CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Yang Belum Usai


__ADS_3

Urusan renovasi balkon untuk menambah dapur sudah selesai. Waktunya bersih-bersih debu yang menguras tenaga. Julia dan Septian bekerja sama membersihkan setiap sudut rumah. Meskipun melelahkan Julia puas melihat hasil akhirnya. Ia kini memiliki sebuah dapur mungil yang rapi dan bersih untuk bereksperimen masak memasak.


Septian juga sudah membeli perabotan untuk mengisi lantai dua. Sebuah sofa dan TV bertengger manis di ruang tamu. Kulkas ukuran sedang untuk menyetok bahan makanan. Dan sebuah mesin cuci untuk meringankan pekerjaan Julia.


Julia mensyukuri apa yang diberikan suaminya. Walaupun tinggal serumah dengan mertua tapi ia memiliki kebebasan untuk belajar mengatur rumah tangganya sendiri. Julia sangat suka memasak dan ia selalu melebihkan porsinya untuk dibagi ke mertuanya di lantai bawah.


Walaupun hanya dirumah saja, hari-hari Julia tetap sibuk. Ia mengurus pekerjaan rumah, memasak. Setiap sore ia akan kumpul-kumpul dengan saudara Septian untuk menjalin keakraban. Jika malam telah datang ia fokus mengerjakan tugas yang diberikan Septian untuk melakukan pembukuan dan menjawab pertanyaan dari klien. Septian juga semakin bekerja keras, sadar rekeningnya harus segera diisi ulang demi stabilitas rumah tangga.


***


"Coba dipilih mau dekorasi pelaminan yang model apa?" Tanya si Mbok menyerahkan album promo dari sebuah WO kepada Julia yang sedang menemaninya nonton sinetron.


"Baik Mbok …. " Julia menerima album itu dan mengamati setiap gambarnya. Ia benar-benar lupa kalau sebentar lagi waktunya ngunduh mantu.


"Saya mau yang ini saja Mbok," Julia menunjuk ke sebuah pelaminan bertema rustic yang simpel namun romantis. Pelaminan itu berhiaskan lampu-lampu bohlam kecil, bunga-bunga putih dan daun-daunan kering sebagai latarnya.


"Baik. Gaun pengantinnya mau yang seperti apa?"


"Bagaimana kalau pakai gamis akad nikah kemarin saja Mbok?" Usul Julia, ia tidak tahu harus memilih baju apa. Menurutnya gamis akad nikahnya kemarin masih sangat bagus dan cantik.


"Yang lain lah Jul biar kelihatan beda. Lagipula sewa gaunnya sudah sepaket. Sayang kalau tidak digunakan." Titah si Mbok.


Julia akhirnya menurut. Ia memilih sebuah gaun bridal lengan panjang berwarna putih yang dengan aksen renda, brokat dan taburan mutiara bercampur kristal Swarovski. Semoga nanti pihak MUA yang disediakan oleh WO mau mendandaninya secara syar'i.


Urusan catering dan undangan sudah diurus oleh si Mbok dan Bapak. Julia dan Septian tinggal terima bersih saja. Berhubung orang tua Septian dan warga desa belum paham dengan konsep pernikahan syar'i. Jadi mereka mengalah untuk menghindari pembicaraan yang kurang mengenakkan di kemudian hari.


Septian meminta Julia memakai sarung tangan jika nanti harus terpaksa bersalaman dengan yang bukan muhrimnya. Dakwah memang tidak bisa dilakukan dengan mendadak dan tergesa-gesa. Dakwah harus disampaikan dengan lembut dan perlahan agar masuk ke hati penerimanya.


Dakwah yang baik bukan hanya lewat retorika saja tapi juga disertai adab dan akhlak. Julia sebagai orang baru akan mengikuti aturan main di daerah itu. Prinsipnya, dimana langit dipijak disitu bumi dijunjung. Ia akan kooperatif selama pelaksanaan acara tidak mengandung kesyirikan.

__ADS_1


***


"Wajah Mbak Julia memang dasarnya sudah cantik. Mau di make up natural atau yang bold?" tanya MUA saat mulai mengerjakan wajah Julia.


"Terimakasih. Saya mau yang natural saja mba tidak usah pakai bulu mata palsu dan cukur alis ya. Nggak apa-apa kan mbak?" Julia menyampaikan keinginannya.


"Siap mbak … Tenang saja, saya paham kok. Sekarang memang sudah banyak pengantin yang maunya tampil syar'i." Kata MUA meyakinkan.


"Nanti kerudungnya dibuat simpel aja ya karena dress-nya udah heboh." Lanjut Julia lagi.


