
Malam itu Raisa pergi ke rumah papanya. Ia tak mau ada masalah didalam keluarganya, apalagi masalah penipuan dengan mantannya.
Raisa melihat disana sudah ada Bay, Om Yudi dan papanya. Mereka bertiga sedang adu mulut satu sama lain. Ia juga melihat Bay begitu marahnya pada papanya itu.
Raisa mendengar semua apa yang dikatakan Bay. Begitu sakit hati dan malunya Raisa mempunyai papa seorang penipu. Padahal, yang ia tahu papanya dulu adalah teman dekat orang tua Bay.
" Cukup, pa....! Hentikan semua ini. Papa uda buat malu Raisa. Kenapa papa berbuat seperti ini? kenapa pa?" Tanya Raisa sambil mendekati papanya.
" Raisa ? kamu ? kamu kenapa ada disini? siapa yang beritahu kamu masalah ini?" Tanya balik papanya.
" Papa ga perlu tahu siapa yang memberitahukan semua ini? Papa jahat." Jawab Raisa pada papanya.
" Raisa ? Jadi kamu uda tahu bagaimana sebenarnya sifat papa kamu ini?" Tanya Bay
" Maaf mas, Bay. Saya pikir papa ga akan tega buat seperti ini." Jawab Raisa dengan sedihnya.
" Raisa, papa buat seperti ini, karena papa sayang sama kamu. Kamu dulu uda pernah dikecewain sama Bay, nak." Ucap papanya.
" Itu salah Raisa juga, pa. Raisa uda tega ninggalin mas Bima. Padahal mas Bima itu, sebenarnya orang baik. Itu semua karena papa. Papa dalang semua ini." Ucap Raisa.
" Cukup Raisa, kamu ga ngerti apa - apa. Sekarang kamu pulang, atau papa akan telpon suami kamu..!"
" Telpon aja pa. Mas Jerry tau kok, kalau saya ada disini. Pa, sekarang kembalikan yang bukan hak milik papa. Itu dosa pa. Raisa mohon pa..!"
" Ga, Raisa. Papa uda beli saham, nak. Papa ga bisa pulangin uang itu."
" Apa? saham? Saya ga mau tahu pak sekarang juga kembalikan uang saya, atau perusahaan bapak jaminannya?" Tanya Bay dengan emosinya.
" Mas Bay, biar saya aja yang ganti uangnya. Tapi saya mohon jangan bawa masalah ini kerana hukum ya, mas. Saya mohon dengan sangat mas. Berapa semua biar saya aja yang ganti. Saya akan tuliskan di cek ya mas...!" Mohon Raisa pada Bay.
" Ini jumlah semuanya, Raisa." Bay menunjukkan sebuah kwitansi kecil, jumlah uang itu Rp. 950.000.000.
" Astaga ? banyak sekali? Pa, mengapa sebanyak ini?" Tanya Raisa pada papanya.
__ADS_1
Pak Bambang hanya diam saja. Ia tak bisa berkata - kata. Ia pikir uang sebanyak itu tidak akan pernah dituntut Bay. Ya, pak Bambang telah menipu Bay dengan dalih menjual saham yang bukan miliknya.
" Mas Bay, ini ceknya. Saya minta maaf ya, mas ?" Sambil menyerahkan secarik cek pada Bay.
" Ya, Raisa. Saya juga minta maaf uda kasar sama pak Bambang. Oh ya, kamu tahu masalah ini dari siapa?"
" Istri kamu mas, Nagin. Dialah yang memberitahukan saya mengenai masalah ini. Dia begitu cemas sama kamu. Bersyukurlah mas, kamu punya Nagin, istri yang benar - benar perhatian sama kamu." Jawab Raisa.
Bay tersenyum. " Makasih ya Raisa, untung juga kamu datang. Kalau tidak pak Bambang, ga akan mau kembalikan uang saya. Ini pelajaran buat saya, jangan terlalu percaya pada orang. Apalagi masalah uang. Kita semakin mengerti, sifat seseorang itu bisa kita ketahui jika dihadapkan dengan urusan uang."
" Ia mas. Maaf'in papa saya ya, mas...!"
