
Sebab aku tahu cinta terbaik akan selalu pulang.
Jika kau tak kunjung datang,
barangkali kau memang ditakdirkan sebatas kisah yang hanya layak tersimpan sebagai kenangan.
- Boy Candra
***
Setelah kepergian Julia, Septian mengerahkan seluruh waktunya untuk membenahi masalah yang terjadi di toko. Ia mengesampingkan usaha utamanya di bidang programming. Usaha itu sudah berakar kuat, karenanya ia berani meninggalkannya sejenak dan mengangkat seorang team leader yang sudah teruji kapasitas dan loyalitasnya untuk mengawasi proyek.
Dua Minggu pertama Septian bekerja keras membersihkan nama toko yang tercoreng dengan mengurus ulang segala yang perlu dilakukan ke dinas kesehatan dan BPOM. Ia harus melewati alur birokrasi yang rumit dan rangkaian kunjungan dari instansi tersebut untuk meninjau jalannya produksi dan pengemasan. Ia memastikan segalanya sesuai dengan standar.
Ia juga meminta izin pada Si Mbok untuk menggunakan halaman belakang rumah sebagai lokasi untuk produksi tambahan. Ia tidak ingin lokasi produksi jauh dari jangkauannya. Karena ia ingin memastikan segalanya berjalan dibawah pengawasannya.
Perlu kerja ekstra untuk menanamkan kembali kepercayaan dari konsumen. Karena itu ia membuat website khusus untuk toko mereka yang memberi informasi tentang produksi dan informasi produk. Jika Julia melakukan promosi lewat sosial media. Septian menggunakan cara yang hampir sama, ia menggunakan jasa blogger dan vlogger untuk meliput toko dan sistem produksinya. Ia sengaja membuka rahasia dapur produksi mereka untuk menghapus citra "kotor" yang sempat melekat.
Setelah dirasa semua matang Septian mantap membuka kembali toko gerai oleh-oleh itu dengan nama lama namun logo baru agar memberi kesan segar di mata konsumen.
Malam itu Septian sibuk mencoret-coret agendanya, menuliskan segala ide dan strategi penjualan. Adrenalinnya terpacu untuk menyelesaikan semua ini sebaik mungkin. Saking bersemangatnya fokus pada toko jadwal makan dan tidurnya berantakan. Ia juga merasakan stress dan kelelahan yang amat sangat. Kini ia sadar bahwa perjuangan Julia mewujudkan mimpi itu bukanlah hal yang mudah.
Jika dalam programming ia hanya dihadapkan dengan monitor dan keyboard komputer, benda mati yang ia fungsikan untuk menciptakan kode-kode rumit dalam menjalankan sebuah sistem. Kini, saat membangun brand ia berurusan dengan manusia, makhluk hidup dengan segala perasaan dan pikiran kompleksnya. Ia betul-betul dipaksa untuk berpikir kritis dan cermat dalam menjalin komunikasi dan relasi. Semua itu tidak mudah. Melelahkan untuk orang introvert seperti dia.
__ADS_1
Ia menyesal telah membiarkan Julia melewati segala kesulitan seorang diri. Dulu ia berfikir apa susahnya sekedar membangun brand? Julia yang ia percaya cerdas dan gesit pasti bisa melakukannya seorang diri. Tak pernah sekalipun ia mengulurkan bantuan. Hanya memberi saran sesekali tanpa solusi.
Septian mendesah berat mengingat hal yang sudah terjadi. Ia kembali menekuri buku agenda dengan segala coretan-nya.
Setelah semua perencanaannya sembilan puluh persen tuntas. Ia mengambil ponselnya dan menulis pesan lewat chat pada Riska.
"Ris tolong semua karyawan produksi yang sistem kerjanya harian dikumpulkan semua besok siang setelah zhuhur di toko. Saya mau bertemu mereka semua dan memberi pengarahan sebelum toko kita dibuka lagi secara resmi."
Septian mengirimkan chat tersebut yang lanngsung tercentang dua biru tanda telah dibaca. Tak sampai semenit Riska sudah membalas pesannya.
"Baik Mas, siap laksanakan."
Septian tersenyum lega, Riska benar-benar bisa diandalkan.
Septian beranjak ke tempat tidur untuk beristirahat. Sambil menunggu kantuk ia membuka gallery foto yang ada di ponselnya. Malam ini ia betul-betul merindukan Julia. Ia membuka album pernikahan yang sengaja ia simpan. Ia tersenyum pilu memandang foto dua insan yang saling berpandangan diliputi asmara. Tanpa sadar air matanya telah meleleh menanggung nestapa.
