CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Jomblo Bertakwa


__ADS_3

"Ya Allah ampunilah aku atas segala dosa dan kekhilafanku. Mampukan aku menjadi anak yang berbakti dan shalihah. Tuntun lah aku menjadi manusia yang lebih baik di setiap hari yang kujalani. Terima lah amalan ibadahku. Pertemukan lah aku pada jodohku, lelaki yang paling baik menurut kehendakMu ya Allah .… "


Berulang-ulang do'a tersebut Julia panjatkan, tak terasa kristal bening hangat mengalir dari matanya. Hati Julia terasa damai, rasanya separuh beban yang ada di hati ikut larut dalam air mata yang menetes. Sungguh Julia menikmati waktu berduaan dengan TuhanNya di sepertiga malam.


Sudah lama ia tidak melakukan sholat tahajud. Kini, dengan kesadaran penuh ia berusaha mengamalkannya. Julia ingin menjadikannya sebagai rutinitas. Semoga dengan memperbaiki ibadah, Allah akan membawanya ke jalan hidup yang lebih baik. Memberi keberkahan dalam hari-hari yang ia jalani. Agar masa jomblonya berfaedah.


***


"Julia, bangun Nak … sudah waktunya sholat subuh. Kenapa kamu tidur di lantai?," Ibu mengguncang tubuh Julia.


Julia terduduk kaget sepertinya ia ketiduran setelah sholat. Tulang bahunya terasa pegal dan ngilu karena tidur di lantai keras dan dingin beralaskan sajadah.


"Iya Bu, Julia ketiduran …. " Julia mengusap muka menghalau kantuk. Ia bangkit melepas mukena untuk berwudhu.


"Kok bisa sih sampai ketiduran seperti itu?" sahut Ibu keheranan.


Air wudhu yang dingin sejuk ampuh membilas kantuk yang bercokol di mata. Segera ia menunaikan sholat subuh. Setelahnya Julia berniat tidur lagi sekitar sejam-dua jam sebelum berangkat kerja.


"Kak Lucy, bangun sholat subuh dulu," Julia membangunkan Lucy yang masih tidur.


"Mmmmmhhhh …. " Lucy menggeliat dan wajahnya meringis berkerut karena terganggu.


"Kak, sholat dulu!" Julia mengeraskan suara.


"Berisik!" Lucy terdengar kesal.


"Buruan kak, sebelum habis waktu subuhnya!" Julia mencolek-colek pinggang kakaknya, agar kegelian.


"Jul, kamu rese banget sih!" Lucy duduk dengan rambut megar berantakan seperti singa.

__ADS_1


"Aku bangunin kakak karena sayang lho, kalo nggak sayang aku biarin aja kakak berdosa meninggalkan sholat!" jawab Julia kesal.


"Iya iya, aku sholat nih!" Lucy melangkah terhuyung menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Sementara itu Julia mengambil posisi enak di kasur, menarik selimut dan memeluk gulingnya yang sudah kempes. Baru saja kesadarannya terhanyut ke alam mimpi. Lucy yang rese mendorong tubuhnya keras ke tepi dinding.


"Geser dek, sempit nih!" dengus Lucy kesal.


"Pelan-pelan dong kak, sakit nih punggungku!" Julia menggeser posisi tidurnya mepet ke dinding.


Beginilah dukanya berbagi kasur dengan Lucy yang selalu mau bagiannya paling luas.


Mentang-mentang lebih tua Lucy selalu mau menang sendiri. Kebiasaan Lucy yang liar sekali saat tidur membuat Julia menderita. Hampir setiap hari ia jadi korban gaplokan dan tendangan kaki Lucy saat tidur.


"Ckckckckck ... punya dua anak gadis kok kelakuannya sama. Pada doyan tidur setelah subuh! "


Samar-samar Julia dengar gumaman Ibu dari luar kamar. Tapi Julia sudah tidak peduli, membuka kelopak mata pun ia sudah tak sanggup. Sejuk udara subuh merayunya tenggelam di dalam kantuk.


***


Ini enaknya kerja di tempat kerja saat ini. Kerja dimulai pukul 10 pagi, Julia punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri di pagi hari. Tidak tergesa-gesa seperti orang kantoran pada umumnya. Minusnya, Julia pulang kerja lebih lama daripada orang biasa. Tapi tak mengapa, ia menikmatinya.


