CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Beri Aku Waktu!


__ADS_3

Mala keluar dengan cemberut, ia tak menemukan Julia di toilet.


"Nggak ada Bang. Sepertinya dia sudah kembali ke ruang pemeriksaan. Julia tuh ya … padahal belum kuat betul tapi ga sabaran. Mau duluan aja, takutnya kan jatuh lagi." Gerutu Mala pada Faqih.


Faqih memijat pelipisnya yang terasa pening. Ia paham betul perasaan kesal Mala. Sedari dulu Julia memang sok kuat, sok mandiri, jarang mengindahkan pesan darinya. Bahkan disaat sakit begini pun ia tak mau menunggu sebentar saja untuk ditemani.


Mala melipat kedua tangannya di dada, wajahnya masam. Namun ia tetap mempercepat langkahnya karena khawatir pada Julia. Faqih pun mengikuti langkah lebar-lebar Mala menuju ruang pemeriksaan. Benar saja, Julia sudah ada di sana bersama seorang dokter dan perawat yang tersenyum gembira.


"Apa ini suaminya Mba? Selamat yaaa … Istri anda positif hamil." Goda perawat pada Faqih yang sorot matanya tersirat kekhawatiran.


Mala tersenyum kecut mendengar ucapan selamat yang salah alamat dari perawat itu. Sementara wajah Faqih yang tadinya khawatir berubah menjadi kecewa. Bahunya yang semula kokoh tegap mendadak melorot seakan kehilangan semangat.


"Bukan, dia teman saya." Sanggah Julia.


"Oh … Maaf." Perawat muda itu membekap mulutnya sendiri, jelas surat matanya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa." Julia tersenyum menanggapinya.


"Kalau begitu, bapak silahkan tunggu diluar dulu ya. Kita mau USG dulu untuk mengecek usia kandungan Bu Julia." Pinta perawat dengan sopan.


Faqih mengangguk keluar ruangan. Langkahnya lunglai. Ia mengambil posisi di kursi tunggu. Faqih menunduk dengan siku bertumpu pada lutut. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengusap dan mengacak rambutnya. Entah mengapa berita bahagia ini mengusik jiwanya. Sepotong kecil dari bagian dirinya tidak bisa menerima.


Sementara Mala kebalikannya, wajahnya begitu berseri dengan kabar bahagia ini. Ia tetap di dalam menemani Julia.


"Apa Ibu ingat hari pertama haid yang terakhir kali?" Tanya dokter kandungan.


"Maaf, saya tidak ingat dok. Jadwal haid saya selalu kacau dari zaman gadis dulu. Saya lupa untuk menandainya di kalender." Jawab Julia jujur.


"Baik. Kita cek dulu ya." Ujar dokter memberi isyarat pada perawat untuk mengoleskan gel dingin ke perut bagian bawah Julia.


Drap drap drap!


Suara berirama seperti derap langkah kuda terdengar nyaring.


"Ini bunyi jantungnya ya Bu. Alhamdulillah bayinya sehat. Kalau dari ukurannya, saya perkirakan usia kandungan Ibu sudah berjalan delapan minggu." Ujar dokter tersebut dengan wajah tenang dan tulus.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah …. " Julia menghapus embun di matanya.


"Selamat ya Jul." Mala menggenggam tangannya erat-erat. Sebagai sesama wanita Mala turut bahagia dengan kabar itu.


***


Faqih menyandarkan punggungnya kursi. Ia termenung sambil memegang dadanya yang berdebar. Kabar Julia hamil seakan mencubit hatinya keras-keras. Ngilu. Bukan ia tak bahagia, ia turut senang. Namun fakta ada benih-benih cinta yang kembali bertunas di sanubarinya untuk Julia seakan dicabut paksa.


Ingatannya kembali ke masa lalu. Dulu, ia meninggalkan Julia tanpa pernah sekalipun mengingatnya. Ia sadar, telah menghancurkan hati Julia dengan harapan semu. Saat itu ia tak peduli, toh dengan kesuksesan ia bisa mendapatkan hati wanita manapun. Namun, ketika kesuksesan sudah dalam genggaman … cinta yang murni tak kunjung ia temui. Mendapatkan orang yang tulus, sepaham dan sejiwa ternyata tidak semudah itu.


Banyak hati wanita telah ia jelajahi, namun ketulusan dan segala rasa percaya yang Julia berikan, meninggalkan bekas paling dalam di hati. Kini … keadaan berbalik. Julia yang membuat hatinya patah. Tak mungkin ia bernyali untuk merebut Julia dari suaminya. Dosa besar apabila ia bersikeras merusak ikatan suci antara dua insan. Julia adalah masa lalu. Hati Julia tak telah dimiliki orang lain. Kini, hati itu harus ia kembalikan pada pemiliknya. Bagaimana pun caranya.


***


"Pokoknya kamu harus pulang ke rumah suamimu!" Tegas Faqih dalam perjalanan pulang.


Mala melirik tajam kearah Faqih yang sedang menyetir mobil di sebelahnya. Terkejut dengan kata-kata mendadak yang diucapkannya.


