CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Menerima Penawaran


__ADS_3

...Sebagian orang datang ke hidup kita sebagai anugerah, dan sebagian yang lain memberi pelajaran - Anonymous....


***


"Alhamdulillah kabarku baik-baik saja. Tak disangka kita bertemu disini. Bisa aku minta waktumu sebentar. Aku perlu bicara." Ucap Faqih percaya diri sambil mengangkat sebelah alisnya tanda ia begitu antusias dengan pertemuan tak terduga itu.


Julia terkesiap, ia begitu dongkol bertemu makhluk pemberi harapan palsu itu. Walau dalam kepalanya berkecamuk aneka pertanyaan dan dorongan ingin tahu yang tidak tuntas, atas sebab apa ia ditinggalkan?.


"Bicara? Untuk apa? Bukankah urusan antara kita sudah selesai setelah kamu pergi melanjutkan S2 tanpa kabar dan memutus kontak sepihak. Dasar pria tak tahu malu!" Batin Julia.


"Tidak, maaf … tidak ada yang perlu dibicarakan. Saya duluan." Julia melangkahkan kakinya cepat-cepat berkelit dari tatapan tajam Faqih yang memancarkan kharisma.


Entah karena suhu udara yang mulai panas atau karena kelelahan yang dirasakan sejak tadi, baru saja ia melangkah tiba-tiba pandangan Julia menjadi buram dan bumi lantai yang ia pijak seakan berputar. Jika saja ia tidak berpegangan pada pagar jembatan tentu ia sudah jatuh terkapar. Julia refleks berjongkok, ia memejamkan mata dan mengatur nafasnya.


"Julia. Kamu tidak apa-apa?" Ujar Faqih terdengar khawatir, ia melangkah cepat menyusul Julia.


Julia menggelengkan kepalanya pelan, tak mampu menjawab.


"Astaghfirullah, kenapa bisa mau pingsan disaat seperti ini!" Rutuk Julia dalam hati.


"Julia, kamu bisa berdiri?" Tanya pria itu lagi.


Julia mengangguk. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa Julia bangkit. Bulir-bulir keringat dingin menitik di dahinya. Bibirnya nyaris tak berwarna seakan darah tidak mengalir dibawah permukaan kulitnya.


"Jul, kamu sepertinya sakit. Kamu tinggal dimana? Biar aku antar."


Julia menggeleng, bertemu saja sudah bikin kesal apalagi harus berlama-lama dengan pria itu. Namun ia sadar tubuhnya butuh pertolongan segera sebelum betul-betul collapse.


"Mi-num … harus minum manis dulu. Aku mau pingsan." Ucap Julia jujur terbata-bata.


Dengan panik Faqih memindai sekeliling, mencari tempat untuk beristirahat dan minum sejenak. Matanya tertuju pada sebuah rumah makan di bawah jembatan.


"Kita kesitu dulu ya. Minum teh hangat dulu, baru aku antar pulang." Ucap Faqih menunjuk ke bawah jembatan.


Julia tak punya pilihan selain mengikuti langkah kaki pria itu. Dengan terseok-seok ia berusaha berjalan.


"Tu-nggu … sebentar …. " Ucap Julia tercekat, tangannya bergerak cepat merogoh tasnya mencari plastik kresek hitam yang selalu ia sediakan untuk jaga-jaga jika tidak ada tempat sampah. Tangannya gemetaran mengarahkan plastik itu ke mulutnya.


"Hoekkk!"


Julia tak bisa mengontrol diri selain mengikuti kehendak tubuh untuk mengeluarkan apapun yang ada di dalam lambungnya.


Faqih serba salah melihat pemandangan itu. Satu sisi ia ingin membantu Julia untuk menepuk-nepuk punggungnya, sekadar meringankan sakit wanita itu. Namun penampilan Julia yang syar'i membuat tangannya bergeming. Ia tak punya nyali untuk menyentuh seujung kuku pun.


Hati Faqih berdesir saat melihat keadaan Julia yang pucat dan lemah. Ia hanya bisa berdoa agar wanita itu cukup kuat berjalan ke rumah makan untuk memulihkan tenaga. Namun jika wanita itu pingsan ia dengan senang hati menggendongnya dalam keadaan darurat.


"Maaf ya … saya jorok." Ucap Julia menunduk menutup mulutnya dengan tisu.


"Tidak apa-apa. Kamu masih kuat jalan?"


"Insya Allah." Sahut Julia lemah. Arogansinya pelan-pelan memudar.


Faqih berjalan sepelan mungkin, agar Julia tidak tergesa-gesa mengikutinya.


***


"Teh panas dua." Ucap Faqih pada pelayan rumah makan yang menghampiri mereka.

