CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Kilas Balik


__ADS_3

Dian memeluk bantal gulingnya yang lembab karena lelehan air mata. Semenjak pulang dari acara ngunduh mantu Mas Septian perasaannya kacau balau. Betapa sakit hatinya melihat pemuda yang pernah diincarnya itu duduk bersanding dengan wanita asing di desa ini.


Mau tidak mau ia mengakui Julia memang anggun, dewasa dan sangat sepadan dengan Septian. Diingatnya tangan Septian yang tak pernah lepas merangkul Julia seakan takut istrinya itu beranjak sedikit saja. Hal itu tambah membuat hatinya terbakar.


Tangis Dian semakin kencang, pikirannya terlempar ke peristiwa beberapa bulan yang lalu. Saat ia tak sengaja mendengar percakapan Bapak Ibunya.


***


"Pak … Ibu dapat kabar burung kalau Bu Rahayu sedang mencarikan jodoh untuk anak lanangnya yang bungsu itu, si Septian!" Bu Kades berbicara pelan pada suaminya seperti takut akan didengar orang.


"Terus?" Pak Kades menautkan alisnya.


"Kita jodohkan saja dengan Dian. Walaupun Dian masih muda dan belum selesai kuliah Ibu yakin dia bisa jadi istri yang baik." Bu Kades tersenyum meyakinkan suaminya.


"Hmmm … Bapak tidak setuju. Dian minimal harus selesai kuliah dulu. Anak itu belum kelihatan kemandiriannya. Masak nggak bisa, beberes rumah nggak bisa. Bagaimana mau melayani suami?" Suara Pak Kades terdengar ragu.


"Bapak ini! Kalau dia menikah dengan Septian, anak kita nggak perlu repot. Bu Rahayu pasti akan mencarikan pembantu. Masa punya mertua juragan ikan, sawah ladang dimana-mana tega nyuruh anak Pak Kades hidup susah!" Bu Kades mulai ngotot.


"Bu Rahayu dan Pak Rahmat Segoro itu beda Bu. Mereka itu walaupun uangnya banyak semua anaknya hidup mandiri. Mereka orang yang sederhana. Bapak takut anak kita tidak bisa membawa diri masuk ke keluarga mereka karena selalu kita manjakan."


"Pokoknya Ibu akan pendekatan duluan ke Bu Rahayu. Ini kesempatan langka, anak lanang bungsu juragan ikan yang ngganteng dan sholeh itu harus jadi menantu kita!" Tegas Bu Kades.


Pak Kades hanya bisa geleng-geleng kepala heran melihat tekad bulat yang terpancar di mata istrinya.


Dian adalah anak bungsu Pak Kades, ia termasuk gadis tercantik dan terpelajar di desanya. Banyak pemuda desa yang ingin berteman dengan Dian. Namun Dian menjaga jarak dengan mereka.


Dian mempunyai standar tinggi soal pria, ia hanya mau didekati pria yang kaya, stylish dan gaul. Ia sendiri saat ini sudah punya pacar. Wibowo namanya, kakak tingkat di kampus. Lelaki yang kasar dan tidak tampan, namun uangnya bisa membuat Dian bertahan.


Setelah mendengar perbincangan antara Bapak dan Ibunya, Dian mencoba mengingat-ingat sosok Septian yang dibicarakan. Dian memang jarang bergaul dengan pemuda-pemudi desa. Karena selepas SMA ia ngekos di jantung kota Yogyakarta.


Dian hanya pulang kerumahnya setiap hari Sabtu dan Minggu saja. Ia sungguh penasaran dengan sosok Septian yang kata Ibunya ngganteng, baik hati, sholeh dan anak orang kaya di desanya.


"Sepertinya nggak ada yang seperti itu di desa ini. Apa aku yang nggak pernah lihat ya?" Gumam Dian.


***


Keesokan harinya Dian berniat untuk mengorek informasi tentang rencana Ibunya untuk menjodohkan ia dengan Septian. Saat Ibunya sedang asyik nonton sinetron, Dian menghampirinya.


"Kok Dian nggak pernah lihat ya anaknya Bu Rahayu yang namanya Septian itu?" Dian menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Masa?" Mata Bu Kades tak beranjak dari TV.


"Iya Bu. Serius!"


