Cinta Nagin

Cinta Nagin
Bab 21 " Pertengkaran Bay dengan Nagin "


__ADS_3

Selesai pesta malam itu, Bay pulang. Tampak di raut wajahnya sedih bercampur marah.


Nagin yang sudah tiba duluan, berada didalam kamarnya. Ia mengingat kejadian tadi. Ya, Nagin pun mulai mengurungkan niatnya untuk tidak terlalu berharap kepada Tuannya itu. Karena ia sadar, siapa Nagin sebenarnya.


Nagin hanya seorang pembantu dirumah yang megah dan besar itu. Tidak lebih...ya tidak boleh lebih. Demi hidup , ia harus sabar. Jika ia keluar dari rumah ini, kemana ia akan pergi? pikirnya. Walaupun sudah bertahun - tahun tinggal di kota, Nagin masih saja takut.


Bay masuk kamarnya. Ia pun membersihkan tubuhnya. setelah selesai mandi, ia kedapur mengambil minuman. Ia melihat di dapur ada 2 piring kotor. Bay langsung marah dan memanggil Nagin. Malam itu, Bay emosi melihat Nagin.


Nagin pun keluar. Sikap Nagin biasa aja. Ia pun langsung membersihkan piring itu. Ia menganggap tidak ada masalah yang terjadi.


Nagin kembali masuk ke kamar. Ia merapikan gaun yang dipakainya tadi. Malam itu Bay dan Nagin, hanya saling berdiam diri. Nagin menangis.


..." Saya terlalu bodoh jadi wanita." Gumam Nagin....


Ia pun mengingat ketika perjuangannya mengurus Tuannya itu. Ia kembali menangis sejadi - jadinya.


Keesokan paginya, Nagin sudah menyiapkan sarapan. Tapi kali ini, ia tidak mau menyuruh Tuannya itu untuk sarapan. Jika dimakan ya baguslah, kalau pun tidak dimakan ya sudahlah. Itulah yang ada dipikiran Nagin.


Memang benar, Bay sama sekali tidak menyentuh sarapannya. Ia langsung pergi kekantor. Diperjalanan Bay berhenti. Ia memikirkan masalah tadi malam.


Nagin terduduk diam didapur. Dia merenungi nasibnya. Ntah kenapa, ia jadi rindu ayah dan ibunya. Ia ingin sekali pulang ke desa untuk nyekar makam orang tuanya.


Malam pun tiba. Ia mencoba memberitahukan kepada Bay, kalau ia ingin pulang ke desa. Tapi Bay hanya diam. Nagin tetap sabar melihat sikap Tuannya itu.


Nagin pergi ke dapur...


..." Setelah pindah kerumah ini, kenapa sikap mas Bay jadi berubah ya? ia jadi suka emosi. Padahal, dulu waktu dirumah lama, ia baik sekali." Gumam Nagin.....


Ia jadi teringat akan kata Johan.


Malam itu, tak sengaja Nagin menjatuhkan gelas. Dan gelas itu pecah. Bay mendengar suara gelas pecah itu. Langsung saja, Bay kedapur dan marah kepada Nagin.

__ADS_1


" Dasar pembantu ga tau diri....!" Kata Bay


Ya...perkataan Bay itu sangatlah menyakitkan hati Nagin.


Nagin langsung saja kaget. Ia tak menyangka, Tuannya itu berkata seperti itu. Bagai disayat silet, hati Nagin sakit sekali.


Nagin langsung meminta maaf kepada Tuannya itu. Dan ia mengutip serpihan kaca itu.


Bay pun pergi dan masuk kekamarnya.


Setelah membersihkan lantai dapur, ia pun masuk kekamar. Ia masih saja menangis. Ia mengambil fhoto keluarganya. Ia semakin menangis. Nagin masih terbayang kata - kata Tuannya itu.


Bay mengetuk pintu kamar Nagin. Ketika Nagin membukanya, Bay melemparkan uang ke wajah Nagin. Sontak saja Nagin kaget.


" Mas Bay??.." Kata Nagin


" Itu gaji kamu. Kalau kamu mau pulang kedesa silahkan, ga usah balik lagi kesini juga ga papa.." Kata Bay dengan marahnya.


Nagin mengumpulkan uang yang berserak di lantai itu. Ia pun menemui Bay. Ia mengetuk pintu kamarnya dan masuk kedalam kamar Tuannya itu. Nagin menyerahkan uang itu kepada Bay.


