
Pagi itu, cuaca di desa masih dingin. Cuaca di kota dengan di desa sangatlah berbeda. Sudah pukul 07.00 pagi, Bay belum juga bangun.
Nagin yang pagi itu, sudah selesai memasak. Ia pun segera mencuci pakaian disungai.
Selama berada di desa, Bay sangatlah malas untuk bangun. Ya, Bay sangat menikmati tidurnya pagi itu karena cuaca sangatlah mendukung.
" Mas Bay ? ayok bangun...!" Nagin membangun kan tuannya itu sambil membuka jendela kamar itu.
" Masih ngantuk, Gin. Ntar aja bangunnya..." Jawab Bay .
Tiba - tiba ponsel tuannya itu berbunyi. Nagin melihat ada pesan masuk. Sekilas Nagin melihat nama si pengirim pesan. Ternyata itu adalah Raisa.
Nagin membangunkan tuannya itu kembali.
" Itu ada pesan masuk. Ga mau dibalas? siapa tau dari kantor ?" Tanya Nagin
" Ya uda, kamu aja yang baca pesannya...!
" Ga mas, itu buat kamu."
Dengan berat hati Bay bangun dan mengambil ponselnya lalu membaca pesan itu.
" Raisa....!" Ucap Bay
" Oh.....!"
Bay tak membalas pesan tersebut. Ia pun menelponnya..
Nagin langsung keluar. Ia tak mau mendengar percakapan mereka.
Nagin melanjutkan cuciannya. Wajahnya sedikit muram. Ntahlah apakah ia cemburu atau tidak.
" Gin, ponsel mas lowbat. Gimana dong ini? mana ga ada listrik lagi dirumah kamu?"
" Siapa juga suruh datang ke desa? ya da, mas pulang aja ke kota.." Jawab Nagin dengan ketusnya.
" Kamu ngusir ya? "
" Ga. Saya ga ngusir kok...."
" Gin, ga bisa gitu nompang dirumah tetangga?"
" Ya da mas aja yang pergi.."
" Kok gtu sih, Gin?"
" Jadi maunya gimana ?" Nagin semakin marah
Nagin melanjutkan lagi cuciannya ..
__ADS_1
" Boleh ga mandi? "
" Ya da mandi aja. Ga ada yang larang..."
" Biasanya kalau pagi, kamu itu pasti kasih senyuman. Ini kok ga ada ya? hehehehehe..."
" Uda lah mas, kalau mau mandi ya buruan mandi..."
Bay menghela nafasnya. Lalu ia pun mandi disungai yang dingin itu. Wajah Nagin masih saja tampak muram. Bay ingin membuat hati Nagin kembali ceria. Tidak marah lagi kepadanya.
Bay pun berenang sampai ke tengah sungai itu. Nagin melihatnya, ia diam. Ya Bay tau apa yang akan ia lakukan. Bay pura - pura hanyut.
" Gin, tolong....! tolong gin...! Nagin... kaki saya sepertinya nyangkut. Saya ga bisa gerak...."
Nagin pun panik dan ia langsung masuk ke dalam sungai itu. Ia segera menghampiri tuannya itu.
Nagin pun menarik tangan tuannya itu dan mencoba menolongnya. Tetapi Bay langsung memeluknya. Ia memeluk Nagin sangat erat.
" Mas Bay?? apa'an si??" malu - malu'in aja.."
" Hahahaha, maaf ya? mas bohong. Jangan cemberut lagi. Senyum dong...??" Sambil mencubit pipi Nagin.
Nagin memukul pundak tuannya itu. Dan Bay pun tertawa. Dan langsung saja menggendong Nagin naik kedaratan.
" Mas Bay lepasin? nanti jatuh ?"
" Ga. Mas ga akan lepasin..."
" Wahhh, pengantin baru. Mesra sekali ya? ejek beberapa ibu - ibu itu sambil tertawa.
" Ia dong bu..." Jawab Bay.
Siang itu panas sangat terik sekali. Bay pun mulai bosan. Tidak ada kegiatan sama sekali.
" Gin, bosen. Ga tau mau ngapain..."
" Ya da, mas pulang aja kekota. Disana kan ada Raisa, jadi ga bosen..."
" Raisa? ohh...jadi kamu ngambek karena ada Raisa ya? hahahahah...."
" Ga. Uda ya, saya mau pergi..."
" Ikut...!" Ucap Bay sambil menarik baju Nagin.
Siang itu Nagin mencari pekerjaan dikebun warga, siapa tahu ada yang bisa ia bantu. Bay pun mengikuti Nagin.
Tibalah di sebuah kebun kentang milik seorang warga. Nagin menanyakan apakah ia bisa membantunya, agar ia punya dapat uang. Petani itu pun mempersilahkan Nagin untuk bekerja.
