Cinta Nagin

Cinta Nagin
Bab 50 " Bay Mengalah"


__ADS_3

Malam itu Nagin benar - benar tidak bisa tidur. Sementara suaminya itu, sudah terlelap tidur. Nagin merasa haus, ia pun keluar dari kamar.


Ketika menuju dapur, ia melihat kalau diruangan itu masih ada fhoto pernikahan mereka berdua. Ternyata suaminya itu tidak melepaskan fhoto - fhoto momen bahagia itu.


Ia melihat suasana dapur itu. Masih seperti dulu, hanya saja ketika ia membuka kulkas, sama sekali tidak ada makanan apapun.


Memang Nagin selalu cemas dan memikirkan suaminya itu. Ia takut kalau suaminya itu makan - makanan dari luar , karena sampai sekarang Nagin masih saja khawatir dengan kesehatan suaminya itu.


Nagin kembali masuk kekamar. Ia memandangi suaminya yang tertidur pulas itu . Nagin tersenyum ketika melihat wajah suaminya itu. Ya, masih ada rasa sayang dan cinta buat suaminya itu, walaupun ada sedikit rasa ego pada diri Bay, tapi itu tidak membuat Nagin putus asa.


Nagin merebahkan dirinya. Ia menangis mengingat masa - masa dimana ia harus pergi dari rumah itu dulu. Bay mendengar suara tangisan Nagin. Bay terbangun. Ia melihat kearah jam dinding kamar itu, sudah pukul 02.00 dini hari.


" Ga usah nangis. Hal seperti itu biasa kok dalam rumah tangga. Sekarang tidurlah..!"


" Ga ada yang nangis kok." Nagin mengusap matanya.


" Serius ga nangis? itu tadi suara nangis siapa?"


" Ahh mas Bay, suka ikut campur aja."


" Kamu masih marah ya? " Tanya Bay


" Ga kok.." Jawab Nagin datar.


" Yakin ga marah lagi?"


" Ia, ga marah lagi."


" Buktinya kalau ga marah lagi apa?"


" Harus pake bukti ya?"


" Ya, ialah. Ya da, tidurlah nanti kita cerita lagi."


Bay pun kembali tertidur.


Matahari sudah memancarkan sinar paginya, Bay pun sudah bangun dari tidurnya. Ia melihat Nagin, masih tertidur pulas. Ia tak mau mengganggu istrinya itu.


Pagi ini, Bay tidak masuk kantor. Ia hanya bekerja dari rumah saja. Ia meminta kepada sekretarisnya itu, agar semua laporan - laporan dikirim kerumahnya saja.


Nagin pun terbangun. Ia melihat suaminya itu tidak ada disampingnya.


..." Mas Bay uda berangkat kerja? ya ampun ? kok saya ndak dibanguni sih? jadi mas Bay? astagaaaaa..mas Bay ga sarapan?"...


...Ucap Nagin sambil merapikan tempat tidur itu....


Nagin buru - buru keluar dari kamar. Ia langsung menelpon suaminya itu. Bay pun mengangkatnya.


" Maaf ya mas, saya telat bangun...! Mas Bay jadi ga sarapan."


" Hari ini saya ga ngantor, Gin."


" Jadi mas Bay dimana?


" Dihati kamu hehehee...diruang kerja, Gin."


" Oh gitu." Nagin menghela nafasnya. Ia pun menghampiri suaminya itu. Bay sedang memeriksa keuangan perusahaan yang dikirim Andre.


" Mas Bay, mau dibuatin sarapan apa?"


Bay tersenyum melihat istrinya itu.

__ADS_1


" Apa aja deh, terserah kamu, Gin."


" Ohh ya uda." Nagin pergi meninggalkan suaminya yang sedang sibuk itu.


" Nagin...!"


" Ya, mas. Ada apa? Nagin menoleh sambil memberikan senyuman manisnya.


" Ehhmmm, kamu tahu ga? yang buat saya paling bersyukur hari ini apa?"


" Ga tau mas, emang apa?"


" Melihat kamu tersenyum di pagi hari." Ucap Bay sambil menatap Nagin.


"Hahahahaha...mas Bay bisa aja becandanya.."


" Siapa juga yang becanda?"


" Ya da, mau dibuatin apa? kopi atau teh?"


