CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Girl's Talk


__ADS_3

...“A friend is someone who understand your past, believe in your future, and accept you just the way you are.” – Unknown...


***


Udara malam hari di Bukittinggi begitu dingin menusuk tulang. Hawa dinginnya menembus dinding rumah dan memenuhi kamar hingga Julia menarik selimutnya hingga menutupi dagu. Disebelahnya Mala berbaring berdampingan dengannya. Situasi ini mengingatkan dirinya pada Lucy, dulu mereka juga tidur seranjang berdua. Walau mereka lebih sering cekcok dan tendang-tendangan di kasur, tetap saja suasana keakraban seperti itu sulit ia temukan di manapun.


Mala tidur berhadapan dengannya sembari memeluk bantal guling, sementara jemarinya asyik bergerak memainkan ponsel.


"Jadi besok apa yang harus aku kerjakan ya Mala?" Tanya Julia membuka percakapan sebelum tidur.


"Bang Faqih tidak ada ngomong apa-apa sih Jul. Kalau mengajar, setiap kelas sudah di pegang sama guru part time. Mungkin nanti Julia bisa bantu kalau ada yang mau kursus privat." Jawab Mala sambil tetap asyik dengan ponselnya.


Julia terdiam sejenak sebelum melontarkan pertanyaan berikutnya.


"Mala kenal Faqih sejak kapan?"


Gerakan jemari Mala terhenti, ia meletakkan ponselnya di sebelah bantal, kemudian mata bulatnya menatap lurus ke arah Julia.


"Bang Faqih itu masih saudaraku Jul. Sepupu. Dia anak Mamakku yang paling tua. Kamu paham kan Mamak itu apa?"


"Oh …. " Mulut Julia membulat. Ia tak menyangka. "Mamak itu kalau tidak salah sebutan untuk paman di suku Minang kan?" Sahut Julia lagi.


"Tepat sekali. Dan, sebenarnya kami sudah lama dijodohkan. Mamakku bilang agar kami *pulang ke bako." Mala menyunggingkan seulas senyum tipis. Sepertinya ia tidak keberatan dengan perjodohan itu.


"Wow, Masya Allah …. " Julia kehilangan kata-kata. Penjelasan Mala cukup mengejutkan.


"Maaf ya Julia, kalau boleh tahu sebenarnya hubungan kamu dan Bang Faqih seperti apa? Kenapa Bang Faqih sampai menitipkanmu disini?" Manik bulat Mala berkilat-kilat menyiratkan ingin tahu yang besar.


"Kami kawan lama La. Dulu kami pernah dekat, tapi apapun yang terjadi di masa lalu sudah tak ada lagi hubungannya dengan saat ini. Dan juga, mungkin kamu belum tahu. Aku sudah menikah La. Aku disini karena sembunyi dari suamiku." Jawab Julia menyatakan yang sebenarnya.


"Astaghfirullah, kamu kabur dari rumah? Berdosa Jul!" Suara Mala mencicit tinggi.


"Iya aku tahu, aku memang pendosa La. Tapi masalah antara aku dan suamiku terlalu pelik untuk aku ceritakan ulang. Anggap saja saat ini kami sedang menenangkan diri masing-masing." Ucap Julia lirih.


Mala menatap Julia dengan pandangan prihatin. Namun mulutnya tak tahan untuk menggali kisah lebih dalam.


"Jul, aku memang belum menikah. Tapi saranku, kembalilah ke suamimu. Memangnya kesalahan suamimu sebesar apa sampai kamu pergi? Apa dia KDRT?"


Bibir Julia gemetar menahan rasa pahit yang keluar dari jiwanya. Ia menggeleng.

__ADS_1


"Suamiku tidak melukai fisikku, tapi ia melukai batinku dengan kata-kata dan sikapnya. Seumur hidupku, aku tidak pernah diperlakukan seperti itu."


Mala menggeser posisi tidurnya agar lebih dekat dengan Julia. Ia begitu penasaran dengan kisah wanita itu.


"Tapi, apa kamu tidak takut kalau suamimu tidak ridho atasmu?" Tanya Mala polos.


"Aku takut La. Kamu pikir aku senang kabur begini. Hatiku risau, pikiranku tak menentu. Aku bingung harus bagaimana. Tapi kembali padanya … tidak semudah itu. Hatiku belum sembuh benar." Ucap Julia bergetar.


"Apa pernikahan sesulit itu?" Gumam Mala seolah-olah bicara sendiri.


"Entahlah La, yang ku tahu ujian pernikahan setiap orang berbeda. Senang dan sedih selalu beriringan. Tidak ada kebahagiaan yang hakiki, juga tidak ada kesedihan yang abadi. Ini dunia, bukan surga. Apa yang aku harapkan?" Julia tersenyum sinis, menertawakan nasibnya.


"Lalu kenapa kamu lari dari ujian-mu Jul? Kenapa kamu tidak menghadapinya dengan berani?" Ucap Mala lembut pelan namun terasa menusuk.


Julia tersentak dengan pertanyaan itu.Air mata mengalir tanpa kuasa ia tahan, lidahnya kelu tak mampu menjawab. Hatinya sedikit tersinggung. Apakah Mala serius ingin tahu atau hanya mengujinya saja.


"Aku tidak tahu La." Julia menggeleng pelan sembari mengusap ujung matanya.