__ADS_1


Julia menyandarkan tubuhnya yang lemas ke dinding sambil memejamkan mata untuk menghilangkan rasa pusing dan mual yang masih bersemayam di tubuhnya.


"Kamu mau makan?" Tawar Faqih.


Julia mengangguk.


"Uni, ada makanan yang tidak pedas disini?" Tanya Faqih pada pelayan lain yang melintas.


"Ada, soto daging." Ucap pelayan itu sigap.


"Soto daging dua porsi dengan nasinya ya." Pesan Faqih.


"Baik." Sahut pelayan sigap.


Setelah pesanan datang Julia langsung menyeruput teh panasnya. Aroma dan tampilan soto daging yang tersaji menarik minatnya, hingga ia tanpa sadar menelan air liurnya yang terbit.


"Makanlah Jul, pulihkan tenagamu." Ucap Faqih menyodorkan mangkuk soto milik Julia.


Julia tak mengulur waktu, ia menarik mangkuk itu ke arahnya untuk mencicipi kuah kaldu soto yang lezat dan gurih itu. Dalam sekejap saja sepiring nasi dan semangkuk soto licin tandas berpindah ke perutnya.


Faqih yang masih mengunyah makanannya memandang selera makan Julia dengan takjub. Wanita dihadapannya itu tak pernah berhenti membuatnya terpesona. Terbetik rasa sesal atas sikapnya di masa lalu ketika ia meninggalkan Julia tanpa kabar hanya karena tak siap terikat dalam ikatan pernikahan.


Kini wanita itu hadir kembali di hadapannya begitu anggun dan matang terbalut hijab syar'i. Pancaran sikap tegas dan mandiri dari wanita itu malah membuat hatinya tergerak untuk kembali memiliki.


Julia sendiri merasa tubuhnya sudah mulai menghangat, ia sudah cukup kuat untuk berjalan pulang.


"Jangan-jangan tadi aku muntah karena masuk angin terlambat makan kali ya?" Batin Julia menebak-nebak.


Julia merasa Faqih terus menerus mengamatinya, membuatnya risih.


"Terima kasih bantuannya. Boleh saya pulang duluan?" Ucap Julia tanpa basa-basi.


"Aku bahkan belum selesai makan. Kamu kok buru-buru amat. Ditunggu pacar atau suami?" Ucap Faqih melempar canda.


"Betul sekali, suami saya sudah menunggu." Ucap Julia santai.


"Serius?" Faqih melongo tak percaya.


"Serius dong. Buat apa saya bohong."


"Mana buktinya? Kamu tidak pakai cincin kawin!" Faqih menatap ke arah jemari Julia yang polos.


"Maaf ya cincin kawin bukan bukti kalau seseorang sudah resmi menikah. Nih suamiku!" Julia menunjukkan foto akad nikahnya dengan Septian dari layar ponselnya.


Wajah Faqih berubah gelap. Selera makannya menguap begitu saja. Ia tak lagi melanjutkan menyuap makanannya. Ia mendorong mangkuk sotonya yang masih tersisa setengah. Ia segera membilas mulut dengan segelas air putih.


"Ayo ajak aku ketemu dengan suamimu. Aku pengen lihat suami macam apa yang biarin istrinya lagi sakit keluyuran sendirian."


Julia terhenyak, ia memilih orang yang salah untuk adu argumen. Faqih adalah seorang master dibidang Ilmu Pendidikan. Tentu saja ia sedikit banyak menguasai ilmu psikologi untuk mengetahui tipe-tipe kepribadian siswa. Kecerdasannya tak perlu diragukan. Dan kali ini Faqih pasti bisa menebak kalau gelagat Julia yang mencurigakan, wanita itu pasti menyimpan sebuah masalah.


"Bukan urusan Mas menilai suami saya." Sambar Julia sengit.


"Ayolah Julia, kenapa kamu begitu ketus padaku! Aku mengaku salah telah meninggalkanmu. Dengan fakta kamu sudah menikah harusnya sudah tidak ada masalah diantara kita. Atau kamu sebenarnya tidak bisa move on dari aku?" Sindir Faqih.


"Ohya, harusnya saya berterima kasih karena kamu meninggalkan saya. Jika tidak begitu mungkin saya tidak akan bertemu dengan jodoh yang dipilihkan Allah. Faktanya, sekalipun kamu tak pernah terlintas di pikiran. Sikap saya menghindari Mas saat ini murni karena Mas bukan orang yang tepat untuk saya ajak beramah tamah. Catat, saya menjaga amanah meskipun saat ini sedang berjauhan dengan suami." Ucap Julia tegas.


"Baik, aku minta maaf untuk segalanya di masa lalu. Aku turut bahagia atas pernikahanmu. Maaf jika aku lancang. Tak bisakah kita bersikap seperti teman lama saja?" Ucap Faqih melunak.

