
Sudah hampir dua bulan , tuannya itu masih saja koma. Nagin selalu banting tulang untuk mendapatkan uang. Siang malam, ia tak mengenal lelah. Ia selalu mengumpulkan pundi - pundi rupiahnya.
Dokter Bram meminta Nagin untuk menemuinya. Dan membicarakan bagaimana dengan biayanya. Nagin memberitahukan kepada dokter itu bahwasannya, tuannya itu masih mempunyai kakek nenek. Ia pun memberitahukan dimana mereka tinggal. Pihak rumah sakit pun menghubungi keluarga Bay.
Nagin perlahan memasuki ruang ICU itu. Ia melihat tuannya itu sangat pucat sekali. Ditubuhnya dipasang beberapa selang, dan ia pun melihat ada monitor. Kata perawat ICU itu, itu adalah patient monitor, fungsinya untuk memberikan informasi mengenai keadaan si pasien.
Nagin menangis. Ia mencium kening tuannya itu. Bibir mungil itu tak henti - hentinya mengucapkan doa. Nagin mencoba bernyanyi menghibur tuannya itu...
Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kau lalui
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari2 mu yang tidak mudah
Biar ku menemani mu
Membasuh lelah mu
Izinkan ku lukis senja
Mengukir nama mu di sana
Mendengar kau bercerita
Menangis, tertawa
Biar ku lukis malam
Bawa kamu bintang - bintang
Tuk temani mu yang terluka
Hingga kau bahagia
Aku disini
Walau letih, coba lagi, jangan berhenti
__ADS_1
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Ya...Nagin menyanyikan sebuah lagu milik Budi Doremi itu...
Nagin menangis. Begitu juga perawat yang dinas pada waktu itu mendengarkan Nagin bernyanyi, ia pun ikutan menangis.
Ketika Nagin memanjatkan doa, tiba - tiba layar patient monitor itu berdering, garis grafik detak Jantung Tuannya itu berhenti. Ia pun memanggil perawat itu. Perawat itu langsung berlari memanggil dokter.
Ya...siang itu ruang ICU, sangat ricuh. Ada 5 dokter yang menangani Bay. Bay sangat kritis. Semua panik. Dokter menyuruh salah satu perawat untuk mengambil Defibrilator ( alat kejut jantung ).
Dokter pun melakukan kejut jantung, belum ada hasil juga. Dokter yang lain ada yang tugasnya memperhatikan detak jantung, tekanan darah hingga kadar oksigen dalam darah.
Dokter Bram mencoba mengulang lagi menggunakan kejut jantung, belum juga ada hasil. Ntah sudah berapa kali dokter itu mengulangnya.
Dokter Bimo mengatakan jika garis grafik detak jantungnya sudah berhenti. Tidak ada harapan lagi kata dokter itu.
Hampir satu jam para dokter itu melakukan tindakan, dan hasilnya mereka semua menyerah. Salah satu perawat pun memanggil Nagin. Dan mempersilahkan Nagin untuk masuk. Semua tindakan sudah dihentikan.
Dokter Bram dengan berat hati mengatakan jika Bay tidak tertolong lagi. Nagin pun langsung menangis dan memeluk Tuannya itu.
" Apa dok? mas Bay ga tertolong lagi? tidak mas....mas ga boleh pergi ninggalin Nagin. Bangun mas....bangun...."
" Mas Bay bangunnnn...bangun mas...saya mohon jangan tinggalkan saya masssssssssssss......"
" Maaf, Bu Nagin. Kita sudah melakukan yang terbaik, tapi mungkin inilah jalan dari Tuhan". Kata dokter Bram
" Ga dok....mas Bay ga boleh pergi..mas Bay masih sehat..mas Bay bangunnnnnn...bangun massssss......mas Bay dengar Nagin mas..Nagin sayang sama mas...Nagin cinta sama mas Bay....bangun masss...kita akan hidup bahagia..bangun masssss...."
Dokter sudah angkat tangan dan mereka menyerah. Tapi sebuah keajaiban datang. Selama ini Tuhan melihat sampai dimana kesabaran Nagin mengurus Tuannya itu.
