CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Mood Swing


__ADS_3

Perhatian Septian terfokus pada laptop, sebuah benda yang tidak bisa jauh-jauh dari hidupnya. Lagi-lagi ia harus siap sedia melakukan pekerjaan walau sedang berbulan madu. Ada klien-nya yang minta bantuan untuk me-maintain website. Julia sendiri asyik mengganti channel TV kabel. Ia mencari tayangan yang bagus untuk ditonton sambil menunggu Septian selesai bekerja.


Ia melirik ke arah Septian yang masih sibuk dengan keyboardnya. Bosan dengan siaran televisi, Julia merebahkan diri di spring bed, berguling-guling dan telungkup sambil bertopang dagu mengamati wajah serius suaminya. Septian mungkin bukan pria paling tampan yang pernah ia lihat. Tapi Septian punya kharisma. Julia mengamati mata Septian yang tajam dinaungi alis tebal. Wajah oval dengan hiasan surai tebal di dagu menambah kesan jantan.


Sesaat Julia merasa kejadian ini seperti mimpi yang teramat indah. Siapa sangka, ia yang tak pernah beruntung dalam cinta bisa bertemu pria sebaik Septian. Sungguh tangannya gatal ingin mencurahkan kebahagiaannya di sosial media. Tapi ia menahan diri, karena Septian tipe orang yang tidak suka mengumbar privasi. Ia bahkan belum mengunggah foto akad nikah mereka di sosial media. Ia hanya membagikan foto-foto pernikahannya di grup chat saja.


"Suamiku seperti dispenser, hot and cool bersamaan," Julia terkikik geli dengan pikirannya.


"Kenapa ketawa sendiri hmmmm?" Septian menangkap gelagat aneh istrinya.


"Tidak ada … Kenapa sih mau tahu aja," jawab Julia menatap lurus ke arah suaminya.


"Habis adek ketawa sendiri, aku mau memastikan kamu nggak kesurupan," jawab Septian enteng.


"Astaghfirullah, sembarangan!" sembur Julia.


"Hehehehe bercanda," sahut Septian sambil mengedipkan sebelah mata, menggoda Julia.


Julia berguling ke tepi spring bed agar lebih dekat dengan suaminya. Ia mengamati Septian bekerja dan mulai penasaran dengan apa yang dikerjakan.


"Jadi begini cara Mas bekerja setiap hari?"


"Ya begitulah kira-kira. Pekerjaan ini cocok untuk orang introvert seperti aku. Minim interaksi dengan manusia," jawab Septian tanpa memalingkan wajah dari laptopnya.


"Kira-kira aku nanti harus ngapain ya di Yogya. Aku sudah biasa kerja punya kesibukan. Berdiam diri di rumah saja apa aku betah?" tanpa sadar Julia mengungkapkan isi pikirannya.


"Aku punya pekerjaan untukmu," jawab Septian.


"Apa itu?" Julia mendadak bersemangat.


"Aku sering mendapat klien dari luar negeri. Selama ini tidak terlayani dengan baik karena bahasa Inggrisku tidak bagus. Mengingat kamu jago bahasa Inggris ... mulai sekarang aku mengangkatmu jadi asisten, admin, sekaligus translator," Septian tersenyum puas.


"Beruntung sekali jadi Mas, sekali nikah langsung dapat paket lengkap. Istri merangkap karyawan!" Julia berdecak sebal.


"Hahahahaha, kamu akan ku bayar kok dek. Tenang saja, aku tidak membuatmu kerja cuma-cuma," Septian tergelak.


"Aku tahu kamu harus bantu Ibu, aku rasa sudah waktunya Ibu dan Lucy pindah rumah. Agar mereka tidak dipusingkan dengan biaya kontrak tahunan," lanjut Septian bijak.


Julia terdiam, kata-kata Septian memang benar. Dia tidak menyangka Septian menangkap masalah krusial yang terjadi di keluarganya.


"Penghasilanku cukup lumayan, kalau aku bisa dapat project dari klien luar negeri nilainya bisa tembus puluhan juta," jelas Septian lagi.

__ADS_1


Julia mengangguk-angguk. Ia tidak tahu bahwa ada pekerjaan yang menghasilkan banyak uang meski hanya di rumah saja.


"Apa kamu punya tabungan dek?" tanya Septian.


"Punya tapi tidak banyak, kenapa?" respon Julia bingung. Untuk apa suaminya bertanya tentang itu.


"Hmmmm, nanti aku akan tambah uang tabunganmu. Mudah-mudahan dalam waktu setahun kita bisa membelikan Ibu rumah sederhana. Dengan syarat adek harus bantuin aku," jawab Septian tenang.


"Baik, aku setuju. InsyaAllah aku akan bekerja keras!" Julia sangat bersemangat membayangkan bisa membelikan Ibu rumah sederhana yang nyaman di masa tuanya.


"Hehehehe, gitu dong. Tapi ini hanya pekerjaan sampingan. Fokus utama adek adalah menyiapkan diri menjadi Ibu yang baik," sahut Septian.


