CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Perpisahan


__ADS_3

Kau adalah titipan yang tak ternilai


Dengan segenap cinta aku merawat


Kini, sudah masa-nya kau ku lepas


Berat mataku melepasmu


Lebih berat hatiku memikul rindu


Pergilah, jejaki hidupmu yang baru


Semoga Allah jaga dan melindungimu


Disaat erat dekapku tak sampai padamu


***


Hari ini agenda Julia dan Septian adalah double date dengan Sarah dan Kak Hasan. Untungnya suami Sarah masih cuti jadi wacana mereka untuk makan siang bersama dapat terealisasi. Kak Hasan dan Sarah sudah menunggu di sebuah restoran barbeque ala Korea di Mall yang bersebelahan dengan hotel. Karena jaraknya yang dekat, Julia dan Septian mencapai lokasi dengan berjalan kaki.


"Haiiiiii !" Sarah melambaikan tangan dari kejauhan, tangannya bergerak-gerak memberi kode untuk masuk ke dalam resto.


Julia melingkarkan telunjuk dan ibu jari, membentuk kode oke. Begitu Julia sampai di meja, Sarah langsung bergeser memberi ruang duduk untuk Julia. Kak Hasan berdiri untuk menyalami Septian.


"Apa kabar pengantin baru?"


"Alhamdulillah baik Bang!" Septian menyambut salam Kak Hasan.


"Kerjaan istri nih, doyan banget makanan Korea. Makanya minta ketemu disini," jelas Kak Hasan sambil memberi kode pada Septian untuk duduk di sebelahnya.


"Nggak apa-apa mas, asal istri senang," jawab Septian mengambil tempat.


Julia melempar senyum ke arah Septian. Suaminya tidak se-kaku yang ia bayangkan. Ia pandai membawa diri.


Tak lama menunggu, pramusaji membawa nampan-nampan yang berisi menu pesanan Sarah. Dua set iga sapi tanpa tulang yang telah dimarinasi, dua porsi naengmyeon alias mie sejenis bihun dengan kuah kaldu sapi dingin. Sebentar saja meja saji penuh dengan aneka banchan atau makanan pendamping.


Dengan tangannya yang cekatan Sarah meletakkan potongan daging ke panggangan besi yang dibawahnya terdapat arang untuk memanggang. Lemak daging lumer meneteskan minyaknya, aroma nikmat merebak memancing air liur menetes. Tampilan daging panggang itu sangat menyelerakan. Julia mendadak lapar mencium aroma nikmat itu. Ia menuang segelas teh ocha untuk meredakan air liur-nya.


Sarah membolak-balik daging itu hingga mencapai tingkat kematangan yang ia mau. Daging sapi tidak boleh dipanggang terlalu lama, agar tetap juicy dan empuk. Ia memindahkan potongan daging yang telah matang ke piring yang tersedia.


"Begini cara makannya, ambil selembar daun selada dan daun perilla. Tambahkan sedikit kimchi daun bawang, pasta kedelai, cabe hijau, dan dua potong daging," tangan Sarah sibuk mencomot bahan pelengkap agar sesuai dengan cara makan ala Korea yang ia tonton di drama.


"Kemudian bungkus dan makan dalam satu suapan, hap!" Sarah melahap dengan nikmat. Julia langsung melaksanakan instruksi Sarah.


"Ayo ayo, mulai saja jangan malu-malu." Ajak Kak Hasan ke arah Septian.


"Aku baru tahu kalau orang Korea suka lalapan," batin Septian.


Sebelum memulai membungkus daging panggang dengan sayuran. Mata Septian tertuju pada sayur sawi putih yang berbalut bumbu kemerahan. Ia heran baru kali ini melihat sayur sawi di sambalado. Didorong rasa penasaran ia mengulur tangannya, mengambil sepotong sayuran itu dan memakannya.


"Aseeeem banget!" Spontan wajahnya berkerut lucu memancing gelak tawa.


"Makanan opo Iki, ora enak blas!" Jeritnya dalam hati.

__ADS_1


"Ini namanya kimchi, sayur yang difermentasi. Memang asem banget kalau dimakan begitu saja. Tidak semua orang suka. Enaknya dicampur mie atau dicampur ke lalapan untuk bungkus daging," jelas Kak Hasan menangkap ekspresi lucu Septian yang menahan rasa kecut di lidah.


"Hehehe iya Mas, saya baru kali ini coba makanan Korea. Jadi belum familiar dengan rasanya," jawab Septian pelan.


"Iya saya juga nggak cocok sama rasanya. Tapi karena ngikut selera istri lama-lama doyan juga," sahut Kak Hasan manggut-manggut menikmati potongan daging yang lumer.


Kak Hasan dan Septian langsung akrab. Mereka asyik ngobrol tentang banyak hal, terutama tentang teknologi dan bisnis. Sarah dan Julia tidak peduli dengan apa yang dibahas suami mereka. Karena mereka berdua sudah asyik dengan obrolan mereka sendiri. Hingga waktu dua jam terlewati begitu cepat.


