
Waktu pun berlalu. Tapi Nagin masih trauma dengan kejadian itu. Kehamilan yang ditunggu - tunggu membuat keluarga kecil ini berbahagia namun Bay junior yang dinanti - nantikan itu kini sudah tiada.
Nagin masih melihat ada beberapa butir vitamin ibu hamil di meja kamar itu. Kembali ia menangis meratapi kejadian itu.
" Sayang, kamu sedang apa? " Nagin tersentak kaget dengan suara itu. Ya suara itu adalah suara nenek Bay, nenek Bay tiba di Jakarta pagi itu.
Nagin langsung menghapus air matanya. Begitu ia melihat si nenek Nagin langsung memeluknya erat. Ia menangis mengingat semua itu.
" Kamu yang sabar ya, nak ? nenek sangat prihatin akan kejadian ini. Tapi dibalik musibah ini, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil."
" Nenek.....!" Tangis Nagin semakin pecah.
" Ia, nenek ngerti nak. Nenek pun pernah merasakan kehilangan janin. Tapi dibalik kesedihan itu, Tuhan kasih hadiah yang paling istimewa, yaitu alm papa mertua kamu, papanya Bay."
" Begitu ya, nek."
" Hapus air mata kamu, nak. Sekarang kita kedepan ya?"
" Kakek dimana, apakah ga ikut nek?"
" Ikut dong, masa ga ikut. Tu kakek kamu, nak?"
Nagin langsung memberi salam kepada kakek Bay.
"Oh ya, nenek pengen lah makan di salah satu restaurant favorite keluarga Hardinata. Sudah lama nenek tidak makan disana. Gimana, kalian setuju ga?" Pinta nenek.
" Kalau saya si setuju aja nek, ga tau kalau Nagin dan kakek hehehehe..." Ucap Bay
" Kakek setuju." Ucap kakek.
" Nagin gimana?" Tanya nenek.
" Ya nek, saya mau." Nagin menjawab sambil memberikan senyuman manisnya.
" Nah gitu dong, jangan sedih lagi ya nak?"
Nagin hanya bisa menganggukan kepalanya.
Mereka pun pergi makan diluar. Sepanjang jalan Bay menyanyi. Suaranya tidak begitu merdu tapi demi istrinya, ia pun rela untuk menghibur dengan bernyanyi.
Sampailah mereka ditempat itu, mereka pun memesan makanan.
" Bay dan Nagin. Dulu kalian kan belum pernah honeymoon. Jadi kakek dan nenek, ingin memberikan tiket jalan - jalan buat kalian. Kalian mau pilih kemana yang kalian suka." Ucap kakek.
" Nagin, maafkan kami. Kami tau suami mu pasti bisa mengajak mu jalan - jalan kemana saja, tapi ini hadiah dari kakek dan nenek buat kalian. Kamu mau ya nak?" Pinta nenek.
Bay hanya tersenyum. Bay melirik Nagin.
" Gimana, Gin?" Tanya Bay.
" Terserah mas Bay , kek nek."
__ADS_1
" Baiklah , berarti mau ya? ini hadiah honeymoon kalian lhoo hehehehe..." Ucap nenek sambil memegang tangan Nagin.
Makan malam itu begitu damai dihati Nagin. Walaupun mereka mencoba menghibur Nagin, tapi Nagin masih saja mengingat semua itu. Ia tidak akan bisa melupakan kejadian itu.
Pagi hari pun tiba, Bay harus pergi kekantor. Nagin sudah bisa melakukan aktivitasnya kembali. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk suami, kakek dan neneknya itu.
" Pagi sayang..! hhmmm enak sekali baunya. Sayang, kamu masak apa sih?" Tanya Bay.
" Bubur ayam mas, inikan makanan kesukaan kamu."
" Yessss,,bener banget kamu."
" Selamat pagi Bay dan Nagin....!Wahh masak apa kamu nak? sepertinya enak sekali ni...!"
" Kek, bubur ayam masakan Nagin wenaakkk banget kek, cobain deh ntar kakek ketagihan lho.."
" Oh ya? masa sih? kakek coba ya ?''
" Gimana rasanya kek? enak ga?"
" Aduhh maaf Nagin, ini mahh enak bener hahahaha...."
" Terima kasih ya kek. Oh ya , silahkan dilanjutkan sarapan nya kek, mas. Saya mau ke dapur dulu."
" Oke sayang..." Ucap Bay.
Nagin pergi meninggalkan kakek dan Bay yang sedang sarapan itu.
" Bay, hibur dia trus. Jangan sampai dia mengingat kejadian itu lagi. Kasihan dia Bay."
" Dia wanita yang hebat Bay. Dia bisa tegar menghadapi cobaan seperti ini. Kakek bangga padanya. Dia benar - benar anak yang kuat. Oh ya, gimana dengan Jenni? mengapa kalian tidak membawanya ke rana hukum saja?"
