
Aku percaya, tidak semua percobaan pertama akan berhasil.
Sabarlah! Masih ada lain waktu.
***
Lepas zhuhur Septian mengajak keluarga Julia ke hotel Premiere tempat keluarganya menginap. Disana mereka makan bersama dan bercengkrama. Mengingat kemarin kedua keluarga ini tidak sempat berinteraksi dekat saking riweuh-nya acara syukuran.
Selepas makan bersama Septian mengantar keluarganya bertolak ke Bandara untuk pulang ke Yogyakarta. Si Mbok dan kakak-kakaknya memeluk Julia erat-erat sebelum mereka check-in. Si Mbok dan Ibu saling berpelukan.
"Sampai ketemu lagi di Yogya yaaa …. ," Si Mbok melambaikan tangan kami senyumnya mengembang sampai ia tak terlihat lagi.
Si Mbok memang wanita yang ramah. Tak pernah sekalipun ia membedakan para menantunya. Sikap yang beliau tunjukkan selama ini memang berasal dari hati yang terdalam.
Sebelum pulang ke rumah Julia mengajak Septian dan keluarganya menikmati Mie Ayam Pakde untuk makan malam. Alasannya karena lokasi yang dekat bandara dan rasanya memang terkenal lezat.
***
Julia merebahkan diri di kasur lelah dengan aktivitas hari ini. Septian fokus menghadapi laptopnya.
"Ternyata begini rasanya punya suami pekerja lepas. Di saat kami harusnya honeymoon dia malah asyik dengan pekerjaannya." Pikir Julia dalam hati.
Julia memilih memainkan ponsel untuk membunuh waktu. Ia saling berkirim chat dengan teman-temannya di sebuah grup.
"Dek, kalau kita nginap sehari dua hari di hotel mau nggak?" tanya Septian sambil mengetik kode-kode di laptop.
"Untuk apa, kan bisa tidur disini …. " Sahut Julia polos.
"Biar suasananya beda. Kalau disini aku rasanya seperti belum menikah," Jawab Septian masih fokus dengan laptopnya.
"Hmmm, kapan maunya?" sambut Julia.
"Malam ini saja, mumpung baru jam sembilan .… " Septian membalikkan badannya, kali ini matanya tertuju pada Julia lekat-lekat.
"Aku harus bilang apa sama Ibu?" wajah Julia bingung.
"Bilang saja mau honeymoon hehehe …. " Septian nyengir memamerkan gigi putihnya.
"Baiklah," Julia bangkit dari kasur untuk memberi tahu Ibu.
"Oke, aku booking kamar dulu ya sekalian packing!" Septian mematikan laptopnya dan bangkit bersemangat.
Julia geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang mendadak riang.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan!" desis Julia.
Ibu hanya tersenyum mesam-mesem saat Julia menyampaikan niat Septian untuk nginap beberapa hari di hotel. Ia pun dulu pernah muda jadi langsung paham maksud anaknya.
"Ya pergilah kalian butuh privasi. Ibu paham dia pasti sungkan dengan Ibu dan kakakmu," ujar Ibu.
"Oke deh Bu, Julia siap-siap dulu ya. Muuaaaahh!" Julia mendaratkan ciuman ke pipi Ibu. Hatinya riang, kapan lagi staycation bareng suami.
Dengan cepat Julia mengemas pakaian untuk tiga hari. Tak lupa ia memasukkan dua helai lingerie satin berenda. Septian sudah menyelesaikan proses booking hotel dan taksi online. Sekitar dua puluh menit jemputan datang.
Dengan langkah ringan sambil bersiul-siul Septian menenteng koper untuk dimasukkan ke bagasi mobil. Mereka menuju ke sebuah hotel bintang empat yang lokasinya di jantung kota. Bersebelahan dengan dua Mall besar dan pusat kuliner. Kita bisa melihat fly over membentang di seberangnya.
Septian memesan kamar Deluxe, bukan jenis kamar yang terlalu mewah tapi cukup wah bagi Julia yang belum pernah menginap di hotel.
"Capek?" Tanya Septian meletakkan koper di sudut spring bed yang terlihat empuk.
__ADS_1
"Lumayan …. " Jawab Julia meraba bed cover yang rapi tanpa kerutan.
Septian dengan santai membuka bajunya di hadapan Julia yang membeku melihat pemandangan itu. Julia terpesona melihat tubuh suaminya yang cukup atletis. Bahunya lebar, dadanya bidang dihiasi bulu-bulu halus khas pria. Septian mengganti pakaiannya dengan kaos dalam tipis dan kain sarung. Septian tiba-tiba girang ia berlari-lari kecil mengelilingi kamar dan menghempaskan diri ke spring bed.
Julia terbahak melihat tingkah suaminya yang konyol.
"Kenapa kok ketawa, apa yang lucu?" Jidat Septian berkerut.
"Tingkahmu yang lucu. Aku penasaran kenapa sih Mas suka sekali pakai sarung. Setahuku sarung itu cuma dipakai kalau mau sholat."
"Karena sarung itu nyaman, leluasa dan sopan. Kalau sudah waktu sholat tinggal sholat saja," jawab Septian riang.
"Adek yakin mau pakai gamis terus di kamar?" Septian menunjuk pakaian Julia.
"Oh iya, aku lupa. Aku ganti baju dulu ah …. " Julia sambil mengaduk isi koper mencari daster motif shabby chic favoritnya.
Julia menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Ia masih belum berani buka-bukaan di depan suaminya. Tidak seperti Septian yang cuek saja.
