
"Lukanya bagus, di dalam tidak ada perlengketan dan jahitan juga tidak ada infeksi ya Bu." Ujar Dokter berwajah lembut mengecek bekas operasi Julia.
Seorang perawat dengan cekatan membersihkan luka Julia dan menutupnya dengan plester baru.
"Ini sudah diganti dengan plester anti air. Ibu sudah boleh mandi tapi jangan sepuasnya dulu. Karena bagaimanapun plester ini buatan manusia. Bisa rembes air juga. Intinya jaga luka tetap kering hingga waktu kontrol seminggu lagi." Jelas dokter.
"Antibiotiknya dihabiskan ya, dan ini obat pereda rasa nyeri diminum sesuai petunjuk." Pesan dokter lagi.
"Baik Bu dokter, terima kasih. Jadi saya sudah boleh pulang hari ini?" Tanya Julia.
"Sudah Bu. Semoga cepat sembuh, sampai ketemu lagi di waktu kontrol." Sahut Dokter tersenyum ramah menularkan kebahagiaan pada pasiennya.
Julia menarik napas lega, ia senang bisa pulang sore itu juga. Ibu dan Lucy membantu mengemas pakaian dan barang bawaan. Setelah berpamitan dengan tim perawat, Lucy membantu Julia turun ke lobi rumah sakit dengan kursi roda. Septian sudah menunggu di mobil untuk menjemput mereka pulang.
Di perjalanan Julia lebih banyak diam menikmati rasa nyeri yang masih bertahan di bekas lukanya. Hanya Ibu dan Lucy yang asyik mengobrol tentang suasana desa. Sesekali Septian ikut menimpali pembicaraan, menjelaskan hal-hal baru pada Ibu dan Lucy.
Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan pekarangan rumah. Si Mbok, Bapak dan saudara-saudari Septian sudah menunggu di teras untuk menyambut kepulangan Julia. Beberapa Ibu-ibu yang baru pulang dari pengajian melintasi rumah Septian, dengan wajah penuh penasaran mereka melihat Julia berjalan tertatih-tatih bergandengan dengan Septian memasuki rumah.
"Jadi gimana cerita istrinya Septian itu, kok bisa dirawat inap?" Bisik Ibu paruh baya berkerudung biru dengan tahi lalat besar di dagunya, wajahnya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.
"Katanya sih keguguran terus rahimnya dibuang karena infeksi." Sahut seorang Ibu dengan lipstik merah berminyak berbibir tebal melempar dugaan.
"Wah bahaya itu, nggak bisa punya anak dong." Sahut Ibu-ibu yang lain saling berpandangan.
"Jadi sekarang istrinya Septian itu mandul?" Tanya Ibu berkerudung biru, matanya dan mulutnya membuka lebar seakan tak percaya.
"Eman-eman ya, cantik tapi nggak bisa kasih keturunan." Sambar seorang Ibu berkerudung hitam membuat kesimpulan.
"Ho oh, sayang sekali. Septian ngganteng, istrinya cantik tapi nggak punya penerus." Jawab si Ibu berlipstik merah mengelus dada.
__ADS_1
"Makanya cari istri itu yang jelas-jelas saja. Cari istri jauh-jauh malah nggak punya masa depan." Sahut Bu Lurah yang sedari tadi diam menikmati pembicaraan.
"Iya, padahal gadis di desa kita kurang apa ya Bu? Yang cantik banyak, yang pintar pun banyak. Septian terlalu menuntut. Kurang kerjaan nyari istri nyebrang pulau. Eh malah dapat yang zonk hihihi …. " Ibu berkerudung biru terkikik menutup mulutnya dengan kerudung.
"Kalau saya jadi Bu Rahayu, sudah saya suruh pulangkan perempuan seperti itu. Biar anakku kusuruh nikah lagi, cari wanita yang bisa kasih keturunan." Ibu berlipstik merah melotot menjelaskan pendapatnya.
"Tapi Bu Rahayu itu beda, beliau itu orangnya baik sekali. Sama semua menantunya sayang. Saya rasa pasti nggak boleh pisah Septian sama istrinya, apapun yang terjadi." Ibu berkerudung hitam mengutarakan isi hatinya.
"Kadang baik sama bodoh itu beda tipis." Bu Lurah berdecak menggelengkan kepala.
"Waduh Ibu ini … Tapi Bu Rahayu dan keluarganya memang orang baik lho. Hampir semua warga desa sini mengakuinya lho Bu. Harusnya kita mendoakan keluarga Bu Rahayu bisa melewati ujian ini." Ibu berkerudung hitam memandang mata Ibu-ibu yang lain meminta dukungan untuk meluruskan opini Bu Lurah.
