
Kevin semakin sering menghubungi Nagin. Tak henti - hentinya ia selalu ingin mengajak Nagin untuk bertemu. Siang itu Kevin mengirim pesan untuk Nagin..
..." Nagin..saya tidak perduli kamu milik Bay, tapi hati dan pikiran ini selalu memikirkan kamu, Gin."...
Nagin membaca pesan itu. Langsung saja ia menelpon Kevin.
" Hallo Nagin..!" Ucap Kevin dari sebrang sana.
" Mas Kevin itu ada - ada aja ya?"
" Gin, saya menyesal uda serahin kamu sama Bay. "
" Mas, ga perlu ada yang disesali. Semua ini uda kehendak Tuhan, mas."
" Ga, Gin. Saya masih sayang sama kamu. Selama ini saya tahan rasa ini, tapi ga bisa juga, Gin."
" Saya mohon jangan mas. Saya Uda bahagia dengan mas Bay."
" Kita bisa jalin hubungan ini diam - diam, Gin. Saya janji ga akan beritahukan ini pada siapa pun."
" Gilak kamu, mas...!"
Nagin langsung mematikan ponselnya.
..." Oh Tuhan, kenapa bisa jadi begini?" Ucap Nagin dengan kesalnya....
Tak berapa lama, Bay suaminya itu pun menelpon Nagin. Ia mau memastikan apakah Nagin dalam keadaan baik - baik saja.
Kring...
" Sayang, kamu sedang apa?"
" Hhmm...saya lagi rebahan, mas. Mas uda makan siang belum?"
" Ntar lagi, sayang. Nanti mau dibawain apa?''
" Putu bambu, mas. Pengen banget...!"
" Putu bambu? putu bambu gimana ya, sayang? mas kurang tahu, heheheh...!"
" Hahahaha, ya uda nanti saya kirim fhotonya ya..!"
" Hehehe, ia sayang. Maaf ya, mas ga pernah makan."
" Ia, mas Bay." Nagin pun mematikan ponsel tersebut.
Suasana hati Nagin tidak tenang. Rumah tangga nya kembali diterpa. Dulu Jenni, sekarang Kevin.
Sesak rasanya, selalu saja ada cobaan yang menerpa. Nagin berharap semua ini akan baik - baik saja.
***
Suatu hari, Nagin pergi kerumah sakit untuk kontrol kehamilan dengan ditemani pak Jo.
Bay kali ini tidak bisa menemaninya, berhubung ada pekerjaan yang mendadak. Ternyata Kevin mengetahui hal itu. Ia mengikuti Nagin dari belakang.
Kevin menyuruh pak Jo pulang terlebih dahulu. Ia memberikan beberapa uang sebagai suap.
" Saya mantan atasannya Nagin, pak. Saya tidak akan menyakitinya. Ini uang buat bapak. Sekarang bapak boleh pulang. Biar nanti saya yang antarkan Nagin pulang, pak." Ucap Kevin sambil memberikan uang tersebut.
" Tidak, pak. Nanti saya dimarah tuan Bay."
" Saya teman Bay juga kok, pak. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Nagin, pak. Sekarang, pulanglah...!"
"Baik, pak. Saya permisi."
Pak Jo pun meninggalkan rumah sakit itu. Sementara, Nagin masih didalam sedang memeriksakan kehamilannya.
Tak berapa lama, Nagin pun keluar. Ia telah selesai memeriksakan kehamilannya itu. Ia mencari - cari dimana pak Jo memparkirkan mobilnya.
" Nagin...!" Panggil Kevin.
Nagin pun terkejut dengan suara tersebut. Dan ia pun menoleh kearah datangnya suara.
" Mas Kevin ?"
Kevin tersenyum.
" Kamu sedang apa disini, mas?" Tanya Nagin yang matanya masih saja mencari - cari pak Jo.
__ADS_1
" Tadi saya jenguk teman yang sedang sakit." Kevin berbohong.
"Kamu sendiri ngapain dirumah sakit ini?" Tanya Kevin, yang memang Kevin belum mengetahui jika Nagin sedang hamil.
" Saya ke dokter Prety, periksa....."
Kevin langsung memotong pembicaraannya, dan langsung memeluk Nagin .
" Mas Kevin apa - apa'an sih mas? lepaskan saya mas."
" Maaf, Gin. Saya khilaf. Saya sangat merindukan kamu."
" Gilak kamu mas."
" Ia, saya memang gilak. Saya menyukai istri sahabat saya sendiri. Puas kamu? Sekarang ayo saya antar kamu pulang...!"
" Ga mas, saya bisa pulang sendiri."
Nagin mencoba menelpon pak Jo tapi telpon tersebut tidak diangkat pak Jo.
" Pak Jo kemana sih? di telpon - telpon bukannya diangkat. Ahh...!"
Wajah cantik Nagin langsung saja berubah menjadi marah.
" Ya da, biar saya yang antar. Saya ga akan sakitin kamu kok...! percayalah, ayo naik...!"
" Ga mas."
" Nagin , wajah kamu pucat sekali...! Ayolah saya antar...!"
Ya, siang itu Nagin memang sedikit lemas. Mungkin karena kehamilannya.
" Saya naik taxi aja...!"
" Disini susah nunggu taxi. Kamu mau wajah kamu itu semakin pucat ?"
