CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Hantaman


__ADS_3

Julia mengenakan daster motif bunga favoritnya. Rambut sengaja ia gelung kuat-kuat diatas tengkuk agar tidak gerah. Ia asyik berkutat di dapur, melumuri udang dengan bumbu racikannya untuk dibakar.


Urusan bakar membakar akan ia serahkan pada Septian yang terus mengekorinya di belakang. Septian tak sabar ingin segera mencicipi masakan buatan Julia.


"Sabar Mas, nih tolong bantu bakar di bawah ya." Julia tersenyum geli melihat ketidaksabaran suaminya.


Julia menyerahkan nampan berisi jejeran puluhan tusuk udang yang gemuk-gemuk. Septian mengangguk manut. Ia turun ke bawah melaksanakan amanat istrinya. Sementara Julia meracik bumbu untuk udang saus Padang, permintaan khusus dari Septian.


Tak lupa ia membuat sambal kecap cabe rawit untuk cocolan udang bakar. Karena masih ada waktu ia menumis kangkung sebagai pendamping.


Setelah semua selesai, Julia menutup makanan dengan tudung saji. Lalu ia turun ke bawah untuk menemani Septian membakar udang. Aroma bakaran yang harum menonjok perutnya. Tampilan udang kecokelatan dan berkilap amat menggiurkan membuat air liurnya serasa akan menetes.


Setelah menunggu sesaat, puluhan tusuk udang telah matang. Julia membagi beberapa puluh tusuk untuk Bapak, Si Mbok dan Mbok Par. Julia merasa kasihan melihat Mbok Par yang bolak-balik mengecek udang. Tampaknya ia ngiler berat.


***


"Enaaak banget. Ini kalau dijual pasti laku keras!" Septian mengacungkan jempol memuji masakan Julia. Saus udang menyisakan bercak cemong di sekitar bibir Septian.


"Buka resto seafood yuk Mas. Kan katamu masakanku enak." Sambut Julia senang melihat antusias suaminya.


"Satu-satu dulu dek. Pastikan usaha yang ini lancar. Kalau modal sudah balik nanti kita pikirkan idemu itu." Sahut Septian meredam gagasan Julia.


"Iya juga ya, kita sudah keluar modal banyak. Tapi aku optimis dalam waktu kurang dari dua tahun modal sudah balik." Ujar Julia enteng sambil menyendok saus pedas ke nasinya.


"Sepertinya toko semakin lancar ya dek?" Ujar Septian, tangannya gesit mengupas kulit udang.


"Alhamdulillah. Ada progress ke arah yang lebih baik Mas." Sahut Julia mengunyah udangnya.


"Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Semangat!" Ucap Septian mengepalkan tangannya ke arah Julia.


"Semangat! semua berkat ridho Mas dan orangtua. Aku berusaha maksimal agar tidak mengecewakan kalian." Jawab Julia bijak, ia turut mengepalkan tangan.


"Jangan bekerja terlalu keras, kamu makin kurus. Aku tidak nyuruh kamu banting tulang seperti ini. Serahkan pada Riska, kamu tidak perlu selalu turun tangan." Sahut Septian dengan sorot mata prihatin.


"Aku suka kerja Mas. Toh aku tidak meninggalkan kewajibanku melayani kamu. Lagipula di rumah sepi. Andai saja ada anak yang bisa diurus, aku pasti akan di rumah saja." Kata Julia pelan, ada nada gundah di suaranya.


"Sabarlah dek. Insya Allah kita akan punya anak di waktu yang tepat." Ujar Septian menghibur Julia.


Septian tahu betul Julia bekerja keras untuk melarikan diri dari kenyataan dan rasa sepi akibat kehilangan.


Julia mengangguk, ia berhasil mengusir gundah. Dengan nikmat ia menghabiskan delapan tusuk udang bakar, dan entah berapa biji udang saus Padang. Septian tersenyum lega melihat nafsu makan Julia telah kembali.


"Kalau proyek Mas cair, kita pergi liburan yuk." Usul Septian.


"Kemana?" mata Julia bersinar.


"Proyek ini tidak terlalu besar. Nggak cukup untuk pergi jauh-jauh. Kita liburan yang dekat saja bagaimana?" Tanya Septian.


Julia mengangguk, ia paham dengan keadaan keuangan suaminya. Ia tak mau menuntut.


"Kalau boleh, kita liburan ke Pekanbaru saja, aku kangen Ibu." Julia memberi ide.


"Boleh ... Nanti kita atur waktunya." Ucap Septian melempar senyum manis.


***


Semenjak postingan dan review dari Nella kondisi toko tidak seperti hari biasanya. Pengunjung toko membludak, ramai dengan pelanggan yang hendak berbelanja. Hanya sedikit produk yang masih tersisa. Antrian mengular, orderan lewat aplikasi online juga tidak putus-putus.