"Adek lapar nggak? Aku mau pesan makanan nih," Sambut Septian saat Julia keluar dari kamar mandi.
"Lho sudah lapar lagi?" Sahut Julia heran.
"Cuma makan mie ayam mana kenyang. Aku butuh nasi, pengen nasi goreng hehehe. Adek mau apa biar pesan sekalian."
"Aku sama aja kayak pesanan Mas." Jawab Julia sambil mengamati interior kamar yang bernuansa modern.
Septian sudah selesai memesan layanan kamar. Ia merebahkan diri di spring bed.
"Ah enaknya .… " Ia membentangkan kedua tangannya keatas menggeliat.
"Sini dek, berbaring dekat aku …. " Ia menepuk kasur.
Julia mendekat dan berbaring nyaman di sebelahnya. Dengan gerakan mendadak Septian sudah melingkarkan tangannya ke tubuh Julia. Mendekapnya erat.
"Mas sesak … terlalu kencang," Julia menepuk tangannya.
Septian melonggarkan dekapan, mencium rambut istrinya.
"Mas, ayo kita ngobrol dulu. Aku perlu kenalan dengan kamu lebih jauh," Julia melepaskan lingkaran tangan Septian dari tubuhnya. Ia memilih duduk bersandar pada headboard spring bed.
"Hmmm, apa yang mau kamu tahu soal aku." Septian mengubah posisi dari baring menjadi duduk.
"Apa pernah ada wanita sebelum aku?"
"Tidak ada, aku belum pernah pacaran. Boleh percaya boleh tidak." Septian menatap Julia lekat-lekat.
Julia menunduk tidak sanggup menantang mata bening dan tajam, mengisyaratkan kejujuran.
"Kalau Mas, apa yang kamu mau tahu tentang aku?" pancing Julia.
"Aku tidak perlu bertanya cukup mengamati saja. Tapi aku yakin dulu pasti banyak laki-laki yang suka sama kamu." Septian mengelus-elus janggutnya.
"Hanya tiga orang yang pernah dekat denganku," ungkap Julia.
"Tapi cuma aku yang berhasil mendapatkanmu," wajah Septian sumringah bangga, menepuk dada.
"Mas nggak bisa dibandingkan dengan mereka. Mas yang terbaik, makanya aku mau dinikahi." Julia melempar senyum.
"Kalau mau dinikahi harusnya mau didekati dong. Jangan jual mahal terus!" Septian mulai mendekat lagi.
__ADS_1
"Siapa yang jual mahal?" bantah Julia tersinggung.
"Kalau gitu sini lebih dekat lagi denganku."
Dengan satu gerakan, Septian telah membenamkan bibirnya ke bibir Julia. Kali ini Julia tidak menolak dibiarkannya Septian melakukan yang ia inginkan. Karena jauh dalam relung Julia juga mendamba sentuhan.
Tok tok tok !
Pintu kamar diketuk. Layanan kamar sudah datang.
"Yah, padahal baru aja mulai!" Septian tergopoh-gopoh merapikan sarungnya yang berantakan.
Julia mengikik geli melihat kelakuan suaminya.
"Yuk makan dulu, sebelum lanjut main-main …. " Goda Septian.
Ia membawa dua porsi nasi goreng dan dua gelas jus alpukat.
"Atau mau lanjut main dulu baru makan?" pancing Septian nakal.
"Aku belum lapar …. " Jawab Julia pelan, menyambut pancingan.
"Yasudah kalau begitu kita main-main dulu," Septian menyeringai mendekati Julia.
"Matikan lampunya, aku malu!" Julia mengeluarkan isi hatinya
"Kenapa malu?" Septian mengerenyit.
"Pokoknya aku malu!" pipi Julia bersemu merah.
"Sudah jangan banyak bicara!" Septian menerjang.
Julia sukarela mengikuti alur permainan. Pasrah dengan hasrat yang muncul dari tubuhnya. Namun secuil rasa jengah masih meraja. Sebelum Septian melakukannya, ia membisikkan doa ditelinga Julia. Perlahan Julia merasakan dorongan menghentak. Berkali-kali berusaha mencari celah.
"Nggak bisa …. " Desah Septian.
"Ha, kenapa tidak bisa?" Julia bingung. Bukankah seharusnya hal ini mudah.
"Terlalu rapat!" desis suaminya.
"Coba saja, pasti bisa .… " Julia mencicit menahan perih.
Septian mencoba menerobos pertahanan. Julia mengerang karena rasa sakit perih membakar.
"Mas sakit!" Erangnya.
"Aku coba sekali lagi ya."
Air mata Julia menitik saking perihnya. Septian menghentikan usaha panik melihat air mata meleleh di wajah cantik Julia.
"Maaf, aku menyakitimu …." Ia mengusap air mata Julia menciumi setiap jengkal pipinya dengan perasaan menyesal. Harusnya ia tidak terburu-buru.
"Aku yang minta maaf Mas …. " Air mata Julia membanjir, rasa bersalah berkecamuk di dada. Sudah hari kedua pernikahan berjalan tapi kehormatan masih belum bisa ia serahkan.
"Kenapa aku tidak bisa menunaikan kewajibanku," ia terisak-isak.
"Bukan salahmu dek, tidak apa-apa. Kurasa memang tidak semua percobaan pertama akan berhasil," Septian membelai rambut Julia, mencoba menenangkan hati istrinya.
Julia menyeka air mata dengan daster. Septian bangkit memungut sarung yang jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu. Setelah ini kita tidur saja, kita perlu istirahat." ujar Septian menuju kamar mandi.
Langkahnya gontai, bahunya melorot. Ia kecewa malam ini.