CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Hanya Untukmu


__ADS_3

Bersama gadis itu


Raga ini tak menjejak bumi


Berlebihan katamu!?


Tunggu sampai kau rasa sendiri ....


***


Septian berdiri di bawah pancuran shower. Berharap tetesan air yang meresap di setiap pori-porinya mampu memadamkan hasrat yang membara. Ia adalah pria normal, berat sekali menahan dorongan naluri. Bisa saja ia berkeras memaksa, tapi tatapan pilu istrinya menanggung sakit membuatnya iba.


"Ah! Apa tadi pemanasannya kurang lama ya … Sabarlah! Kalau sampai tiga hari ini belum berhasil juga, aku akan cari hotel lain yang suasananya lebih romantis," gumamnya.


"Aku rela bayar mahal, yang penting ia nyaman dan hasratku tersalurkan …. " Pikirannya berkelana memikirkan strategi berikutnya.


Septian keluar dari kamar mandi berbalut handuk melingkar di pinggang. Ia melihat istrinya sudah tidur meringkuk dengan air mata masih menetes.


"Duhai sayang begitu sakitkah? Sungguh aku tidak berniat berlaku kasar." Ia membelai lembut rambut Julia menghapus air matanya pelan-pelan.


Ia membetulkan posisi tidur Julia agar lebih nyaman diselimutinya tubuh ramping itu agar tetap hangat. Ia menikmati garis wajah istirnya yang cantik. Septian berbaring di sebelah Julia, meletakkan kepala gadis itu di dalam dekapannya. Menghirup aroma lembut dari rambut Julia hingga jatuh tertidur.


***


Julia terbangun karena merasa tenggorokannya kering. Haus, ia butuh minum. Dalam keadaan masih linglung ia ingat kalau belum mandi besar. Dengan hati-hati ia melepaskan pelukan suaminya yang kokoh melingkari tubuhnya.


"Sepertinya aku ketiduran, kelamaan menunggu Mas Septian mandi." 


Ia melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 3 pagi rupanya. 


"Aku mandi sekarang sajalah, tidak baik ditunda-tunda." 


Julia membersihkan diri, menggosok setiap senti tubuhnya keras-keras. Sekelebat ia merasakan gelenyar asing mengingat sentuhan suaminya tadi.


"Sadarlah Julia berdosa jika membuat suami menunggu terlalu lama. Tunaikan lah haknya. Kamu pasti bisa ikuti saja nalurimu jangan dilawan!" Julia sibuk menyemangati diri sendiri.


Usai mandi bersih Julia mengambil mukena dari koper. Ia berniat sholat Tahajud, menumpahkan segala rasa pada Tuhan. Semoga ketidakmampuannya menyenangkan suami bukanlah dosa yang disengaja. Dengan khusyuk ia berdo'a agar benih cinta yang murni tumbuh subur untuk suaminya.


Usai sholat dan berdo'a, ia mengambil Al-Qur'an saku yang selalu dibawa. Dengan lirih ia membaca ayat-ayat cinta dari Allah. Al-Qur'an adalah obat untuk mendamaikan hatinya yang gelisah. Semoga suaminya tidak terusik.


***


Lamat-lamat suara lantunan Al-Qur'an terdengar. Septian mengucek matanya. Ia melihat ke arah jam dinding, baru pukul 4 kurang 20 menit. Ia kira sudah masuk waktu sholat subuh Septian bangkit dari spring bed menuju kamarnya mandi untuk berwudhu. Masih ada waktu untuk tahajud, sayang dilewatkan.

__ADS_1


Ia mengenakan baju Koko dan sarung favoritnya. Ia membentangkan sajadah untuk menunaikan sholat di sebelah istrinya. Saat Septian berasyik masyuk dalam bacaan sholat, Julia menuntaskan tilawah. Ia punya sebuah rencana untuk meraih cinta Septian. Julia bangkit menuju koper, tangannya mencari-cari sesuatu. Sebuah lingerie satin berenda warna merah marun. Ia menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.


Julia mematut dirinya yang terlihat sungguh berbeda dari pantulan cermin. Ia tampak memikat dan liar. Jika kecantikan bisa membunuh Septian pasti mati mendadak melihat dirinya saat ini. Tubuh berbalut lingerie tipis transparan menunjukkan permukaan kulitnya yang halus bagai pualam. Setiap lekuk tubuhnya tercetak jelas menantang.


Sengaja Julia mengurai rambut panjangnya hingga punggung. Ia memoleskan lipstik merah tipis-tipis di bibirnya agar wajahnya yang tegang lebih berwarna. Ia menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya, menggosok-gosok parfum itu ke leher tulang selangka dan cekungan dada.


"Bersiaplah Mas aku tak akan menahan diri!"


Sebuah keberanian besar muncul dari dalam dirinya. Didorong rasa cinta dan kepatuhan sudah waktunya ia serahkan miliknya yang berharga.


Julia duduk manis di atas spring bed menunggu Septian selesai sholat. Setelah menuntaskan salam nafas Septian tercekat melihat sosok yang mengagumkan.


"Sejak kapan ada bidadari disini?" ujar Septian menyeringai. Aliran darahnya memanas, bergelora.


Julia melemparkan senyum memprovokasi Indra penglihatan suaminya.


