
Bu Rahayu sengaja menarik Bu Kades untuk duduk ke arah pojokan setelah acara arisan bulanan usai.
"Ada apa sih Bu narik-narik saya. Ada kabar gembira ya?" Bu Kades menyunggingkan senyum lebar.
"*Kulo njaluk ngapuro ya Bu Kades. Saya sudah bertanya pada Septian. Dia bilang belum mau menikah dalam waktu dekat ini." Jawab Bu Rahayu pelan dan lembut agar tidak memicu kemarahan Bu Kades.
"Itu bukan alasan Bu Rahayu. Apa ada yang salah dari anakku si Dian?" spontan senyum hilang dari wajah Bu Kades yang menegang.
"Tidak ada yang salah Bu, anakmu cantik dan berpendidikan. Masih sangat muda. Saya yakin Dian bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada anakku." Sahut Bu Rahayu merendah.
"Baiklah Bu, tapi aku *kadung suka sama anakmu. Dian tidak akan kunikahkan dalam waktu dekat kalau bukan sama anakmu. Lagipula Dian harus selesaikan kuliahnya dulu. Sambil menunggu siapa tahu Septian berubah pikiran." Bu Kades ngotot.
"Tolong jangan ditunggu Bu. Aku tidak bisa janji apa-apa ya. Minta maaf sekali." Bu Rahayu menjabat tangan Bu Kades dan pamit izin pulang. Ia tidak mau memperpanjang urusan dengan Bu Kades.
Bu Kades menatap punggung Bu Rahayu dengan perasaan gemas dan kesal.
***
"Kenapa sih Bu wajahmu murung begitu?" Tanya Pak Kades membelai rambut istrinya yang sedang berpangku tangan sambil menonton TV.
"Kesel aku *ambek Rahayu. Masak dia bilang anaknya si Septian belum mau menikah dalam waktu dekat. Itu artinya dia menolak besanan dengan kita secara halus. Padahal kurang apa sih Dian itu. Cantik iya, pinter apalagi!" Sembur Bu Kades berapi-api.
"Lagian kamu ngapain nyodor-nyodorin anak kita. Pinter-pinteran saja kamu! Kan saya sudah bilang Dian itu harus selesaikan kuliahnya dulu. Sekarang saya jadi ikut malu!" Bentak Pak Kades, mendadak ia merasa tensinya naik.
"Maaf Pak, saya nggak bermaksud menyodorkan anak. Saya cuma berpikir akan bagus sekali kalau kita bisa menjalin hubungan keluarga dengan mereka. Nasib Dian pasti terjamin kalau punya suami dari keluarga kaya." Bibir Bu Kades menekuk.
"Sudah saya baca dari gelagat kamu. Kalau bukan karena Bu Rahayu *wong sugih tidak akan kamu berkeras menjodohkan Dian yang belum bisa apa-apa itu sama anaknya."
"Maaf Pak!" Bu Kades memegang tangan suaminya. Air matanya menetes.
"Sudahlah Bu. Kita kan juga sudah hidup berkecukupan. Kenapa tidak bersyukur saja sih? Jangan turunkan sifat mata duitan mu itu ke Dian. Nggak baik!" Mata Pak Kades nyalang menahan emosi.
Bu Kades tak berani membantah suaminya lagi. Ia menangis tersedu-sedu karena dimarahi suaminya sekaligus malu.
Dian yang mendengar perdebatan antara Bapak dan Ibunya ikut merasa sakit hati atas penolakan itu. Besok malam ia akan membuat perhitungan dengan Septian.
***
"Mas … Mas Septian!" Dian memanggil Septian yang sudah ditunggunya selesai sholat Isya di masjid desa. Untuk pertama kalinya juga ia ikut sholat jamaah di masjid selain di bulan Ramadhan. Semua ini demi Septian.
Septian menghentikan langkahnya, ia celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Ini saya Dian!" Dian keluar dari persembunyiannya di balik pagar beton masjid yang berbatasan dengan kebun bambu. Sengaja ia sembunyi di situ agar warga tidak memergokinya. Bisa jadi aib kalau warga tahu anak Pak Kades sedang mengemis cinta.