"Septian itu anaknya memang kuper, kerjaannya hanya dirumah dan ke mesjid saja. Ibu nggak tahu dia punya kerjaan atau tidak. Tapi kalau di posisi dia buat apa kerja susah-susah kalau Bapaknya juragan ikan, sawah ladang luas. Saudara-saudaranya juga sudah sukses semua." Jawab Bu Kades tanpa melepas pandangannya.


"Memangnya Bu Rahayu itu kaya banget ya Bu?" Dian mulai kepo.

__ADS_1


"Iyalah … Nggak kamu lihat rumah mereka yang paling besar di desa ini. Septian sebagai anak bungsu bakal mewarisi rumah gedong itu!" Bu Kades mulai tertarik membahas topik ini dengan anaknya.


Dian manggut-manggut, radarnya dalam mengendus pria kaya perlu dipertanyakan kali ini. Bisa-bisanya dia melewatkan sosok langka Septian.


"Dimana Dian bisa ketemu Septian Bu?" Dian menaikkan alisnya.


"Di mesjid, dia nggak pernah ketinggalan sholat berjamaah. Coba kamu shalehah sedikit aja. Sering ke masjid mungkin Septian bisa kepincut sama kamu!" Gerutu Bu Kades.


"Males ah! Ibu aja yang dekati Bu Rahayu, siapa tahu beliau minat jadi besan." Dian mengibas rambut ikalnya dengan percaya diri.


"Hmmmm … Iya, nggak usah kamu ajari. Ibu memang bakal dekati Bu Rahayu." Sahut Bu Kades dengan senyum penuh arti, dalam otaknya ia sudah mengatur strategi.


***


"Anak lanangmu seng ragil udah punya pacar belum?" Tembak Bu Kades ke Bu Rahayu usai arisan RT di rumah salah satu warga.


"Belum, kenapa? Mau daftar jadi besanku?" Bu Rahayu bergurau.


"Ya mau lah. Kita jadikan saja anakmu dengan anakku yang bungsu, si Dian." Bu Kades menggamit lengan Bu Rahayu, digiringnya Bu Rahayu duduk di kursi pojok agar tidak ada yang mendengar obrolan mereka.


"Nanti aku tanyakan dulu ke Septian. Dia itu anaknya agak tertutup, jarang cerita soal masalah pribadi. Kalau dia memang minat sama anakmu ya aku ikut saja." Lanjut Bu Rahayu.


"Tapi kamu kan bisa meyakinkan Septian mau sama anakku Bu .… " Bu Kades tersenyum mengintimidasi.


"Aku ndak bisa maksain. Semua anakku nyari jodohnya atas kehendak mereka sendiri. Menjodohkan anak sah-sah saja. Tapi kalau anakku nggak mau, kamu jangan marah." Jawab Bu Rahayu.


"Kalau gitu kita pertemukan saja anakmu sama anakku. Kan mereka belum saling kenal." Bu Kades ngotot melancarkan misinya.


"Hehehehe, makasih ya Bu Rahayu. Aku juga nggak bakal maksa, semua kita kembalikan pada anak kita masing-masing." Sahut Bu Kades dengan mata berbinar.


***


Bapak Ibu Kades beserta Dian datang di hari Minggu sore sesuai janji. Dian memakai celana jeans dan kemeja lengan panjang yang sengaja tidak dikancing bagian depannya. Agar terlihat tanktop ketat yang membungkus tubuhnya yang ramping dan kencang. Rambutnya yang ikal dan tebal diikat ekor kuda.


Bapak dan Si Mbok menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Mereka asyik berbincang dengan Bapak Ibu Kades.


Sementara Dian yang tidak terlalu pandai membawa diri hanya duduk berdiam sambil memainkan ponselnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Namun mata Dian sibuk mengawasi sosok Septian yang sedang mengipasi ikan bakar bersama saudaranya.


"Hmmm … memang ngganteng. Kok sekarang baru kelihatan," Dian bicara dalam hati.


Bu Kades mencolek paha Dian, memberi kode agar Dian mendekati Septian. Dian menghela nafas berat, enggan rasanya harus bersusah payah membuat Septian terkesan. Padahal selama ini tak perlu berusaha pun ia selalu didekati pria terlebih dahulu.


Dian berjongkok di depan Septian yang sedang membakar ikan.


"Hai Mas .... " Dian melempar senyum manisnya sambil memberikan tangan untuk bersalaman.


