
Usai melaksanakan sholat dzuhur di musholla rumah makan. Faqih memberi kode pada Julia untuk segera keluar mengikutinya. Faqih berjalan dengan langkah ringan dan percaya diri diikuti Julia di belakang. Mereka melewati kerumunan pelancong yang memadati kota wisata itu, menuju mobil Faqih yang parkir di sebuah plaza dekat Jam Gadang.
Tak lama berjalan, Faqih mengeluarkan remote kunci mobilnya dari saku dan menekan tombol hingga sebuah mobil jenis city car hitam di hadapan mereka berbunyi "bip bip" yang khas. Faqih membuka pintu mobil penumpang dengan gaya gentleman. Mempersilahkan Julia untuk duduk di sebelahnya.
Mereka menuju homestay tempat Julia menginap untuk mengambil barang-barang dan check out. Faqih membawanya menuju tempat kursus yang berada dekat dengan sebuah STIKES. Tempat kursus itu berupa sebuah rumah berpagar putih khas rumah tinggal untuk keluarga. Hanya spanduk besar bertuliskan HOMIE English Community di pagar dan teras yang menunjukkan tempat itu adalah kursus.
Faqih membawa mobil memasuki pelataran yang dinaungi kanopi. Seorang gadis cantik dengan kerudung instan, berkacamata dan berlesung pipi sudah menunggu kedatangan mereka di teras.
"Hai Mala!" Sapa Faqih dengan senyum mengembang dari jendela mobilnya yang terbuka.
"Hai Bang …. " Sambut gadis itu ceria.
Faqih memberi kode pada Julia untuk turun, sementara ia membuka bagasi untuk mengeluarkan barang bawaan Julia yang tidak banyak.
"Mulai hari ini kamu ada teman untuk jaga lokasi." Ucap Faqih santai sembari menyeret koper Julia ke teras.
Julia mendekat untuk bersalaman dengan gadis bernama Mala itu. Mala menyambut Julia dengan ramah.
"Semua aman La?" Tanya Faqih memperhatikan sekeliling.
"Insya Allah aman Bang." Mala menatap Faqih dengan tatapan memuja, Julia seketika paham gadis di hadapannya itu pastilah sedang jatuh cinta.
"Baguslah kalau gitu. Abang gak bisa lama, ini ada teman ngajak ketemuan. Habis Maghrib abang datang lagi ngisi kegiatan. Titip adik aku ya La. Suruh dia kerja yang rajin." Ujar Faqih menunjuk Julia santai.
Julia memutar bola matanya. Walau Faqih menyebalkan tapi pertolongannya kali ini tidak akan pernah ia lupakan. Ia berhutang Budi.
"Iya bang, nanti Julia aku arahkan untuk pembagian tugas kerja." Jawab Mala lembut.
Faqih memasuki mobilnya bersiap untuk pergi lagi.
"Jul kamu cepat masuk, istirahat dulu. Nanti muntah lagi. Mala … Abang duluan ya!" Ucap Faqih pada kedua wanita itu sebelum berangkat.
__ADS_1
Julia mengangguk pelan, sementara Mala masih terpaku menatap Faqih yang sedang mengendalikan kemudi mobilnya untuk keluar dari pagar. Julia tersenyum simpul melihat Mala, membiarkan gadis itu menikmati rasa kagumnya. Setelah Faqih benar-benar hilang dari pandangannya. Barulah Julia menyentuh lengannya.
"Mala … masuk yuk."
"Eh, Jul. Maaf maaf! Yuk aku tunjukkan kamarnya." Wajah Mala memerah tersipu malu.
Julia memakluminya, begitulah adanya jika cinta sudah meraja. Bikin lupa waktu dan tempat.
Mala mengunci pintu depan sebelum membawa Julia ke kamar. Sudah kebiasaannya, apalagi selama ini ia hanya sendirian tinggal di tempat kursus itu. Untuk berjaga-jaga dari bahaya.
Julia mengamati rumah itu, ruang bagian depan terdapat dua set perangkat komputer, digunakan sebagai tempat pendaftaran dan menerima tamu. Tiga kamar depan diubah menjadi kelas belajar. Sedangkan ruang tengah cukup luas, terdapat televisi layar besar dan perangkat Wifi. Ruang itu digunakan sebagai ruang komunitas dan multimedia. Garasi diubah menjadi perpustakaan, lengkap dengan rak dan literasi berbahasa Inggris.
Kamar mereka dibagikan belakang, bersebelahan dengan dapur dan kamar mandi. Halaman belakang cukup luas dan terdapat jemuran. Rumah itu akan jadi tempat pelarian yang nyaman menurut Julia.
