
Semua aset yang dimiliki Bay Hardinata telah habis semua. Beberapa mobil mewah, property dan perusahaan pun habis terjual. Bay terlilit hutang ditambah lagi harus membayar biaya kemoterapi.
Mau tidak mau, Bay dan Nagin pun pergi dari rumah mewah itu. Mereka menempati sebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari rumah sakit tempat dimana Bay melakukan kemoterapi.
Rumah kontrakan berukuran 4x6, rumah kontrakan yang sangat sederhana dan sedikit murah. Disanalah Bay dan Nagin tinggal. Rumah kontrakan itu hanya memiliki satu kamar. Tidak ada fasilitas mewah didalamnya. Hanya ada satu kasur yang hanya bisa dipakai satu orang saja.
Nagin mencari kontrakan itu dekat dengan rumah sakit agar bisa menghemat biaya. Karena mereka tidak mempunyai uang lagi.
" Tuan, maaf ya...untuk sementara kita tinggal disini dulu ya?"
" Ia Nagin, ga papa kok. Ini juga uda bagus. Maaf ya, Gin..kamu uda bersusah payah mencari kontrakan buat kita."
" Ga papa kok yang penting tuan cepat sembuh."
Bay dan Nagin pun memasuki kontrakan itu. Nagin menyuruh Bay agar istirahat terlebih dahulu. Bay merasa berhutang budi sekali kepada Nagin, karena Nagin masih mau menemani dia dalam keadaan susah dan sakit - sakitan seperti sekarang ini.
Tak satu pun teman - teman Bay yang peduli lagi kepadanya. Ya..semua teman - teman Bay sudah menjauh karena Bay sekarang sudah jatuh miskin ditambah lagi ia sakit - sakitan.
Siang itu, Nagin sangat rapi sekali. Ia baru selesai mandi. Bay memperhatikan Nagin.
" Gin, kamu mau pergi kemana?"
Sambil memberikan senyum manisnya Nagin menjawab..
" Tuan, hari ini saya mau mencari pekerjaan. Stok obat tuan sudah mulai berkurang. Doakan saya ya tuan..!!"
" Kamu mau cari kerja dimana?"
" Dimana aja yang penting halal, tuan. Oh ya tuan, ini ada air minum, nanti kalau tuan haus, ga perlu lagi kebelakang. Tuan istirahat ya, jangan banyak pikiran dulu."
" Nagin, maafkan saya ya, kamu jadi harus capek begini. Saya janji kalau uda sehat, saya akan secepatnya cari kerja."
" Hehehehe...ia tuan tampan ku. Ya da, tuan istirahat ya. Doakan Nagin ya tuan..!!"
Nagin pun pergi mencari pekerjaan. Ia pergi ke pasar, dimana ia selalu membeli keperluan untuk didapur. Ia menemui Koko Aseng. Koko Aseng adalah langganan dimana Nagin selalu membeli sayur - sayuran dan ikan segar.
__ADS_1
" Selamat siang, Ko?"
" Ha..selamat siang Nagin, Lu dari mana Gin? kenapa ga pernah kelihatan?" Tanya Koko Aseng
" Maaf Ko, saya sibuk sekali. Ko, ada lowongan kerja ga buat saya? tolonglah Ko....!"
" Lu mau kerja apa?"
" Terserah Ko, yang penting halal.."
" Ehh Nagin..lu ga kerja lagi dirumah anak sultan itu? siapa ya namanya? Koko lupa."
" Tuan Bay, Ko."
" Haiiiyaaaaa....Bay. Lu ga kerja lagi disana?"
" Ko, tuan Bay sekarang sakit. Ia kena kanker lambung, Ko. Makanya saya ga tega ninggalin beliau, Ko. Bantu saya lah Ko...!!"
" Haiyaaaaa...kasihan sekali dia Gin. Sabar ya Gin. Ya uda, lu bisa bantu angkatin sayur, kebetulan baru datang tu beberapa sayuran."
Nagin pun langsung bekerja, ia mengangkat karung - karung itu. Panas terik tak dihiraukannya, ia tetap semangat demi tuannya itu.
