CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Mulai Berjalan


__ADS_3

"Cantiknya kamu dek …. "


Septian berdecak menggelengkan kepala melihat sosok rupawan di hadapannya. Julia yang sedang mengeringkan rambut terkekeh geli mendengar gombalan suaminya.


"Apaan sih, tatapan Mas bisa bikin tembok bolong saking tajamnya." Ujar Julia nyengir menunjukkan giginya yang rapi.


Septian masih menyunggingkan senyum gemas bercampur kagum. Melihat sosok cantik dengan rambut basah terurai membuat nalurinya bangkit lagi. Rasanya ingin menghajar Julia untuk kedua kali. Julia balas menatap Septian, mendekatinya.


"Mandi dulu Mas, biar enak tidurnya. Terus pagi nggak terburu-buru untuk sholat subuh." Bujuk Julia sambil mengusap pipi Septian yang hangat.


Septian mengubah posisi tidurnya dari telungkup jadi telentang. Ia menggeliat bermalas-malasan. Kakinya berkecipak menghentak persis seperti anak kecil tantrum.


"Aku mau lagi …. " Septian merengek manja. Sengaja ia buat wajahnya se-memelas mungkin.


"Siapa tahu dia luluh dan rela dihajar sekali lagi." Batin Septian.


"Astaga, yang tadi masih kurang lama? Punyaku sampai panas. Enak sih tapi kalo kelamaan takutnya lecet." Julia memutar bola matanya, shock dengan permintaan Septian


Jawaban Julia yang polos membuat Septian terpingkal-pingkal.


"Aduh jangan sampai lecet dong. Kasihan, bisa-bisa kamu nyuruh aku puasa …. "


Sahut Septian mengendalikan tertawanya. Ia bangkit dari pembaringan dan mengecup pucuk kepala Julia. Mesra.


"Iya udah cukup sekali aja. Jangan terlalu serakah. Kayak nggak ada hari lain aja."


Julia manyun.


"Iya sayang. Juitakuu ... Mas nggak jadi nambah, sekarang mau mandi dulu. Kamu tidurlah ... urusan kerjaan besok saja dipikirkan." Septian memijat bahu Julia sekilas.


Julia mengangguk kecil, tubuh dan otaknya memang sudah terlalu lelah untuk berfikir. Septian melenggang menuju kamar mandi untuk mandi junub.


Julia melapisi bantalnya dengan handuk kecil, agar rambutnya yang setengah kering tidak membuat bantal lembab. Ia berbaring di kasur, menunggu Septian selesai mandi untuk ngobrol sebelum tidur. Sayang kantuk menang melawan dirinya. Ia terlelap.


***


Julia dan Septian sibuk memilih desain packaging untuk produk mereka. Dipilihlah logo berwarna hijau kuning yang cerah dan memancarkan aura positif. Septian memberi usul nama usaha mereka adala "Gerai oleh-oleh Mbak Jul".


Julia sibuk mengurus persiapan untuk launching produk, sementara Septian mengurus surat-surat untuk mendukung usaha mereka ke pemerintahan. Julia dan Septian bahu membahu mewujudkan mimpi Julia.


Setelah melewati trial and error, semua produk sudah siap untuk dijual. Hari yang dinanti tiba. Gerai oleh-oleh Mbak Jul resmi dibuka. Karangan bunga dan papan ucapan atas peresmian toko berjejer sepanjang jalan.


Septian selaku pendiri usaha menggunting pita pembukaan toko diiringi tepuk tangan bangga aparatur desa. Julia memandu Septian memotong tumpeng sebagai wujud syukur.


Mereka saling berpandangan dengan wajah penuh kelegaan. Satu impian sudah tercapai.


Tamu undangan bergantian menyalami Septian dan keluarga. Suasana riuh dengan obrolan ringan dan candaan. Septian dan Julia sibuk menjawab pertanyaan dari beberapa wartawan lokal yang diundang untuk meliput usaha mereka.

__ADS_1


"Publikasi itu penting, agar orang-orang tahu toko kita ada." Kata Septian berbisik ke telinga Julia.


***


Bu Kades membuka pintu kamar Dian dengan kasar. Dian yang sedang berbaring sambil main ponsel langsung terduduk karena kaget. Wajahnya pucat pasi.


"Kali ini apa lagi?" Batin Dian.


"Sudah saatnya kamu keluar rumah dan bersosialisasi dengan warga desa. Mau sampai kapan kamu menarik diri dari pergaulan!"


Bu Kades membentak Dian, ia sedang menunggu jemputan suaminya mereka untuk berangkat ke acara pembukaan toko Julia. Suasana hatinya buruk sekali, Dian target empuk sebagai pelampiasan.


"Tapi saya malu Bu! Saya khawatir warga desa tahu perbuatan saya pada Septian." Isak Dian memohon untuk tidak ikut.


"Tidak ada yang tahu. Ibu berani sumpah! Jangan kalah sama Julia. Dia hanya pendatang tapi sudah punya pengaruh disini. Lihat dirimu, bisanya sembunyi dibalik nama Bapakmu. Tunjukkan kemampuanmu!" Jawab Bu Kades kasar.


"Saya tidak suka dibandingkan dengannya." Sahut Dian lirih.


"Kalau tidak mau dibandingkan, kamu harus bisa lebih dari dia! Sekarang cepat bersiap. Sebentar lagi Bapak pulang dari kantor menjemput kita. Ibu tidak terima alasan dan penolakan!" Ancam Bu Kades mengacungkan tangan di wajah Dian.


Dian tertunduk lemas. Ia tak punya pilihan lain kecuali menurut pada ibunya untuk hadir di acara peresmian.