"Ngapain kamu disitu!?" Septian kaget melihat sosok gadis cantik terbungkus mukena putih di pojokan pagar masjid yang gelap. Hampir saja ia membacakan ayat kursi dan melempar sendalnya kalau-kalau gadis itu sebangsa jin.
__ADS_1
"Saya ingin tahu kenapa Mas menolak dijodohkan dengan saya. Salah saya apa?" Desis Dian masih dalam keadaan berjongkok.
"Astaghfirullah. Gara-gara itu kamu sampai begini. Apa kamu tidak malu?" jawab Septian ketus.
"Saya tidak malu untuk memperjuangkan cinta dan masa depan." Jawab Dian nyolot.
"Sudah saya tidak mau meneruskan pembicaraan ini. Saya duluan. Assalamualaikum!"
"Tidak! Mas tunggu … saya bisa berbuat nekat lho. Mas mau saya ikuti sampai rumah. Saya perlu bicara serius!" wajah Dian hampir menangis saking putus asa untuk mendapatkan perhatian Septian.
Septian menghela nafas berat. Ia pun sebal jika harus diikuti gadis nekat itu.
"Keluar dari situ Dian, ayo kita bicara di pelataran masjid." Septian akhirnya mengalah.
"Tidak mau! Saya malu nanti ada warga desa yang melihat!" Dian menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Saya lebih tidak mau berduaan di tepi kebun bambu begini sama kamu! Ikut saya atau kita tidak usah bicara sama sekali!" Tegas Septian.
Diancam seperti itu nyali Dian menciut, mau tak mau ia mengikuti Septian keluar dari persembunyiannya. Septian meminta Dian duduk di teras pintu keluar masjid, sementara Septian duduk di pojok teras masjid dekat bedug. Mereka dipisahkan tiang. Mas Supri selaku penjaga mesjid senyum-senyum geli ke arah mereka berdua.
"Maaf ya Mas, kami numpang ngobrol disini sebentar." Septian meminta izin sekaligus kode agar Mas Supri tetap di sekitar situ agar mereka tidak berduaan saja.
"Kenapa Mas menolak dijodohkan dengan saya. Apa kurangnya saya?" Tanya Dia mengulang pertanyaan.
Septian menggaruk-garuk kepalanya. Ia diam sejenak memikirkan jawaban yang baik agar tidak menyakiti gadis cantik tapi nekat itu.
"Apa karena saya kurang shalihah, tidak berkerudung?" Dian mendelik ke arah Septian.
"Bukan, bukan karena itu." Septian menggeleng.
"Saya mau kok pakai kerudung, saya mau berubah lebih baik demi Mas." Dian menyakinkan Septian.
"Seseorang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Jika niatmu untuk berubah demi aku maka sama saja kamu mengundang murka dari Allah." Septian meluruskan niat Dian.
"Karena itu bimbing saya Mas agar niat saya betul!" Desak Dian.
"Saya masih belajar, ilmu saya tidak seberapa. Kalau memang niat berubah kamu bisa belajar lewat ustadzah di majelis taklim. Bukan lewat saya." Septian nyaris putus asa memberi penjelasan.
"Itu alasan Mas saja agar menghindar dari saya." Tuduh Dian.
Septian menundukkan kepalanya, ia kembali memikirkan alasan logis apa yang harus diberikan agar Dian mundur dengan suka rela.
"Ada satu hal yang kamu belum tahu tentang saya. Saya akan pergi merantau jauh sekali. Mungkin ke Sumatera atau Kalimantan. Saya tidak akan pulang ke desa dalam waktu dekat. Kalau kamu mau jadi istriku. Apa kamu mau berpisah dari Bapak Ibumu? Apa kamu siap memulai hidup dari nol ditempat asing?" Tantang Septian menguji kesungguhan gadis itu.
Dian terkejut mendengar pernyataan Septian. Bukankah kata Ibunya Septian anak bungsu Bu Rahayu yang akan mewarisi rumah besar di desa ini. Bagaimana mungkin Septian meninggalkan kenyamanan dan pergi merantau.
