CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Izin Dari Ibu


__ADS_3

Perhelatan akbar raja dan ratu sehari Sarah telah usai. Sarah telah bahagia melabuhkan kapalnya di lautan bernama rumah tangga. Doa Julia menyertai Sarah dengan harapan biduk rumah tangga Sarah selamat hingga tujuan. Mampu melawan kerasnya hantaman ombak dan kejamnya badai.


Julia kembali ke kehidupan nyata menjadi seorang gadis biasa yang harus bekerja keras untuk melanjutkan hidup.


***


Makan malam yang dihidangkan Ibu tampak sedap, kalio ayam dan sayur pucuk ubi rebus sebagai lalapan. Aroma sambal bawang khas Ibu sudah cukup membuat air liur terbit. Mereka menikmati makan malam dengan tenang sebelum Julia merusaknya.


"Bu, kalau misalnya ada laki-laki yang baik akhlaknya dan Julia juga tertarik dengannya, apa boleh Julia menikah?"


Julia ragu-ragu mengeluarkan apa yang terpendam dalam hatinya hampir sebulan ini.


Ibu dan Kak Lucy yang sedang menikmati makan malamnya menghentikan suapan. Menatap Julia tak percaya.


"Kamu sudah punya pacar dek? Kok tidak pernah cerita sama kakak," tatap Kak Lucy tajam.


"Tidak punya kak, ini kan kalau …. " Julia gugup menjawabnya.


"Tidak punya pacar tapi berandai-andai mau nikah. Kamu itu anak baru kemarin sore, baru mau 24 tahun. Kakak aja belum kepikiran untuk menikah. Lihat kehidupan kita belum stabil begini. Kamu nggak malu menikah di rumah kontrakan seperti ini. Seenggaknya tunggu sampai kita punya rumah sendiri!" sambar Lucy dengan suara meninggi.


"Iya kak Lucy bantu juga dong, biar tabungan untuk beli rumah segera terkumpul. Jangan boros hura-hura sama taman saja. Selama ini Julia terus yang menyisihkan uang untuk beli rumah!" Julia melawan kata-kata Lucy. Selera makannya menguap dibawa emosi.


"Kamu tidak usah ngajarin aku ya. Memangnya kalau aku menyisihkan uang harus lapor ke kamu dulu!" ketusnya menunjuk wajah Julia


"Sssst sudah! jangan ribut-ribut. Malu didengar tetangga. Kamu jangan mudah emosi Cy, dengar dulu apa yang mau disampaikan adikmu!" Ibu menengahi ketegangan.


"Makanya kakak tenang dulu. Julia kan hanya ditawarkan untuk berta'aruf sama teman pengajian. Belum tentu juga akan menikah dalam waktu cepat. Julia tidak berani memutuskan sendiri, makanya Julia minta saran Ibu. Karena kakak saudaraku makanya kakak juga perlu tahu." Julia mencoba mengatur nada bicaranya sehalus mungkin untuk menghalau amarah Kak Lucy.


"Kalau Ibu nggak masalah Jul. Kalau memang sudah ada jodohnya, menikahlah. Ibu pun tenang kalau kalian sudah ada yang menjaga. Usia 24 tahun bukan anak kecil lagi, Ibu yakin Julia mampu. Tapi siapa calonnya ini?" jawab Ibu lembut.


"Terus aku akan dilangkahi dia Bu? Apa kata orang nanti. Aku nggak rela Bu kalau Julia nikah duluan! Aku nggak mau jadi bahan pembicaraan orang, dikatain perawan tua!"


Suara Lucy bergetar, kecewa dan terluka. Matanya mendelik ke arah Ibu seakan tak percaya dengan jawabannya.


Lucy bangkit dari kursi ia tidak menghabiskan makan malamnya. Ia melempar piring bekas makan sembarangan ke bak cuci piring. Meninggalkan Julia dan Ibu dalam keheningan tidak bisa berkata-kata melihat kelakuannya.


Julia menangkupkan tangan ke wajah, menyesal rasanya mengungkapkan niat yang simpan dalam-dalam di hati. Tanpa terasa air matanya mengalir. Ibu mengusap punggung Julia. Hanya kehangatan tangan Ibu yang mampu memberinya ketenangan.


