CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Sesal Tak Bertepi


__ADS_3

"Aku berharap Tuhan menciptakan waktu berjalan dua arah supaya aku bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus semua penyesalan dan kesalahanku."


***


Kegemparan besar terjadi di rumah Pak Rahmat Segoro. Si Mbok tak henti-hentinya menyapu lelehan kristal bening di matanya dengan ujung daster. Sesekali Si Mbok menyandarkan tubuhnya pada Bapak yang menatap kosong ke arah putra bungsunya yang muram bak dinaungi awan gelap. Sedangkan Mbok Par tak berani beranjak dari dapur, ia berdiam diri sambil mendoakan masalah pelik yang menimpa keluarga majikannya itu segera berlalu.


Kepergian Julia yang mendadak begitu mengejutkan Si Mbok. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Julia. Dari awal kehadiran Julia, ia telah memberikan hati dan cinta pada menantunya itu. Sifat keibuannya yang kental membuatnya tak pernah membedakan perlakuan antara anak kandung dan menantu.


Baginya siapapun yang masuk ke dalam rumahnya akan diterima dengan tangan terbuka dan dianggap sebagai keluarga. Sudah sepantasnya keluarga saling mendukung dan meringankan beban saat ada masalah walau sesulit apapun. Ia merasa bersalah karena perselisihan antara Septian dan Julia luput dari perhatiannya. Seandainya ia lebih peka, mungkin kepergian Julia bisa dicegah.


Seluruh saudara kandung Septian berdatangan setelah Si Mbok mengabari mereka. Keberadaan mereka di ruang keluarga seakan khusus untuk memberi penghakiman pada Septian.


Mas Kuncoro mondar-mandir berkeliling ruangan dengan resah. Mbak Lilis melipat tangannya ketat di dada. Mbak Nurma menatap Septian garang seakan hendak menelan adik bungsu mereka yang amat sangat tidak dewasa dalam bersikap. Sedangkan Mas Sakti menatap jauh ke luar jendela enggan melihat kebodohan yang diciptakan adiknya.


Septian duduk menyandarkan diri di sofa sambil menggenggam tisu yang bernoda darah. Mentalnya begitu tertekan hingga tubuhnya yang tak terbiasa hidup susah bereaksi keras terhadap stress yang mendera. Ia menderita sakit kepala hebat dan hidungnya mengeluarkan darah cukup banyak. Untungnya darah itu berhenti dengan sendirinya. Menyisakan rasa tidak nyaman karena jalan pernapasannya terhalang darah kering.


"Mas heran sama kamu Septian, kamu orang yang paham dengan agama. Rutin mengikuti kajian, kenapa dalam menghadapi masalah seperti ini kamu tidak bisa menerapkan ilmu sabar dan ikhlas yang telah kamu pelajari?" Ucap Mas Kuncoro memecah keheningan.


"Bukankah kamu tahu wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang teramat bengkok. Ketika kamu berusaha meluruskan tulang yang bengkok itu secara paksa. Maka ia akan retak, patah jadi dua." Lanjut Mas Kuncoro lagi.


Septian menunduk dalam-dalam ia amat sangat sadar dengan kesalahannya. Tidak ada sedikitpun niatan untuk menyanggah kata-kata Mas Kuncoro. Semua yang dikatakannya itu benar. Yang ia lakukan bukan hanya mematahkan hati Julia. Ia menghancurkannya jadi serpihan.


"Coba telepon istrimu Tian, sekarang ada dimana?" Desak Mbak Nurma melotot tajam ke arah Septian.


"Nomor ponselnya tidak aktif Mbak. Sudah Tian coba hubungi berkali-kali dari tadi." Jawab Septian lemah memeriksa ponselnya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana? Sampai kapan kita hanya menunggu tanpa melakukan sesuatu?" Mas Sakti menatap gusar ke arah Septian.


Septian menggeleng pelan ia tak bisa menjawab karena otaknya yang cerdas seakan macet tak mampu berpikir jernih. Rasanya ia berharap ini semua hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir jika seseorang datang membangunkannya paksa.


"Sebenarnya apa yang kamu katakan pada istrimu sampai kabur begini. Kamu pukul dia?" Tanya Mbak Lilis tegas tetap mengontrol emosinya.


"Tidak, tangan Tian tidak akan pernah digunakan untuk memukulnya, hanya …. " Septian mendesah berat sekali tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Hanya apa?!" Sentak Mbak Lilis.


"Tian hanya ... menyuruhnya pergi. Kecerobohan yang Julia ciptakan membuat Tian sangat kecewa dan marah. Tian takut tidak bisa mengendalikan ledakan emosi jika berdekatan dengannya. Karena itu … Tian terus menjaga jarak. Tapi Julia berkeras mendesak Tian untuk bicara padanya. Padahal Tian sudah susah payah menghindar agar tidak terjadi pertengkaran lebih lanjut. Tian benar-benar emosi karena Julia sudah mengikis kesabaran. Lalu … Tian memintanya pergi terserah kemana saja."


Nafas Septian tercekat di tenggorokan, seonggok rasa malu menguar saat ia mengungkapkan betapa rendah level kesabaran dan kedewasaan yang ia miliki dihadapan saudara-saudaranya.