" Ini uang nya mas. Ga usah digaji bulan ini juga papa kok...." Nagin meletakkan uang itu diatas buffet kamar Bay.


Nagin keluar dari kamar Tuannya itu. Malam ini , Tuannya itu sudah sangat kasar kepadanya.


Ia pun mengemasi baju - bajunya. Ia hanya membawa baju ketika ia baru pertama kali datang kerumah Tuannya itu. Tak lupa celengan dan fhoto keluarganya juga ia bawa. Ponsel yang diberikan Bay pun ia tinggal dan beberapa baju yang pernah diberikan Bay. Nagin pun pergi dari rumah itu.


Ia pun keluar dari rumah itu. Pak Jo melihat Nagin pergi. Dan pak Jo melarang Nagin jangan pergi tapi Nagin tetap saja pergi.


Malam itu Nagin memberanikan diri pergi. Dia ga tahu harus kemana.


Dijalan, ia selalu menangis. Angin mulai kencang, dan hujan pun turun. Nagin mencari tempat untuk berteduh.

__ADS_1


Pak Jo memberitahukan kalau Nagin pergi. Tapi Bay tidak perduli. Bay pun tidur.


Malam yang dingin itu, Nagin berteduh di emperan toko. Ia pun duduk sendiri sambil menangis.


Pagi hari pun tiba. Ia masih ingat jalan ke terminal . Ia pun pergi kesana. Nagin membeli tiket untuk pulang ke desa Bayaman. Sudah bulat tekad Nagin untuk pulang kedesa saja.


Bus sentosa itu pun akhirnya meninggalkan terminal kota itu.


Bay yang sudah siap - siap akan pergi kekantor, ia pun melihat kearah dapur. Dapur sepi pikirnya. Ia melihat tidak ada Nagin. Bay masuk kekamarnya, juga tidak ada Nagin. Ia melihat, fhoto keluarga Nagin juga tidak ada. Bay membuka lemari pakaian, ternyata baju - baju Nagin juga tidak ada. Bay hanya melihat ponsel pemberiannya dan beberapa baju yang ia pernah berikan kepada Nagin.


Bay menemui Pak Jo. Ia menanyakan kemana pergi Nagin. Pak Jo pun tidak tahu.


" Kan tadi malam uda saya bilang Tuan, kalau Nagin pergi, tapi Tuan tidak perduli..." Kata Pak Jo.


Bay hanya bisa diam dan menghela nafas.


..." Nagin...kemana kamu pergi ???"..Gumam Bay...


Bay pun sangat khawatir. Ia menelpon kekantor, ia memberitahukan bahwa hari ini ia agak telat . Ia pun minta ijin. Bay langsung mengambil mobilnya dan pergi mencari Nagin.


Bay menyusuri jalanan kota, ia pergi ke stasiun bus dan kereta. Mana tau ia bisa menemukan Nagin. Tapi hasilnya sia - sia, Bay tidak menemukan Nagin .


Ia kembali lagi kerumah. Ia semakin cemas dengan kepergian Nagin. Ia mencari sesuatu dikamar Nagin, ntah itu alamat atau apalah pikirnya. Ia tidak menemui apapun dikamarnya.


Ia teringat akan Mooly. Ya mbak Mooly, dulu Nagin pernah bekerja dirumahnya. Ia ingat alamat rumah Mooly. Ia pun langsung menuju kerumah Mooly.


Ia pun menanyakan alamat desa Nagin. Dan Mooly pun memberitahukannya. Tapi Bay tidak mengatakan , jika Nagin pergi dari rumahnya. Ia menutupi masalah ini. Ia tak ingin Mooly mengetahuinya, karena ia tahu Mooly akan menertawakan Nagin.


Ya...Bay sudah tahu. Pasti Nagin pulang ke desanya. Ia pun pergi kekantor. Ia mau mengurus ijin cuti untuk beberapa minggu. Bay akan pergi ke desa Bayaman. Ia selalu memikirkan Nagin. Ia tidak bisa tenang jika tak ada Nagin. Ya..Bay pemuda tampan itu sudah mulai egois. Ini semua terjadi karena Johan masih saja mendekati Nagin.


Bay akan pergi ke desa Bayaman. Sama sekali ia tidak tahu keadaan di desa itu. Mau tidak mau ia pun akan pergi ke desa itu.

__ADS_1


__ADS_2