
Waktu yang tepat untuk tahu kedewasaan seorang pria: Satu, ketika ia kehilangan hartanya. Dua, ketika tim bolanya kalah. -adimasnuel-
***
Telinga Julia berdengung hebat, kata-kata yang dilontarkan Septian seakan memukul kencang pendengarannya. Membawa petaka yang menghujam seonggok daging di rongga dada. Hanya Tuhan yang tahu betapa sakitnya luka yang bertahta disana.
Untuk beberapa saat Julia duduk bergeming di lantai seakan tak percaya dengan yang ia dengar.
"Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu."
Julia memandang nanar ke arah pintu yang telah kembali tertutup. Ia memejamkan mata membiarkan air matanya menganak sungai. Berharap air mata itu akan membawa pergi segala lara. Julia menarik lututnya dan mendekap tubuhnya erat-erat. Ia begitu takut hatinya yang telah pecah berkeping-keping berserakan di lantai.
"Hanya kali ini saja aku menangis. Besok tak akan ada lagi air mata untukmu."
***
Pintu itu masih tertutup, bahkan setelah Julia menghabiskan waktu kurang lebih dua jam untuk berkemas. Julia telah memesan taksi online yang akan membawanya pergi sejauh mungkin Septian.
Julia sadar tindakannya hari ini adalah hal paling bodoh dan pengecut yang pernah ia lakukan. Ia lari dari masalah dan tanggung jawab. Tapi harga diri-nya yang telah diamplas begitu kasar oleh kata-kata Septian harus disembuhkan. Bukankah Septian sudah mengizinkannya pergi?
Drrrrt drrrrt drrrt!
Ponselnya bergetar, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Perasaan Julia mengatakan nomor itu berasal dari taksi online yang dipesannya.
"Ya halo?" Sapa Julia menerima panggilan.
"Saya sudah sampai di rumah yang berpagar tinggi, sesuai dengan peta yang Mbak berikan." Ucap suara diseberang.
"Baik, saya akan segera keluar. Tunggu sebentar ya."
"Baik Mbak."
Julia mendesah berat dengan hati bimbang dan hancur lebur ia menarik kopernya keluar dari kamar. Langkahnya terhenti di pintu ruang kerja Septian. Ia menunggu beberapa saat, berharap Septian akan muncul dari pintu itu dan menyadari betapa besar luka yang ia ciptakan di hatinya.
Bahkan Julia bersumpah di dalam hati jika Septian keluar dan menahannya, ia akan memaafkan segala perkataan suaminya tanpa diminta.
Julia mengigit bibirnya cemas. Hasratnya untuk mengetuk pintu itu teramat besar. Cinta, sebuah rasa abstrak yang mengunci tubuhnya untuk bertahan. Cinta mampu membuatnya takluk pada kesombongan yang dilemparkan oleh Septian. Hanya satu yang melakukan perlawanan tegas. Harga dirinya. Rasa itu menentang keras untuk merendah dan dikuasai.
"Sadarlah Julia, kau terlalu berharga untuk dianggap tak kasat mata. Bahkan tanpanya kau mampu menjejakkan kaki di bumi ini dengan berani. Dia telah menawarkan kebebasan. Maka ambillah kesempatan ini." Gumam batinnya berperang.
Drrrt drrrrt drrrrt!
__ADS_1
Panggilan masuk muncul lagi dari ponselnya. Tanda sang sopir sudah tak sabar menunggunya.
Tanpa pikir dua kali Julia melepaskan cincin solitaire yang melingkar di jari manisnya. Ia meletakkan cincin itu di celah pintu sebagai salam perpisahan.
Julia menggeret kopernya dengan susah payah menuruni tangga. Ia tak perlu meminta izin pada Si Mbok dan Bapak. Karena yang punya kuasa atas dirinya telah mengikhlaskannya pergi. Dengan langkah tergesa Julia menarik kopernya menuju pagar.
Namun gerakannya yang terburu-buru itu tertangkap oleh mata si Mbok yang sedang bersantai di ruang keluarga.
Hati si Mbok berdegup kencang seakan runtuh melihat Julia dengan kopernya. Si Mbok menyusul Julia yang telah sampai di pagar bersiap membuka kunci.
"Juliaaaa! Mau kemana nduk?" Panggil Si Mbok mendekati Julia setengah berlari.
Julia terhenyak, gerakan tangannya terhenti. Mau tak mau ia berbalik untuk menghadapi Si Mbok. Ia menatap mata tua si Mbok yang tergurat kekhawatiran. Segenap rasa bersalah menyebar ke seluruh pori-porinya.
"Maaf Mbok, Julia pergi dulu." Ucap Julia meraih tangan si Mbok cepat dan menciumnya.
"A-apa yang terjadi. Apa Septian tahu?" Sahut Si Mbok tergagap saking terkejutnya.
Julia mengangguk cepat. Ia tak punya waktu untuk menjelaskan hal pelik ini. Julia melirik ke arah taksi yang jendelanya telah terbuka. Wajah Sopir terlihat ingin tahu apa yang terjadi.
"Mas Septian menghendaki saya pergi. Maaf Mbok saya harus bergegas. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Julia melepas tangan si Mbok dan melesat menuju taksi online.
