CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Petunjuk


__ADS_3

Sepasang mata yang dinaungi bulu mata lebat itu berkilat-kilat ceria. Riska tersenyum puas melihat karyawan menikmati sajian dengan nikmat. Berarti ia tak salah memilih menu dari usaha catering sahabatnya. Ia sesekali menyapa dan beramah tamah dengan karyawan.


Diantara hiruk pikuk keceriaan karyawan, matanya tertuju pada sosok Bu Jum terlihat sayu sedang duduk di kursinya tanpa ada aura kegembiraan. Riska melangkah mendekati Bu Jum untuk tahu apa masalah yang menimpanya. Barangkali ia bisa menawarkan bantuan.


"Bu Jum kok tidak makan? Kenapa tidak bersemangat? Ibu sakit?" Tanya Riska penuh empati.


Bu Jum semakin menunduk menyembunyikan wajah, tangannya bergerak menghapus ujung mata yang lembab dengan kaos tipisnya.


"Bu, ada masalah apa? Ada yang saya bisa bantu?" Riska duduk disebelahnya agar bisa lebih dekat.


Bu Jum mengangkat wajahnya yang mendung. Ada gurat keraguan tercetak di sorot matanya.


"Se-sebenarnya saya … anu … merasa bersalah karena kembali kerja disini. Tapi mau bagaimana lagi … saya butuh uang. Saya merasa berdosa setiap kali melihat wajah Pak Septian." Bu Jum kembali menunduk.


Riska tercekat, ia merasa sikap Bu Jum ini ada hubungannya dengan masalah yang membolak-balik toko mereka.


"Bu Jum mau menyampaikan keluh kesah atau apapun itu pada Pak Septian? Saya tahu menyimpan sebuah rahasia rasanya sangat tidak enak." Pancing Riska.


"Saya takut masuk penjara." Bu Jum berbisik sambil terisak.


Jantung Riska berdegup-degup, ia yakin sekali Bu Jum menyimpan sebuah perkara besar.


"Tidak, saya jamin Pak Septian tidak akan marah pada Bu Jum kalau Bu Jum memberi tahu apa yang sebenarnya." Bujuk Riska.


Bu Jum menatap mata Riska seolah minta diyakinkan.


"Mau ya Bu …. " Riska mengusap tangan Bu Jum lembut.


Bu Jum mengangguk pelan. Aliran darah Riska berdesir membanjiri pembuluh darah, ia sudah tak sabar ingin tahu kebenarannya.


"Mari saya antar ke atas, ke ruang kerja Pak Septian." Riska menggandeng tangan kurus Bu Jum, ia masih ragu-ragu melangkah.


Namun Riska tak mempedulikannya, ia melangkah lebar dan panjang-panjang karena tak sabar. Membuat Bu Jum berjalan terhuyung mengikuti langkah kaki Riska menuju lantai dua.


Sesampainya di pintu ruang kerja, Riska berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Ia lalu membuka pintu dan melongokkan kepalanya untuk mengecek keadaan Septian.


"Pak Septian … Sedang sibuk?" Tanya Riska pada Septian yang masih duduk menghadap jendela.


Septian memutar kursinya ke arah suara.


"Tidak. Ada apa?" Jawab Septian datar.


"Ini … Bu Jum ingin menyampaikan sesuatu." Ucap Riska hati-hati.


Septian mengangkat sebelah alisnya, heran. Namun ia segera menyunggingkan senyum menyambut kehadiran Bu Jum.


"Silahkan duduk Bu Jum, santai saja." Septian bangkit dari kursi kerjanya menuju ke sofa kecil di tengah ruangan yang khusus tersedia untuk menyambut tamu.


Tangannya bergerak sopan mempersilahkan Riska dan Bu Jum untuk duduk.

__ADS_1


Riska dan Bu Jum duduk berhadapan dengan Septian di sofa. Tubuh Bu Jum yang kurus bergerak gelisah, jemarinya memilin-milin ujung kaos.


Septian memahami gestur kecemasan yang sedang dialami Bu Jum. Seketika hatinya jatuh iba melihat sosok tua dan kurus itu.


"Riska, kalau boleh saya minta tolong ambilkan teh botol dua ya. Dan dilihat-lihat karyawan yang ada di bawah." Ucap Septian memberi isyarat agar Riska meninggalkan mereka bicara empat mata.


Riska mengangguk setuju meski ia sangat penasaran dengan pengakuan yang akan disampaikan Bu Jum. Riska bangkit dari duduknya dan melangkah keluar sambil menarik gagang pintu sembari menutupnya.


Septian melirik ke arah wajah kuyu Bu Jum yang semakin pucat.


"Silahkan Bu Jum sampaikan apa yang harus disampaikan. Saya akan mendengarkan." Ujar Septian menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Ba-bapak tidak akan membawa saya ke penjara setelah saya buat pengakuan ini?"


Sahut Bu Jum pelan.


"Tidak. Untuk apa?" Jawab Septian santai. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengusap layarnya. Ia akan merekam pembicaraan mereka. Namun Septian membuatnya tidak terlalu kentara agar Bu Jum tidak berubah pikiran. Ia berpura-pura sedang mengetik pesan.


"Sebentar ya Bu Jum, ada pesan yang harus saya balas." Ucap Septian santai sambil mengaktifkan fitur perekam.


Bu Jum mengangguk patuh.


"Ya silahkan Bu Jum." Septian menyelipkan ponsel ke saku kemejanya.