"Hai." Sapa Septian balik, ia menangkupkan tangan di depan dada. Tak mau menyambut salam gadis itu.

__ADS_1


"Oh, buka muhrim ya?" Dian menarik tangannya dengan rasa malu.


"Nama saya Dian. Mas namanya Siapa?" Tanya Dian basa-basi.


"Septian." Jawabnya singkat.


"Ada yang perlu saya bantu Mas?" Tanya Dian dengan suara sengaja dilembut-lembutkan.


"Tidak ada, disini banyak asap. Kamu lebih baik duduk bersama Mbakku saja disana." Jawab Septian tanpa melihat wajah Dian, hanya tangannya saja yang bergerak menunjuk arah Mbak-nya duduk.


Dian merasa tersinggung tidak diperhatikan. Ia segera bangkit dan kembali bergabung bersama Ibunya. Ia tidak mau kalau harus duduk bersama Mbaknya Septian yang sibuk mengasuh anaknya yang sedang mengoceh.


"Dasar pria sok jual mahal!" Desis Dian manyun.


Sampai acara bakar ikan usai Septian tidak sekalipun memberikan perhatian pada Dian. Malah ia menganggap gadis itu tak ada. Bukan berarti ia tidak paham maksud gadis itu mendekatinya. Ia sadar gadis itu sangat cantik, tapi sayang tidak masuk dalam kriterianya.


Sebelum Maghrib acara bakar ikan selesai. Bapak dan Ibu Kades pamit undur diri dengan wajah sumringah. Sementara wajah Dian sudah terlihat ingin cepat-cepat pergi dari sana. Bapak dan si Mbok membekali mereka dengan beberapa ekor ikan segar untuk dibawa pulang.


Begitu mereka lepas dari pandangan Si Mbok langsung mendekati Septian.


"Jadi bagaimana menurutmu anaknya Pak Kades tadi. Cantik kan?" Goda si Mbok.


"Iya cantik, tapi aku nggak suka." Jawab Septian kesal.


"Kok mukamu seperti kurang senang?" Si Mbok menangkap sinyal dari wajah putranya.


"Terlalu agresif, Tian ndak suka!" Jawab Septian tegas.


"Jadi kamu maunya yang seperti apa sih Tian. Jangan terlalu pemilih. Tinggal kamu anakku yang belum menikah. Harapanku sebelum mati, aku masih sempat liat cucu dari kamu!" sahut si Mbok terdengar kesal.


"Maafkan Tian Mbok. Namanya hati nggak bisa dipaksakan. Orang saya belum sreg kok dipaksa? Mbok nggak usah risau, jodoh saya sudah diatur Allah. Mbok sabar dulu ya." Jawab Tian lembut mengelus lembut bahu Mboknya.


"Astaghfirullah …. " Si Mbok spontan mengusap wajahnya, sadar akan kekhilafannya.


"Iya Mbok juga minta maaf sudah mendesak kamu. Sebenarnya ini karena Mbok merasa nggak enak sama Bu Kades kalau kamu menolak anaknya," sambung si Mbok.


"Bilang saja sama Bu Kades yang sebenarnya Mbok. Saya nggak minat sama anaknya. Lagipula anaknya cantik, masih muda. Pasti banyak yang mau sama dia. Nggak usah nunggu jawaban dari saya." Jawab Tian datar.


"Iya, nanti si Mbok pikirkan cara menyampaikan sama Bu Kades agar tidak menyinggung perasaannya." Si Mbok memijit kepalanya yang tiba-tiba pening.


"Si Mbok sih … mau menjodohkan tapi nggak tanya kriteria yang saya mau seperti apa." Septian membuat mimik wajah cemberut.


"Kamu maunya yang seperti apa?" Si Mbok mengelus rambut anak bungsu kesayangannya itu.


"Yang shalihah, minimal sudah pakai kerudung, mau diajak belajar agama. Simpel kan?" Septian tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.


"Baik, baik Mbok ngerti. Mbok tidak akan mendesak kamu lagi. Maaf ya Nak," Jawab si Mbok mengelus pipi Septian lembut.

__ADS_1


Dalam hati Bu Rahayu risau menyusun kalimat penolakan yang sopan lagi santun untuk Bu Kades.


"Semoga mereka tidak tersinggung …. " Desah si Mbok melepaskan nafas berat.


__ADS_2