" Oke. Pak Bambang, saya pamit ya...! Raisa makasih banyak ya...! Permisi."
Bay pergi meninggalkan rumah pak Bambang itu. Sekarang perasaan Bay sudah lega. Ia sudah tak sabar ingin memberitahukan ini pada Nagin, istrinya itu. Kalau tidak karena dia, mungkin Raisa tidak akan tahu hal ini.
" Pa, jangan pernah dendam sama mas Bay ya, pa? mas Bay itu orangnya baik kok." Titah Raisa.
" Ga, Raisa. Kali ini dia lolos. Papa ga akan biarkan dia bisa tenang mengurus perusahaannya."
" Itu dulu, Raisa. Beda dengan sekarang."
" Jangan balas air susu dengan air tuba, pa. Itu ga baik. Papa sudah tua. Ingat Raisa, ingat calon cucu papa ini, pa...!"
" Sekarang uda larut malam. Sebaiknya kamu tidur disini aja, beritahu Jerry besok kamu dijemput."
" Kalau papa masih nekat berbuat jahat kepada mas Bay, Raisa pulang malam ini, pa."
" Raisa, kamu sedang hamil ? jaga calon anak kamu itu?"
" Papa khawatir ya sama Raisa? Raisa juga begitu pa, khawatir sama papa. Hanya papa seorang yang Raisa punya, pa."
" Sudahlah, Raisa." Pak Bambang pergi masuk kekamar, ia meninggalkan Raisa yang sedang menangis dan Yudi yang masih menahan kesakitan itu.
__ADS_1
***
Taxi itu pun tiba didepan rumah. Bay sudah kembali. Nagin langsung membukakan pintu untuk suaminya itu. Bay langsung memeluk istrinya itu.
" Mas, Bay ? pulang - pulang main peluk aja. Kok senyum - senyum, mas? dilihat sopir taxi mas, buat malu aja, lepasin mas, Bay. Sakit, taukk."
" Hahahaha ga papa, Gin. Pengen peluk kamu aja, kamu itu ngangenin. Kenapa jam segini belum tidur?"
" Ia lepasin dulu sayanya mas...! Biar saya bisa ngomong. Kayak gini mah saya ga bisa ngomong, mas. Sesak, taukk. Mana pelukannya kenceng banget."
" Ga ah, saya ga akan lepasin kamu, hehehehehe..."
" Jahat banget sih mas. Kayaknya malam ini, mas senang banget ya?"
" Ia, Gin. Ini semua karena kamu." Bay pun melepaskan pelukannya.
" Karena saya? maksudnya ?"
" Nih..! ini sebuah cek. Cek ini dari Raisa. Raisa yang memberikannya. Jadi, uang kita uda dipulangin Raisa. Raisalah yang membayar semua uang itu. Untung aja ada Raisa, kalau tidak? Pak Bambang itu ga akan pulangin uang kita."
" Ohh gitu, syukurlah mas. Itu artinya uang itu masih rejeki kita, mas."
" Yesss. Kamu benar, Gin. Makasih ya sayang, ini semua karena bantuan kamu juga. Raisa tahu semua ini dari kamu. Kamu the best deh..!" Sambil memeluk istrinya itu kembali.
" The best opo toh, mas?" Tanya Nagin dengan polosnya.
" Lihat ntar di google, Nagin bawel." Sambil melepaskan pelukannya dan mencubit hidung milik istrinya itu.
" Hahaha, ya wes mas, sekarang bersihin badan kamu dulu, bau keringat."
Bay mencium ketinya kanan dan kiri. " Ia ya? bau keringat hahahahah.."
" Pake ketawa lagi? buruan gihh mas, baunya uda ampe kemana - mana?"
__ADS_1
" Ia Nagin bawel, cerewet banget sih..!" Bay pun pergi kekamar dan bersiap - siap membersihkan tubuhnya.
Nagin sangat bahagia sekali, akhirnya kecemasan suaminya itu berbuah manis. Ya, kalau memang rejeki kita tidak akan pernah lari, sekalipun orang tersebut tidak perduli. Tapi kalau itu hak kita, pasti akan kembali ke kita dengan baik.