
Maafkan aku wahai juita
Yang memburu dirimu tergesa-gesa
Padahal masih banyak waktu untuk berdua
Lebih baik ku merajut rasa
Agar makin kuat ikatannya
***
Acara syukuran berakhir setelah waktu Ashar. Panitia syukuran sudah mulai berberes. Si Mbok -- ibu mertua Julia asyik ngobrol dengan besannya. Mereka sudah terlihat akrab, sesekali tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan. Menjelang Maghrib, keluarga Septian pamit pulang ke hotel.
Ketika malam merangkak rumah sudah bersih dan rapi, panitia syukuran sudah kembali ke rumah masing-masing. Ibu dan Lucy sedang beristirahat di kamar, mereka akan tidur berdua selama Septian ada disini. Rencananya Septian akan tinggal di rumah Julia untuk dua minggu.
***
Malam semakin larut, Julia dan Septian saling berdiam diri di kamar yang penuh dengan kado.
"Aneh rasanya berduaan dengan pria asing ini." Batin Julia.
Septian belum bicara sepatah kata pun sejak sholat Isya tadi, hanya sesekali ia melirik ke arah Julia yang masih memakai kerudung instan. Julia masih belum berani membuka kerudungnya di hadapan Septian.
"Kak mau buka kado sama-sama?" ajak Julia.
"Hmmmm, nanti saja aku masih capek. Kalau kamu tidak keberatan temani aku sini," Septian menepuk sisi sebelah kasur yang kosong.
Hati Julia mencelos, ia tahu sudah kewajibannya menemani Septian. Tapi apa memang harus malam ini? Julia beranjak duduk di sebelah pria asing yang kini ia sebut suami. Septian terlihat menawan meski hanya memakai kaos dan kain sarung.
"Mulai sekarang panggil aku Mas ya," Pinta Septian tersenyum manis.
"Iya Mas .… " Julia mengikik geli menyebutkan panggilan itu, aneh rasanya.
"Kalau kamu mau dipanggil apa? adek, sayang, cinta atau beb?" Kali ini Septian terkekeh, berusaha mencairkan kecanggungan.
"Atau ... kamu mau dipanggil Juita? Julia tercinta." Lirik Septian penuh arti.
Julia menunduk malu-malu. Ia tak berani membalas lirikan mata tajam yang menembus kalbu.
"Hmmm panggil aku adek aja ya Mas, lebih enak didengar," usul Julia pelan.
"Baiklah adek … Kita sholat sunah dulu yuk sebelum tidur," ajak Septian.
__ADS_1
"Ha, tidur? Berarti ia akan melakukannya sekarang? Malam ini! Ya Allah aku belum siap!" teriak Julia dalam hati, pikirannya sudah menjelajah ke mana-mana.
Septian bangkit dan membentangkan sajadah. Julia keluar untuk berwudhu, saat ia kembali Septian sudah memakai baju koko lengkap dengan peci putihnya. Karisma yang memancar sungguh gila. Julia terpesona.
"Kenapa liat-liat, ganteng ya?" Ucap Septian enteng sambil melempar senyum jahil ke arah Julia yang berdiri mematung.
"Dasar kepedean … " gumam Julia pelan.
Dalam hati Julia ingin menjerit.
"Iya kamu ganteng sekali, berkali-kali lipat** !"
Septian mengimami sholat dua rakaat. Ia membacakan surat Al 'Ala di rakaat pertama, dan surat Ad Dhuha di rakaat kedua. Kami sholat dengan khusyuk. Selesai sholat ia duduk mendekat menghadap Julia. Septian meletakkan tangan ke ubun-ubun istrinya dan membaca do'a.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
Yang bermakna, ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah).
Julia memejamkan mata, membacakan doa yang sama di dalam hati. Mereka berdua bukanlah manusia yang sempurna, ada banyak cela dan kekurangan yang belum terlihat. Akan ada suatu titik segala cela itu nampak jelas. Jika saat itu tiba, Julia harap mereka bisa saling menerima dengan hati lapang. Julia adalah pakaian bagi Septian, dan Septian adalah pelindungnya.
"Semoga Allah menetapkan hati ini untuk selalu saling menerima dan mencinta. Amin."
"Yuk tidur yuk," ajak Septian sambil bangkit melipat sajadah. Membuyarkan lamunan Julia.
"Yuk, aku juga sudah ngantuk." Sahut Julia sambil membuka mukena.
Gerakan Julia terhenti, ia terdiam. Julia masih belum terbiasa dengan kondisi baru ini tapi ia harus berusaha mengalahkan kecanggungan.
"Aku istrinya, mulai hari ini aku harus membiasakan diri tampil tanpa hijab di hadapannya."
Julia membuka kerudung, ia lepaskan sanggulan rambut, menyisirnya perlahan hingga jatuh tergerai rapi di punggung.
"MasyaAllah .… " Gumam Septia lirih menahan nafas mengagumi kecantikan Julia.
"Mas, kamu jangan heran ya kalau wajahku aneh …. " Julia memberanikan diri mendekati Septian.
