CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Septian Syaifullah


__ADS_3

Sesi mengajar les privat telah usai. Julia mengemas semua buku dan materi bahan ajar ke dalam tas. Hari ini Adib murid les privatnya menyelesaikan pelajaran dengan baik. Adib sudah izin masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


"Minum dulu tehnya ya Jul, kamu pasti haus dan capek." Tante Tati meletakkan secangkir teh panas dan sepotong kue bolu bertabur parutan keju di meja tamu.


"Terimakasih Tante jadi enak nih saya," Julia melempar canda.


"Hehehehe monggo di nikmati," Tante Tati mengambil posisi duduk dengan nyaman.


Julia menghirup teh hangat. Rasa manisnya yang pas memberi rasa nyaman di tenggorokan. Julia menyandarkan punggung ke sofa untuk istirahat sejenak sebelum pulang ke rumah.


"Tante salut sama anak gadis kayak kamu. Pekerja keras dan nggak neko-neko. Umur kamu berapa sih sekarang Jul?" tanya Tante Tati membuka obrolan.


"Bulan depan pas 24 tahun Tante," jawab Julia sambil memotong kue bolu dengan garpu kecil.


"Dulu Tante umur segitu udah punya anak satu lho. Hehehehe … Kamu sudah punya pacar?" pancing Tante Tati.


"Nggak punya pacar tante, jomblo. Julia lagi menikmati masa sendiri. Ternyata jomblo produktif itu enak. Bisa pergi kajian dan kerja leluasa, nggak ada yang ngelarang," Julia menjelaskan.


"Gimana menurut Julia selama kajian, nyaman. Ilmunya sampai nggak?" Tante Tati meminta pendapatnya.


"Nyaman banget Tante, ilmunya bagus. Ustadz selalu menjelaskan materi sistematis, berdasarkan dalil yang valid seperti Al-Qur'an dan hadits shahih. Terus lingkungan pengajian juga supportif semua jamaah fokus belajar." Julia menerangkan.


"Masya Allah, padahal Tante kira kamu bakal serem berada di kumpulan wanita bercadar, apalagi rata-rata bajunya pada hitam semua," celetuk Tante.


"Hehehe awalnya iya Tante. Tapi setelah kenal nggak seseram yang Julia bayangin. Ternyata di balik cadar dan pakaian hitam, ada kecantikan dan kelembutan." Jawabnya jujur sambil terus mengunyah kue bolu yang nikmat.


"Masya Allah, semoga istiqomah selalu ya Jul. Semangat terus belajar dan memperbaiki diri. Gini sebenernya Jul, Tante to the poin aja ya. Kamu udah punya keinginan menikah nggak dalam waktu dekat ini?" Tante Tati menatap Julia dengan serius.


"Hmmmm, kalau ingin tentu ada ya Tan. Tapi Julia nggak punya calon. Mau menikah dengan siapa?" Julia memperbaiki jilbabnya karena resah dan salah tingkah.

__ADS_1


"Tante punya keponakan jauh. Sekarang tinggal di Jogja. Ini anak orangnya baik. Dia anak bungsu, orangnya kalem nggak aneh-aneh. Namanya Septian usia 27 tahun sekarang. Udah sering dikenalkan dan dijodohkan oleh orangtuanya. Tapi belum ada yang nyantol. Katanya sih ingin dapat istri yang udah pengajian. Kamu mau nggak Tante ta'aruf-in sama dia?" kembali tatapan Tante mencari keseriusan di mata Julia.


"Wah Tante mendadak banget nih, Julia boleh pikir-pikir dulu nggak? Takutnya akunya mau tapi Ibu belum setuju kan malah bikin kecewa," jawabnya ragu-ragu.


"Oh iya nggak apa-apa, ini nggak buru-buru kok. Rundingkan aja dulu sama Ibunya. Harapan Tante sih ya udah-mudahan Ibu kamu setuju," senyum Tante Tati mengembang.


"Boleh tahu siapa nama lengkap keponakan tante dan lulusan mana ya?" tanya Julia penasaran.


"Kepo yaaa," goda Tante Tati.


Julia hanya bisa mengangguk malu-malu. Pipinya terasa menghangat dan pastinya akan terlihat memerah saat ini. Julia menunduk untuk meneguk teh hangat yang masih tersisa agar wajahnya yang dilanda malu tidak terlalu kentara.


"Septian Syaifullah, lulusan Teknik Informatika UGM," jawab Tante Tati tersenyum.


Julia mengulang-ulang nama itu dalam hatinya, berharap tidak akan melupakannya. Karena sepulang dari sini Julia akan mencari informasi tentang Septian di mesin pencari ataupun di sosial media. Yah begitulah, semudah itu untuk sekedar ngepoin orang di era digital seperti sekarang.