Julia mandi dengan tenang, bahkan menyempatkan diri untuk luluran. Setelah berpakaian rapi ia menghampiri Ibu di teras. Ibu sedang ngobrol dengan pelanggan. Julia meracik lontong sayur dan membuat teh hangat untuk sarapan paginya.


Setelah selesai sarapan, Julia berpamitan pada Ibu. Ia berangkat ke tempat kerja dengan motor matic kesayangannya.


Sekitar pukul 9.30 Julia sudah sampai di tempat kerja. Ia masuk ke ruang guru untuk check log. Kelas pertama yang akan ia ajar dimulai pukul 10. Masih ada waktu untuk mempersiapkan bahan ajar dan materi.


Hari ini ia mengajar lebih semangat daripada hari biasanya. Hasilnya murid-muridnya keluar kelas dengan wajah ceria dan puas.

__ADS_1


Bahkan Julia masih sangat berenergi mengajar kelas sore, dimana ini jam rawan dimana ia mulai lelah dan ngantuk.


Semangat yang meledak-ledak ini apalagi sebabnya kalau bukan karena gajian. Hari ini Julia memetik buah dari kerja keras sebulan. Sungguh tak sabar melihat slip gaji bulan ini, Julia ingin melihat berapa banyak gajinya dipotong karena telat setiap Jumat untuk pengajian.


"Miss Julia, this is your salary slip for this month. We already transfer it into your account," Miss Chelsea managernya menyodorkan amplop putih.


"Thank you Miss," Julia menerima amplop tersebut.


"You're welcome. Now, I want to evaluate your teaching performance in this month," Miss Chel membuka notesnya.


Julia memperbaiki posisi duduknya yang tegang.


"Overall, so far so good. All the kids show improvement, there's no complaint from parents. Keep your excellent work. But you have to notice Edward, the kid from grade 1 in your class. His parents have high demand about his progress. So maybe you can give him extra task to bring at home as homework." Ujar Miss Chelsea menutup evaluasi kinerja.


Julia mencatat masukannya untuk memperbaiki kinerja. Julia cukup lega karena menurut Miss Chelsea kinerjanya bulan ini bagus. Tapi ia harus lebih memperhatikan siswanya yang bernama Edward. Si Edward ini siswa Julia yang paling sering membuatnya sakit kepala karena selalu menjadi biang keributan di kelas. Apalagi orang tua Edward tipe yang banyak menuntut dan ingin hasil cepat. Julia harus buat strategi ajar baru untuk menaklukkan si Edward ini.


Setelah sesi evaluasi, Julia mengintip slip gaji. Ia lihat potongan gajinya bulan ini hanya 80 ribu saja. Alhamdulillah, potongannya tidak terlalu besar. Masih bisa ditutupi dengan penghasilan sampingnya dari les privat.


Julia pulang pukul 7 malam. Sebelum pulang ke rumah ia memutuskan untuk belanja bulanan. Membeli keperluan kebutuhan rumah tangga untuk meringankan Ibunya. Julia tidak menganggap ini sebagai sebuah beban. Ini bentuk terima kasihnya karena selama ini Ibu telah menanggung segala kebutuhan mereka semenjak Ayah meninggal.


Julia membeli empat liter minyak goreng, dua kilo gula pasir, dua kaleng sarden ukuran besar, dua kantong tepung terigu, setumpuk mie instan, enam batang sabun mandi, satu pasta gigi jumbo, satu shampoo ukuran besar, sekilo deterjen, berbungkus-bungkus biskuit, sebungkus teh dan kopi, tak lupa kurma kesukaan Ibu.


Ibu biasanya akan ngemil buah kurma saat merasa badannya lemas dan tidak bertenaga. Julia juga menyukai buah kurma, kadang ia membuat susu kurma lalu dinginkan semalaman di kulkas. Rasanya enak, manis legit, benar-benar mood booster.


Usai membayar belanjaan, Julia pulang ke rumah dengan hati riang. Semoga Ibu senang dengan apa yang ia bawa.


"Ah, Ibu … semoga sebelum jodohku datang menjelang, aku bisa melakukan lebih banyak bakti untukmu."


Sepanjang jalan menuju rumah, Julia bergumam.

__ADS_1


"Ya Allah turunkanlah selalu rahmat dan berkahMu padaku sang gadis jomblo untuk selalu taat menjaga Marwah di jalanMu .... "


__ADS_2