
Bay masih saja terdiam didalam gedung itu. Ia menangis. Ia tidak bisa berkata apa - apa lagi. Ia malu, terlebih kepada dirinya sendiri. Ini kedua kalinya ia dikecewakan oleh wanita.
Johan, melihat kejadian itu. Ia pun sangat terpukul dengan masalah yang dihadapi Bay. Ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Benar - benar diluar dugaan.
Ia mencoba masuk, untuk menenangkan Bay. Perlahan ia jalan...
" Bay...." Sapa Johan.
" Tinggalkan saya sendiri...!" Pinta Bay.
Johan menghela nafas. Perlahan ia kembali jalan mendekati Bay.
" Saya sangat prihatin atas kejadian ini Bay. Tapi, mungkin ini jalan yang terbaik diberikan Tuhan..."
Bay menangis....
" Bay, Tuhan itu baik sama kamu. Tuhan uda tunjukkan siapa sebenarnya Raisa. Kamu harus bersyukur Bay dengan adanya masalah ini.." Ucap Johan.
" Tinggalkan saya sekarang juga...!" Pinta Bay lagi
" Ga, Bay. Walaupun dulu kita pernah berselisih paham, tapi saya masih perduli sama kamu. Kenapa? semua itu karena Nagin, Bay. Naginlah yang telah mengajari saya untuk bisa menjadi seorang pemaaf. Nagin pernah berpesan, jangan pernah jauhi mas Bay, gimana pun keadaannya..." Ucap Johan.
" Tinggalkan saya sekarang juga.....!!" Bentak Bay pada Johan.
" Ingat Nagin, Bay??" Ucap Johan.
Mata Johan pun mulai berkaca - kaca. Johan sudah mengetahui kalau Nagin kecelakaan. Ia pun sangat terpukul dengan kejadian yang dihadapi Nagin.
"Nagin sekarang menjalani operasi." Ucap Johan kembali.
" Tinggalkan saya sekarang juga..!" Pinta Bay lagi.
" Bay ?" Johan menarik jas yang dikenakan Bay.
__ADS_1
"Pergi sekarang ke rumah sakit. Minta maaf pada Nagin. Kamu ingat Bay , kamu pernah janji sama dia? kamu ingat Bay ??? " Bentak Johan pada Bay.
Mereka berdua pun menangis...
" Ingat perjuangan Nagin buat kamu. Siang, malam, panas, hujan dia kerja untuk biaya kemo kamu, gimana caranya supaya kamu sembuh. 2 bulan kamu diruang ICU, koma. Doa siapa Bay ?? itu semua doa Nagin Bay. Jadi, ini semua adalah karma buat mu Bay. Nagin anak yang polos itu, uda kamu sakitin, kamu berjanji akan menikahinya. Tapi apa???? kamu tahu ga? untuk sementara waktu, Nagin ga akan bisa jalan Bay...?"Johan pun menangis.
Bay menghapus air matanya. Dan menatap Johan. Mereka pun saling diam.
" Ga Jo. Saya ga akan bertemu Nagin lagi. Saya uda janji...!"
" Oh ya ?? uda janji ya? tanya hati mu. Apakah benar yang kamu ucapkan itu, Bay ? Belum terlambat Bay. Minta maaflah kepada Nagin. Dulu Nagin pernah bilang, kalau dia ga terlalu berharap sama mu. Karena dia anak yang tau diri, Bay. Kamu ingat Jenni? Apa yang bisa dilakukan Jenni ketika kamu sakit? padahal Jenni itu pacar kamu. Ingat Bay , Nagin itu mati - matian mencari uang, ngutang sana sini itu semua dia lakukan karena dia sayang sama kamu Bay. Dia ingin kamu itu hidup, kamu bisa bahagia..." Ucap Johan.
" Apa yang harus ku lakukan, Jo ?" Tanya Bay.
" Temui Nagin, Bay. Minta maaf pada nya. Ga usah takut. Nagin itu anak yang pemaaf. Sekarang pergilah..!" Ucap Johan.
