
Perjalanan dari kota ke desa Bayaman sangatlah jauh. Memakan waktu 1 hari 1 malam. Akhirnya Nagin, gadis yang selalu sabar itu sampai didesanya.
Udara yang segar dan bersih itu sangatlah ia rindukan. Kicauan burung, padi - padi yang menguning sungguh sangatlah indah.
Ditambah lagi, suara gemercik air yang jernih disungai, sungguh amatlah pemandangan yang luar biasa.
...Tuhan..sungguh besar sekali hasil karya Mu......
...Kata Nagin........
Nagin terus berjalan. Sebagian ada yang menyapanya dan sebagian lagi ada yang tidak perduli akan kepulangan Nagin ke desa.
Ia melihat pegunungan yang tinggi menjulang. Dipinggir jalan banyak pohon kelapa dan pohon cerry yang ditanam warga.
Tibalah ia disebuah rumah tua, rumah yang ukurannya sangat kecil. Sudah banyak tumbuh rumput dihalaman itu. Bunga yang dulu ia tanam pun kini tidak ada lagi yang hidup.
Rumah peninggalan kedua orang tuanya itu kini sangatlah kusam.
Ia pun mengambil kunci rumah dari dalam tasnya. Ia membuka pintu rumah itu.
..." Sudah agak lembab.." gumamnya ....
Ia pun membuka jendela dan langsung membersihkan seisi rumah itu.
Dibelakang rumah Nagin, ada sebuah anak sungai. Airnya sangat dingin dan jernih sekali. Disanalah Nagin selalu mandi dan mencuci pakaian.
Tak terasa hari sudah mulai sore. Rumah tua itu pun sudah bersih, begitu juga dengan halamannya.
Nagin memasak air. Ia hanya menggunakan kayu bakar. Kayu bakar yang dulu ia cari masih ada sampai sekarang di dapur mungil itu. Semua masih tertata rapi.
Ia pergi ke sebuah warung yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Semua warga pun menanyakan mengapa ia pulang ke desa.
" Ehh Nagin, kenapa kamu pulang ke desa lagi? bukannya sudah enak ya tinggal dikota? kamu dikota kerja apa sih ?" Tanya ibu petugas warung itu
" Saya kangen bi, nyekar ke makam ayah dan ibu. Makanya saya pulang. Emang ga boleh kalau saya pulang ke desa lagi?"
" Hehehehe ia ga usah dibawa serius, Gin. Ehh Gin, kamu kerja apa sih dikota? dikantoran atau dimana, Gin? cerita ke bibi dong..?"
Nagin kerja sebagai asisten rumah tangga bi. Yang penting halal. " Nagin tersenyum lalu ia pergi
Malam ini Nagin hanya bisa masak telur dan mie instant. Ia pun memasaknya.
Ketika ia makan, ia teringat akan Tuannya itu. Ia juga khawatir akan kesehatan Tuannya itu. Karena dulu Tuannya itu pernah mengalami sakit kanker.
Ia selalu memikirkan Tuannya itu. Ia takut kalau Tuannya itu akan makan makanan diluar. Tak terasa air mata Nagin pun menetes.
...*****Keadaan di kota*****...
Bus kedesa Bayaman akan berangkat 5 menit lagi. Bay sudah berada di terminal dan ia sudah membeli tiket.
Ia pun masuk kedalam bus itu. Ia membawa beberapa potong pakaian. Tak lupa juga ia membawa powerbank , ATM dan beberapa makanan kecil serta oleh - oleh untuk Nagin. Sudah ada 5 menit, bus pun berangkat.
Ia akan tiba di Bayaman esok paginya. kira - kira pukul 06.00 pagi. Bay pun tertidur pulas didalam bus.
...***** Keadaan di desa Bayaman*****...
Pagi itu, Nagin mencuci pakaian di sungai. Ia pun sudah selesai masak untuk sarapan. Selesai mencuci, ia pergi ke hutan.
__ADS_1
Pagi ini cuaca sangat baik. Ia pergi mencari kayu bakar. Ia selalu berjalan menyusuri hutan itu, banyak sekali pohon - pohon yang tumbang, pikirnya. Ia memotong dan mengumpulkan kayu - kayu itu.
Akhirnya, Bay pun tiba di desa Bayaman.
Sungguh sangat kagum ia akan keindahan desa itu. Ia tak pernah melihat desa yang begitu asri dan sejuk.
Sesaat ia lupa akan Nagin. Ia selalu saja membidik kameranya, dengan mengambil pemandangan desa itu.
Banyak warga yang melihat kedatangan Bay. Bay hanya bisa memberikan salam kepada warga. Semua warga bertanya - tanya siapa pemuda kota yang tampan itu.
Tak berapa lama ia jalan, tibalah ia disebuah warung. Ia pun menanyakan rumah Nagin. Ibu penjual warung itu pun bertanya ada urusan apa sama Nagin.
" Ada urusan apa mas ingin bertemu dengan Nagin?" Tanya ibu penjual warung itu.
Bay pun bingung mau jawab apa. Jika ia mengatakan bahwa ia majikan Nagin, pastilah ia tidak boleh tinggal dirumah Nagin. Mau tidak mau, Bay harus berbohong.
" Saya suaminya, bu...!" Jawabnya datar
" Suaminya? kenapa tidak barengan ketika Nagin pulang kedesa?" Tanya ibu penjual warung itu kembali
" Ia bu, saya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, jadi saya menyuruh Nagin terlebih dahulu untuk pulang..."