"Maaf bolu tape kejunya sold out."


"Maaf bakpia kacang hijau baru saja habis, tinggal rasa coklat yang ready."


"Maaf gudeg keringnya tinggal beberapa bungkus lagi. Tidak cukup dengan pesanan Bapak."


"Maaf pisang sale habis."

__ADS_1


"Maaf peyek udang rebonnya sedang dipacking."


Berkali-kali karyawan toko mengucap maaf pada pelanggan yang datang. Produksi tidak terkejar untuk memenuhi permintaan pelanggan. Suasana sibuk sekali.


Julia yang kebingungan dengan situasi riuh di ruang display bergegas naik ke lantai dua disusul oleh Riska.


"Masya Allah. Saya nggak nyangka segini hebatnya efek endorse ke Nella." Julia geleng-geleng kepala, ia bertopang dagu. Kagum bercampur resah. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Iya Mbak, ini pelajaran buat kita. Kalau kita berpromosi lewat orang yang tepat kita harus siap dengan produksi yang banyak. Sekarang kita keteteran betul." Sahut Riska galau.


"Jadi bagaimana kita rekrut lagi ibu-ibu untuk produksi? Tapi tempat kita disini nggak muat nih." Alis Julia berkerut.


"Memang harus tambah orang Mbak. Produksi dikerjakan di balai PKK saja yang luas dan masih bisa terkontrol." Usul Riska.


"Baiklah, nanti saya yang cek standar kebersihannya di balai PKK. Kamu fokus produksi disini." Ujar Julia setuju.


Sore itu Julia meminta Riska menutup toko lebih awal karena ketiadaan stok. Sebelum pulang ke rumah Julia menuju balai PKK untuk bertemu Bu Kades. Ia telah membuat janji sebelumnya.


Kedatangannya untuk minta izin merekrut ibu-ibu desa dan menggunakan balai PKK. Ganjalan di hati antara ia dan Bu Kades sementara ia kesampingkan demi profesionalitas kerja.


Bu Kades menyambutnya dengan senyum sumringah ramah yang dibuat-buat. Ia setuju Julia menjadikan balai PKK sebagai tempat untuk produksi.


"Saya justru senang kalau balai PKK ini bisa ramai dan hidup suasananya. Semoga sukses selalu ya Jul." Bu Kades menyalami Julia sebelum ia pulang.


"Terimakasih atas kesempatan dan doanya Bu." Ucap Julia tulus.


Setelah urusannya dirasa beres ia langsung menaiki motor untuk pulang. Otak dan fisiknya lelah sekali. Ia butuh istirahat.


Usai Julia menghilang dari pandangan, Bu Kades menarik senyum misterius dan bergumam dalam hati.


"Tak kusangka kamu sendiri yang datang menyerahkan diri ke kandang singa. Betapa bodohnya kamu Jul."


***


Produksi di Balai PKK sudah mulai berjalan. Julia membagi tugas dengan Riska. Ia memilih untuk memastikan produksi di balai PKK lancar, bersih dan aman. Minggu pertama semua berjalan sesuai dengan yang ia harapkan.


Ia tak sadar Bu Kades terus menerus mengawasinya, memperhatikan gerak-geriknya. Seakan menunggu kesempatan untuk berbuat sesuatu.


***


Malam itu usai sholat Isya Julia dan Septian merebahkan diri di peraduan mereka yang empuk. Suasana sejuk dari pendingin ruangan memberikan rasa nyaman. Julia yang kelelahan meringkuk memeluk guling, sambil mengamati Septian yang sedang menonton ceramah dari YouTube.


"Capek ya dek?" Septian melirik Julia yang sedang rebahan di kasur. Otomatis tangannya menyisir rambut Julia, membelainya.


"Iya capek banget, hari ini ikut terjun bikin gudeg untuk kejar produksi." Keluh Julia lemah.


Septian menekan tombol off di ponselnya, meletakkannya di samping bantal.


"Telungkup dek biar aku pijat punggungmu. Habis ini kamu pasti rileks dan tidur nyenyak." Perintah Septian.


Julia menurut, ia membalik tubuhnya. Memperlihatkan leher belakangnya yang mulus. Hari ini ia memakai daster berbahan satin dengan tali spaghetti, tanpa bra.


Septian meraih sebotol minyak telon bayi kesukaan Julia. Aroma sereh yang wangi cocok untuk relaksasi. Septian memulai pijatan di tengkuk, bergeser ke bahu dan turun punggung Julia. Ia melakukannya dengan lembut.


"Mmh enak mas, iya iya yang itu punggungku sakit sekali. Tolong lebih keras." Pinta Julia.