__ADS_1
Jujur ia nekat merendahkan diri seperti ini bukan hanya karena wajah Septian yang tampan, tapi ia juga mengejar uangnya. Mana mungkin ia siap meninggalkan Ibu Bapaknya yang selalu memanjakan. Belum lagi urusan kuliahnya yang belum selesai. Bagaimana nanti ia akan beradaptasi di tempat baru. Mendadak nyali Dian ciut.
"Bagaimana kamu siap?" Septian mengulang pertanyaannya.
Dian mendadak gugup, wajahnya pucat pasi.
Dalam hati Septian tertawa geli melihat ekspresi terkejut gadis itu. Sungguh ia tidak bohong akan pergi jauh. Karena faktanya ia akan pergi ke Sumatera untuk menazhor seorang gadis yang ia kenal lewat ta'aruf. Dan mungkin setelah itu ia akan lebih banyak di rumah saja untuk menghindari Dian dan keluarganya.
"Saya rasa orang tua saya tidak akan memberi izin." Dian menjawab dengan suara lirih sambil menekuri ubin masjid. Ia tak berani menatap wajah Septian.
"Saya sudah menduga. Karena itu saya tidak mau memberi harapan sejak awal daripada mengecewakan banyak pihak." Jawab Septian tegas.
"Kalau kamu memang sungguh mencintai aku. Kamu pasti tidak akan berpikir dua kali untuk ikut aku. Nyatanya semudah itu kamu menyerah. Dasar bocah labil kekanakan!" Gerutu Septian dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu urusan kita, saya anggap selesai. Jangan menuntut apa-apa dari saya di kemudian hari." Tegas Septian.
Dian mengangguk pelan. Pendiriannya amat lemah. Hanya dengan satu hantaman seketika runtuh.
"Maaf saya tidak bisa mengantarmu pulang. Kalau takut kamu bisa minta tolong ditemani sama Mas Supri," pesan Septian lagi sebelum melangkah pergi.
Dian merenung menatap punggung Septian yang lebar pergi menjauh dan akhirnya menghilang di tikungan. Dian bergegas bangkit ditegakkannya tubuhnya untuk pura-pura tegar di hadapan Mas Supri.
"Tolong antarkan saya pulang ya Mas."
Mas Supri mengangguk pelan saat menerima perintah dari putri Kepala Desa.
"Oh ya pembicaraan antara saya dan Mas Septian tadi adalah rahasia, simpan sampai ke alam kubur. Jangan sampai siapapun tahu!" Lanjut Dian menatapnya angkuh.
Mas Supri hanya bisa menelan ludah mendapatkan amanat seperti itu.
***
Sesampainya di rumah Dian menceritakan pertemuan dengan Septian pada Ibunya. Termasuk niat Septian untuk merantau ke luar pulau. Ibu Kades terkejut mendengar berita itu. Ia tidak yakin kebenarannya, tapi ia juga tidak berani mengkonfirmasi ke Bu Rahayu. Takut dianggap lancang mengurusi urusan orang.
Namun desas desus Septian meninggalkan desa untuk pergi ke Sumatera berhembus kencang. Keluarga Bu Rahayu juga tampaknya menutup-nutupi kepergian Septian. Seakan itu sebuah rahasia.
Bu Kades merasa bersyukur perjodohan antara putrinya dan Septian gagal. Mana mungkin ia sanggup berpisah dengan putri bungsu kesayangannya.
Rasanya cukup lama Septian menghilang dari desa itu, kurang lebih hampir dua bulan. Tiba-tiba sebuah kabar datang mengejutkan warga desa. Termasuk Dian dan Bu Kades. Kabar itu membuat kepalanya pusing, tidur tak nyenyak, makan tak enak karena merasa kalah telak.
Septian telah kembali ke desa membawa istri yang cantik dari pulau Sumatera.
*Kulo njaluk ngapuro \= saya minta maaf
*kadung \= terlanjur
__ADS_1
*wong sugih \= orang kaya
*Ambek \= sama