CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Langkah Pertama


__ADS_3

"Bismillah. Jadi kehadiran saya disini untuk menyampaikan, saya akan membuka usaha oleh-oleh khas desa kita. Saya membuka peluang bagi ibu-ibu untuk bergabung bersama saya untuk memproduksi makanan ringan untuk dijual. Insya Allah sistem gajinya harian. Jika ibu-ibu berminat, bisa tulis namanya di form pendaftaran ini."


Ujar Julia menyampaikan maksud dan tujuannya berada di tengah-tengah perkumpulan ibu-ibu PKK di desa itu.


Mata Julia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan menanti respon dari hadirin. Bu Rahayu, mertua Julia mengangguk-angguk bangga dengan ide menantunya.


Ibu-ibu yang hadir bergumam berbisik-bisik. Saling mencolek dan berdiskusi singkat. Gerak tubuh dan binar mata mereka menunjukkan rasa antusias. Kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan memberi angin segar bagi mereka. Satu persatu hadirin mendaftar menuliskan nama dan nomor ponsel.


Bu Kades bersandar di pojok ruangan melipat tangan di dada. Sebenarnya ia kagum dengan ide Julia membuka lapangan kerja untuk ibu-ibu di desanya. Sebuah kontribusi mulia untuk membangun geliat perekonomian desa.


Tapi rasa dengki masih meliputi hati. Ia benci melihat Julia mendapatkan keberuntungan menjadi menantu Bu Rahayu. Bahkan diberi modal besar untuk membuka usaha.


"Yang namanya sudah terdaftar insya Allah akan saya kabari, agar produksi bisa segera dimulai. Kita akan bekerja sebagai satu keluarga. Jadi saya mohon ibu-ibu mau menerima masukan apabila nanti ada yang perlu diperbaiki." Jelas Julia sebelum menutup pertemuan hari itu.


Hadirin mengangguk setuju dan puas. Pertemuan bubar sebelum Ashar. Julia dan Si Mbok izin pulang berboncengan sepeda motor. Warga desa pulang kerumah masing-masing. Bu Kades masih berdiam di markas PKK bersama Bu Dibyo, sahabat dekatnya.


"Saya heran sama Bu Rahayu itu. Menantu mandul kok diberi perhatian sedemikian baiknya. Sampai dikasih modal besar untuk sewa ruko dan usaha."


Bu Kades bersungut-sungut, bibirnya cemberut menambah aura buruk di dalam dirinya.


"Julia cantik dan cerdas, pasti bisa menghasilkan uang berlipat-lipat. Makanya Bu Rahayu sayang sama dia. Urusan nggak punya anak saya rasa bukan masalah besar. Toh Bu Rahayu sudah punya banyak cucu dari anaknya yang lain." Sahut Bu Dibyo sibuk mengikir kukunya.


"Mungkin si Julia itu pakai guna-guna kali ya. Septian dan keluarganya sayang betul sama dia."


Dendam di hati Bu Kades masih bercokol, hingga syaiton yang terkutuk girang menghembuskan prasangka jelek di hatinya.


"Jangan buruk sangka Bu. Saya lihat dia orang taat beragama." Bu Dibyo mendelik terkejut dengan ucapan Bu Kades.


"Ah hari gini banyak orang tampil alim untuk menutupi kedok saja." Dengus Bu kades dengan hidung mengembang karena emosi.


"Sebenarnya Ibu itu kenapa sih kok sepertinya sangat membenci Julia. Apa kamu kesal karena Septian menolak anakmu?" Ucap Bu Dibyo tepat sasaran, menohok harga diri Bu Kades.


"Jangan sembarangan kamu ya. Dianku itu kalau dia mau bisa dapat suami yang mapan di Kota. Ngapain kaya raya tapi masih skala desa. Tetap aja ndeso, nggak ada perubahan!" Bu Kades melotot melontarkan amarah.


"Ya sudah kalau anggapan saya tidak benar. Jangan marah dong Bu. Sudah yuk kita pulang." Ajak Bu Dibyo tenang, ia sudah hafal betul tabiat Bu Kades yang tidak suka tersaingi.


"Kamu duluan saja. Saya masih kesal sama kamu." Bu Kades membuang muka.

__ADS_1


"Kalau begitu saya duluan. Jangan gampang emosi, nanti darah tinggimu kumat." Pesan Bu Dibyo ngeloyor pergi.


Bu Kades tepekur menyendiri menghitung nikmat Allah pada Julia. Hatinya semakin panas, ia lupa dengan nikmat yang Allah berikan padanya.


Rahangnya mengeras mengingat insiden Julia datang kerumah melaporkan perbuatan Dian. Walau ia tahu betul itu kesalahan Dian, tapi ia tetap tidak terima anak gadis bungsunya ditatar sedemikian rupa.


"Lancang betul perempuan pendatang itu menggurui anak saya. Harusnya dia tutup mata dan mulut saja kalau mau hidup tenang." Desis Bu Kades sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku.


"Karena kamu sudah mengusik saya, tidak ada salahnya saya menyentuhmu sedikit saja. Sekedar untuk pelajaran, jangan main-main dengan orang yang lebih tua."


Senyum terkembang di bibir Bu Kades yang merah darah.


***


Ruko untuk gerai oleh-oleh sudah dikontrak selama lima tahun. Etalase dan inventaris toko sudah mulai memenuhi ruangan. Septian dan Julia menggunakan dana pribadi mereka dan sedikit bantuan dari Bapak dan Si Mbok yang simpati dengan semangat Julia.