" Nagin ga mau kek. Kata Nagin, biarlah Tuhan yang menghukum dia. Da sudah memaafkannya kek."
" Nagin sungguh besar kasih mu nak, begitu mulia sekali hatinya." Ucap kakek Bay.
" Ia kek. Itulah yang membuat saya semakin cinta padanya, hatinya itu kek, benar - benar tulus. Tapi, saya masih ga trima kalau Jenni masih bebas gitu aja kek."
" Nak, yang dikatakan Nagin itu benar. Biarlah Tuhan yang menegur dia. Dibawa kerana hukum jika memang tidak niat untuk bertobat, ya sama aja. Ga ada artinya."
" Tapi kek, saya takut Jenni mencelakai Nagin lagi."
" Kakek yakin, dari masalah ini Nagin semakin kuat, tegar dan berani."
" Ya kek, mudah - mudahan. Oke kek, saya pamit ya ntar telat lagi.."
Bay pun berpamitan kepada kakek, nenek dan Nagin. Ia juga tak lupa selalu mencium kening istrinya itu.
Nagin sedang sibuk di dapur. Ia merapikan semua peralatan dapur. Karena selama ia sakit, dapur menjadi terbengkalai. Apalagi, kalau suaminya itu yang masak, semua berserak dan tidak ada barang yang kembali pada tempatnya. ( Namanya juga bapak - bapak ya...😄)
Tiba - tiba Nagin ingat anak - anak pinggiran jalan itu. Ia minta ijin kepada kakek dan nenek untuk pergi kepasar. Awalnya, nenek Bay tidak memberikan ijin. Tapi Nagin tetap ngotot untuk pergi.
__ADS_1
Sesampainya dipasar, ia mencari anak - anak itu. Ia tampak sedih karena tidak melihat anak - anak itu. Ia trus mencarinya sampai ada suara yang memanggilnya.
" Bunda....!"
Nagin pun menoleh kearah datangnya suara.
" Bayu, Andi dan Iko? kalian sehat nak?"
" Apa kabar bunda? kami sangat merindukan bunda. kami kira bunda sudah tidak mau datang kemari." Ucap Iko
" Bunda sehat sayang. Bunda?? bunda sibuk nak, banyak pekerjaan dirumah."
" Bunda kok kurusan sekarang ya?" Tanya Andi.
" Ehhhhmm, bunda diet nak heheh.."
" Diet?" Tanya Bayu.
" Ia. bunda diet biar langsing hehehehe.." Nagin menutupi masalah yang ia hadapi. Ia tak mau membuat anak - anak ini sedih. Karena bagi anak - anak ini, Nagin sudah seperti orang tua mereka.
" Sepertinya ada sesuatu yang bunda sembunyikan dari kami, apakah bunda baik - baik saja?" Tanya Bayu.
" Ia nak bunda baik - baik saja kok.."
" Benarkah bunda? Tanya Iko.
" Ia, bener."
" Bunda, lihatlah surat kabar ini...!" Andi memberikan surat kabar lama kepada Nagin.
" Bunda mengalami kecelakaan kan? kenapa om Bay tidak beritahu kami?" Tanya Iko.
Nagin menangis.
" Ia bunda kecelakaan . Tapi, bunda uda sehat kok. Sekarang bunda baik - baik saja." Nagin kembali menangis.
" Bunda yang sabar ya?" Ucap anak - anak itu sambil memeluk Nagin.
" Ia nak. Oh ya, temani bunda belanja yuk..!"
Bayu, Andi dan Iko pun menemani bunda Nagin berbelanja. Mereka saling tertawa, bercanda bersama. Anak - anak itu sangat dekat sekali dengan Nagin. Mereka seperti menemukan sosok seorang ibu yang memberikan kedamaian dihati mereka.
Kakek dan nenek Bay tidak bisa berlama - lama di Jakarta, mereka harus pulang ke Singapure. kakek dan nenek Bay meminta kepada Nagin supaya tidak berlarut - larut dalam kesedihan.
Nagin harus bisa bangkit lagi. Dan di hati Nagin tidak ada sama sekali menyimpan dendam kepada Jenni. Ntahlah, ntah terbuat dari apa hati seorang Nagin Hardinata itu.
" Mas, semenjak saya nikah sama kamu, kamu ga pernah kan ngajak saya nyekar ke makam orang tua kamu?"
" Ia juga ya? mas kok lupa ya ?"
" Pengaruh umur mas hehehehe.."
__ADS_1
" Kamu ya? mulai bawel lagi." Sambil mencubit pipi Nagin dan memeluknya. " Ya uda, minggu depan kita nyekar sama - sama ya sayang...!"
" Ia mas, makasih ya..!"