***


Dian sibuk membuang wajah dari dua sejoli yang di depan matanya. Rambut panjangnya sengaja diuraikan menutupi sebagian wajah. Ia begitu malu hadir disitu. Ia tidak ingin keberadaannya diketahui.


"Hanya Tuhan yang tahu betapa aku membenci istrimu Septian. Aku berjanji akan membuatnya terbelenggu kesialan selama tinggal disini." Geram Bu Kades dibalik senyum palsunya.


Deg!


Mata Julia tak sengaja bersitatap dengan Bu Kades yang mengintainya tajam, senyum menyeringai dipaksakan membuat bulu kuduk meremang. Julia menganggukkan kepala melempar senyum sebagai bentuk kesopanan pada Bu Kades. Sekilas Julia sadar bahwa Dian juga ada disana.


Hatinya tak enak, ada perasaan aneh yang menyeruak melihat senyum Bu Kades yang mengintimidasi.


"Ah, ini perasaan buruk saja." Julia menggelengkan kepala menghalau prasangka.


Ia kembali lanjut menyambut dan menjamu tamu-tamu.


***


Minggu pertama penjualan toko membludak. Karena euforia dari masyarakat yang penasaran dengan toko oleh-oleh baru di desa itu. Julia duduk di meja kerjanya yang ada di lantai dua toko. Ia membolak-balik laporan keuangan mingguan dari Riska, sepupu Septian yang bertindak sebagai manager.


"Jadi produk apa yang paling banyak disukai konsumen ya Ris?" Tanya Julia mencari tahu seberapa besar pengetahuan managernya tentang perjalanan usaha.


"Gudeg kering dan bolu tape keju paling laris Mbak." Jawab Riska.


"Peyek udang rebon dan pisang sale bagaimana responnya?" Julia kembali menekuri kertas, mengevaluasi produk.

__ADS_1


"Banyak yang bilang enak, tapi menurut konsumen harganya agak tinggi dibanding toko sebelah." Sahut Riska.


"Sudah kamu jelaskan kalau kita pakai bahan baku yang terbaik?" Julia menaikkan alisnya.


"Maaf, belum sempat menjelaskan Mbak." Riska menunduk, takut kalau istri sepupunya itu marah. Walau bagaimanapun Julia adalah Bos-nya disini.


"Besok kamu buat postingan di Instagram toko kita tentang product knowledge semenarik mungkin, agar kamu tidak capek menjelaskan hal yang sama berulang-ulang. Jadi konsumen tahu apa bedanya produk kita dengan toko lain, kenapa harganya bisa sedikit lebih tinggi. Terapkan diskon setiap beli tiga bungkus." Saran Julia tegas.


"Baik Mbak." Riska mengangguk dan mencatatnya di notes.


"Dan juga beri bonus kepada konsumen yang share foto belanja dan tag toko kita di Instagram. Sosial media sekarang sudah jadi lahan publikasi branding, penting sekali diterapkan." Jelas Julia menambahkan.


Riska mengangguk-angguk. Ia belajar untuk menyerap apa yang Julia sampaikan.


"Lalu kenapa Bakpia kurang peminat?" Julia mengetuk-ngetuk pena ke meja.


"Mungkin karena image Bakpia kompetitor sudah melegenda Mbak. Sehingga konsumen sudah ter-mindset kalau beli Bakpia ya harus kesana." Ujar Riska hati-hati.


"Hmmm betul itu. Kita harus sadar diri, produk Bakpia toko itu sudah jadi ikon provinsi ini. Tapi kita harus bisa cari celah untuk masuk di persaingan ini. Walau tidak mengungguli, setidaknya kita tidak kalah jauh. Saya akan cari cara promosi baru, kamu juga cari ide ya Riska." Tuntut Julia pada Riska.


"Baik Mbak." Riska mengangguk patuh.


"Kalau begitu pertemuan kita sudahi. Minggu depan kita diskusi lagi. Berhubung sudah sore, saya pulang duluan ya." Julia bangkit sambil mengemas barang-barangnya.


Riska mengikuti Julia menuju ruang display toko. Julia berdiri di sudut ruangan sejenak mengamati suasana jual beli. Julia sedang menilai kinerja seorang kasir dan dua pramuniaga yang masih muda.


Julia mengangguk-angguk puas dengan keramahan pramuniaga pada pelanggan. Dan ia suka dengan kasir tokonya yang cekatan. Ia meraih tas mengambil dompet dan meraih tiga lembar uang berwarna merah.


"Ris, ini untuk beliin anak-anak makanan dan minuman untuk ganjal perut sehabis maghrib ya. Terserah mau beli bakso, martabak atau apa saja yang mengenyangkan." Ia menyerahkan uang itu pada Riska.


"Terima kasih banyak Mbak. Tahu saja sekarang jam rawan lapar." Riska nyengir.


"Ya tahu dong, saya kan dulu juga pernah jadi karyawan. Saya duluan ya. Assalamualaikum." Pamit Julia sambil membalas nyengir pada Riska.


"Hati-hati ya Mbak. Walaikumsalam."


Riska mengantar Julia keluar menuju motor matic milik Septian diparkiran.


Julia menstarter motor dan membunyikan klakson singkat tanda pamit pada Riska sebelum benar-benar berlalu.


***


Sepanjang perjalanan pulang senyum tersungging di bibir Julia. Suasana sore yang syahdu memberikan ketenangan. Ia begitu menikmati pemandangan yang ditawarkan alam. Ia menghirup udara yang masih bersih saat melewati hutan bambu, hutan jati dan persawahan menuju rumah.


Ia bahagia bisa kembali produktif. Bekerja adalah pelipur laranya. Setidaknya untuk sesaat ia lupa dengan rasa kehilangan yang kadang masih menyesakkan dada.


"Semoga semua berjalan sesuai rencana dan do'aku." Gumam Julia.

__ADS_1


__ADS_2