Usaha Julia didukung penuh oleh keluarga Septian. Bahkan saudara-saudara Septian ikut membantu secara moril dan materil. Uang bukanlah hal yang sulit bagi mereka.


Karena semua saudara Septian sudah sukses hidup tanpa bantuan orang tua lagi. Dua kakak lelaki Septian sibuk mengelola bisnis tambak ikan keluarga. Hidup mereka lebih dari cukup. Sedangkan dua kakak perempuan Septian telah menjadi ASN dan punya usaha sampingan percetakan dan toko kelontong.


Mereka berharap Septian punya usaha fisik yang dapat diandalkan. Karena selama ini bagi mereka, usaha Septian sebagai programmer hanya seperti pekerjaan main-main saja.


***


Septian menatap lurus-lurus wajah Julia yang kuyu kelelahan usai seharian berkutat dengan resep dan masakan. Dinikmatinya rutinitas Julia membersihkan wajah dan merawat diri sebelum tidur.


"Jangan terlalu dianggap beban, kamu terlalu keras pada dirimu sendiri." Ujar Septian.


"Masa? Aku biasa aja kok Mas. Cuma nggak tenang saja kalau hasilnya belum sesuai dengan yang kumau." Julia mengangkat bahu.


"Kalau mengejar kesempurnaan pasti sulit. Menurutku, produkmu sudah layak jual kok. Nanti bisa diperbaiki sambil jalan." Usul Septian.


"Sabar ya Mas. Insya Allah sedikit lagi cita rasa khas yang aku inginkan tercapai. Aku hanya perlu mengubah takarannya sedikiiiit saja. Doakan bulan ini segala persiapan beres." Tutur Julia pelan sambil melempar senyum memikat.


Senyum itu mengalirkan percikan listrik yang menyengat naluri Septian. Sebuah dorongan yang haus akan belaian muncul menuntut.


Septian mengamati Julia yang sedang mengoleskan serum anti aging di wajahnya yang mulus bagai pualam. Septian menyadari perubahan di diri Julia. Bobot tubuh Julia terus merosot semenjak operasi. Tulang pipi Julia lebih menonjol dari sebelumnya. Kantung matanya membayang gelap.

__ADS_1


"Ia bekerja terlalu keras." Batin Septian kasihan pada Julia.


"Mau dipijat Juita-ku?" Septian melemapar gombal menawarkan diri.


Julia tersenyum simpul dan mengangguk, matanya yang sayu berkata tubuhnya lelah tapi batinnya butuh sentuhan.


Septian beranjak menuju meja rias Julia. Dengan tangan kokohnya ia mulai memijat bahu Julia lembut. Gerakannya pindah ke tengkuk, memberikan rasa rileks di tubuh istrinya yang lelah.


Julia memejamkan mata menikmati sensasi nyaman. Septian memandang Julia lewat cermin, ditelusurinya tulang rahang Julia hingga ke dada dengan jemarinya.


Mata Julia mengerjap terkejut dengan sentuhan yang lembut namun berbahaya itu. Septian membuka kancing piyama Julia perlahan. Hanya satu kali sentakan sehelai kain itu terlepas.


Septian masih menikmati pantulan tubuh indah itu dari cermin. Ia menghirup puncak kepala Julia, membelainya penuh kasih.


Julia bangkit dari kursi rias, Ia mendorong tubuh suaminya menuju kasur. Septian terhempas. Septian tertawa dengan tindakan tiba-tiba istrinya.


"Awas ya!" Gertaknya mengancam.


Ia bangkit menarik tangan Julia kasar dan membantingnya ke kasur. Julia terkikik geli dengan perlakuan itu. Ia menyukainya.


Septian menarik lepas pakaian yang masih tersisa. Julia merasa jengah, dengan telapak tangannya ia menutupi bekas luka melintang berwarna merah muda seperti daging tumbuh di bawah perut.


Sebagai wanita ia merasa tidak percaya diri dengan bekas luka itu. Septian menepis tangan Julia, ia mengamati bekas operasi itu. Disentuhnya lembut.


"Ini bukti jihadmu sebagai seorang wanita. Jangan malu. Kamu yang tercantik di mataku." Bisik Septian mengecup luka itu.


Julia berjengit. Seluruh tubuhnya meremang menerima sentuhan yang membangkitkan rasa.


Septian menarik Julia duduk berhadapan, sejajar. Ia menyentuh dagu Julia menikmati setiap sudut dan lekuk indah yang ditawarkan. Septian membisikkan sebuah doa di telinga Julia. Julia mengucapkan doa yang sama di dalam hati.


Septian membenamkan bibirnya ke bibir Julia yang merekah memberikan perlawanan. Mereka saling menyentuh, membelai, meremas, berpagutan. Saling memberi tanda cinta di tubuh masing-masing.


Malam dilalui dengan panas membara. Septian melakukan ritmenya dengan lembut namun makin lama kasar menghentak. Membuat Julia harus menggigit bantal agar erangannya teredam.


Entah berapa lama mereka bergumul mengisi ruang kosong yang ada di dalam diri masing-masing.


Semut dan laba-laba menyingkir karena malu menjadi saksi panasnya asmara yang tumpah ruah.

__ADS_1


Septian menggeram dalam suaranya yang berat.


"Aku jatuh cinta padamu untuk kesekian kalinya …. "


__ADS_2