" Oh begitu...., wah beruntung sekali Nagin ya? ternyata ia sudah menikah. Suaminya tampan sekali. Sepertinya mas orang kaya ya?" Tanya si ibu itu sambil senyum - senyum
" Ya uda bu, buruan dikasih tau dimana rumah Nagin...?"
" Ohh ia mas, saya hampir lupa heheh, habisnya mas tampan sekali.." kembali si ibu itu memberikan senyumannya.
Ibu penjual warung itu pun memberitahukan dimana rumah Nagin.
Tibalah ia disebuah rumah yang sudah agak tua, berlantaikan tanah.
Bay mengetuk pintu rumah itu, tapi tidak ada jawaban. Bay mencobanya lagi. Sama saja tidak ada jawaban.
Ketika Bay duduk di kursi kayu tua itu, ada seseorang yang melihatnya. Bapak tua itu memberitahukan kalau Nagin sedang mencari kayu di hutan. Bapak tua itu pun mengantarkan Bay kehutan.
Tibalah dihutan, mereka melihat Nagin sedang duduk melamun disebuah pohon yang tumbang. Bapak itu pun memanggil Nagin
" Gin, Nagin....ini suami kamu datang...!" Kata pak tua itu.
Nagin heran dengan perkataan bapak itu.
" Suami ???"
Lalu munculah Bay dan Nagin sangat terkejut sekali melihat Tuannya itu.
" Gin, ternyata kamu sudah menikah ya? wahh selamat ya, Gin. Suami kamu baik sekali. Ramah lagi orangnya. Kamu sangat beruntung..." Kata pak tua itu lagi
Nagin semakin bingung. Bay melihat Nagin dan memainkan alisnya. Seperti memberikan kode.
" I..iii.iaa..ia...ia pak dia suami Nagin..." Jawab Nagin dengan gugupnya.
Bapak itu pun pergi meninggalkan mereka berdua di dalam hutan itu.
Bay sudah sangat rindu melihat Nagin. Spontan saja ia langsung memeluk erat Nagin.
" Lepaskan mas...." Kata Nagin.
__ADS_1
" ada keperluan apa datang kesini?"
Bay hanya tersenyum. Dan mengelus rambut Nagin.
" Gin, saya minta maaf ya.? saya salah sama kamu. Ternyata, kalau ga ada kamu itu ruman sepi, Gin?
Nagin duduk di batang pohon itu. Bay langsung mendekatinya.
"Kamu maukan maafin saya? ohh ya kamu sedang apa disni? kamu ga takut ada orang jahat atau binatang buas?"
Nagin menangis. Bay langsung memeluknya
" Uda dong, jangan nangis....! Oh ya
maaf ya Gin, saya harus bohong, kalau saya bilang ke orang - orang desa kita sudah menikah..!"
Nagin hanya bisa diam....
" Gin, saya lapar. Dari tadi belum ada makan. Saya juga haus. Ternyata desa kamu ini sangat jauh ya? saya harus berjalan dari terminal.
Nagin pun kasihan melihat Tuannya itu. Ia melihat wajah Tuannya itu sudah sedikit kusam dan kelelahan.
Ia pun langsung menyusun kayu - kayunya lalu mengikatnya dan membawanya pulang.
" Sini, Gin. Biar mas aja yang bawa. Kamu kan uda capek...!" Bay pun mengambil kayu - kayu itu dan membawanya pulang.
Sesampainya dirumah Nagin, Bay duduk di kursi tua. Ia sangat kelelahan. Bajunya juga sedikit kotor, begitu juga celana jeansnya.
Nagin pun mengambilkan minuman. Dan menyuruh Bay masuk kedalam rumah itu.
Ia melihat rumah itu sangat sederhana sekali. Ia pun melihat lantai rumah itu, hanya lantai tanah saja.
Bay benar - benar kasihan melihat keadaan Nagin. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti hatinya.
Nagin pun menyuruh Bay untuk mandi. Bay melihat ada sungai yang airnya jernih sekali. Ia segera mandi dan berenang di sungai itu.
Ya, Bay sepeti anak kecil, dia sangat senang berada disungai itu sambil bermain air yang jernih dan dingin.
Masa kecil yang kurang bahagia, kata itulah yang tepat untuk Bay.
Tak berapa lama, Nagin telah selesai memasak. Ia menyuruh Bay untuk makan.
Hanya ada tahu , tempe serta sayur tumis kangkung.
Bay tidak perduli dengan menu sederhana, yang penting perutnya terisi. Ia pun makan dengan lahapnya.
Malam hari pun tiba, Bay sudah mengantuk. Nagin menyuruhnya untuk tidur. Bay menanyakan kenapa tidak ada listrik.
Bay juga melihat kamar tidurnya. Hanya ada satu kamar saja. Kalau Nagin tidur disini, ia tidur dimana pikirnya...
Nagin pun menyuruh Tuannya itu untuk istirahat. Ia menyuruh Bay tidur dikamar itu.
Walaupun kamar itu kecil, tapi kamar itu bersih. Tidak ada kasur yang empuk. Bantal pun hanya 2 saja.
Cuaca di desa Bayamaan itu sangat dingin. Terpaksa Bay harus memakai selimut. Ia tidak bisa tidur, ia memikirkan Nagin akan tidur dimana malam ini.
Bay menyuruh Nagin tidur bersamanya. Ia tak tega melihat Nagin tidur beralaskan tikar, apalagi cuacanya sangat dingin.
__ADS_1
Bay membuat bantal - bantal itu sebagai pemisah antara Nagin dan Bay. Bay berjanji tidak akan melewati bantal pemisah yang telah ia buat.
Akhirnya Nagin pun mau. Malam itu Nagin tidak banyak bicara, mungkin ia masih marah pikir Bay.