CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Ikan Bakar Fenomenal


__ADS_3

Tangan Julia bergerak lincah menyiangi tubuh ikan gurame dengan pisau, sisik ikan terlepas dengan mudahnya. Setelah itu ia membuka kedua sisi kepala ikan dan menarik insangnya. Lalu dibelahnya punggung ikan hingga tubuh ikan terbuka menjadi lebar. Dengan begitu isi perut ikan dapat dibersihkan dengan mudah.


Ia mencuci ikan bersih-bersih hingga tidak ada darah yang tertinggal, kemudian ia mengucuri ikan dengan air jeruk nipis. Ikan didiamkan sebentar sementara ia meracik bumbu ikan bakar khas Minang. Yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, cabe merah, kemiri, jahe, kunyit. Berhubung ikan yang akan dibakar jumlahnya empat ekor dan besar-besar, Julia memutuskan untuk memblender bumbunya untuk menyingkat waktu. 


Sambil menunggu bumbu terguling ia menggeprek lengkuas dan sereh. Selanjutnya ia memanaskan kompor dan mengisi wajan dengan minyak secukupnya untuk menumis. Setelah minyak cukup panas ia menuang bumbu yang sudah halus. Aroma semerbak langsung memenuhi dapur si Mbok. Tak lupa Julia menambahkan santan, lengkuas dan sereh geprek, air rendaman asam jawa, garam dan sedikit micin untuk menguatkan cita rasa.


Ia menumis bumbu hingga tanak, kental dan wangi. Setelah dirasa pas ia mematikan kompor dan membalurkan bumbu yang telah matang ke tubuh ikan dengan menggunakan kuas. Septian bolak balik ke dapur sambil menelan ludah, aroma bumbu yang wangi membuatnya tak sabar.


Julia menata dua ekor ikan ke atas kawat panggangan dan menyerahkannya pada Septian untuk dibakar. Butuh dua kali panggang untuk membakar empat ekor ikan. Pekerjaannya meracik bumbu sudah selesai, urusan bakar membakar ia serahkan pada suaminya. 


Septian membawa ikan ke halaman samping rumah tempat ia membakar batok kelapa untuk dijadikan arang. Disusunnya batu bata menjadi dua tingkat bersisian. Ia meletakkan panggangan dan mulai mengipasi ikan agar panas dari bara arang tersebar merata.


"Dari aromanya sedap banget ikan bakar buatanmu," tutur si Mbok pada Julia yang sedang mencuci kemangi dan timun untuk lalapan.


"Mudah-mudahan cocok rasanya walau agak pedas ya Mbok …. " Jawab Julia sambil meniriskan lalapan.


"Tidak apa, sini Mbok bantu bikin sambel kecap untuk teman makan ikan bakarnya." 


Julia mengangguk mempersilahkan si mbok. Tangan si Mbok dengan cekatan meraih beberapa buah cabe rawit dan menggerusnya dengan cobek kayu. Setelah hancur ia menambahkan kecap dan sedikit garam.


Setelah bahan pelengkap selesai Julia dan si Mbok menuju halaman samping untuk melihat hasil kerja Septian.


"Jangan sampai gosong ya Tian, nanti pahit!" si Mbok mengingatkan.


"Siap Mbok, aman!" Septian mengacungkan jempolnya.


Sementara itu Mbok Par sibuk di dapur menata meja makan dengan sebakul nasi, seteko air putih, lalapan dan sambel kecap. Semua penghuni rumah tidak sabar mencicipi ikan bakar yang aromanya menggugah selera. Aroma itu membuat Julia meringis menahan lapar di perutnya yang hanya sarapan dua potong pisang goreng. 

__ADS_1


"Sabar, sebentar lagi matang." Ia bergumam.


Septian sibuk membolak-balik ikan sampai seluruh bagian ikan matang merata kecokelatan.


"Sepertinya ini sudah matang dek," Septian memberi kode pada istrinya untuk mengecek.


"Iya sudah matang nih, ayo lanjutkan sesi kedua!" Julia mencapit ikan yang telah matang memindahkannya ke piring saji berukuran besar. Ia lalu mengisi panggangan dengan dua ekor ikan yang masih tersisa.


"Wangi banget, air liurku hampir menetes dari tadi. Boleh cicip sedikit nggak?" Wajah Septian yang berkeringat tampak memelas.


Julia mencuil daging ikan dengan tangan dan menyuapkan ke mulut suaminya.


"Awas, masih panas ya Mas." Ia mengingatkan pada Septian yang telah membuka mulutnya lebar-lebar.


Ikan segar berpadu dengan bumbu yang kaya langsung lumer di lidah Septian.


