CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Hanya Sekedipan Mata


__ADS_3

Gundahku sepadan denganmu


Hati ingin bertemu


Tapi raga tak mampu


Sungguh menyiksa menghitung detik waktu


Wahai waktu cepatlah berlalu


Tak tahukah kau aku menanggung rindu!


***


Septian menatap ke luar jendela pesawat yang akan membawanya pergi dari bumi Lancang Kuning. Ia akan bertolak ke Yogyakarta sore ini. Sayang ia hanya punya waktu dua hari saja di Pekanbaru. Padahal banyak yang bisa di explore dari kota yang sangat kental nuansa Melayunya ini. Mau bagaimana lagi ada project yang harus segera diselesaikan.


"InsyaAllah aku akan kembali untuk menjelajahi kota ini, disaat aku sudah tidak sendiri, berteman dengan kekasih hati."


Lewat waktu Isya ia sudah sampai di kediaman orangtuanya. Bapak dan si mbok sudah menunggu di ruang tamu, menanti kedatangan dan berita dari Septian.


"Assalamualaikum .… " Septian mengucapkan salam.


"Walaikumsalaam, bagaimana ... lancar?" sambut Bapak tak sabar.


"Alhamdulillah, lancar Pak." Jawab Septian sambil merebahkan diri ke sofa ruang tamu.


"Aku juga sudah memberikan cincin sebagai pengikat seperti saran Bapak. Oh ya ini ada oleh-oleh khas Riau bolu kemojo dan ikan asap selais. Katanya enak dimasak untuk campuran gule daun singkong, nanti dibagikan ke Mas dan Mbak ya." lanjut Septian sambil mengeluarkan aneka buah tangan kepada ibunya.


"Iya besok ibu bagikan ke saudaramu. Jadi apa respon orangtuanya dengan kedatangan kamu. Kapan kita lakukan lamaran resminya?" tanya si Mbok.


"Orang tuanya menerima Mbok, setuju. Berhubung kita jauh mereka menyarankan lamaran tidak usah formal. Cukup ngobrol lewat video call saja. Mereka paham kalau kita datang kesana sekeluarga pasti butuh biaya besar." jelas Septian.


"Alhamdulillah mereka pengertian ya Nak. Syukur sekarang zaman sudah canggih dari jauh juga bisa tatap muka. Jadi bagaimana kesanmu terhadap keluarga calon mantuku itu?" tanya si Mbok.


"Mereka semua baik Mbok dari keluarga sederhana. Mereka sopan-sopan. Sangat memuliakan tamu, kami dijamu makanan banyak sekali. Enak-enak pula masakannya," Septian terkenang dengan rendang yang pedas dan nikmat khas Sumatera.


"Syukurlah Nak … ya sudah kamu istirahat dulu. Nanti kamu atur saja waktu yang pas untuk video call dengan calon besanku itu," saran si Mbok.


"Iya Mbok, saya juga sudah capek. Mau istirahat dulu." Septian bangkit menuju kamarnya di lantai dua.


Bapak dan si Mbok saling berpandangan ada kelegaan di hati mereka. Doa tidak akan sia-sia. Mereka selalu mendoakan Septian dikelilingi orang baik dipertemukan jodoh yang baik pula.


***


Julia memandangi cincin emas solitaire yang agak longgar melingkar di jari manisnya. Ia mengenang pertemuan dengan Septian siang tadi. Seluruh anggota keluarganya sepakat kalau Septian adalah pemuda yang baik.


"Pintar kau cari calon suami dek. Kenal dimana dengan dia?" tanya kak Ratna.


"Dikenalkan teman pengajian Kak," jawab Julia mengalihkan perhatian dari cincinnya.


"Kau carikanlah kakakmu calon yang seperti dia tu, biar ndak jomblo dia hehehe," gurau Kak Ratna yang disambut dengan wajah masam Lucy.


"Ups! Salah bicara aku nampaknya," Kak Ratna spontan menutup mulutnya.


"Aku bisa cari calon suamiku sendiri kak. Tapi kalau ada yang mau mengenlkan laki-laki yang baik ya aku tidak menolak." sahut Lucy.


Kak Ratna tampak tidak enak hati. Sementara itu Julia tidak yakin dengan apa yang di dengarnya.


"Sungguh kak? Beneran?"