Julia dan Septian mengantar Sarah dan Kak Hasan menuju area Parkir Mall. Kak Hasan menyalami Septian, mengucapkan selamat jalan. Kemudian ia bergegas untuk mengambil mobilnya.


"Jadi kapan kalian berangkat ke Jogja?" tanya Sarah sebelum ia berpisah dengan Julia.


"Insya Allah hari Sabtu, minggu depan." sahut Julia pelan, ia sedang mengontrol diri agar tidak menangis. Julia tidak tahan dengan perpisahan, jiwa mellow-nya terpancing.


"Mungkin aku tidak bisa mengantarmu ke bandara. Maaf ya," wajah Sarah berubah sendu.


"Iya nggak apa-apa, aku ngerti. Aku minta doanya aja." tatapan Julia jatuh ke lantai.


"Aku selalu doain kebahagiaanmu. Entah kapan kita bisa ketemu lagi Jul," Sarah memeluk Julia erat sekali. Julia membalas pelukan itu tak kalah erat. Sungguh persahabatan yang terbangun antara mereka adalah sesuatu yang amat berharga.


"Makasih ya Sarah. Moga kita bisa ketemu lagi di lain waktu. Makasih kamu sudah ajak aku ikut pengajian. Pengalaman yang merubah pandanganku terhadap hidup ini." Julia berbisik di telinga Sarah.


"Itu sudah kewajiban sesama muslim untuk mengajak ke jalan kebaikan." jawab Sarah.


Mobil Kak Hasan tiba, ia membuka jendela memberi kode pada Sarah untuk bergegas naik.


"Oke, aku pamit dulu ya. Nanti malam kami harus pulang ke Medan. Cuti Kak Hasan sudah habis. Jadi mau siap-siap dulu nih," Sarah melepaskan pelukannya dari tubuh Julia.


"Janji ya sering-sering kabari aku," tuntut Sarah lagi.


Sarah menuju mobil dan memasukinya. Kak Hasan melambaikan tangan perpisahan. Sarah melongokkan kepalanya keluar jendela.


"Bye Jul. Bye Kak Septian, fii amanillah!"


"Bye … ma'assalamah!" balas Septian dan Julia kompak. Sedetik setelah mobil kak Hasan lepas dari pandangan, air mata Julia jatuh.


Septian mengusap bahu istrinya dengan simpati.


"Yuk dek, kita juga harus bergegas. Sore ini kita check out. Sudah waktunya pulang ke rumah Ibu."


Julia menggangguk dan menghapus air matanya.


***


Tak terasa waktu dua minggu di kota Pekanbaru telah usai. Septian cukup puas menjadi turis di kota ini. Julia telah mengajaknya ke berbagai destinasi lokal yang sangat menarik. Mereka belanja kebutuhan dapur di pasar tradisional yang sangat kental nuansa Tionghoa-nya. Nuansa merah dan lampion dimana-mana. Asap bakaran dupa menebarkan aroma khusus. Lagu berbahasa Mandarin bersahutan dari setiap toko. Disana Septian merasa takjub ketika melihat banyak ibu-ibu membeli kodok dan kura-kura untuk santapan.


Di lain waktu ia bersama Julia menikmati suasana sore yang syahdu di tepi sungai Siak sambil makan jagung bakar. Ia juga berkunjung ke tempat wisata dakwah dimana ia untuk pertama kali belajar memanah dan berkuda.


Satu hal yang tak akan ia lupakan dari kota ini adalah makanannya yang nikmat. Rendang, cincang kambing, sup kerang, sup ikan, roti canai kuah kari dan gulai patin adalah favoritnya. Belum lagi masakan buatan Ibu mertuanya yang benar-benar juara. Membuat ia selalu ingin nambah nasi. Dua Minggu di Pekanbaru berat badannya melonjak.


"Selamat datang perut buncit!" Septian mengelus-elus perutnya yang mulai berlemak.


"Pulang ke Jogja wajib rutin olahraga lagi!" batinnya lagi.

__ADS_1


Sementara itu menjelang hari keberangkatan ke Jogja, Julia menjadi semakin murung dan pendiam. Ia sedang mengelola rasa sedih di hatinya. Berusaha menerima garis hidup yang akan ia tempuh. Julia semakin giat membersihkan rumah, membantu ibu berjualan di pagi hari. Ia melakukan pekerjaan rumah tangga sebaik mungkin.


"Bisa jadi ini kesempatan terakhirku berbakti pada Ibu," setiap kali pikiran ini muncul, semakin rajin dan giat ia berbenah rumah.


Ibu yang merasakan perubahan sikap anaknya semakin kencang mendoakan-nya. Melepas anak perempuan yang sudah ia rawat dengan air mata dan darah selama 24 tahun bukanlah perkara mudah. Ia bahagia Julia sudah ada yang menjaga, namun nalurinya sebagai Ibu terusik membayangkan harus berpisah dari anaknya. Setiap sholat ia memohon agar diberi keikhlasan melepas anak yang jadi penyejuk kedua matanya itu.