"Apa kamu tidak mencintainya? Bukankah cinta mampu membuat kita memaafkan segala kesalahan?"


"Aku mencintainya … amat sangat. Dia orang yang sangat aku hormati. Tapi aku baru tahu, kadang orang yang kamu cintai malah memberimu luka yang paling dalam." Julia tak kuat lagi menahan rasa di dada. Bahunya berguncang. Terisak.


"Jul maaf, aku tidak tahu apa masalahmu dengan suamimu. Maaf aku sok tahu." Mala mengusap lembut bahu Julia.


"Tidak apa-apa. Aku senang mendengar pendapatmu. Kadang pendapat dari orang asing adalah pendapat yang paling jujur. Semenjak menikah aku tidak banyak bicara dengan teman wanita yang sebaya. Sahabat baikku sudah menikah, aku tidak bisa banyak curhat padanya karena menjaga harga diri suamiku." Jelas Julia memaksa diri untuk tersenyum.


"Dunia pernikahan memang tidak seindah kisah di novel-novel romance ya Jul." Mala kini berbalik menelungkup sambil memeluk guling. Ia bersiap untuk mendengarkan kisah Julia jika wanita itu berkenan membaginya.


"Betul sekali, aku cuma belajar ikhlas dan ambil pelajaran dari keadaanku saat ini. Namun, satu yang aku rasakan dari pelarian ini La. Sebenci-bencinya aku, sayangku masih lebih besar dari benciku. Serindu-rindunya aku padanya ternyata harga diriku jauh lebih besar lagi. Aku tersiksa. Cinta dan rindu tapi tak bisa kukatakan." Julia menatap Mala lekat.


"Ya Allah Jul, kalau kamu rindu … pulang dong. Kembalilah padanya. Aku doakan setulus hatiku, ada jalan bagi kalian untuk bisa kembali lagi. Aku yakin suamimu merasakan hal yang sama. Tapi gengsinya sama kayak kamu!" Mala mendengus kesal.


"Tidak segampang itu sister!" Tukas Julia manyun.


"Hadeeeeh, ada-ada aja problematika manusia dewasa. Pengen jadi anak kecil lagi aja biar ga ribet dengan hidup ini." Desah Mala berbaring meletakkan kedua tangan diatas kepalanya.


"Aku juga maunya gitu. Tapi beginilah jalan hidupku." Julia melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu tahu nggak, aku sebenarnya suka sama Bang Faqih?" Kaki Mala menyenggol kaki Julia, minta diperhatikan.

__ADS_1


"Tahu. Setiap kamu memandangnya seakan ada love-love keluar di bola matamu!"


"Ah! Masa sih? Kelihatan jelas ya?" Mala menangkup wajahnya yang merona.


"Ba-nget!" Julia melafalkan kata itu keras dan jelas.


"Tapi kok Bang Faqih nggak merasa ya? Apa dia nggak mau sama aku karena kami masih saudara?"


"Tidak usah menduga-duga. Faqih memang belum tertarik dengan pernikahan. Otaknya isinya hanya belajar, cari relasi, pengalaman dan uang. Cinta hanya selingan hiburan buatnya." Tutur Julia lempeng.


"Kok kayaknya kamu paham banget sih soal Bang Faqih?" Mala menaikkan sebelah alisnya.


"Pahamlah, aku kan mantannya. Ups!" Julia menutup mulutnya yang kelepasan.


Mata bulat Mala terbelalak, mulutnya menganga. Ia bangkit dari tidurnya dan berkacak pinggang.


"Tuuuuh kan, aku sudah curiga. Nggak mungkin kalian hanya sekedar kawan lama." Mala mencolek colek pinggang Julia gemas.


"Hihihihi, geli Mala. Maaf ya, aku kan nggak enak kalau jujur di awal. Abisnya kamu tu keliatan kecintaan banget sama Faqih. Aku khawatir kamu mikir yang nggak-nggak sama aku!" Julia menggeliat berkelit menghindari gelitikan Mala.


"Ish, aku tidak sedangkal itu Jul. Biarkan cinta memilih jalannya sendiri. Yang pasti tiap malam nama Bang Faqih ku sebut dalam doaku. Moga-moga suatu saat nanti ia mau menerima perjodohan kami. Amiinkan dong Jul!" Paksa Mala mengguncang lengan Julia.


"Aaamiiiin!" Julia mengaminkan doa Mala dengan kencang.


Julia dan Mala berpandangan sesaat lalu tertawa terbahak-bahak. Entah karena menertawakan nasib, entah menertawakan jiwa kanak-kanak yang masih melekat dalam diri. Yang pasti ada sesuatu yang berbunyi 'klik' diantara mereka.


***


Note :


*Pulang ke Bako maksudnya adalah mengawini kemenakan Ayah. Ini adalah jenis perkawinan yang ideal bagi masyarakat Minangkabau.


Dalam agama sendiri pernikahan dengan sepupu tidak ada larangan. Karena saudara sepupu bukanlah mahram. Pembahasan tentang mahram ada dalam surat an-Nisa, ayat 23.


Karena itu Allah menghalalkan untuk menikahi saudara sepupu. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya,


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاتِكَ


“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.” (QS. Al-Ahzab: 50)

__ADS_1


Wallahu 'alam bisshawab.


__ADS_2