"Iya sungguh, kakak baru menyadari apa yang kamu katakan tempo hari ada benarnya. Aku tidak boleh membuang umur menunggu pria yang memberi harapan palsu," jawab Lucy menekuri lantai kamar.


"Tapi menikah bukan prioritas kakak saat ini. Kakak mau memperbaiki diri dulu. Mau berbakti pada Ibu. Kakak sudah melewatkan banyak hal karena terlalu fokus pada diri sendiri. Sekarang giliran kakak menyenangkan hati Ibu," lanjutnya lagi.

__ADS_1


Julia tidak bisa berkata apapun selain memeluk Lucy erat-erat. Segala amarah dan sakit hati yang terpendam seketika luruh.


"Maafkan kakak sudah bersikap kekanakan. Kakak bersalah sudah protes terhadap ketetapan Allah. Kakak lupa kalau rezeki, jodoh, dan maut sudah diatur. Kakak bersyukur kamu dikenalkan dengan orang yang baik. Kakak Ikhlas melepas kamu menikah dengannya," balas Lucy memeluk erat adiknya.


"Julia janji walau kita nanti tidak tinggal bersama lagi. Doaku selalu menyertai Ibu dan kakak." Julia menenggelamkan wajahnya di pelukan Lucy.


Kak Ratna menghapus sudut matanya yang berembun. Dengan cepat ia menetralisir suasana haru agar tidak berlanjut.


"Sudah-sudah, cucian piring menumpuk di belakang. Ayo cuci piring dulu nanti baru peluk-pelukan lagi!"


Julia dan Lucy melepaskan pelukan bergegas menuju dapur. Dalam hati tumbuh rasa kasih sayang yang semakin kuat.


***


Julia, Ibu dan Kak Lucy berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka sedang menunggu panggilan video call dari Septian. Malam mereka akan bersilaturahmi dengan orang tua Septian.


"Assalamualaikum Bu, kenalkan ini Bapak dan si Mbok saya." Sapa Septian melambaikan tangan melalui video call. Ia menyorotkan kamera depan ke arah kedua orangtuanya agar terlihat jelas.


"Walaikumsalaam, salam kenal Bu, Pak. Saya Ibunya Julia. Ini dia anak saya Julia dan yang ini kakaknya Lucy. Sini dekat Ibu biar kelihatan." Jawab Ibu Julia ramah walaupun agak repot mengatur posisi.


"Salam kenal Ibu, MasyaAllah pada ayu kabeh (cantik semua) putri-putrinya." Puji si Mbok. Sementara itu Bapak Septian lebih banyak mengamati sembari tersenyum simpul. Biarlah sesama ibu-ibu ngobrol duluan.


"Terimakasih Ibu," sahut Julia mendekatkan wajahnya ke kamera depan.


"Saya minta maaf ya Bu kalau kurang sopan tidak ikut menemani Septian saat meminang anak Ibu," sahut si Mbok.


"Tidak apa-apa Bu, kami paham keadannya maklum berjauhan," balas Ibu Julia.


"Jadi bagaimana Bu rencana berikutnya untuk anak-anak kita ini?" Tanya Si Mbok.


"Saya ikut keputusan Ibu tapi lebih cepat lebih baik," jawab Ibu Julia.


"Apa perlu kami sekeluarga datang melamar secara resmi Bu untuk mengantar seserahan?" Si Mbok mendekatkan wajahnya pada kamera.


"Terimakasih ya Bu. Jadi kapan baiknya kita laksanakan pernikahan anak kita?" kejar si Mbok lagi.


Tiba-tiba wajah Bapak Septian mendekat.


"Maaf Bu kalau memotong pembicaraan tapi saya usul bagaimana kalau akad nikahnya sebulan dari sekarang saja, hari Sabtu tanggal 29 Agustus."


"Bagaimana Jul? Kamu setuju tidak?" Ibu menatap ke arahnya.


Julia berpikir dan menimbang sejenak.


"Setuju Pak …. "


"Syukurlah, tanggal pernikahan sudah dapat. Lalu mengenai uang untuk biaya seserahan dan resepsi bagaimana Bu?" lanjut Bapak Septian lagi.


"Kalau itu saya serahkan pada Julia ya Pak. Saya kurang paham bagaimana maunya anak-anak ini dalam pelaksanaan resepsi," Ibu Julia menyerahkan ponsel.