"Oke mbak. Permisi ya saya mulai dulu makeup-nya." MUA dengan tangannya yang gemulai mulai melukis wajah Julia.


Julia melakukan panggilan video call dengan Ibunya setelah selesai dirias Walaupun wajahnya didandani natural tetap saja Julia terlihat memukau dan manglingi.


"Cantik kali kamu Jul .... " Ujar Ibu lirih sambil mengusap air matanya. Jauh di lubuk hati ia ingin ada bersama Julia, menjadi saksi mata momen berharga dalam hidup anaknya.


"Sudah jangan nangis, doakan acaranya lancar tidak ada hambatan. Kakak mana Bu?" Sambung Julia lagi.


"Pergi sama temannya tadi. Pasti lah ibu doakan kamu Jul. Selalu. Lebih-lebih semenjak kamu jauh dari Ibu." Ibu masih mengusap air matanya.


"Semoga nanti Mas Septian ada rezeki lebih jadi bisa pulang ke Pekanbaru tahun depan." Julia menenangkan Ibunya.


"Aamiin ya Rabbal 'alamin," sahut Ibu.


"Ya sudah kirim salam saja sama kakak. Julia tutup dulu ya panggilannya. Nanti kita sambung lagi, acaranya sudah mau dimulai." Julia izin pamit.


"Iya nak. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."

__ADS_1


***


Untuk kedua kalinya Septian dan Julia menjadi raja dan ratu sehari. Bedanya kali ini mereka duduk berdua bersanding di pelaminan. Dan acara mereka riuh dengan iringan lagu campursari. Julia merasa malu dan jengah ditonton ratusan tamu yang datang.


Banyak warga desa yang memuji kecantikan Julia. Namun ada juga warga yang berbisik-bisik mengenai asal usul Julia yang berasal dari jauh dan tidak ditemani kerabatnya di hari penting seperti ini.


Julia dan Septian menyalami tamu-tamu undangan dengan ramah. Sebagian dari tamu undangan adalah orang-orang penting di desa. Keluarga Septian cukup terpandang di masyarakat karena kesuksesan usahanya.


Dari kejauhan Julia dapat melihat sosok Dian bersama orang tuanya memasuki area pelaminan. Ayah Dian sang Kepala Desa terlihat berwibawa, beberapa tamu sengaja berdiri untuk menyalami beliau. Ibu Kades terlihat cantik meskipun sudah berumur dengan ramah ia menyapa dan bersalaman tamu undangan.


Dian dan orang tuanya duduk di meja tamu khusus. Tepat di depan pelaminan. Hati Julia semakin tak enak saat Dian dan Ibu Kades mengamati dirinya dengan tatapan menilai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada sirat tak suka dari wajah Ibu Kades. Sementara Dian terlihat lesu tak bersemangat. Ia hanya balas menyapa tamu yang menyapanya dengan senyum dipaksakan.


Setelah menikmati hidangan yang tersedia, Pak Kades bangkit mengajak anak istrinya untuk bersalaman dengan Septian dan Julia.


"Selamat ya Septian, semoga cepat dapat momongan!" Pak Kades menepuk-nepuk lengan Septian.


"Terimakasih Pak sudah menyempatkan hadir," jawab Septian sopan.


Setelahnya Septian menangkupkan tangan di dada sebagai ucapan salam pada Ibu Kades. Raut wajah Ibu Kades tampak tidak senang karena Septian menghindar bersalaman dengannya. Julia langsung menjabat tangan Ibu Kades dengan ramah demi kesopanan.


"Selamat ya semoga langgeng. Baik-baik sama Septian dia pemuda yang baik. Kalau bukan karena kamu, dia sudah jadi menantu saya." Ujar Ibu Kades pelan nyaris berbisik sambil memeluk Julia.


Bulu kuduk Julia meremang, ia takut dengan sosok bu Kades yang membuatnya merasa terancam. Jantung Julia berdegup keras seakan berlomba. Julia tak mampu menjawab, ia hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum pahit.


Dian ikut menangkupkan tangan di dada sebagai salam pada Septian. Kemudian ia langsung menyalami Julia namun tak berkata apa-apa. Hanya wajah cantiknya tampak murung. Ia menatap Julia dan Septian bergantian dengan ekspresi yang susah diartikan.


Sepanjang acara Julia terus gelisah. Berulang kali ditatapnya Septian dengan bingung. Hatinya bertanya-tanya.


"Apa memang ada hal yang belum selesai antara Dian dan suaminya?"

__ADS_1


__ADS_2