"Jangan mancing-mancing aku ya dek. Nanti aku tidak bisa menahan," Septian menggeram, meraih dagu istrinya menikmati setiap sudut keindahan yang hanya jadi miliknya.


"Aku juga tidak akan menolak, silahkan berbuat semaumu. Aku milikmu!" dengan rasa malu yang telah ia tinggalkan, Julia mencumbu bibir suaminya.


"Hmmmm, aku tidak akan kasih ampun kali ini!" desis Septian dari balik bibirnya yang dikulum Julia.


Septian membuka pakaian dan melepas sarungnya terburu-buru. Dengan satu sentakan ia menggendong tubuh Julia dan menghempaskannya ke spring bed. Kali ini ia bermain-main cukup lama hingga istrinya lupa daratan. Ia akan membuat gelora Julia melayang tak menjejak bumi. Ia akan membuatnya memohon, meminta.


Julia tak tahan dengan gelombang yang bertubi-tubi menjalari tubuhnya. Jemarinya meremas sprei untuk menyalurkan gejolak di dada.


Septian tidak peduli, ia masih ingin bermain-main sebelum mulai bergerilya.


"Tidak, belum saatnya!" geram Septian berat.


"Tolonglah Mas …. " Julia memelas.


Julia meletakkan tangannya di wajah Septian. Ditatapnya mata Septian dengan wajah meminta. Dengan segenap keinginan ia mengiba. Septian larut dalam godaan yang ditawarkan Julia.


"Ini akan sedikit sakit tapi cobalah menikmati. Nanti akan terbiasa …." Bisiknya ke telinga Julia.


Bisikan itu memancing bulu roma, meremang di seluruh permukaan kulitnya. Julia pasrah. Ia menghendaki hal itu terjadi pada dirinya. 


Dalam satu hentakan, semua terjadi. Julia terkejut dengan rasa pedih yang menikam tubuhnya. Namun itu tak lama sebuah senyum terulas di bibir. Perlahan rasa sakit berganti dengan sebuah rasa yang membuatnya melayang. Surga dunia.


*** 


Semburat kemerahan seperti benang tipis tertangkap oleh mata Septian. Ia tersenyum puas dengan keberhasilannya.

__ADS_1


"Dasar perawan, tak tahukah kalau amat sulit menembus dirimu!"


Ia memacu diri mabuk dalam keindahan, rasanya ia tidak mau semua momen ini berakhir. Dinikmatinya wajah istrinya yang menahan gelombang rasa.


"Kau memang yang tercantik semua yang ada dirimu membiusku. Apa yang kau minta akan kuturuti selama kau mau seperti ini denganku selamanya," gumam Septian berpacu dengan desahan Julia.


Septian terengah-engah dalam pendakian, sebentar lagi ia akan mencapai puncak. Dipeluknya tubuh Julia erat-erat. Ia menggertakkan gigi, rahangnya mengeras, tubuhnya bergetar hebat saat benih-benih itu lepas. Spontan tubuhnya lemas tak berdaya, meninggalkan rasa pusing yang melanda.


Kepayahan ia mengatur nafas yang masih memburu.


"Aku mabuk dalam cinta!" batin Septian mendekap istrinya yang terpaku mencerna pengalaman.


Alarm waktu sholat subuh menjerit, membuyarkan lamunan keduanya. 


"Ayo mandi dulu sayang jangan sampai terlewat sholat subuh." Ujar Septian mencium kening istrinya sekilas sebelum menuju kamar mandi.


Julia termenung lalu berganti tertawa terbahak-bahak, ternyata hal ini tidak semenakutkan bayangannya. Jika ia tahu seperti ini rasanya, dari hari pertama akan ia serahkan semuanya.


***


Septian tersenyum penuh kemenangan sepanjang hari mood-nya bagus sekali. Ia bersiul-siul sesekali bibirnya bersenandung syair. Mereka sedang bersiap-siap untuk melancong hari ini. Menjadi turis di kota bertuah yang panasnya membakar kulit. Sesekali ia melempar pandangan ke Julia dengan wajah usil. 


"Masih sakit?" mata Septian mengerling nakal.


"Sudah tidak lagi," Julia mencoba bersikap biasa saja. Dalam hati ia geli melihat suaminya bertingkah norak.


"Hehehehe .… " 


"Kenapa nyengir terus?" Julia semakin heran. 


"Tidak ada, hanya senang saja. Masa orang lagi happy dilarang." Septian menjulurkan lidah.


Julia hanya geleng-geleng kepala. Boys always be boys.


"Mas ayo gerak sekarang, sebelum makin panas udaranya. Kota ini memang tidak banyak wisata alam tapi urusan kuliner juaranya!" usul Julia.


"Boleh. Apa makanan khas Melayu paling enak disini? Aku mau coba."


"Kamu wajib coba gulai ikan patin dan asam pedas baung. Endol surendol!" Julia mengacungkan jempolnya.


"Baiklah sayang perkenalkan aku dengan wisata kuliner kota ini. Aku siap menggendut bersamamu!" Septian bangkit sambil menepuk perutnya yang petak-petak seperti batangan coklat.


"Hihihihi …. " Julia mengikik geli. Ia menggamit tangan suaminya dan bersiap menjelajah kota.

__ADS_1


Julia berharap semoga hari-hari di masa depan akan semakin indah bersama suaminya.


"Bahagia ada baiknya kau terus berlama-lama." Gumam Julia dengan mata berbinar.


__ADS_2