
Rona pipimu lagi-lagi menyihirku
Aku tahu itu bukan kuasamu
Engkau tak tahu kau mampu
Hatiku telah takluk padamu
Aku pastikan yang satu itu
Kau juga 'kan jatuh hati padaku
***
Hari ini terakhir Julia melaksanakan tugasnya mengajar. Beberapa murid mengiriminya surat perpisahan dan bingkisan. Beberapa dari mereka menangis karena tidak akan belajar dengannya lagi. Julia terharu dengan perhatian yang diberikan siswanya.
Julia meyakinkan pada mereka bahwa guru pengganti akan sama baik dan bagusnya. Semua guru memiliki kualifikasi yang sama, tidak boleh di banding-bandingkan.
Di hari terakhir Julia bekerja, owner kursus sengaja menyempatkan diri datang untuk mengucapkan salam perpisahan. Beliau adalah boss terbaik yang pernah Julia temui. Beliau memberinya pengalaman dan menempanya menjadi seorang pembelajar.
"I respect her a lot." Kesan Julia pada Boss-nya.
Rekan-rekan kerja memberi selamat pada Julia atas kabar bahagia yang akan ia jalani. Di balik ucapan selamat tersirat bentuk kesedihan di mata mereka yang berembun. Entah kapan mereka akan berjumpa lagi, mengingat Julia akan diboyong ke Pulau seberang. Julia memastikan mereka semua harus datang ke acara syukuran pernikahannya.
Akhirnya, air mata Julia tumpah saat motornya melesat meninggalkan tempat kursus, tempatnya mengabdi selama tiga tahun. Kenangan suka dan duka selama bekerja berkelebat di ingatan. Dibiarkannya air mata mengalir bebas, sebebasnya.
"I will surely miss this place." Batin Julia.
***
Kamar pengantin Julia sudah dihias dengan bunga-bunga putih, simpel dan manis. Di lantai terdapat seserahan yang dihias dalam kotak kaca. Tempat tidur yang baru juga sudah dihiasi kelambu seperti kamar puteri kerajaan.
Julia meminta Lucy tidur menemaninya malam ini. Julia tidak mau tidur sendiri di malam terakhirnya sebagai wanita lajang.
Julia dan Lucy berbaring berdampingan, saling bertukar cerita tentang kisah masa kecil mereka. Saling bercanda, sesuatu yang telah lama tidak mereka lakukan.
Julia merogoh saku piyama ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua.
"Ini ada hadiah buat kakak, semoga suka. Kalau tidak suka mohon disimpan saja, jangan sampai dijual," Julia menyelipkan kotak itu ke tangan Lucy.
Lucy memandangi kotak beludru dan membukanya. Ia menutup mulutnya yang ternganga. Terharu dengan hadiah yang amat indah dari adiknya.
"Cantik dek, kakak suka kalungnya. Terima kasih ya …. "
__ADS_1
"Seingatku … aku belum pernah sekalipun membelikanmu hadiah. Malah kamu yang memberiku hadiah seindah ini," Lanjut Lucy sambil mengagumi kalung berliontin permata berbentuk hati.
"Anggap ini kenang-kenangan kak. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jujur aku takut harus berjauhan dari Ibu dan kakak. Seumur hidup aku tidak pernah pergi jauh. Sekarang sekalinya aku pergi dari rumah langsung terpisah pulau." Ujar Julia.
Pikiran Julia menerawang akan hidupnya setelah menikah nanti. Julia kalah dengan perasaannya, air mata jatuh berderai-derai.
"Kenapa semakin dekat hari pernikahan perasaanku semakin gampang mellow?.
"Aku pasti rindu kamu dek. Aku tidak bisa membayangkan pulang ke rumah, ke kamar ini tanpa ada kamu," Lucy mulai terisak.
"Kakak … jangan bikin aku tambah berat untuk pergi. Maafkan semua salahku ya. Aku bawel dan sering merasa selalu benar …. " Julia mengenang kelakuan jeleknya pada Lucy sambil menghapus air matanya.
"Untung kamu nyadar, kebawelanmu kadang mengalahkan Ibu." Lucy tertawa dibalik tangis.
"Besok kamu jangan nangis ya dek, jelek kalau make up-nya sampai luntur!" Lucy mengingatkan.
"Aku tidak akan nangis, mungkin besok kakak dan Ibu yang nangis-nya paling kencang," ledek Julia.
"Kita lihat saja nanti. Udah yuk tidur, jangan sampai calon pengantin matanya gelap kayak panda," Lucy menyimpan kotak beludru di balik bantal dan menarik selimut ke tubuh mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka saling berpandangan begitu lama, sebelum benar-benar terlelap.