Julia mengusap perutnya yang datar, berharap benih yang tersemai tadi malam bisa tumbuh di rahimnya. Ia sama sekali tidak punya keinginan menunda. Malah ia tak sabar untuk memiliki anak.


"Menurut adek, kapan waktu yang tepat untuk kita pulang ke Yogya," tanya Septian lagi.


Julia terdiam, ia tidak bisa memberikan jawaban. Tiba-tiba pikirannya berkelana menuju rumah kontrakan tempat Ibu dan kakaknya berada. Sungguh dalam lubuk hati ia tidak siap jika harus berpisah dengan mereka. Tapi ia tidak mungkin menolak konsekuensi yang harus diterima karena bersedia menikah dengan orang jauh.


"Kapan acara ngunduh mantu-nya Mas?" alih-alih menjawab, Julia malah melempar pertanyaan.


"Kata si Mbok, sekitar dua minggu lagi."


"Aku terserah kamu saja Mas, aku ikut keputusanmu," jawab Julia setengah hati.


"Baiklah kita pulang ke Jogja seminggu lagi, setuju?" Septian yang masih fokus dengan laptop tidak melihat ekspresi Julia yang lara.


Julia tidak menjawab, hanya mengangguk. Membayangkan berpisah dari Ibunya saja sudah membuatnya sedih. Bagaimana bisa ia hidup tanpa Ibu disisi. Air matanya jatuh perlahan. Julia berbalik, membelakangi Septian. Ia tidak mau Septian melihatnya bersedih.


"Alhamdulillah selesai!" Septian mematikan dan menutup layar laptop. Ia bangkit dari kursi. Ia meregangkan otot-otot yang kaku karena kelamaan duduk.


Septian menuju spring bed membaringkan tubuhnya di sebelah Julia. Ia memeluk istrinya dari belakang, tapi tidak mendapat respon.


"Dek, sudah tidur?" Septian membalik tubuh Julia.


Julia menatapnya dengan mata merah bekas tangis.


"Kamu kenapa nangis?" Septian sungguh heran, kenapa mood istrinya berubah drastis dari baik-baik saja jadi sedih begini.


"Tidak kenapa-kenapa. Aku menangis karena kepalaku tiba-tiba pusing," Julia berbohong untuk menutupi isi hatinya. Ia tidak mau Septian menganggapnya tidak ikhlas di boyong ke Yogya. Sebagai istri sudah sepatutnya ia mengikuti suami.


"Jujurlah padaku dek," tatap Septian serius.

__ADS_1


"Beneran adek nggak apa-apa!" sanggah Julia dengan suara meyakinkan.


"Apa mungkin kamu pusing karena hamil?" mata Septian membulat lucu.


"Tidak mungkin secepat itu. Semua ada prosesnya. Butuh waktu seminggu lebih untuk tahu pembuahan terjadi atau tidak. Mas dulu nggak belajar biologi ya!" jawab Julia ketus.


"Jangan marah dong. Aku memang nggak tahu soal itu," Septian menekuk wajahnya.


Sadar dengan kesalahannya Julia cepat-cepat memeluk Septian. Ia tak mau suaminya marah.


"Maaf ya, tadi kebawa perasaan jadi ngomongnya nggak enak."


"Iya nggak apa-apa," sahut Septian singkat.


"Sudah hilang belum pusingnya?" Septian kembali melirik wajah istrinya, memastikan ia sudah baikan.


"Iya, udah nggak pusing lagi." Julia memberikan senyum manis.


"Sekarang aku yang pusing," Septian memijat kepalanya.


"Lho kenapa? Mungkin mata kamu lelah kelamaan menatap laptop," Julia sigap bangkit dari tidur.


Ia meletakkan kepala Septian di paha. Jemari Julia memijat lembut kepala Septian. Jemari itu dengan halus menyusup di setiap helaian rambut, mengalirkan rasa nyaman.


"Bukan karena itu. Aku pusing kebanyakan minum jus pinang muda. Tanggung jawab kamu!" Septian menuntut.


"Hahaha!" Julia tergelak kaget dengan pernyataan suaminya.


"Kamu ini ada-ada aja Mas," Julia memukul perut atletis Septian.


Septian menangkap dan meletakkan tangan Julia di perutnya yang berotot.


"Aku serius, nggak bohong. Bertanggung jawablah udah kasih aku minuman kayak gitu." Septian menggiring tangan Julia ke bagian bawah perut, tepat di balik sarungnya. Ada sesuatu yang kokoh disana.


Spontan Julia menarik tangannya, terkejut karena baru pertama kalinya menyentuh benda itu.


"Mas!" ia memekik kencang.


"Teriak lah, nggak ada yang dengar kok. Disini kedap suara," Septian menyeringai siap menerjang.


Dan sekali lagi mereka menghabiskan malam dengan tenggelam dalam cinta yang memabukkan.

__ADS_1


__ADS_2