Mala mempersilakan Julia masuk ke kamar. Ada sebuah kasur ukuran besar tanpa dipan. Hanya diletakkan di lantai yang beralas karpet. Khas anak kos-kosan. Tidak banyak perabot yang dimiliki Mala. Sebuah meja belajar dan lemari kontainer dari plastik menjadi pemanis di kamar itu. Mala gadis yang sederhana. Julia seakan terlempar ke kehidupannya dulu saat belum menikah.
"Julia istirahat saja dulu. Sebentar lagi menjelang Ashar anak-anak kursus akan datang. Mereka biasa datang cepat, Mala harus siap-siap dulu. Insya Allah nanti malam menjelang tidur Mala jelaskan rincian kerja untuk Julia." Ucap Mala ramah sekali.
Mala mengangguk sambil tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya. Ia lantas menutup pintu untuk membiarkan Julia beristirahat.
***
Sebelum Maghrib Faqih sudah sampai ke tempat kursus. Ditangannya terdapat kresek hitam berisi tiga porsi sate ayam dan martabak Mesir untuk makan malam Julia dan Mala.
"Mala ... Mala bantuin Abang dong bawain ini." Sapa Faqih melempar senyum menawan dari pintu depan.
Mala sigap berdiri mengambil kresek dari tangannya. Sementara Faqih kembali ke mobilnya mengangkut dua kardus air mineral gelas. Julia mengamati dua orang itu dengan ekor matanya. Menerka-nerka seperti apa hubungan keduanya.
Faqih melepas sepatunya sebelum masuk dan menggotong kardus minuman ke ruang tengah.
"Habis ini kita sholat jama'ah ya, habis itu makan … sambil nunggu anak-anak komunitas datang." Faqih menggulung lengan kemejanya.
__ADS_1
"Laki-laki itu sholatnya di masjid kali Mas …. " Jawab Julia menyela.
"Iya harusnya gitu, tapi capek banget nih Jul. Seharian mondar-mandir. Yang penting kan tetap jamaah. Ya nggak La?" Faqih menatap Mala minta dibela.
"Hihi iya bang." Jawab Mala menunduk malu-malu.
Faqih melempar senyum kemenangan pada Julia yang hanya mengangkat bahu.
***
Malam itu Julia ikut bergabung dengan anak-anak komunitas. Anggota komunitas yang hadir sekitar dua puluh orang. Selama disana mereka wajib berbicara dengan bahasa Inggris. Setiap anggota diberi waktu lima menit untuk melakukan speech dengan topik bebas. Acara ditutup dengan nobar film Pride and Prejudice. Faqih meminta anggota komunitas untuk membuat resensi dan diserahkan minggu depan.
Untuk sejenak Julia melupakan segala derita dan kecewa. Ia terhanyut dalam nostalgia. Senyum dan tawa terus tersungging di bibirnya. Ia patut mengapresiasi kesungguhan anggota komunitas yang berusaha terus berbahasa Inggris meskipun lidah mereka patah dan kesusahan. Ia seakan kembali ke zaman kuliah, teringat dia pun pernah seperti ini. Tergagap-gagap saat diminta bicara di depan umum. Tanpa ia sadari, diam-diam Faqih menatapnya dari sudut ruangan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mala yang terus menerus memperhatikan Faqih, menjatuhkan pandangannya ke lantai. Entah kenapa hatinya seperti dicubit melihat cara Faqih menatap Julia.
Ngilu menjalari hatinya.
Pukul sembilan malam kegiatan ditutup. Anggota komunitas satu persatu pulang. Menjelang pukul sepuluh malam Faqih berpamitan pada Mala untuk kembali ke Padang. Sementara Julia tak ambil peduli pada Faqih dan meneruskan menyapu lantai dan membereskan ruangan.
"Mala, aku titip Julia ya. Tolong dilihat-lihat keadaannya. Sepertinya dia agak kurang sehat." Pesannya serius pada Mala.
Mala mengangguk pelan, tak ada senyum di bibirnya.
"Abang duluan ya. Minggu depan Abang datang lagi. Jaga diri baik-baik, jangan lupa kunci pagar dan pintu kalau tidak ada kegiatan." Pesannya lagi.
"Iya bang. Insya Allah Mala ingat selalu." Ucap Mala pelan, matanya masih menunduk.
Faqih membawa mobilnya keluar pagar, ia berhenti sejenak di depan pagar sebelum melanjutkan perjalanan. Ditatapnya Julia yang sedang menyapu teras. Sungguh ia tak tega meninggalkan wanita itu disana. Walau ia berusa mengingkari, perasaan yang pernah ada di dalam hatinya entah kenapa menggeliat menuju permukaan. Berkeras untuk timbul kembali. Ia ingin melindungi wanita itu.
"Sial! Sadarlah Faqih, dia istri orang." Rutuknya dalam hati.
__ADS_1