"Kalau pria itu baik dan sholeh, Ibu ridho Jul. Ibu mengizinkan. Nanti Ibu yang bicara pada Lucy agar hatinya melunak. Ibu sudah tua Jul, ingin melihat kalian bahagia memiliki pendamping hidup dan punya keturunan. Cuma keinginan ini tidak pernah Ibu sampaikan karena Ibu percaya kalian tahu apa yang terbaik untuk hidup kalian." Ibu menghapus air mata Julia, menghilangkan gundah di hatinya.


"Alhamdulillah, Julia hanya butuh izin dan ridho Ibu. Insyaallah Minggu ini Julia akan memberikan CV ke teman pengajian Julia. Bukankah lebih cepat lebih baik." Julia tersenyum pada Ibu.


"Ya segeralah bertukar CV, Ibu pun penasaran dengan pemuda yang akan diperkenalkan sama kamu," Ibu mengelus pipi Julia.


Julia menghabiskan makan malam dengan enggan. Ibu membersihkan sisa makanan yang bertebaran akibat ulah Kak Lucy melempar piring sembarangan.


Julia menghela nafas berat. Membayangkan tidur satu ruangan dengan Lucy saja sudah membuat perutnya terasa mulas.

__ADS_1


***


Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh Lucy sudah siap-siap berangkat kerja. Julia mendengar ia mengemas barang-barangnya dengan kasar. Julia tidak berani menghadapi Lucy yang edang emosi. Jadi ia tetap meringkuk pura-pura tidur hingga ia mendengar suara motor Lucy menderu meninggalkan rumah. Barulah Julia berani membuka mata.


Dengan wajah kusut dihampirinya Ibu di teras, sedang menata bahan-bahan lontong untuk dijual.


"Ibu sudah ada bicara sama Kak Lucy?" tanya Julia.


"Belum sempat nak, tadi dia berangkat terburu-buru. Nanti malam saja kalau kondisi hatinya sudah membaik," Ibu masih sibuk menata barang.


"Hmmm ya sudahlah Bu, Julia mau siap-siap berangkat pengajian setelahnya langsung kerja."


"Jangan lupa sarapan dulu ya nak," Ibu mengingatkan.


"Iya Bu, aku bikin teh panas dulu. Mau sarapan telor ceplok saja. Nanti aku buat sendiri."


"Baiklah, Ibu mau ke warung sebentar. Lupa kalau gula pasir tinggal sedikit. Masuklah, biar Ibu kunci pintunya dari luar."


***


Berhubung Sarah telah pergi mengarungi hidup baru, Julia menjadi solo fighter. Pergi ke kajian sendiri, tidak berteman. Tak mengapa, ia tidak akan kesepian karena Ibu-ibu dan rekan pengajian sangat baik dan ramah.


Julia yakin akan segera memiliki banyak teman baru di komunitas ini. Karena Tante Tati mengundangnya masuk kedalam grup chat WhatsApp akhwat. Katanya agar ia bisa punya banyak kenalan dan saling bertukar info kajian.


Tak jarang mereka mengadakan acara rujak party atau makan nasi kebuli beramai-ramai. Sayang Juliw tidak bisa ikutan karena mereka sering buat acara di hari kerja.


Hari ini pembahasan kajian dibawakan oleh Ustadz Arifin tentang keberadaan wanita pasca kedatangan Islam. Di masa jahiliyah banyak laki-laki merasa mendapat aib apabila dikaruniai anak perempuan, sehingga tidak heran banyak terjadi praktek penguburan anak perempuan sesaat setelah lahir. Kedatangan Islam mengubah semua persepsi buruk itu. Derajat wanita ditinggikan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Salam juga sering mengingat kan dengan sabda-sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita. Di antara sabdanya:


اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى


“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285)


Sebelum Islam datang orang-orang jahiliyah memandang wanita sebagai musibah. Sementara Islam memandang bahwa wanita adalah karunia Allah. Hadirnya wanita memberikan kaum laki-laki akan ketenangan secara lahir maupun batinnya. Dari wanita akan muncul energi positif berupa rasa cinta, kasih sayang dan motivasi hidup.


Laki-laki dan wanita menjadi satu kesatuan yang suci dalam bingkai rumah tangga. Maka sudah seharusnya wanita dan lelaki saling membantu dalam mewujudkan hidup yang nyaman dan penuh kebahagian, mendidik dan membimbing generasi manusia yang akan datang. Allah berfirman,


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Rûm [30]: 21).