***
Kak Septian dan keluarga besarnya sudah datang kemarin dari Yogyakarta. Julia belum sempat bertemu dengannya, karena ia sedang dipingit.
Selesai di make up, Julia berdiam di kamar ditemani oleh Lucy, Sarah, dan sepupu-sepupunya. Julia tidak bisa melihat apa yang terjadi di luar kamar. Tapi ia bisa mendengar jelas aktivitas yang terjadi di luar. Sesekali ia mendengar suara Ibu menyambut saudara, handai taulan di luar.
"Pak Penghulu sudah datang …. "
"Keluarga pengantin laki-laki tiba …. "
"Pengantin laki-laki sudah bersiap!"
Julia tahu ini saatnya. Ia menggenggam tangan Lucy dan Sarah. Berharap genggaman mereka mampu meredakan gemuruh yang bergejolak di dada.
"Bismillah … lancarkan semua ya Allah. Berkahi dan ridhoi-lah pernikahan ini." Do'a Julia dalam hati.
Pak Penghulu memimpin prosesi akad nikah ini, disertai dua orang saksi. Dengan posisi saling bersalaman tanda pengalihan tanggung jawab. Paman Zulfadhli, abang kandung Ayah Julia bertindak sebagai wali nikah. Beliau memulai lafal Ijab-nya.
“Ananda Septian Syaifullah bin Rahmat Segoro saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Juliana Rahmayanti binti Zulkifli Aiman dengan mas kawinnya berupa logam mulia seberat 10 gram, tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Juliana Rahmayanti binti Zulkifli Aiman dengan mas kawinnya berupa logam mulia seberat 10 gram, tunai!”
__ADS_1
Dengan satu tarikan nafas, kalimat qabul terucap tegas dan mantap dari bibir Kak Septian. Kalimat yang menjadikan Julia halal untuknya.
"Sah!"
"Barrakallahu laka wa barraka 'alaina wa jama'a baina kuuma fii khair!"
Tamu undangan riuh bertepuk tangan, rebana dan kompang ditabuh. Mereka bersorak sorai menghamburkan ucapan selamat.
Lucy dan Sarah memeluk Julia erat. Julia tersenyum lega, ia menahan sebisa mungkin agar air mata kebahagiaan tidak meleleh. Bergantian saudara sepupun menyalami Julia.
"Selamat ya dek …. "
"Selamat ya Jul …. "
Ibu datang memasuki kamar, senyumnya terkembang tapi matanya basah. Ibu memeluk Julia erat. Julia meraih dan mencium punggung tangannya. Setelah itu Ibu meraih wajahnya, menciumi kedua pipi.
"Selamat ya nak. Tunaikalah tugasmu menjadi istri yang baik. Ibu doakan kalian selalu bahagia. Sekarang, saatnya kalian bertemu."
Julia mengangguk, Ibu menggandeng tangannya keluar untuk menemui pria asing yang telah sah menjadi suaminya
***
"Alhamdulillah …. "
Septian mengusap wajah, hatinya dipenuhi kelegaan setelah mengikat simpul janji pernikahan. Septian menyalami Pak Penghulu, wali nikah dan para saksi. Dilihatnya Si Mbok mengusap ujung mata dengan tissue, sementara Bapak sibuk menyambut ucapan selamat dari tamu-tamu. Kakak-kakak Septian kompak tersenyum bangga dan mengacungkan jempol ke arahnya. Seakan-akan ia telah memenangkan sebuah perlombaan.
Mata Septian terpana. Seorang gadis jelita muncul bergandengan tangan dengan ibunya. Berbalut gamis krem muda dan berkerudung panjang sederhana. Hatinya seketika jatuh melihat paras cantik nan teduh.
"Duhai istriku, beruntungnya hatiku mencintaimu tanpa sempat merasakan luka dan patah. Segala puji bagi Allah yang mengizinkan aku jadi suamimu."
Septian mendekati Julia yang pipinya bersemu merah. Julia menunduk malu-malu, ia meraih tangan suaminya. Untuk pertama kali Septian merasakan kelembutan tangan wanita menyentuh permukaan kulitnya. Julia mencium tangan Septian dengan takzim dan penuh penghormatan.
Septian pun melakukan hal yang sama diraihnya tangan Julia dan menciumnya. Perlahan dan dalam. Sebagai bentuk penghormatan pada kekasihnya, calon ibu dari anaknya.
"Aku akan selalu menghargaimu sebagai pendamping hidupku." Bisik Septian lembut ke telinga Julia.
Kompak hadirin bersorak melihat Julia dan Septian yang canggung dan tersipu malu-malu. Septian melirik wajah Julia yang kian memerah.
"Duhai istriku, apakah kau sudah jatuh hati padaku?"
__ADS_1