"Kamu ini, saya lebih tahu soal kehidupan daripada kamu. Jadi orang jangan terlalu naif. Sudah hampir Maghrib, saya pulang duluan!" Bu Lurah melempar pandangan kesal pendapatnya disanggah. Ia pamit meninggalkan rombongan berjalan tergesa-gesa menuju rumahnya.
Ibu berkerudung hitam menggigit bibir menyesal karena telah salah bicara. Kini ia takut dianggap cari perkara dengan Bu Lurah. Sementara rombongan Ibu-ibu pengajian masih berkasak-kusuk membahas Julia.
***
"Terima kasih saya ucapkan pada Bapak, Ibu dan Septian sekeluarga karena telah sigap menolong anak saya. Kalau bukan karena tindakan cepat Bapak dan Ibu, mungkin saya tidak bertemu anak saya lagi" Ujar Ibu Julia lirih.
"Sudah sewajarnya kami berbuat begitu. Tak perlu berterima kasih. Kita sekarang satu keluarga. Saya malah mau minta maaf karena tidak bisa menyambut Ibu dan Lucy sebagaimana mestinya. Sudah jauh-jauh kemari malah tidak terlayani dengan baik." Si Mbok menepuk-nepuk tangan besannya.
"Tak apa Mbok, kami paham keadaannya." Sahut Lucy tersenyum ramah.
"Setelah melihat anak saya sudah mulai pulih, hati saya lega. Saya jadi bisa pulang dengan tenang ke Pekanbaru." Tambah Ibu.
"Lho Ibu sudah mau pulang?" Septian heran.
"Iya Nak, rencananya Ibu disini sampai besok. Lusa sudah harus pulang,kasihan Lucy terlalu lama libur. Dia harus kerja, takut kalau kinerja kurang baik dia malah diberhentikan. Tahu sendirilah sekarang cari kerja itu sulit." Jelas Ibu menepuk pundak Lucy.
__ADS_1
"Padahal Julia masih rindu Ibu." Julia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Yang penting kita sudah bertemu nak. Kamu sembuhkan dirimu dahulu. Nanti ada waktu dan umur kita bisa bertemu lagi." Ibu membelai kepala Julia lembut.
"Kalau memang begitu kehendak Ibu kami tidak bisa menahan. Insya Allah Julia akan kami rawat baik-baik disini." Sahut Si Mbok mengangguk.
Ibu tersenyum lega, melihat kehangatan dan keharmonisan keluarga besar Septian ia yakin Julia akan terpelihara. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
***
Matahari baru saja muncul malu-malu. Tapi rumah Septian sudah dipenuhi aktivitas. Septian memanaskan mobil, dan memasukkan koper satu persatu. Septian membekali Ibu dan Lucy dengan banyak oleh-oleh khas Yogyakarta. Sampai Ibu merasa sungkan.
"Ini terlalu banyak Tian. Terlalu banyak." Gumam Ibu tadi malam sambil bergeleng kepala menatap empat tumpukan dus oleh-oleh.
Ibu dan Lucy akan berangkat dengan penerbangan pagi. Ibu memeluk dan membelai Julia yang enggan bicara padanya. Julia berharap Ibunya bisa tinggal sekitar seminggu lagi. Tapi ia sadar tak boleh egois karena Lucy saat ini lebih butuh Ibu.
"Sudah ya Nak, Ibu dan kakakmu pulang dulu. Jangan cemberut, nanti hilang cantikmu." Bujuk Ibu.
Julia tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala. Air mata yang meleleh di pipi sebagai juru bicara hatinya tak rela Ibu pulang. Julia mencium tangan Ibunya lama sekali.
"Jangan cengeng kau dek. Biasanya kau selalu tegar dan kuat. Nanti kita jumpa lagi setelah kau sehat." Lucy melap air mata Julia dengan tisu. Diamatinya wajah Julia yang sendu, dipeluknya tubuh adiknya satu-satunya itu.
"Aku benci kakak ngomong begitu, tapi aku pasti kangen dengan perlakuan kakak yang semena-mena." Julia membalas pelukan Lucy semakin erat.
"Hehehe, sudahlah nggak usah lebay kau itu. Jaga diri baik-baik. Kami pulang dulu. Istirahatlah disini." Lucy melepaskan pelukan dan menepuk tangan Julia lembut.
Julia mengangguk dan memilih duduk di sudut teras bersama Si Mbok. Lucy dan Ibu menyalami dan berpamitan orang tua Septian. Septian yang sudah di duduk di belakang kemudi mobil memberi kode pada Lucy agar segera bergegas naik agar tidak telat check in di bandara.
Ibu duduk di sebelah Septian dan Lucy di kursi penumpang. Septian membuka kaca mobil lebar-lebar sebelum mobil berangkat. Ibu dan Lucy melambaikan tangan.
__ADS_1
Julia membalas lambaian mereka dengan air mata mengalir deras.
"Ibu, kakak ... sampai jumpa lagi."