"Kalau saya maunya yang sederhana. Cukup akad nikah dan syukuran saja. Bagaimana menurut Bapak?" jawab Julia santun.


"Saya ikut keputusan Julia saja untuk pelaksanaan acara disana. Insya Allah kami juga akan mengadakan acara resepsi disini istilahnya ngunduh mantu. Nanti jumlah biaya untuk seserahan dan syukuran di infokan saja langsung ke Septian ya nduk .… " Lanjut Bapak Septian.


"Baik Pak." Julia mengangguk.


"Ada lagi yang mau disampaikan dek Julia?" tanya Septian.


"Tidak ada, sudah cukup kak."


"Kalau begitu sekali lagi saya dan keluarga ucapkan terimakasih atas penerimaannya terhadap anak lanang saya ya Bu. Sampai ketemu bulan depan. Jaga kesehatan ya Nduk …. " Sahut si Mbok dengan wajah puas.


"Baik Bu, terimakasih kembali." Ibu Julia menangkupkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Kalau begitu kami minta izin sudahan dulu ya. Nanti kalau ada yang mau dikabari langsung ke Septian saja," susul Bapak Septian.


"Baik Pak … Assalamualaikum," kompak Ibu, Julia dan Lucy menjawab.


"Walaikumsalam," balas si Mbok dan Bapak bersamaan sambil melambaikan tangan.


Julia turut melambaikan tangan kepada mereka sampai panggilan terputus. Benar-benar keluarga yang hangat. Pantas saja Septian orangnya baik, Ia dibesarkan oleh orang tua yang penuh kasih sayang dan elok budinya.


***


Drrrt drrrt drrrt ....


Ponsel Julia bergetar. Ada pesan masuk dari Kak Septian.


"Dek Julia, saya sudah mengirimkan uang ke rekening kamu sejumlah 55 juta rupiah, 35 juta untuk bantu biaya syukuran, 20 juta untuk seserahan. Dek Julia mau mahar apa?"


Julia terkejut dengan nominal yang dikirim baginya itu sudah cukup besar.


"Terimakasih kak jumlah itu banyak sekali. Untuk mahar saya ingin logam mulia seberat 10 gram saja kak. Nanti saya beli saja dengan uang yang kakak kirim. Jadi kakak tidak perlu repot-repot," balasnya.


"Saya bisa usahakan beli maharnya disini kok dek …. " Balas Septian lagi.


"Sudah kak, pakai uang yang kakak kirimkan tadi saja. Nanti setelah menikah akan butuh banyak biaya sebaiknya kakak berhemat," jawab Julia bijak.


"Baiklah dek, terimakasih banyak sudah banyak meringankan urusan ini."


"Sama-sama kak, saya hanya melakukan yang sudah seharusnya."


"Kalau begitu, sampai jumpa bulan depan ya dek. Jaga diri baik-baik," pesan Septian mengakhiri percakapan.


Senyum merekah di bibir Julia. Mulai besok ia sudah harus mempersiapkan segalanya, mulai dari undangan, dokumen, catering, dan lain-lain. Tidak ada alasan untuk menunda. Sebulan bukan waktu yang lama, ia hanya berjalan sekedipan mata.


Catatan :


Mahar termasuk kewajiban suami yang harus diberikan kepada istrinya. Allah berfirman,


وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً


“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. an-Nisa: 4)


Mahar wajib ditunaikan walaupun tidak memiliki harga yang tinggi. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang akan menikah tapi tidak memiliki harta, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan sahabat tersebut untuk mencari mahar yang memiliki nilai dan harga walaupun hanya cincin besi.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat tersebut,


انْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ


“Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam riwayat Ahmad,


ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً


“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”


Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata,


“Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)


Sebaliknya apabila mahar terlalu mahal dan membebankan bagi calon suami (apalagi sampai berhutang untuk menikah karena tabungan tidak cukup), tentu akan mengurangi keberkahan pernikahan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan,


المغالاة في المهر مكروهة في النكاح وأنها من قلة بركته وعسره.


“Berlebihan-lebihan dalam mahar hukumnya makruh (dibenci) pada pernikahan. Hal ini menunjukkan sedikitnya barakah dan sulitnya pernikahan tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 5/187)

__ADS_1


__ADS_2