Julia bahkan memaksakan kopernya masuk ke kursi penumpang dan segera menutup pintu mobil agar cepat menghindari si Mbok.
Tak adakah rasa iba di hati menantunya itu melihatnya kebingungan?
"Langsung ke Bandara saja Pak." Ucap Julia pada sopir yang juga tampak terkejut dengan adegan drama di hadapannya.
"B-baik mbak." Sahut Sopir taksi gugup.
Mobil itu bergerak meninggalkan si Mbok yang mematung. Julia bahkan tidak melihat ke belakang. Ia khawatir ia akan kalah dengan rasa sayang. Setelah rumah dan Si Mbok lenyap dalam pandangan barulah Julia menyandarkan dirinya yang lelah ke kursi. Matanya menerawang jauh ke luar jendela, langit telah gelap. Malam merayap naik membawa matahari ke peraduan.
"Maafkan aku telah mengecewakanmu Mbok. Aku benar-benar telah kehilangan adab, tega mengabaikanmu seperti itu."
***
Si Mbok masih tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Setelah taksi hilang dari pandangan barulah ia tersadar. Sekonyong-konyong si Mbok berlari masuk kedalam rumah. Diabaikannya rasa ngilu di persendiannya yang tua. Ia menaiki tangga dan menggedor ruang kerja Septian.
"Tiaaaaaaaan! Buka pintunya!" Jerit si Mbok histeris.
Septian yang sedang memakai headphone terlonjak karena kuatnya gedoran pintu. Jantungnya terpompa kencang mendengar suara histeria si Mbok. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi. Dengan langkah besar dan sigap ia membuka pintu.
__ADS_1
Dihadapannya mata Si Mbok berkobar penuh amarah. Bahu si Mbok naik turun mengatur nafas.
"Ada apa antara kamu dan Julia? Kenapa kamu biarkan dia pergi?"
Seperti orang yang sedang tidur dibangunkan paksa dengan siraman air di wajah. Septian tergagap. Ia tak menyangka Julia menganggap serius gertakannya tadi.
"Benarkah ia telah pergi?" Septian bergerak untuk memastikan.
Langkah Septian terhenti pada sebuah benda kecil yang tak sengaja ia injak di ambang pintu. Menusukkan rasa sakit di telapak kakinya. Septian berlutut untuk memungut benda itu.
"Ini cincin Julia." Gumamnya lirih.
Ia mengerti apa maksudnya, cincin itu sengaja dilepaskan Julia. Sebuah tanda bahwa istrinya telah menyerah untuk berusaha mempertahankan ikatan mereka. Septian menuju kamar tidurnya diikuti si Mbok. Ia menuju lemari pakaian dan membukanya. Sebagian besar pakaian Julia telah raib. Septian terduduk di ranjang. Lemah. Seakan ia telah kehilangan separuh dari dirinya.
"Kenapa diam saja. Susul istrimu cepat! Dia pergi sendirian. Apa kamu tidak tahu di luar sana banyak bahaya!" Desak Si Mbok.
"Biarkan saja Mbok. Sudah terlambat." Ucap Septian putus asa.
"Astaghfirullah Tian! Apa-apaan kalian ini. Kalian orang paham agama tapi tidak bisa berfikir jernih menghadapi masalah. Kemana akal kalian!" Jerit si Mbok penuh kekecewaan.
"Sudah Mbok, sudah cukup jangan teriak-teriak. Kepala Tian sakit sekali."
Septian menunduk, tangannya bertumpu pada paha. Ia menjambak rambutnya kasar berharap denyutan yang menyiksa itu enyah.
Tes!
Darah menetes dari hidung Septian. Si Mbok terbelalak. Ia segera tahu kondisi Septian pun tidak sedang baik-baik saja.
"Ya Allah ya Rabbi, persatukanlah kembali anak dan mantuku." Doa Si Mbok mendekati Septian yang tampak pucat.
***
Jika saja Julia tidak berlari sekuat tenaga dari parkiran, pasti ia sudah terlambat check in. Dengan napas tersengal-sengal ia menunjukkan bukti tiket elektroniknya pada petugas bandara yang terheran-heran. Setelah proses pemeriksaan Julia menarik kopernya menuju boarding pass untuk menunggu keberangkatan.
Julia menghempaskan tubuhnya yang letih di kursi tunggu. Untuk beberapa saat ia duduk terdiam mengingat momen menyakitkan yang ia lewati hari ini. Julia merogoh saku gamisnya untuk meraih ponsel. Ia menghidupkan layar dan mengamati wallpaper yang berupa foto akad nikahnya.
Betapa ia begitu iri dengan pasangan yang tersenyum penuh cinta dan kebahagiaan di layar itu. Memori indah menyeruak, mengorek nostalgia manis. Siapa yang sangka kini keadaan mereka jauh berbeda.
Julia memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, memaksa segala kenangan keluar tak bersisa. Sayang jejak Septian begitu kuat mencengkram sanubari. Julia kembali menatap layar ponselnya dengan perasaan yang susah dijelaskan. Diusapnya lembut wajah Septian disana.
__ADS_1
"Selamat tinggal sayang."