Johan pun pergi meninggalkan Bay. Bay masih saja diam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ia akan melakukan yang dikatakan Johan? Bay benar - benar bingung.
Bay berdiri dan ia melihat isi gedung itu. Ia telah menghancurkannya . Di balik pintu itu, berdirilah pak Pendeta dan ia pun tersenyum kepada Bay. Dan ia pun mendekati Bay.
Bay menghela nafas. Kembali ia menangis. Dan ia pun pergi meninggalkan pendeta itu.
Mobil itu pun melaju kencang. Ia melewati taman dimana Nagin pernah mengalami kecelakaan . Ia berhenti dan menepikan mobilnya. Ia kembali menangis. Hati Bay benar - benar hancur.
Ia pun melanjutkan perjalanannya kembali.
...*** Keadaan Nagin***...
Akhirnya operasi itu pun selesai. Operasi kedua berjalan dengan lancar. Nagin masih tidak sadarkan diri. Nagin pun langsung dipindahkan ke ruang perawatan.
Mobil Mercedes itu pun telah tiba diparkiran rumah sakit. Bay langsung turun. Masih tampak di raut wajahnya kesedihan yang mendalam.
Ia masuk ke rumah sakit itu. Ia menemui petugas informasi menanyakan apakah operasi Nagin telah selesai. Petugas informasi itu pun memberitahukannya serta memberitahu diruangan mana Nagin dirawat.
__ADS_1
Bay pun perlahan menuju ke ruangan itu. Tibalah ia disebuah ruangan, dimana Nagin dirawat. Ia masih melihat ada beberapa perawat sedang memperbaiki selang infusnya.
Nagin belum sadarkan diri. Wajah cantik itu kini harus menahan kesakitan, gumam Bay. Bay duduk di kursi koridor rumah sakit itu. Kecewa dan sedih bercampur jadi satu.
Perawat itu pun keluar dari ruangan Nagin.
" Suster, apakah saya bisa melihat Nagin? " Tanya Bay.
" Ya, pak. Silahkan saja...! " Jawab perawat itu.
Bay pun memasuki ruangan itu. Ia langsung mencium kening Nagin. Lalu ia duduk di samping Nagin. Ia memegang tangan Nagin, dan ia pun menangis.
" Nagin, ini mas Bay, Gin..."
Nagin masih saja belum sadarkan dirinya. Dan tiba - tiba saja datang dokter yang menangani Nagin, Dokter Teguh.
" Dokter, gimana sekarang keadaan Nagin, Dok?"
" Kami sudah selesai melakukan tindakan operasinya pak. Operasinya berjalan dengan baik. Untuk beberapa bulan mungkin ibu Nagin belum bisa berjalan. Harus dibantu dengan alat bantu jalan pak. Tongkat atau kursi roda. Dan harus melakukan terapi juga agar ia cepat kembali berjalan..."
" Ohh gitu ya dok. Saya minta dokter tangani Nagin dengan sebaik mungkin, masalah biayanya saya yang akan tanggung.."
" Baik pak...."
Dokter itu pun memeriksa Nagin.
Bay selalu berada disampingnya. Bertahun - tahun mereka pisah, dan akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali.
Bay masih saja merasa bersalah. Ia telah membuat hati Nagin sakit dan ia juga telah mengecewakan Nagin. Ia tak habis pikir, begitu teganya ia kepada wanita yang pernah berjuang hntuk dirinya.
Ia ingat pesan papanya...
... " Percayalah, suatu hari nanti diri mu akan bertemu dengan orang yang tak pandai pergi dan takut menyakiti mu..'...
__ADS_1
Ya pesan itu, ia ingat sampai sekarang. Bay juga mengingat semua tentang ia dan Nagin. Ia ingat pertama kali bagaimana gadis cantik itu datang kerumahnya. Semua kenangan bersama Nagin, ia mengingatnya kembali.
Malam pun tiba. Bay masih saja memakai kemeja pernikahannya itu. Perutnya yang sudah lapar pun tidak ia perdulikan lagi. Ia masih saja setia menemani Nagin.