Dan, jangan lupa Rasulullah dikaruniai banyak anak perempuan, dan Rasul merawat mereka dengan penuh kasih. Salah satu yang menjadi kesayangan-nya adalah putrinya yang bernama Fatimah.

__ADS_1


Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ


“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau) - (HR Muslim 2631).


Inti dari kajian ini bukanlah tentang siapa yang paling tinggi derajatnya, apakah laki-laki atau perempuan. Semua gender di mata Allah sama tergantung dengan ketakwaan-nya. Maka hendaknya laki-laki tidak semena-mena pada wanita. Dan wanita pun janganlah bersikap angkuh dan sombong pada lelaki, tetap pada kodratnya sebagai makhluk yang lembut dan mengayomi.


Masya Allah .…


***


Kajian telah usai, panitia Masjid sudah bersiap-siap untuk persiapan sholat Jum'at. Julia melihat Tante Tati sedang merapikan sajadah.


"Assalamualaikum Tante …. " Sapa Julia.


"Walaikumsalaam, eh Julia duduk dulu sini," ia menghentikan aktivitas.


"Emmmm … Julia sudah minta izin Ibu untuk ta'aruf. Alhamdulillah beliau sudah memberi izin, maaf ya lama mengabari Tante," Julia utarakan isi hati.


"Alhamdulillah, boleh Tante tahu hambatan apa yang buat Julia berpikir lama?"


"Julia punya kakak yang belum menikah Tante, aku khawatir melangkahi dia. Tapi di satu sisi kakak juga belum terlihat ingin menikah. Jadi Julia bingung harus bagaimana. Tapi Ibu bilang, beliau yang akan bicara pada kakak," jelas Julia bimbang.


"Ooooh begitu, bukan masalah besar. Mudah-mudahan dilembutkan hati kakakmu agar bisa menerima. Ajak saja kakaknya ke pengajian ini, siapa tahu membuka pintu jodoh." Usul Tante Tati.


Entah ide dari mana tiba-tiba meluncur kalimat ini dari lidah Julia, "Kalau keponakan Tante dikenalkan ke kakak saya saja bagaimana Tan?" ia menawarkan.


Raut wajah Tante Tati berubah kecewa.


"Maaf ya Jul, dari awal Tante tertarik dengan kepribadian kamu. Makanya Tante kuat untuk mengenalkanmu dengan keponakan saya. Bahkan Tante sudah sempat cerita sekilas tentang kamu. Kalo Tante kenalkan pada kakakmu bisa berbeda ceritanya. Jadi bagaimana nih, kalau kamu tidak mau ya Tante tidak memaksa," tegas Tante Tati.


"Julia mau Tante … Tapi ya itu, masih kepikiran soal kakak," jawab Julia memberi kepastian.


"Oke sebentar ya, sudah lama sekali dia kirim CV. Bahkan dia sudah tanya-tanya Tante lho … kok CV kamu belum dikirim ke dia, jadi nggak …. " Ia sibuk membuka file-file email diponselnya.


"Maaf ya Tante, jadi ribet begini," Julia merasa bersalah.


"Nggak apa-apa. Nah ini dia CV-nya! sudah Tante kirim ke WhatsApp kamu. Baca baik-baik ya, terus jangan lupa kirimkan CV kamu. Biar nanti Tante sampaikan dia." Terdengar bunyi notifikasi masuk.


"Makasih banyak ya Tante."


"Sama-sama Jul, jangan lupa istikharah. Libatkan Allah dalam semua keputusanmu, InsyaAllah kamu akan diberi petunjuk," Pesannya.


"Baik Tante, Julia mau lanjut kerja dulu ya …. " Julia undur diri.


"Iya hati-hati di jalan Jul," Tante Tati merangkul Julia sebagai salam perpisahan.

__ADS_1


Sebenarnya Julia sudah tidak sabar ingin membaca CV tersebut, namun ia urungkan untuk membukanya. Akan ia baca nanti saja setelah pekerjaan dan urusan hari ini selesai agar tidak memecah konsentrasi.


"Semoga Allah meridhoi setiap langkahku."


__ADS_2