Septian memukul dadanya yang sesak. Sepotong daging dalam rongga dadanya berdenyut ngilu. Cinta bisa membuat manusia jadi gila. Namun, cinta jenis apa yang bisa ia tawarkan sementara ia adalah pria pengecut yang tidak dewasa. Kata cinta bisa jadi hanyalah omong kosong belaka.
Septian sadar, jika ujian ini tidak hadir dalam kehidupannya, ia tetaplah menjadi anak manja yang angkuh tidak sadar akan kesalahan dan kekurangannya. Dan dengan segenap jiwa ia berjanji akan mengubah semuanya. Ia bertekad akan menemukan Julia dan menjadi sosok imam yang bertanggung jawab dan matang untuknya.
***
Tiga minggu yang lalu.
__ADS_1
Julia menghabiskan tiga hari pertama di Kota Bukittinggi sebagai turis. Betapa bahagianya ia menjelajahi kota itu seorang diri. Di hari pertama dengan semangat ia bangun pagi-pagi dan berjalan kaki menuju Taman Panorama Ngarai Sianok. Matanya antusias berkelana menikmati pesona lembah kehijauan membentang yang ditawarkan alam.
Lewat waktu dhuha ia melangkah menuju Jam Gadang dan duduk di salah satu sudut taman sambil menikmati sate Padang. Kemudian ia mencuci mata ke pasar atas dan bawah. Menjelang siang Julia memutuskan makan siang dengan Nasi Kapau. Ia melampiaskan nafsu makannya, menikmati setiap sajian khas Minang yang ia rindukan.
Hari kedua, Julia kembali ke kawasan Jam Gadang dan Panorama. Tempat itu seakan punya magnet khusus untuk wajib dikunjungi setiap harinya. Setelah itu ia lanjut berwisata sejarah ke Rumah Kelahiran Bung Hatta. Namun, tubuhnya terasa kurang sehat sehingga ia tidak berlama-lama disitu dan kembali pulang ke homestay.
Hari ketiga, Julia memutuskan berjalan-jalan ke Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Bak anak kecil, Julia begitu antusias menjumpai hewan-hewan disana. Ia sibuk menjepret hewan-hewan itu dengan kamera ponselnya. Menjelang siang ia sudah tak sanggup lagi melangkah karena tubuhnya terasa begitu lelah. Julia memutuskan untuk kembali ke homestay.
Saat ia melewati Jembatan Limpapeh yang menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort de Kock. Ia mendengar seseorang memanggilnya dengan tegas penuh keyakinan dari belakang tubuhnya.
"Maaf kalau tidak salah kamu ... Julia kan?"
Bulu kuduk Julia meremang mendengar suara yang pernah menghantuinya di masa lalu. Seakan suara itu menggali luka yang pernah ia tutup rapat-rapat. Julia terpaku, ia ingin segera melanjutkan langkahnya yang entah kenapa membeku.
Ia mendengar suara derap langkah kaki mendekatinya. Julia meremas tali tas cangklongnya, menyiapkan hati untuk berhadapan dengan orang yang bayangan pun telah ia kubur dalam kenangan.
"Masya Allah. Ini beneran kamu Julia. Kamu berubah banyak. Apa kamu masih ingat dengan saya?" Kata pria itu enteng meluncur dari bibirnya.
Pria berkacamata itu memandang Julia dengan senyuman hangat mengembang. Sementara Julia melirik sekilas dan membuang muka, ia merasa matanya panas memerah menahan air mata kebencian. Jika ia tak punya sopan santun ia ingin sekali menampar pria itu untuk membalas sakit hatinya di masa lalu. Namun ia ingat, tangannya diharamkan menyentuh yang bukan muhrim meski itu berupa tamparan yang disertai rasa jijik.
__ADS_1
"Tentu saja saya masih ingat. Apa kabar Mas Faqih?" Ucap Julia datar tanpa ekspresi.
Pria itu menatap Julia dengan senyum puas penuh kemenangan seakan ia bangga dikenang lekat oleh sosok wanita didepannya. Tak perlu bicara orang-orang pun tahu jika pria itu mengamati Julia dengan kilat mata yang berbeda, seakan menemukan benda berharga yang pernah hilang.