"Aneh kenapa?" Septian mendekat, mengamati wajah istrinya yang menurutnya tanpa cela.
"Wajahku belang."
Julia menunjukkan kulit sekitar tulang rahangnya yang jelas berbeda kecerahannya antara yang tertutup hijab dan yang terekspos matahari.
Hampir saja Septian meledak dalam tawa. Tapi ia mengendalikan diri.
__ADS_1
"Tidak apa. Nanti sering ke salon biar rata warnanya," jawabnya santai.
"Syukurlah, aku takut kamu ilfeel …. " Jawab Julia pelan.
"Perasaan yang berubah hanya karena fisik, maka itu jelas bukan cinta. Aku tidak menilaimu sedangkal itu. Jangan khawatir dek, kamu tercantik di mataku." Sahut Septian tenang menatap Julia.
Seketika sukma Julia melambung.
***
POV Septian
Ia memang yang tercantik. Rambut hitam legam bergelombang bekas gelungan sanggul terurai indah ke punggungnya. Hatiku berdebar tak menentu melihat sosoknya tanpa hijab.
Ia mengenakan daster katun tipis bermotif bunga kecil-kecil. Dengan cahaya lampu yang terang aku dapat menerka seperti apa sosok di balik kain tipis itu. Saat aku sedang asyik mengamatinya, ia tiba-tiba mematikan lampu.
"Aku harus tidur dalam keadaan gelap dan tenang," katanya.
"Baiklah, aku juga sama. Harus mati lampu baru bisa tidur," jawabku.
Ia bergabung bersamaku, merebahkan diri di kasur. Untuk pertama kalinya aku tidur seranjang dengan wanita. Kami berdampingan tanpa suara, kulihat berdiam diri tenggelam dalam pikirannya. Perasaanku, jangan ditanya. Hasrat itu datang bergelora. Aku berbaring ke menghadapnya. Ia sadar aku mendekat, dan ia menatapku dalam dan lama.
"Aku ingin menyentuhmu. Boleh?" Bisikku lirih, takut didengar ibu mertua dan kakak ipar. Bukankah kadang dinding punya telinga.
Sebelum ia menjawab aku sudah meraih tangannya yang terasa kaku dan dingin. Istriku masih polos dan lugu, aku melihat sirat ketakutan di matanya. Bagaimana caraku meluluhkannya. Ini adalah pertama kalinya buatku. Aku mengikuti insting, kuletakkan tangannya di wajahku.
Jarinya gemetar membelai lembut daguku yang dihiasi janggut lebat dan kasar. Perlahan aku bawa tangannya ke bibirku. Aku memejamkan mata menikmati aroma menenangkan yang menguar dari kulitnya. Aku mencium setiap senti kulit tangannya dengan penuh perasaan.
Perlahan aku mendekat bergerak menuju bibirnya. Aku beranikan mengecup bibirnya pelan perlahan dan hati-hati. Untuk beberapa saat sentuhan itu bertahan disana. Aku tenggelam menikmati sentuhan yang baru pertama kali aku rasakan. Nafasku memburu. Hasrat ini menuntut minta dituntaskan. Namun sekelebat kulihat matanya mengerjap ketakutan. Oh istriku, aku lupa ini adalah pertama kalinya buatmu juga. Tidak sepatutnya aku memberikan trauma dalam hidupmu. Aku melepaskan sentuhan itu dan menghembuskan nafas berat.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap. Sekarang sudah larut sekali, kita harus segera tidur. Jangan sampai kita telat sholat subuh," aku mencium dan membelai lembut anak-anak rambut yang jatuh di dahinya.
Berangsur wajah paniknya memudar. Aku tidak dapat membaca ekspresi yang tersirat berikutnya. Gelap dan lelah membuatku masuk alam mimpi.
***
POV Julia
Aku menikmati sentuhannya tapi rasa canggung masih menguasai diri. Aku tidak bisa bersikap biasa saja. Bagaimana mungkin aku bisa biasa-biasa saja, ini pengalaman pertamaku mendapat sentuhan yang memabukkan seperti ini.
Aku panik tapi sudah menyiapkan diri untuk apa yang akan terjadi. Hingga ia tiba-tiba melepaskanku. Nafasnya hangat dan begitu dekat denganku. Aku harusnya berinsiatif mendekatinya melakukan yang sudah sewajarnya terjadi antara suami dan istri. Namun ia mereda wajahnya tampak lelah sekali.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap. Sekarang sudah larut sekali, kita harus segera tidur," kalimat itu meluncur dari bibirnya.
__ADS_1
Ia mengecup keningku penuh kasih. Aku tersenyum lega. Hari ini berjalan luar biasa cepat bagi kami berdua. Tubuh kami terlalu lelah, meminta hak-nya untuk beristirahat. Masih banyak waktu dan hari kedepannya, kami tidak perlu tergesa-gesa.
Saat aku masih sibuk dengan pikiranku, mencerna segala yang terjadi hari ini. Ia sudah tertidur pulas memeluk bantal guling. Mulai hari ini aku harus terbiasa tidur diiringi suara dengkurannya.