" Terserah kamu aja deh, yang penting manisnya sama kek kamu." Bay melirik istrinya itu.


" Semenjak ditinggal makin aja ya ?"


" Makin apa? ya da buruan buatin minumnya...!"


Nagin hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya itu.


Nagin ga habis pikir, kenapa suaminya itu tiba - tiba bisa baik padanya. Nagin pun mencari tahu, ada apa dibalik semua ini.


" Ini teh nya mas, Bay. Silahkan diminum....!"


" Makasih ya..!"


" Ga. Uda sembuh kok."


" Ohh gitu ya. Kalau begitu saya bisa pulang kan mas ke kontrakan?"


" Pulang? kekontrakan? trus teman saya disini siapa?"


" Mas Bay itu ga anak - anak lagi. masa harus ditemani?"


" Kalau saya sakit gimana?"


" Kan bisa ke rumah sakit?"


" Kamu tu ya, Gin, ga kasihan lihat suaminya ya?"


" Ga kasihan gimana? telpon aja mbak Nadine, pasti dia datang kok."


" Nadine lagi Nadine lagi... kamu cemburu ya?"


" Ga. Ngapain juga saya cemburu."


" Oh, kamu buru - buru mau pulang, kamu uda kangen ya lihat si Tomi itu?"


Nagin menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


" Kamu tu ya ? kamu itu masih sah jadi istri saya? jadi kamu ga boleh dekat - dekat dengan pria lain. Kamu ngerti ga sih?"


" Ga boleh dekat - dekat dengan pria lain ya? jadi mas sendiri gimana? dekat dengan mbak Nadine?"

__ADS_1


" Ya itu beda. Dia kan?"


" Dia apa?"


" Dia teman kerja saya, klien saya."


" Teman kerja tapi suka jalan bareng. Trus waktu saya lihat, mas Bay pegang tangan dia. Gitu ya kalau sama klien?"


" Ya dehh maaf. Mas khilaf...!"


" Laki - laki mah gitu, kalau uda buat salah khilaf bilangnya."


" Ahh kamu juga gitu. Fhoto berdua dengan Tomi. Pake ketawa lagi. Sok romantis."


" Mas Tomi emang orangnya romantis mas. Dia baik, tampan lagi,pengertian." Nagin tersenyum


" Puji aja trus...! ntar dia bersin - bersin, baru tau rasa..."


" Ialah orang kayak mas Tomi itu, wajib dipuji mas. Ga kayak mas Bay hahahahaha.."


" Ketawa lagi. Buatin sarapan dong, laper...!"


" Suruh aja Nadine."


" Sikit - sikit Nadine. Kan kamu yang istri saya, bukan Nadine?"


" Nadine kan calon mu mas. Coba aja kalau surat itu tidak hilang, pasti mas Bay akan tanda tangani kan?"


" Uda dehh saya ga mau ribut pagi - pagi. Uda buatin sarapan dong?"


" Ga ada bahan makanan yang bisa dimasak."


" Ya da belanja..!"


" Ga ah, saya pulang aja mas."


" Gin, kamu itu ga kasihan lihat saya ya?"


" Waktu ngusir saya, mas Bay kasihan ga lihat saya ? hujan - hujan , basah kuyub gitu?"


" Uda ga usah diingat lagi waktu itu."


" Enak aja bilang ga usah diingat."


" Ia, mas minta maaf."


" Maaf dari dulu. Bosen mas."


" Uda ga usah cemberut lagi?senyum dong?"


" Uda ah saya pulang...!"


" Nagin saya mohon jangan pergi."


Nagin tersenyum melihat suaminya itu ketika ia memohon untuk tidak pergi.


" Ya da saya temani kamu belanja, sekalian kita cari sarapan diluar ya?"


" Baiklah klo begitu." Jawab Nagin.


Bay pun meninggalkan pekerjaannya itu dan menemani Nagin pergi membeli keperluan dapur.

__ADS_1


Bay kesal karena sikap istrinya itu. Akhirnya ia harus ikut ke pasar. Pergi kepasar paling malas untuk seorang Bay. Ia harus melewati jalan yang becek dan bau.


Demi Nagin ia pun rela ikut bersamanya. Bay hanya diam saja. Ia tak mau berdebat lagi dengan istrinya itu. Bay mengikuti kemana istrinya itu pergi dengan wajah yang cemberut.


__ADS_2