasan mereka harus mengurus rumah dan mengerjakan pekerjaan yang lainnya.


Lisa berniat ingin membantu mereka untuk beberes rumah. Ya, Lisa sudah menganggap Bay dan Nagin adalah saudaranya.


Bay dan Nagin sangat baik sekali kepada Lisa. Lisa sekretarisnya itu tidak pernah sedikit pun ingin mengganggu hubungan mereka.


Seperti kebanyakan sekretaris pada umumnya , selalu mengganggu hubungan rumah tangga atasanya. Tapi sekretaris Bay ini beda dari yang lain. Ia sangat baik karena ia tahu tidak ada artinya menganggu hubungan orang lain.


Malam itu Bay memasak bayam merah rebus dan ikan goreng saja. Ia tak mau memasak yang aneh - aneh untuk istrinya itu. Masakan sederhana yang penting sehat dan aman untuk Nagin dan Bay junior.


Nagin memakan masakan suaminya itu. Hari demi hari, masakan Bay semakin enak. Ia pun menghabiskan semua masakan yang di masak Bay. Tak lupa juga, Bay sudah menyiapkan buah dan susu untuk Nagin.


Bay sudah seperti perawat, tidak pernah ia lupa menyediakan semuanya untuk Nagin. Jika jadwal kontrol kehamilan ke dokter kandungan, Bay selalu ingat.


Minggu pagi, keperluan dapur habis. Awalnya Bay ingin berbelanja ke supermarket. Tapi Nagin melarangnya. Nagin menyuruhnya berbelanja ke pasar tradisional saja.


Nagin memberitahukan apa- apa saja yang mau dibeli. Dan ia juga memberitahukan dimana Bay nanti membelinya. Karena Nagin sudah mempunyai langganan.


Nagin juga memberikan beberapa uang , agar diberikan kepada anak - anak pinggir jalan. Supaya ada untuk beli makan siang mereka nanti.

__ADS_1


Bay pun terkejut mendengar anak - anak pinggir jalan harus diberi makan. Ia pun sempat marah pada Nagin.


" Mas, kalau kita memberi kepada mereka, kita tidak langsung jatuh miskin , kita tidak langsung kekurangan. Justru kita semakin memberi makan mereka, rejeki kita semakin berlipat ganda dari Tuhan. Oh ya, nanti mas kasih uangnya ke Bayu ya? Bayu itu anak paling tua, biar Bayu aja yang bagi - bagi uangnya." Ucap Nagin.


" Ia tapi kan??" Bay bingung mau jawab apa.


" Mereka anak - anak kurang beruntung mas, kasihan mereka. Jika kita bisa menjadi saluran berkat buat mereka, kenapa tidak? toh kita juga tidak kekurangan kan?"


" Ya uda nanti mas kasih dehh.."


Nagin pun tersenyum melihat suaminya itu.


Mau tidak mau, pagi itu Bay harus ke pasar tradisional. Namanya juga pasar tradisional, bau, banyak lalat, becek. Bay pun menyusuri jalanan pasar itu sambil menanyakan dimana si ini, dimana si itu.


Anak - anak jalanan itu, jika pagi hari mereka suka membantu ibu - ibu yang membawa belanjaan. Mereka pun melihat keranjang belanjaan Bay. Mereka sudah sangat kenal dengan warna keranjang belanja itu.


" Om, kenapa tidak bunda yang belanja?"


" Bunda ?? bunda siapa?"


" Bunda Nagin om, inikan keranjang bunda Nagin."


Bay masih saja terdiam. Ia masih saja heran dengan anak2 itu.


... " Nagin dipanggil bunda? bunda Nagin, ga salah ni anak - anak? kayaknya nama Nagin banyak dehh? mungkin anak - anak ini salah, bukan Nagin istri saya kali? tapi pesan Nagin tadi, kasih uangnya ke anak - anak, si Bayu. Ya namanya Bayu." Ucap Bay...


Bay pun memanggil anak - anak itu.


" Kalian kenal bunda Nagin dari mana?" Tanya Bay


" Bunda selalu belanja disini om. Bunda baik sekali, bunda selalu perhatian kepada kami, selalu kasih makanan dan uang. Kalau bunda buat kue, bunda juga mau kasih ke kami om."


" Oh begitu.."


" Rumah kalian dimana? "


" Kami tidak punya rumah om, kami hanya tidur diemperan toko om."


" Kalian kakak beradik ya?


" Ia om. Kami semua kakak beradik.''


" Namanya Bayu yang mana ?"


" Saya om..."


" Oh ya Bayu, ini ada titipan dari bunda Nagin. Ini uangnya buat beli makan siang kalian ya?" Bay pun memberikan uang tersebut. Melihat wajah mereka, Bay pun menambahkan uang makan siang mereka lagi.


" Ini om tambahi uangnya, tapi kalian janji, jangan dihabisi uangnya ya?"


" Ia om. Makasih ya om. Oh ya om belum tahukan dimana tempat langganan bunda? Kami akan mengantarkan om kesana. Mari ikut kami om..!"

__ADS_1


Bay pun mengikuti mereka. Bay semakin mengerti kenapa selalu Nagin pergi ketempat ini, ya karena anak - anak inilah Nagin harus ke sini.


Padahal selama ini Bay selalu menyuruh Nagin untuk berbelanja di supermarket. Tapi Nagin selalu menolaknya, alasannya terlalu jauh dan mahal.


__ADS_2