Rasa takut mengaliri pembuluh darah Julia saat membelah gelapnya malam sendirian dengan motornya yang sudah menggerung berat saat dibawa ngebut. Dalam hati Julia merapalkan do'a-do'a keselamatan. Agar ia dijauhkan dari mara bahaya, jujur ia takut begal.


***


Ibu yang sedang duduk di teras langsung bangkit dari kursinya saat Julia sampai di rumah.


"Kok lama sekali pulangnya Jul, bikin Ibu khawatir saja. Mana kamu tidak mengabari, harusnya telepon Ibu!" omelan Ibu menyambut kedatangannya.


"Maaf Bu, tadi keasikan ngobrol sama mamanya Adib. Jadi lupa waktu. Mau nelpon Ibu udah nanggung," jelas Julia sambil mendorong motor ke ruang tamu yang merangkap sebagai garasi di malam hari.


"Ibu cemas sekali sampai susah memejamkan mata. Nggak bisa tidur Ibu memikirkan anak gadisku sudah hampir tengah malam masih diluar!" omel Ibu masih bersambung.


"Iya Ibu maaf yaaa. Tidak akan Julia ulangi lagi," sahut Julia lembut menenangkannya.

__ADS_1


"Sudah makan?" Tanya Ibu.


"Belum, cuma makan kue bolu aja tadi di rumah Tante Tati," jawabnya jujur.


"Makan dulu ya nak sebelum tidur. Jangan lupa pastikan semua pintu terkunci. Ibu ngantuk sekali mau tidur dulu," titah Ibu sembari masuk ke kamar.


Julia menatap punggung Ibunya penuh kasih. Ia sudah dewasa tapi di mata Ibu tetaplah gadis kecil yang selalu dikhawatirkannya. Julia memastikan semua pintu terkunci rapat lalu bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan membersihkan diri.


Sambil menikmati makan malam yang super terlambat, Julia mengikuti insting penasarannya. Julia mengetik nama Septian Syaifullah di pencarian Facebook. Muncul beberapa nama tapi hanya satu yang cocok dengan petunjuk Tante Tati, pernah berkuliah di Teknik Informatika UGM.


Julia meng-klik nama tersebut dan masuk ke laman profil. Foto profilnya hanya sosok siluet pria, wajahnya tidak terlihat sama sekali. Julia menggulirkan layar ke bawah untuk membaca statusnya. Tidak ada curhatan, hanya sesekali orang ini membagikan info-info seputar kajian dan video ceramah. Sepertinya Septian bukan orang yang gemar bersosial media.


Julia masih belum puas, ia membuka Instagram dan mengetikkan nama Septian. Muncul foto profil yang sama dengan di Facebook. Foto-foto yang ia bagikan di feed juga standar saja. Hanya foto-foto nasihat.


Julia mengecek di laman tag. Ada satu foto yang memancing rasa penasarannya. Di foto itu terlihat kumpulan mahasiswa menggunakan almamater khas UGM. Namun dari foto yang kecil dan tidak jelas itu ia mendapat gambaran. Septian Syaifullah pemuda yang cukup tampan.


***


Julia merebahkan tubuh disamping kak Lucy, nafasnya lembut dan teratur. Lucy sudah tidur nyenyak, padahal Julia ingin bertukar cerita tentang hari ini. Julia menatap Lucy, usianya sudah 27 tahun. Lucy dan Septian Syaifullah seumuran. 


Kak Lucy sudah diusia matang untuk menikah. Tapi entah kenapa tidak pernah membahas tentang pernikahan. Dari yang Julia tangkap dari curhatnya, kak Lucy menyimpan perasaan pada seniornya sewaktu kuliah. Saat ini senior tersebut sedang lanjut studi di luar negeri. Hubungan mereka nggak jelas, akrab seperti orang pacaran tapi tidak mau disebut pacar. Hubungan apa itu? friendzone? Sepertinya kak Lucy menaruh harapan besar pada cowok itu sampai rela digantung tanpa status. 


Sekarang pikiran Julia dipenuhi dengan sosok Septian Syaifullah. Julia ingin mengenalnya. Tapi jika ia setuju untuk berta'aruf berarti tujuannya jelas untuk menikah bukan untuk menuntaskan penasaran saja. Julia berbolak-balik gelisah di ranjang. Tubuhnya lelah tapi otak terus bekerja. Mata sulit untuk dipejamkan. 


"Jika aku menyampaikan niatku untuk berta'aruf pada Ibu, kira-kira apa responnya ya?"


"Dan jika aku memutuskan menikah lebih dahulu dari kak Lucy, apakah Ibu akan setuju ?"


"Ah, situasi ini benar-benar tidak nyaman! Menambah pikiran saja!"

__ADS_1


__ADS_2