"Astaghfirullah! Kamu tidak men-talak dia kan?" Tanya Mbak Nurma memastikan kelangsungan rumah tangga adiknya.


"Kamu! Mas tahu kerugian kalian sangat besar. Belum lagi nama baik keluarga kita yang tercemar. Tapi itu bukan alasan untuk melimpahkan segala kesalahannya pada Julia. Ingat … kamu juga punya andil di usaha itu!" Ucap Mas Kuncoro mengingatkan.


Tian menghempaskan kepalanya yang kembali berdenyut nyeri ke sandaran kursi. Ia memijat pelipisnya yang ngilu,.


"Sekarang sudah hampir tengah malam, dan Julia belum pulang. Kemana dia Tian!? Kalau terjadi sesuatu dengannya apa yang akan kita sampaikan pada ibunya. Bagaimana cara kita bertanggung jawab?" Desak Mbak Lilis menuntut.


"Kalau sampai besok Julia tidak kembali ... kamu harus hubungi Ibunya beritahu yang sebenarnya. Kalau perlu kamu lapor polisi untuk mencari Julia." Sahut Mbak Nurma mulai naik pitam.


"Sabar … sabar …. Semuanya tolong tenang. Kita disini berkumpul untuk memberi jalan keluar. Menyudutkan Septian tidak akan mengubah keadaan." Ucap Bapak menengahi anak-anaknya.

__ADS_1


"Saya salah dalam mendidik Septian. Dia ini nggak pernah susah, dari kecil hidupnya senang terus. Dia kaget begitu berhadapan dengan ujian hidup sekeras ini. Mbok yang membuatnya tumbuh dengan sifat kurang dewasa." Si Mbok membuka suara, ia kembali memghapus air matanya yang meleleh.


"Mbok … ini bukan salah si Mbok. Sepenuhnya ini salah Tian. Maaf sikap Tian mengecewakan kalian semua." Sahut Septian bergetar.


Dalam hati Septian membenarkan kata Si Mbok. Ia tumbuh dalam lingkungan yang baik, tak pernah kekurangan uang. Apa yang ia ingin selalu terpenuhi. Ia tak pernah betul-betul berusaha ketika mendapatkan sesuatu. Semua berjalan lancar sesuai keinginannya. Saat ini ketika ia dihadapkan dalam masalah besar, ia tidak siap menghadapinya.


"Sekarang Tian mohon Mbak dan Mas pulang saja. Saat ini Tian tidak bisa berpikir jernih. Septian sudah dihukum Allah dengan rasa bersalah yang tak terperi. Tolong beri waktu untuk Tian sendiri dan memikirkan solusinya. Doakan istriku selalu dalam lindungan Allah. Tian pamit naik ke atas dulu." Septian bangkit dari duduknya meninggalkan ruang tengah dengan langkah berderap menaiki tangga ke lantai dua.


Saudara Septian berdecak kesal dan saling melempar pandangan kecewa. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa dan menunggu adik bungsu mereka itu bergerak mencari solusi.


Septian lekas menuju kamarnya yang hampa. Matanya mencari-cari jejak yang ditinggalkan Julia. Ia membuka lemari dan mengambil sehelai kerudung Julia yang tertinggal, ia menghirup aroma khas Julia yang tersisa. Segenap rasa bersalah yang ia coba ingkari menyeruak ke permukaan.


Andai saja ia bisa memutar waktu, ia ingin lebih banyak mendengar keluh kesah Julia. Ia ingin merangkul dan memeluk istrinya saat menangis. Ia akan menggandeng tangan Julia dan membantu menyelesaikan masalah ini. Bukan mengabaikan Julia dan tenggelam dalam kemarahan yang tak bertepi.


"Materi yang hilang bisa aku cari kembali, tapi kebersamaan denganmu … bagaimana caranya kudapatkan kembali wahai Juita. Tak akan ada yang bisa sepertimu." Desah Septian pilu.


Sesak datang menghujam dadanya. Sakit kepala yang durjana tak kunjung enyah. Malah semakin giat memukul tengkoraknya. Septian lantas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Isya yang tertunda. Dalam sujud terakhirnya, ia melepaskan kristal bening menetes dari pelupuk matanya.


Di akhir sholat Septian menengadahkan tangan berdoa dalam keputusasaan. Ia tersedu, terpuruk dalam kubangan rasa sesal dan bersalah. Saat ini ia sadar Julia jauh lebih tangguh daripada dirinya. Tanpa dirinya, Julia akan tetap baik-baik saja. Karena itu Julia dengan berani melangkah pergi karena faktanya ... ia yang paling membutuhkan kehadiran dan kasih sayang Julia.


"Ya Allah Al Azis yang Maha Perkasa jagalah dan lindungi istriku dimana pun dia berada. Pada-Mu ia kutitipkan. Ampuni aku yang gagal menjadi imam yang baik untuknya."


***


Note :

__ADS_1


Dear readers. Maaf tidak bisa rutin update karena author nulis sambil curi-curi waktu. Terima kasih sudah menunggu kelanjutan kisah ini. Semoga terhibur.


__ADS_2