"Bisa tidak, kita tidak usah bahas ini dulu. Menambah beban pikiranku saja." Ketus Julia dari kursi penumpang.


Julia tersentak, sakit hati.


"Kamu nggak tahu masalah aku sama suamiku. Aku bahkan nggak punya nyali menginjakkan kaki di rumah suamiku!"


Bayangan wajah kecewa Si Mbok saat ia nekad pergi berkelebat di benak Julia.


"Terus kamu mau hamil dan melahirkan disini. Tanpa satu pun keluargamu tahu? Gila kamu!" Sergah Faqih.


"Tolong kasih aku waktu berpikir. Aku benar-benar nggak punya tempat untuk pergi." Ucap Julia memelas.


"Jangan mengada-ada ya Jul. Aku nggak peduli, aku belikan tiket pulang ke Jogja sekarang juga!" Bentak Faqih menggelegar.


Julia terdiam sejenak. Mala membeku karena takut, ia tak pernah melihat Faqih semarah itu. Suasana begitu kaku diantara mereka. Hingga Julia membuka suara.


"Turunkan aku disini. Kalau kamu nggak sudi menampung aku dirumahmu, aku bisa kembali tinggal di homestay seperti pertama kali aku datang kesini!" Ucap Julia pelan.

__ADS_1


"Jangan pernah sekalipun kamu mikir kayak gitu Jul!" Ancam Faqih, ia tahu Julia bukan wanita lemah. Jika ia bertekad melakukan sesuatu, ia pasti akan melakukannya tanpa berpikir dua kali.


"Bisa nggak kalian ngomong nggak pake emosi. Ayo dong berepikir jernih, jangan begini." Bujuk Mala takut-takut.


Tak ada jawaban dari Faqih dan Julia. Mereka membisu.


"Bisa nggak sih Bang Faqih jangan tergesa-gesa, Julia baru aja keluar dari rumah sakit udah disuruh pergi. Abang yang gila. Seenggaknya tunggu dia pulih dan kuat betul." Lanjut Mala lagi.


Faqih berdecak kesal, ia menjambak rambutnya, tak habis pikir Mala pun ikut membantahnya. Dadanya sesak. Faqih menepikan mobilnya ke tepi jalan. Ia meninggalkan kedua wanita itu di mobil, berjalan menjauh dan duduk bawah pohon. Menenangkan diri.


Mala dan Julia sama-sama terdiam setelah ditinggal Faqih. Hanya nafas Julia masih memburu menahan emosi.


"Aku ingin kembali, tapi aku nggak bisa. Aku sudah diusir suamiku. Aku mengecewakan Bapak Ibu mertuaku yang sangat-sangat baik memperlakukan aku. Gimana cara aku kembali pada mereka La? Gimana caranya?" Isak tangis Julia pecah. Ia menarik dirinya kesudut pintu, memeluk dirinya erat-erat.


Mala ikut merasakan kesedihan Julia, ia berharap kali ini Julia tidak bertindak gegabah.


"Kalau aku pulang ke Pekanbaru dalam keadaan hamil begini, tanpa suami … bisa nggak kamu bayangkan betapa hancurnya hati Ibuku. Ibuku pasti mengamuk ke Septian, dan masalah kami bertambah runyam. Aku harus kemana La?" Julia terisak-isak.


Mala melihat keluar jendela, diamatinya Faqih sedang menghisap sebatang rokok disana.


"Sudah … sudah lah Jul. Bang Faqih hanya emosi sesaat saja. Aku yakin dia kasar begitu karena peduli sama kamu Jul. Maklumi saja, laki-laki memang kurang peka. Sebenarnya maksudnya baik. Kamu jangan stress ya. Kamu harus bahagia, ingat kamu sedang hamil. Nanti anakmu ikut sedih lho." Bujuk Mala.


Julia mengangguk, ia menghapus sisa air matanya. Ia sadar kata-kata Mala ada benarnya. Dari kejauhan Faqih menuju mobil. Kedua wanita itu diam seribu bahasa, mengunci mulut mereka agar tidak memicu kemarahan Faqih.


Faqih memasuki mobil, ia menyandarkan kepalanya ke kursi sejenak.


"Maafkan aku Jul. Aku kasar sama kamu. Tolong jangan kemana-mana. Tetaplah di rumah itu bersama Mala. Tapi aku mohon, selesaikan urusanmu dengan suamimu secepatnya. Atau aku akan bertindak dengan caraku sendiri." Ucap Faqih datar.


Julia mengerjapkan matanya yang nanar oleh air mata. Hatinya seketika lega, setidaknya ia punya tempat bernaung untuk beberapa saat.


"Aku paham ... bukan maksudmu menyakiti hatiku. Insya Allah akan ku selesaikan. Beri aku waktu tiga bulan." Jawab Julia.


Mata Faqih membulat lebar, ia berharap Julia akan pergi dalam Minggu ini. Tiga bulan itu terlalu lama, perasaannya bisa saja berkembang melewati batas. Dan, selama tiga bulan ia akan terus tersiksa.


"Damn! That's too long girl!" Umpat Faqih kesal.

__ADS_1


__ADS_2