Bay tidak tenang dirumah sendiri. Ia selalu memikirkan keadaan Nagin. Ia selalu melihat jam dinding. Perasaannya selalu tidak tenang. Ia mencoba menghubungi Nagin, tapi pulsanya pun habis.
Ketika sore hari, Nagin pun pulang. Baju Nagin basah akibat keringat. Hari ini, upah Nagin kerja cukup lumayan. Koko Aseng memberikannya lebih. Tak lupa juga, Koko Aseng memberikan beberapa ikat sayuran dan ikan segar. Ya..itu bisa menjadi stok makanan mereka.
" Nagin, kamu sudah pulang ?"
Dengan wajah yang lelah, tapi Nagin tetap memberikan senyuman manisnya dan menjawab pertanyaan tuannya itu.
" Ya Tuan. Gimana, tuan baik - baik aja kan?"
" Ia, Gin. Oh ya gimana kerjaan kamu? dapat?"
" Ia tuan, tadi saya kerja di toko Koko Aseng. Langganan saya kalau kepasar. Dan ini hasil kerja saya tuan. Ini mungkin sudah cukup untuk membeli obat tuan. Kita pasti bisa melewati ini semua, tuan. Tuan sabar ya...!" Sambil menghitung uang hasil kerjanya
__ADS_1
" Gin, maaf ya kamu jadi repot. Ya uda skrng kamu mandi ya? biar badannya segar, trus istirahat."
" Ia tuan..."
" Gin, tunggu....! mulai sekarang kamu ga usah panggil saya tuan lagi. Panggil aja mas atau apalah."
" Ya ga papa tuan...Tuan kan masih majikan saya."
" Ga, Gin. Panggil mas aja deh. Sambil memberikan senyumannya buat Nagin
" Hehehehe...ya uda tuan..ehh mas hahahaha...!
Keadaan Bay masih lemas, sesekali ia merengek karena kesakitan. Tapi ia tidak boleh putus asa.
Nagin menyiapkan makan malam tuannya itu. Malam ini, Nagin memasak bubur.
" Mas Bay, mas makan dulu ya ?"
" Ya Nagin..."
Nagin membantu Bay untuk duduk. Nagin dengan sabarnya menyuapi tuannya itu. Tidaklah mudah mengurus orang yang sedang sakit, apalagi dalam kondisi seperti yang dialami Nagin dan Bay.
Jenni, mantan kekasih Bay itu kini telah menemukan pengganti Bay. Jenni pun sudah lupa akan Bay. Bay yang dulu pernah singgah dihatinya. Dari kabar yang beredar, Jenni akan segera menikah dengan lelaki pilihannya itu.
Andre dan Lisa dan beberapa pegawai yang lainnya, kini pun mereka sudah mendapatkan pekerjaan yang baru.
Tak satu pun ada yang peduli atau sekedar menanyakan keadaan Bay. Semua menghilang seperti ditelan bumi.
Hari - hari pun berlalu. Nagin pun masih saja bekerja. Semua pekerjaan ia lakukan. Dari pasar menjadi kuli pasar, menjual koran dan majalah dilampu merah, menjual air mineral di setiap stasiun bus, kereta. Semua ia lakukan agar tuannya itu bisa membeli obat dan biaya kemoterapinya cukup.
Bay hanya bisa terbaring dikasur dengan tubuh yang lemah. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa, agar ia lekas sembuh dan bisa bekerja kembali.
Ntah mengapa Bay jadi kepikiran dengan hubungan Nagin dengan Johan. Diam - diam, Bay mulai menyukai Nagin. Tapi apakah Nagin mau mencintainya? apakah Nagin mau hidup bersama dengan lelaki yang sekarang tinggal hitungan bulan hidupnya? semua itu ada dalam benak Bay.
Bay ingin menanyakan itu pada Nagin, tapi ia takut Nagin menjadi kecewa. Tapi Bay selalu saja ingin tahu hubungan mereka. Ya...Bay mulai mencintai Nagin. Tapi Bay berharap Nagin tidak akan mengetahui hal ini. Bay sangat berharap, Nagin juga mencintainya.
__ADS_1