__ADS_1


Julia mendesah berat. Di tempat asing ini dia tak punya kenalan siapapun. Sedikit berbaik sangka pada Faqih mungkin akan memberinya sedikit pencerahan atas kelangsungan hidupnya.


"Saya sudah memaafkanmu sejak hari kamu pergi. Case closed. Mari kita mulai semua dari nol lagi." Ucap Julia menawarkan perdamaian.


"Alhamdulillah, kalau begitu hatiku jadi lega. Ya beginilah keadaanku Jul. Bahkan setelah aku lulus dari Master pun aku tetap tak berniat untuk cepat-cepat menikah. Live my life to the fullest baru mikir nikah." Balas Faqih cengengesan menunjuk dadanya.


Julia menatap pria itu dengan pandangan bersahabat. Pria itu seperti ketakutan dengan kata pernikahan. Membujang padahal sudah matang dan mapan. Apa yang ia cari sebenarnya?


"Jadi kenapa Mas bisa ada disini? Ngapain?" Tanya Julia mengalihkan topik dari bahasan masa lalu.


"Sebenarnya aku ngajar di Universitas Negeri di Padang. Tapi di Bukittinggi ini aku mengelola sebuah English community sekaligus kursus. Kamu tahu lah Bukittinggi spot yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Tapi warga lokal minim sekali kemampuan bahasa Inggris-nya. Karena itu aku tergerak untuk memberi edukasi cuma-cuma. Investasi untuk akhirat-ku. Aku kesini hanya seminggu sekali, kadang beberapa hari sekali. Dan hari ini jadwalku untuk mengontrol kursus. Kalau kamu kenapa bisa ada disini?" Jelas Faqih memberikan gambaran hidupnya saat ini.


"Saya …. "


"Stop Jul, jangan terlalu formal. Pakai aku - kamu saja bisa tidak?" Sanggah Faqih.


Julia berdehem kesal karena kalimatnya dipotong. Namun ia kembali melanjutkan.


"Aku sedang pelarian. Aku lari dari suamiku dan masalahku." Ucap Julia nanar.


"Brengsek!" Faqih menendang kaki meja.


"Tidak, dia tidak jahat. Suamiku amat sangat baik. Ini karena aku berbuat salah dan tidak menurut nasihatnya dalam hal bisnis. Aku membuatnya rugi banyak sekali. Dan aku lari karena kecewa. Suamiku seakan lepas tangan membiarkan aku sendiri. Jadi aku lari untuk memberi suamiku pelajaran." Jelas Julia hati-hati.


"Itu yang aku tidak suka dari pernikahan. Ribet bikin banyak masalah saja." Geram Faqih.


Julia menunduk, malas untuk mendebat dan menceramahi Faqih tentang pentingnya kedudukan pernikahan dalam Islam. Toh kini pernikahan ada di pinggir jurang.


"Lalu kamu stay dimana disini?"


"Di homestay syariah dekat sini." Tunjuk Julia asal.


"Suamimu dimana?"


"Yogyakarta …. " Julia menunduk semakin dalam.


Faqih membuka mulutnya seakan tak percaya wanita ini kabur sejauh itu. Ia menggelengkan kepala keheranan. Ia ingin melontarkan pendapatnya lagi tapi diurungkannya. Bukan kapasitasnya menilai sukses atau gagalnya pernikahan orang lain. Sementara dirinya sendiri belum menjalani lika liku pernikahan dan dramanya.


"Tinggal di tempat kursusku saja. Disana ada asistenku, namanya Mala. Mau?" Faqih menyorot Julia dengan tatapan yang membuat Julia terintimidasi.


"Tidak ah merepotkan saja!" Julia menolak.


Faqih berdecak kesal, ia tahu Julia pasti akan jual mahal.


"Kamu tidak tinggal gratisan disana. Kamu harus bantu mengajar dan bersih-bersih untuk bayar sewa tempat tinggal." Ucap Faqih lagi.


"Ngajar?" Jiwa seorang pendidik di sanubari Julia terpanggil. Betapa ia sangat rindu mengajar.


"Gimana? Siswa dan anggota komunitasnya belum begitu banyak. Karena itu hanya ada Mala disana sebagai asisten, merangkap admin dan OB. Kasihan dia, kalau ada kamu kan berkurang bebannya."


Julia berpikir sejenak. Ada baiknya juga ia menerima tawaran itu toh dia tidak akan tinggal serumah dengan Faqih yang hanya datang mengontrol sekali-kali. Lagipula uang tabungannya bisa segera ludes jika berbulan-bulan menginap di homestay tanpa tujuan.


Julia menghela nafas berat sebelum memberikan keputusan.


"Baiklah aku mau."


Faqih melempar senyum kemenangan.

__ADS_1


"Deal. Mulai hari ini kamu jadi bawahanku."


__ADS_2