Pijatan lembut lama-lama berubah menjadi sentuhan liar. Melihat sosok cantik terhampar tak berdaya membuat Septian tidak bisa mengendalikan diri. Mungkin karena rutin mengkonsumsi makanan berprotein tinggi, ia selalu ingin bercinta.


Septian menghujani Julia dengan ciuman di leher belakangnya, sentuhan merayap di setiap jengkal kulit Julia. Mengalirkan rasa cinta di setiap pori-porinya.


"Mas kok jadi begini. Tadi katanya mau pijitin. Geli tau!" Julia berusaha mengelak.


"Iya ini kan dipijit juga dek. Udah nurut aja sama Mas." Septian semakin bersemangat.


Julia kewalahan menghadapi Septian yang menyeruduk sesuka hati. Mau tak mau Julia terhanyut. Stamina yang begitu perkasa, membuatnya menggeliat meronta. Namun pelan-pelan ia mulai menikmati dan berusaha mengimbangi Septian.

__ADS_1


Permainan ditutup dengan tubuh yang sama-sama berpeluh dan terkulai lemah.


"Udah jelas aku lagi capek, malah diajak wik wik!" Julia cemberut.


Septian hanya melempar senyum, ia membelai rambut Julia dan mengecup manis bibirnya sebelum bangkit untuk bersih-bersih.


"Siapa suruh pakai baju itu. Mancing-mancing namanya. Kita mandi dulu yuk, nanti aku lanjutkan lagi pijatnya." Septian mengedipkan mata nakal.


Julia tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala. Ia tak sanggup kalau harus main sekali lagi. Ia benar-benar kelelahan.


"Mas mandi duluan deh, aku mau ngumpulin nyawa dulu. Masih teler, mabuk asmara." Julia mengikik.


"Kalau udah dikasih jatah langsung deh gombal." Septian bangkit untuk membuka pintu kamar.


"Gombalin suami apa salahnya. Muuuaaaah!" Julia melempar kiss bye.


Cup! dalam satu gerakan Septian telah kembali ke kasur untuk mendaratkan ciuman singkat di pipi Julia. Septian begitu gemas.


"Ngapain kiss bye, kalau bisa langsung cium hmmmmm?" Tatap Septian tajam membuat Julia membeku.


"Mandilah mas ... nanti aku masuk angin kelamaan nunggu nggak pakai baju." Julia menarik selimut menutupi tubuhnya, ia mengekeret. Takut diajak wik wik lagi.


"Oke, jangan mancing-mancing lagi ya." Alis Septian terangkat naik.


Julia mengangguk patuh. Septian melempar senyum sebelum menghilang menuju kamar mandi.


Usai bersih-bersih dan berpakaian Julia menagih janji suaminya. Dengan telaten Septian memijat kepalanya dengan lembut. Membuat ia semakin terkantuk-kantuk. Akhir-akhir ini Julia sering migrain entah apa sebabnya. Tubuhnya juga kian kurus karena kelelahan dan banyak pikiran.


Drrrt drrrt drrrt!


Ponselnya bergetar, ada panggilan masuk. Julia bangkit dari pembaringan, diangkatnya kepala yang tadinya berbantal paha Septian. Julia lantas duduk di pinggir kasur mengambil ponsel dari atas nakas.


"Siapa?" Tanya Septian penasaran.


"Dari Riska." Sahut Julia menunjukkan layar ponselnya pada Septian.


"Ada apa ya? Tidak biasanya Riska menelpon malam-malam begini." Ada sebuah rasa tidak enak terbersit di hati Julia.


"Halo. Assalamualaikum." Sapa Julia.


"Waalaikumsalam mbak. Huhuhuhu." Sahut Riska terisak-isak, menangis.


"Ada apa Ris?" Julia panik, suaranya meninggi.


"Mbak, ada masalah. Tapi aku nggak sanggup jelaskan disini. Mbak lihat sendiri saja di Instagram. Aku sudah DM mbak postingannya." Riska tersedu-sedu.


"Baik!" Julia menutup panggilan.


Ia membuka aplikasi sosial media yang dikatakan Riska. Ia mengecek DM dari Riska.


Muncul sebuah postingan dari seseorang yang tidak ia kenal. Postingan itu memukul telak dirinya. Ponselnya jatuh menghempas lantai. Septian tertegun melihat wajah Julia pucat pasi.


"Sepertinya ini berita buruk." Gumam Septian.


"Astaghfirullah!" ujar Julia lirih.


***


Kepada pembaca tercinta, terimakasih sudah setia mengikuti kisah Mbak Jul dan Mas Septian.


Dukung kisah mereka lewat like, komen dan vote ya.


Untuk sesama author, maaf kalau saya belum bisa mengunjungi novel kalian satu persatu.


Saya lagi ada keperluan di desa. Mohon pengertiannya ya.

__ADS_1


Tetap saling dukung, semangat!


__ADS_2