"Masya Allah enak ... top markotop!" Ia mengacungkan jempol ke istrinya.


Dalam hati Septian banyak mengucapkan hamdalah. Betapa beruntungnya ia punya istri yang cantik dan lihai memasak. 


Julia tersipu dengan pujian suaminya. Ia merasa bersyukur sudah dibiasakan untuk membantu Ibu terjun ke dapur. Sehingga ia paham urusan bumbu dan memasak untuk porsi besar pun dia sudah tidak canggung lagi.


Tak butuh waktu lama ikan kloter terakhir matang. Julia membawa masuk ke ruang makan, sementara Septian memadamkan bara arang. Semua sudah berkumpul di meja makan dengan wajah sumringah tak sabar menikmati ikan bakar yang tampak fenomenal itu.


"Makan besar, makan besar!" Bapak tertawa sumringah.


Si Mbok mengambilkan sepiring nasi untuk Bapak, Julia juga melakukan hal yang sama untuk suaminya. Dengan membaca bismillah mereka menikmati rezeki yang tersaji.

__ADS_1


"Enak Mbak Jul, mantap!" Mbok Par mengangguk-angguk dengan mulut penuh mengunyah makanan.


"Makasih Mbok Par." Julia merasa tersanjung.


"Kalau tahu bakal selezat ini, harusnya kita undang Mbak sama Mas-mu makan siang disini ya Tian," ujar Si Mbok.


"Harusnya iya Mbok, biar mereka bisa nyicipin keahlian tangan tuan Puteri dari Sumatera," jawab Septian mengerlingkan mata menggoda Julia.


"Ah Mas ini!" Julia menundukkan kepala karena malu. 


Bapak tidak berkomentar apapun. Mulutnya sibuk mengunyah, tangan sibuk mencocol daging ikan ke sambel kecap. Sepiring nasi tandas dan beliau memberi kode pada si Mbok untuk tambah nasi sepiring lagi. Hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa masakan Julia memang nikmat. Sebentar saja empat ekor ikan gurame ukuran besar telah bersih tak bersisa. Bapak mengelus-elus perutnya yang kekenyangan dengan wajah puas.


Hati Julia dipenuhi dengan rasa hangat dan kebahagiaan. Ia merasa diterima dan diperlakukan baik oleh keluarga suaminya. Hasil didikan Ibu untuk terjun ke dapur membuahkan hasil. Ia meraih hati keluarga Septian dengan masakannya.


***


Usai makan siang, Bapak, si Mbok dan Septian pamit untuk beristirahat ke kamar. Sementara itu Julia membantu Mbok Par membereskan meja makan dan mencuci piring. Ia dan Mbok Par berbincang tentang banyak hal, termasuk kisah-kisah lucu Septian saat masih remaja.


"Bojomu itu, dari SMP sudah banyak yang naksir. Waktu SMA bahkan ada anak wedok nekat datang ke rumah ini untuk ngasih hadiah dan katakan cinta gitu lho Mbak. Tapi Septian nggak mau, dia kan orangnya lurus banget." Cerita Mbok Par terkekeh sambil mencuci piring.


Julia yang sedang membantu mengeringkan piring hanya tersenyum simpul. Dengan wajah tampan yang misterius bukan salah Septian kalau banyak gadis yang kecantol hatinya.


"Sebelum nikah sama Mbak Julia, Septian itu pernah dijodohkan sama anak kepala desa sini. Namanya Dian gadis paling cantik disini, masih muda banget. Baru masuk kuliah kalau nggak salah. Tapi entah kenapa kok Septian nggak mau, mungkin nggak masuk kriterianya. Padahal Mboknya Mas Septian sudah setuju. Tapi karena beliau orang yang demokratis, semua keputusan diserahkan pada Mas Tian."


Senyum Julia langsung lenyap mendengar kisah itu. Tangannya seketika berhenti mengelap piring. Mbok Par sadar kalau ia telah kelepasan menceritakan sesuatu yang bukan urusannya. Buru-buru ia menambah komentar untuk memperbaiki suasana.


"Tapi, Mbok bersyukur Septian menikah sama Mbak Julia. Kalian sepadan, apalagi Mbak terlihat sudah matang jiwa dan pemikirannya. Nggak kayak Mbak Dian itu. Manjaaaa, nggak ngerti kerjaan rumah tangga." Mbok Par memalingkan wajah dan menepuk mulutnya yang kelepasan.

__ADS_1


Julia tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar cerita itu. Ada rasa tidak suka mengganjal di hati. 


Apakah ia cemburu pada gadis yang tidak dikenalnya?


__ADS_2