Bay hanya berdiam diri. Ia sudah tak sabar menunggu Nagin. Ia selalu berdiri di panas terik matahari.
__ADS_1
Bay pun mulai haus. Ia selalu memanggil Nagin agar segera pulang. Tapi Nagin hanya diam saja.
Semua petani yang ada dikebun itu hanya bisa tertawa melihat Bay.
Sore pun tiba. Akhirnya Nagin pun pulang. Wajah Bay sedikit memerah karena terkena sinar matahari. Bay sangat kelelahan. Ia tak sanggup lagi untuk berjalan pulang.
Ketika melintasi jalan pulang, Bay melihat anak sungai. Bay ingin mandi disungai itu untuk menghilangkan kelelahannya. Ia mengajak Nagin. Awalnya Nagin menolak. Setelah dibujuk Bay, akhirnya Nagin mau.
Nagin tidak masuk ke air sungai itu. Hanya Bay saja. Bay sangat menikmatinya. Ia berenang sangat jauh. Air itu sangat segar sekali. Bay melihat Nagin duduk disebuah batu sambil melamun.
Bay pun kembali membuat ulah. Ia pura - pura hanyut dan tidak sadarkan diri. Perbuatan Bay itu pun berhasil ia lakukan. Nagin panik. Nagin pun masuk kedalam air itu. Dan membawa Bay ke daratan. Tak berapa lama, datanglah seorang ibu - ibu paruh baya. Dia memberitahukan agar Nagin memberikan nafas buatan.
Nagin terdiam . Ia tak mau melakukannya. Tanpa menunggu waktu yang lama, seorang ibu yang sangat berbadan besar itu menghampiri Bay.
" Biar ibu aja yang kasih nafas buatannya, Gin. Badan ibu besar, lebih banyak stok nafas ibu.." Ucap si ibu yang berbadan besar itu.
Ibu itu langsung mendekatkan wajahnya ke Bay. Sontak saja Bay langsung bangun.
" Ga..ga..ga..ga....!" sambil mendorong si ibu itu...
" Lahh, Uda sadar aja.." Ucap si ibu lagi.
Nagin yang melihat kejadian itu langsung tertawa. Bay pun melihat Nagin sudah tidak muram lagi. Walaupun idenya kali ini gagal, tapi ia senang melihat Nagin sudah tidak muram lagi. Setelah kedatangan Bay, Nagin tidak pernah senyum. Ia hanya diam saja.
Didesa itu hanya Nagin lah yang belum ada listrik. Bay menyarankan agar segera dipasang listrik. Tapi Nagin hanya diam saja.
Malam itu, hanya ada 3 lilin sebagai penerang . Nagin masih saja diam. Bay ga tau harus berbuat apa. Malam itu Bay tidak makan. Ia pun kesal, karena Nagin lagi - lagi diam pada dirinya.
Bay masuk ke kamar. Kamarnya gelap. Sayup - sayup ia mendengar Nagin menangis. Bay pun keluar.
" Gin, maaf ya kalau kedatangan saya membuat kamu jadi marah begini. Ya da besok saya pulang. Maaf ya, Gin.."
Bay mengambil lilin, dan menghidupkannya. Lalu ia membawanya kekamar. Ia pun menyusun baju- baju yang ia bawa.
Bay pun langsung tidur. Nagin pun masuk kekamar itu. ia duduk ditepi tempat tidur itu sambil menangis. Bay masih mendengar tangisan Nagin.
Bay pun menggeser tubuhnya agar Nagin bisa berbaring disebelahnya.
Pagi pun tiba. Bay sudah mandi, dan sudah rapi. Ia tak mau sarapan. Padahal Nagin sudah membuat sarapan untuknya. Mereka masih saja saling diam.
Bay pun merapikan bajunya kembali. Nagin yang duduk melamun dipinggiran batu tak menghiraukan akan kepergian tuannya itu.
" Gin, saya pergi ya?" Sambil membuka pintu rumah itu
Nagin hanya diam. Tak mau menjawab tuannya itu. Bay pun pergi. Dengan berat hati, Bay meninggalkan rumah itu.
Nagin menangis. Ia pun melihat kearah pintu. Benar saja tuannya itu sudah pergi. Nagin pun mengejar tuannya itu.
" Mas Bay ??" Panggil Nagin.
__ADS_1
Bay menoleh. Bay pun menghampiri Nagin. Nagin kembali menangis.
" Gin, kamu baik - baik disini ya? saya minta maaf ya, karena uda buat kamu sakit hati. Saya uda kasar sama kamu. Saya pergi ya? saya takut ketinggalan busnya. Oh ya kalau main kekota, mampir kerumah ya?" Mata Bay pun berkaca - kaca, lalu ia pergi.