***


Suasana di dalam taksi online yang membawa Julia, Septian dan Ibu menuju bandara begitu hening. Tak ada pembicaraan di antara mereka. Pandangan Ibu jauh menerawang ke luar jendela.


"Ya Allah bantu aku menepis rasa berat hati ini. Ku pasrahkan ia pada-Mu ya Allah. Kutitipkan anakku pada-Mu yang memiliki sebaik-baiknya penjagaan," gumam Ibu setiap memandang wajah sendu Julia.


Awalnya Ibu ingin mengantar Julia hingga ke Jogja dan menghadiri acara ngunduh mantu. Namun Lucy -- Kakak Julia tidak mau menghadiri acara itu dengan alasan izin cutinya sudah habis. Ia tidak bisa absen kerja karena takut dipecat. Lucy juga menolak untuk mengantar ke bandara karena sibuk dan tidak ada teman yang bisa menggantikan.


Hanya Ibu sendiri mengantar Julia sampai bandara saja. Ia batal ikut mengantar Julia sampai Jogja. Sifat tidak tega Ibu membuatnya tidak bisa meninggalkan Lucy sendirian di Pekanbaru. Ia paham betul, sifat Lucy tidak semandiri Julia. Entah apa yang akan terjadi pada Lucy dan rumah jika ia tinggalkan.


"Semoga selamat sampai tujuan ya Nak. Aku titip anakku padamu, tolong disayang dan dimuliakan. Julia hanya merasakan kasih sayang ayah-nya sebentar saja. Semoga kau bisa menjadi teman, suami sekaligus sosok ayah untuknya. Julia kadang keras kepala, tapi Ibu mohon hadapi ia dengan lembut," pesan Ibu pada Septian dengan suara bergetar. Ibu menahan perasaan sekuat tenaga.


"Baik Bu, insya Allah saya akan lakukan amanat Ibu sebaik-baiknya." Septian meraih tangan Ibu dan mencium khidmat.


Air mata Julia sudah berkumpul di sudut mata. Ia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Takut pertahanannya bobol. Bisa-bisa ia nangis meraung-raung dan membuat Ibu makin berat melepaskannya. Ia hanya memeluk Ibu erat-erat selama yang ia bisa. Hingga Septian mengusap bahunya memberi kode sudah waktu mereka check in.


"Julia pamit ya Ibu," ia meraih tangan Ibu dan menciumnya sebagai salam perpisahan.


"Pergilah nak, doa Ibu selalu menyertaimu." Ibu meraih kening Julia dan mengecupnya dalam-dalam.


Dengan langkah tertahan Julia mengikuti Septian yang menggenggam tangannya erat-erat menaiki eskalator menuju konter check in di lantai dua. Julia terus melambaikan tangan hingga Ibu hilang dari pandangan. Julia berusaha tegar walau separuh hatinya tertinggal di Pekanbaru.


Setelah selesai check in dan melakukan pengecekan, mereka menuju boarding room menunggu keberangkatan. Julia mengambil ponsel dan melakukan panggilan telepon.


***


Lucy sedang melamun menatap botol-botol obat di ruang kerjanya. Klinik tempatnya bekerja sedang sepi pasien, jadi ia tak perlu meracik obat. Harusnya ia menemani Ibu ke bandara mengantar Julia. Tapi ia menolak, bukan karena ia masih marah pada adiknya itu. Tapi ia tak sanggup kalau harus menghadapi perpisahan secara langsung. Ia gengsi menunjukkan rasa kasih sayang pada adiknya. Ia sudah terbiasa bersikap sekeras batu. Jadi biarlah ia tetap menjadi kakak yang cuek dan tidak perhatian hingga akhir.


Tiba-tiba suara ponselnya berdering, mengejutkan dirinya. Ada nama -- Adek di layar ponsel. Sengaja ia berlama-lama mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum," sapa suara di seberang.


"Halo, walaikumsalam," sahut Lucy.


"Kak, Julia berangkat sekarang. Aku titip jaga Ibu. Tolong diperhatikan makan dan istirahat Ibu, jangan sampai sakit. Sampai ketemu lagi di lain waktu," balas Julia.


"Iya, semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa kabari Ibu kalau sudah sampai. Maaf aku tidak bisa mengantar," sahut Lucy datar.


"Tak apa kak." Ada hening sesaat diantar mereka.


"Kakak sedang banyak kerjaan, tidak bisa ngobrol lama," Lucy berbohong memecah keheningan.


"Oh iya, maaf kak ganggu. Sudah dulu ya. Assalamualaikum."


Walaikumsalaam," Lucy mematikan panggilan.


Lucy menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya terkulai lemas di pangkuan. Ia meledak dalam tangisan. Air matanya mengalir deras.

__ADS_1


"Maafkan kakak Julia. Kakak tak kuat menghadapi perpisahan. Semoga kamu selalu berbahagia."


__ADS_2