Cinta Nagin

Cinta Nagin
Bab 11 " Awal Kebangkrutan Bay "


__ADS_3

Hari - hari pun berlalu. Bay sudah menjalani kemoterapi yang ke 4 kali nya. Biaya kemoterapi tidaklah murah. Bay sudah mulai kebingungan dengan masalah biaya kemoterapi.


Tabungan Bay pun perlahan - lahan sudah mulai menipis. Sementara gaji para pegawai dikantor pun sudah mulai tertunda. Bay mencoba mencari pinjaman kepada teman - temannya, tapi hasilnya nol. Tak satu pun teman - temannya mau meminjamkan uang mereka kepada Bay.


Ia mulai panik. Jika ia minta bantuan kakek dan neneknya, ia takut jika mereka mengetahui keadaan Bay yang sebenarnya. Mereka sudah tua. Bay tidak mau membuat tambah pikiran kakek dan neneknya.


Ia coba meminjam ke saudara - saudaranya, hasilnya sama saja. Dan ia mencoba memberanikan diri meminjam kepada Johan. Johan pun sama saja, dengan alasan baru membeli property.


Andre, kepala bagian keuangan itu pun mendesak Bay agar para pegawai di gaji. Tapi Bay tidak mendapatkan uang. Bay benar - benar hancur.


Nagin pun mengetahui hal ini. Ia hanya bisa diam. Nagin berusaha mencari pinjaman juga dengan menghubungi Mooly. Tapi Mooly tidak bisa memberikannya.


Bay jadi kepikiran apa ia harus menjual sebagian miliknya. Perlahan Bay melihat obatnya. Obat itu pun sudah mulai habis. Ia pun putus asa. Bay menangis. Keadaannya sangatlah terpuruk.


Nagin melihat tuannya itu menangis. Dan ia pun segera menghampirinya.


" Tuan...??" Nagin langsung memeluk tuannya itu.


" Saya benar - benar hancur, Gin. Saya ga dapat pinjaman. Bagaimana saya bisa bayar gaji pegawai ?sementara mereka sudah waktunya gajian.


" Tuan, sabar ya? kita berdoa pasti ada jalan. "


Bay kembali menangis.....


" Persediaan obat juga sudah mau habis, Gin. Minggu depan, jadwal saya kemo. Dari mana uang, Gin?"


" Kita bisa pikirkan nanti, tuan. Tuan istirahat dulu ya?"


" Gin ..panggilin Pak Jo. Saya mau ngomong."


" Ya tuan..."


Nagin pergi memanggil pak Jo. Dan ia pun keluar dari kamar tuannya itu. Tak berapa lama, Nagin dan pak Jo pun tiba dikamarnya.


" Pak Jo... !!" ia pun melanjutkan pembicaraannya itu.


" Pak Jo, bapak uda lama kerja bareng sama saya. Bapak sangat baik. Hanya Bapak yang mau menemani saya dirumah ini. Bapak tau kan, keadaan saya sekarang ini. Saya benar - benar hancur pak. Saya ga bisa lagi bayar gaji Bapak.."

__ADS_1


Dan Bay pun menangis sejadi - jadinya. Lalu ia melanjutkan pembicaraannya.


" Nagin, terima kasih banyak ya. Kamu uda baik banget mau ngurus saya yang sakit - sakitan ini."


Bay kembali diam.....


" Nagin, kalau kamu mau cari pekerjaan ditempat lain ga papa, Gin. Jujur saya ga bisa bayar gaji kamu lagi. Kalian berdua bisa cari kerja ditempat lain. Kalian bisa tinggalkan saya sendiri disini. Saya ga punya uang lagi....!"


" Tuan Bay, saya tahu keadaan tuan sekarang. Tidak dibayar pun bulan ini gaji saya, saya ga masalah tuan. Tuan sudah terlalu baik kepada saya dan keluarga saya. Tapi maaf tuan, ijinkanlah saya kembali ke desa, karena saya harus menafkahi keluarga didesa tuan."


" Baik pak Jo. Kamu Nagin...?" Tanya Bay


" Ayah saya pernah mengatakan, jika saudara mu ada dalam kesusahan, baiklah engkau membantu dia. Saya ga akan pergi tuan..saya akan tetap disini mengurus tuan. Walaupun saya tidak digaji. Tuan Bay pasti sembuh, saya yakin itu. Ada Tuhan tempat kita berlindung tuan...tuan pasti sembuh."


" Nagin....!!" Bay menangis.


" Gin...kamu masih muda, diluar sana ada pekerjaan yang lebih bagus, Gin. Saya ga papa kok tinggal sendiri disini."