Nagin wanita yang tulus itu, kini akan berbahagia. Keajaiban pun menghampiri Bay. Bay yang dinyatakan koma oleh dokter selama hampir kurang lebih 2 bulan, dan dinyatakan sudah meninggal, kini denyut jantungnya kembali normal.
Garis - garis yang menunjukkan grafik detak jantung itu kini kembali normal. Para dokter itu pun sungguh heran dan tak percaya.
Mereka pun memeriksanya kembali. Dokter Bimo meminta Nagin untuk mengajak Bay bicara. Nagin pun mengulang - ulang terus perkataannya
..." saya cinta mas Bay...saya sayang sama mas Bay "...
Perlahan jari - jari tangan Bay mulai digerakkannya. Ia pun mengedipkan kedua matanya. Mulutnya seperti ingin bicara. Ia mencoba menggerakkannya.
" Pak Bay, ini saya dokter Bram. Apakah bapak mendengar saya?"
__ADS_1
Bay menggerakkan lagi jari - jari tangannya. Dan akhirnya ia pun membuka kedua bola matanya..
Ruang ICU yang tadi kacau sekarang sudah tenang. Semua mengucapkan syukur karena Bay bisa melewati masa komanya.
Nagin masih saja tak percaya dengan ini semua. Dokter Bimo pun menyuruh Nagin untuk mendekati Bay.
Bay kini telah kembali pulih. Ia melihat Nagin. Bay pun meneteskan air mata.
" Mas Bay....."
Nagin memeluk tubuhnya dan mencium kening tuannya itu.
" Na...Na...Na...Nagin...."
" Ya mas Bay, Nagin ada disini..."
" Jangan tinggalkan saya...!"
" Ia mas, Nagin ga akan ninggalin mas Bay..."
Suasana tegang itu pun kembali membaik.
" Selamat pak Bay, anda luar biasa. Ini semua berkat doa Nagin yang tak henti - hentinya selalu berdoa buat kesembuhan Bapak..."
Bay hanya mengangguk dan tersenyum. Ia langsung melihat Nagin. Nagin pun memeluknya kembali.
Kekuatan cinta Nagin lah yang telah mengembalikan keadaan Bay, sehingga Bay dinyatakan sehat dan pulih. Bay bisa melewati masa komanya.
Para dokter itu pun masih saja memantau kondisi Bay. Para dokter itu begitu takjubnya dan mereka sangat heran. Bay yang selama ini, di diagnosa kanker lambung stadium 4, kini dinyatakan negatif.
Hasil pemeriksaan lab menyatakan Bay Hardinata bebas dari penyakit yang mematikan itu. Semua team dokter dan perawat sungguh sangat bahagia mendengar ini semua.
Begitu juga Nagin, betapa bahagianya ia mendengar tuannya itu kini kembali sehat. Ia selalu memeluk Tuannya itu.
Nagin, pahlawan bagi Bay. Nagin selalu berjuang untuk kesembuhan tuannya itu. Tak mengenal lelah, ia selalu bekerja dan berdoa. Dan hasilnya sungguh diluar kemampuan manusia.
Ya..jika Tuhan sudah berkehendak siapa pun tidak bisa melawannya. Tuhan masih sayang kepada Bay. Tuhan ingin melihat Bay kembali bangkit lagi. Bay, yang dulunya dijauhi oleh teman - temannya, kini telah kembali seperti dulu kala.
Nagin tak henti - hentinya mengucap syukur atas kesembuhan Tuannya itu. Nagin pun memberitahukan berita ini kesemua para tetangga di kontrakannya itu, terlebih bu Rini dan pak RT.
Kalaulah tidak ada bu Rini, ntah bagaimana nasib Tuannya itu. Ya..uang kontrakan yang menunggak 2 bulan itu menjadi saksi bisu semua ini.
Semua para tetangga pun senang mendengar berita ini. Bu Rini juga senang mendengarnya. Para tetangga pun akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Bay Hardinata.
__ADS_1
Bay anak dari pengusaha terkenal di kota itu. Kedua orang tua Bay sangat baik kepada semua orang. Maka dari itu, inilah balasan perbuatan dari kedua orang tua Bay. Kakek dan Nenek Bay pun sudah mengetahui hal ini.