"Se-sebenarnya saya mau minta maaf sebesar-besarnya pada Bapak karena tidak berdaya mencegah perbuatan mungkar." Ucap Bu Jum bergetar. Rahang Bu Jum mengeras, ia berusaha menahan agar tidak menangis.


"Maksudnya?" Septian menaikkan alisnya, penasaran.


"Oleh siapa?" Potong Septian tegas.


"Mohon Bapak jangan melaporkan ini pada Bu Kades, karena beliau bisa marah sekali pada saya. Saya takut hubungan yang tak baik bisa mempersulit keadaan saya di desa kita. Saya orang susah pak." Bu Jum memelas.


"Hmmmm jadi Bu Kades yang meminta Ibu melakukannya?" Septian menatap tajam ke arah Bu Jum.


"Bukan Pak. Bu Kades yang memasukkan cicak itu dalam adonan. Saya dipaksa untuk memanggang dan mengemas kue. Lalu kuenya dibawa pergi Bu Kades."


"Hmmmm …. " Septian melipat kedua tangannya di dada.


"Perasaan saya sudah tak enak sejak melihat gelagat janggal Bu Kades memasukkan cicak ke dalam adonan. Tapi saya diam saja karena tidak tahu untuk apa. Saya disuruh tutup mulut. Lalu gempar gosip ada kue cicak dimakan pelanggan yang berujung toko tutup. Barulah saya sadar Bu Kades punya niat tidak baik pada toko ini. Maafkan saya Pak. Ini salah saya yang tidak punya keberanian. Maaf Pak saya hanya orang lemah." Bahu Bu Jum naik turun saking semangatnya menjelaskan.


"Saya mengerti. Saya sudah memaafkan Ibu. Terima kasih sudah berkata yang sebenarnya. Setidaknya saya sudah dapat titik terang." Septian tersenyum lembut.


"Bapak tidak memecat saya?" Mata Bu Jum membulat.


"Memang Ibu mau dipecat?" Gurau Septian.


"Tidak pak. Tolong kasih saya kesempatan sekali lagi. Anak-anak saya masih sekolah Pak." Spontan Bu Jum mengiba.


"Bu Jum, mulai hari ini dan seterusnya Ibu bekerja yang rajin disini ya. Saya yang minta tolong sama Bu Jum dan karyawan lain tolong dukung saya untuk terus bersikap jujur dan berani seperti ini." Jawab Septian hati-hati.

__ADS_1


"Terima kasih Pak Septian. Semoga Bapak banyak rezeki, dimudahkan segala urusan, dikabulkan segala kehendak dalam hati dan rukun selalu sama Bu Julia. Aamiin." Bu Jum mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


"Amiiin ya Rabbal 'alamiin. Terima kasih ya Bu. Ada yang mau disampaikan lagi?"


"Tidak ada Pak. Kalau begitu saya izin turun dulu ya Pak." Ucap Bu Jum undur diri."


Septian mengangguk tersenyum mempersilahkan. Bertepatan dengan Riska yang muncul sambil membawa teh botol dari balik pintu.


"Loh sudah selesai?" Mata Riska membulat lebar.


"Sudah Bu." Ucap Bu Jum dengan wajah lega.


"Teh-nya?" Riska menoleh dan bertanya pada Septian.


"Ya dikasih dong satu ke Bu Jum. Masa semua saya minum sendiri." Sungut Septian sebal dengan reaksi lambat Riska.


"Oh iya ya. Maaf Pak." Riska nyengir sambil buru-buru menyerahkan sebotol teh pada Bu Jum yang sudah menyelinap keluar.


Septian geleng-geleng melihat kelakuan Riska. Ia kembali ke kursi kerjanya, menghempaskan tubuh dan menarik nafas lega. Satu permasalahan pelik bisa segera diselesaikan dengan cantik.


Riska kembali masuk ke ruang kerja. Matanya melotot berbinar penuh rasa ingin tahu.


"Jadi apa kata Bu Jum?" Riska menghambur ke meja kerja Septian.


"Hmmmm, panggil aku Bapak. Disini aku atasanmu. Biar nepotisme-nya nggak terlalu mencolok." Septian melotot ke arah sepupunya itu.


"Haish! Iya Pak Septian." Ralat Riska.


"Tugasmu sekarang, hubungi orang yang komplain soal kue cicak itu. Atur waktu ketemuan dan kalau perlu tawari uang ganti rugi yang jumlahnya lumayan. Biar dia mau buka mulut." Perintah Septian.


"Jadi ini bukan karena kelalaian karyawan kita ya Pak?"


"Bukan. Ada yang sengaja mau menjatuhkan kita. Makanya aku mau ketemu customer itu. Aku mau dapatkan bukti otentik."


"Siapa ya yang jahat banget ke toko kita. Dendam apa gimana?" Alis Riska berkerut.


"Aku sudah tahu siapa pelakunya."


"Siapa siapa?"


"Rahasia. Kamu ember. Selesaikan dulu tugasmu baru ku kasih tahu."


"Astaghfirullah hal adziiim sama sepupu sendiri pake rahasia." Riska mencebik.


"Kerjakan tugasmu atau nggak ku kasih tahu." Ancam Septian dengan sorot mata sungguh-sungguh.


"Baik Pak. Siap laksanakan." Sahut Riska serius.


"Nggak pakai lama ya Ris."

__ADS_1


Riska mengangguk dengan percaya diri.


__ADS_2