Nagin semakin lemas. Mau tak mau Nagin pun harus ikut dengannya. Kevin membukakan pintu mobil itu.
Kevin melajukan mobilnya dengan sangat hati - hati. Mareka masih saja diam. Kevin melirik wajah Nagin. Ia mendengar kalau perut Nagin keroncongan.
" Kamu lapar ya?"
"Kevin pun memutar balikan mobilnya. Ia pun menepikan mobilnya disebuah resto. Ia turun dan membukakan pintu mobil itu. Ia mengajak Nagin makan.
" Turunlah, biar kamu makan. Perut kamu sudah tidak bersahabat."
" Saya ga lapar." Wajah Nagin semakin jutek.
" Kamu jangan bohong. Itu tadi bunyi dari dalam perut mu."
" Saya ga lapar, mas..!"
" Turunlah atau mau saya gendong ?'
Wajah Nagin semakin cemberut dan marah. Dan akhirnya ia pun turun.
Kevin langsung membawa Nagin masuk kedalam resto itu. Dan ia langsung memesan makanan untuknya.
Kevin menelpon Bay.
" Bay, Nagin sekarang ada sama saya. Saya yang akan antar Nagin pulang."
" Kenapa bisa sama kamu? kan pak Jo berasamanya tadi kerumah sakit ?"
" Mobil yang dibawa pak Jo, tadi mengalami sedikit kerusakan. Jadi pak Jo membawanya pergi ke bengkel."
" Oh gitu. Ya da, Vin. Saya titip Nagin ya...!"
" Oke bro...!" Kevin pun mematikan ponselnya.
" Kenapa harus bohong, mas?"
" Ia. Saya mau berlama - lama dengan kamu." Sambil menatap tajam mata Nagin.
" Apa?"
" Hahaha, ga usah takut Nagin. Sekarang makanlah biar kita pulang."
Kevin menatap wanita yang ada dihadapannya itu. Ada rasa menyesal dalam dirinya telah menyerahkan Nagin.
__ADS_1
Selesai makan siang, mereka melanjutkan perjalanannya kembali. Ketika menuju jalan kerumah Nagin, Kevin memberhentikan mobilnya.
" Kenapa berhenti mas?"
" Mogok. Kamu tunggu disini biar saya periksa."
Sebenarnya mobil mewah itu sama sekali tidak ada kerusakan. Tapi Kevin hanya berpura - pura saja.
Kevin pura - pura memperbaiki mobil itu. Ia kembali masuk kedalam. Tiba - tiba saja cuaca sedang tidak bersahabat. Tiba - tiba hujan turun.
" Gimana ini, Gin. Hujan turun pulak. Mobil masih rusak."
" Aduhhh, gimana ini mas ? saya bisa telat sampai dirumah."
" Kamu ga usah takut, tadi kan saya uda ngomong sama suami kamu...!"
Nagin begitu sangat cemas. Dan tiba - tiba saja, tangannya dipegang erat sama Kevin.
"Lepas kan tangan saya mas..!"
" Gin, saya cemburu sama Bay."
"Cemburu gimana?"
"Saya sangat menyesal uda serahin kamu ke Bay."
" Kan uda dibilang mas, tidak perlu ada yang di sesali."
" Ia." Kevin merasa sedih.
"Mas sendiri kenapa batal menikah ?"
" Dia mencari yang lebih dari saya, Gin."
" Saya turut prihatin, mas."
Kevin langsung saja mendekatkan wajahnya ke bibir Nagin.
" Jangan mas Kevin..!" Nagin mencoba mendorong tubuh Kevin. Tapi tak bisa. Kevin lebih kuat menahan dorongan Nagin.
Kevin berhasil memeluk Nagin dan menciumi bibir milik Nagin.
Nagin mencoba melawan Kevin, tapi ia tak sanggup. Tenaga Kevin lebih kuat dari nya. Nagin berkali - kali melepaskan ciuman Kevin, tapi itu pun tak berhasil juga.
Kevin sangat tenang melakukan hal konyol itu. Setelah ia puas mencium bibir Nagin, ia pun tersadar. Mereka berdua saling diam. Hanya ada suara nafas yang begitu berat.
Nagin pun menampar pipi Kevin.
" Plak...."
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Kevin.
"Maafkan saya, Gin. Saya masih cinta sama kamu...!"
" Gilak kamu, mas. Saya uda bahagia dengan mas Bay."
" Saya ga perduli, Gin. " Kevin memegang erat tangan Nagin.
" Ada - ada aja kamu, mas." Nagin menunjukka kearah perutnya.
"Disini sudah ada anak Bay, mas."
"Apa? anak Bay ? kamu hamil lagi?"
" Ia mas. Saya sudah hamil lagi. Mas, jangan ganggu saya lagi. Saya mohon mas....!"
Kevin menjerit histeris.
"Tidakkkkk...! saya memang laki -
laki yang bodoh. Begitu gampangnya menyerahkan kamu pada Bay..."
Ia mengacak ngacak rambutnya. Kevin tidak mau menerima kenyataan ini. Bay telah berhasil membuat Nagin menjadi istri yang sempurna. Kevin menangis.
Hai...saya numpang promosi disini ya...! Ini karya saya yang kedua . Monggo mampir juga ya hehehe..! tinggalkan like, komen dan vote kalian sebanyak banyak nya ya...Danke..🥰🙏
-
__ADS_1