" Ga tuan, saya ga akan bisa meninggalkan tuan dengan keadaan begini. Saya akan tetap mengurus tuan sampai sembuh. Kita bisa lewati ini sama - sama tuan."


Nagin pun memeluk tuannya itu.


Kini kehidupan Bay telah hancur. Bay harus menanggungnya. Sakit kanker lambung stadium 4 dan keuangan yang telah menipis. Semua menjauh dari kehidupan Bay.


Ya...hanya Naginlah yang setia menemaninya. Ia rela menghabiskan waktunya hanya untuk mengurus majikannya yang sakit itu.


Karena Nagin yakin, Bay akan sembuh dari sakitnya. Nagin sudah merasakan bagaimana di jauhi orang - orang karena tidak mempunyai apa - apa.


Ya...Nagin tidak mau melihat tuannya itu merasakan hal yang sama.


Waktu pun berlalu. Andre dan beberapa pegawainya datang untuk memberikan surat pengunduran diri mereka.


Bay hanya bisa meminta maaf kepada mereka. Dan Andre juga mengatakan jika perusahaan mempunyai banyak hutang.


Mendengar itu, Bay hanya bisa diam. Perusahaan yang telah lama didirikan papanya , kini hancur akibat terlilit hutang. Bay hanya bisa pasrah dengan keadaan. Semua aset telah terjual. Bay hanya memiliki rumah besar dan megah yang ia tempati bersama Nagin.


Tapi,aset - aset semua yang ia miliki belum cukup untuk membayar hutang perusahaan. Mau tak mau, rumah yang mereka tempati pun harus dijual. Rumah itu banyak meninggalkan kenangan. Disanalah Bay dilahirkan dan dibesarkan. Hati Bay sangat hancur, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

__ADS_1


Nagin meminta kepada pihak Bank, untuk memberikan waktu agar ia mencari rumah kontrakan terlebih dahulu. Ia menjelaskan keadaan tuannya itu.


Siang itu, Nagin menyusuri jalanan kota. Ia memasuki gang ke gang, ia mencari rumah kontrakan atau pun rumah kost - kost'an. Panas terik ia jalani demi tuannya itu, agar tuannya mendapatkan tempat yang layak.


Nagin berhenti dilampu merah. Ia tak tahu lagi harus kemana. Tenggorokan yang kering, perut yang lapar harus ia tahan. Johan melihat Nagin. Dan ia pun memanggil Nagin.


" Gin, sedang apa disini?"


" Mas Johan ? saya lagi cari kontrakan mas."


" Kontrakan ? buat siapa ?"


" Kita mas. Saya dan tuan Bay.."


" Apa ? Bay ??? Bay bangkrut ya?"


" Ia mas. Mas Johan tidak bisa bantu tuan Bay ya ?"


"Maaf, Gin. Bay itu tidak akan lama lagi hidupnya. Kalau dia meninggal siapa yang akan bayar hutangnya ? kamu ??"


" Kok mas Johan gitu ngomongnya? tuan Bay kan teman mas Johan. Masa teman sendiri ga mau bantu mas ?"


" Masalahnya, Bay uda sakit - sakitan Gin. Oh ya, kenapa juga kamu mau repot ngurus Bay yang sakit - sakitan itu? tinggalin aja dia, Gin. Kasihan kamu, capek tau...."


" Ternyata mas Johan seperti ini ya? saya ga nyangka mas kalau mas itu punya sifat yang jelek. Tega sama teman sendiri. Saya yakin kok mas, Tuan Bay akan sembuh. Tuhan maha adil mas, Tuhan tidak tidur mas."


" Nagin, saya kasihan lihat kamu, kamu harus capek begini."


" Ga papa mas saya capek."


" Gin, kamu tau ga? saya tu suka sama kamu. Kalau kamu mau, saya bisa kasih kamu tempat tinggal."


" Suka ?? maaf mas. Saya ga suka sama lelaki yang sifatnya kayak mas Johan."


" Ohh jadi kamu lebih suka, lebih sayang sama Bay yang sakit - sakitan itu? Nagin..Nagin...pembantu aja belagu banget..."


" Ia mas ....saya emang pembantu. Tapi walaupun saya pembantu saya masih punya hati nurani. Ga kayak mas, sedikit pun tidak ada rasa empatinya."

__ADS_1


Nagin pun pergi meninggalkan Johan. Ia pun berjalan menyusuri gang ke gang lagi. Ia tetap mencari rumah kontrakan itu. Tak berapa lama, Nagin pun menemukan rumah kontrakan itu. Dan ia pun menanyakan berapa biayanya.


__ADS_2