
Tak selamanya mendung kelabu menaungi cahaya mentari. Karena setelahnya keindahan pelangi terlukis sempurna menjadi pelipur hati. Begitu juga dengan Julia, meski semangat hidupnya belum kembali seperti sedia kala. Ia sudah mulai menapaki hari dengan harapan dan rencana.
Septian kembali merangkul Julia untuk aktif di majelis taklim. Setiap hari Sabtu dan Minggu mereka rutinkan mengikuti pengajian di Pesantren Jamilurrahman. Meski mereka adalah orang awam yang tidak terlahir dari keluarga santri, namun Septian terus memacu Julia untuk tekun memperdalam ilmu agama. Sesuatu yang mempertemukan dan mengikat hati mereka.
"Kita hanyalah sepasang pendosa yang Allah tutupi aib-aibnya. Karena itu, kita harus bersemangat meraih keridhoan Allah lewat taman-taman surga." Ujar Septian menasihati Julia untuk kembali aktif pengajian.
"Betul Mas, kita sudah dilalaikan dengan urusan duniawi hingga tidak rutin ikut kajian. Mungkin musibah kemarin adalah sentilan lembut dari Allah agar kita kembali di jalan-Nya." Julia mengangguk setuju membenarkan suaminya.
Lokasi Pesantren Jamilurrahman yang berada di Gunung Kidul tidak menyurutkan semangat mereka berdua. Jarak satu setengah jam dari Bantul terlewati dengan singkat dan menyenangkan.
Momen berboncengan di motor berdua adalah hal yang paling disukai Julia. Mendekap pinggang Septian yang kokoh, dan menghirup aroma parfumnya adalah hiburan selama perjalanan. Perlahan dukanya karena kehilangan mulai tersembuhkan.
"Waktu berdua bersamamu, tidak akan pernah cukup." Batin Julia.
***
Sore ini pengajian ditiadakan karena Ustadz Kholid yang biasa mengisi kajian diutus untuk dauroh keluar kota. Sebagai gantinya Septian mengajak Julia jalan-jalan ke pantai Cemara Sewu. Agar mereka punya aktifitas bersama. Ia tak ingin Julia berdiam di rumah tanpa kegiatan.
Berdiam versi Julia adalah merenung di kamar dan diam-diam menangis menutupi wajah dengan bantal. Septian tahu pasti Julia hanya pura-pura tegar. Di hadapan orang dia bersikap biasa saja. Seakan musibah yang terjadi tidak meninggalkan bekas. Tapi jika ia sendiri, Julia akan larut dalam kesedihan.
Septian telah berusaha banyak cara agar keceriaan Julia kembali, tapi tampaknya hal itu butuh waktu.
Septian melakukan tugasnya untuk mendamaikan hati Julia, merangkulnya agar lebih banyak beribadah, mendekat pada Sang Pencipta. Termasuk meningkatkan kualitas waktu berdua, seperti saat ini … keluar dari rumah sejenak dan menikmati alam. Pacaran seperti anak muda versi halal.
"Aku pikir yang namanya pantai bakal selalu dikelilingi pohon kelapa. Ternyata disini yang kita jumpai malah pohon Cemara. Unik sekali."
Julia melompat girang meraih daun Cemara untuk dipetik. Ia menikmati suasana asri yang masih alami.
Septian tersenyum melihat kelakuan istrinya. Digandengnya tangan Julia menuju gazebo yang menghadap ke arah pantai.
"Duduk disini ya, aku ingin rehat sebentar."
Septian melepas sandalnya yang berpasir sebelum naik ke gazebo. Septian duduk di sudut gazebo sambil merenggangkan otot pinggangnya yang kaku setelah berkendara.
Julia mengikuti Septian duduk berhadapan. Julia menekuk lutut dan memeluknya sambil menikmati bunyi debur ombak yang tenang.
"Ibu-ibu di desa kita membicarakan aku." Ujar Julia mencurahkan isi hati, ia memainkan pinggiran khimarnya.
__ADS_1
"Lalu ... kamu peduli?" Septian mengangkat alis melirik ke wajah Julia yang oval sempurna terbingkai khimar ungu tua.
Gunjingan tentang Julia yang tak bisa hamil sudah menyebar dan menjadi rahasia umum di desa. Septian hanya bersikap bodo amat. Ia tak peduli dan tak perlu menjelaskan yang sebenarnya.
"Maunya sih tidak peduli. Tapi lama-lama gerah juga selalu dibicarakan."
Julia melepaskan napas berat, seakan ingin beban di dadanya turut terlontar keluar.
"Anggap saja angin lalu. Nanti mereka bakal capek sendiri." Jawab Septian datar, sebenarnya ia tidak suka mencampuri urusan wanita.
"Kalau cuma aku yang dibicarakan tidak masalah, tapi aku takut hati Si Mbok ikut terusik." Julia menunduk suaranya semakin lirih.
"Mbok itu hatinya sudah teruji dengan hal-hal seperti itu. Beliau tidak akan larut dengan gunjingan. Bersabarlah, semua akan baik-baik saja asal kamu tidak terpengaruh." Septian meyakinkan Julia.
"Aku ingin diterima di lingkungan kita, dianggap bagian dari warga sini. Bukan seorang pendatang." Julia melekatkan pandangannya pada Septian.
"Maksudnya?" Septian mengerutkan dahi.
"Aku ingin membuat sebuah usaha yang melibatkan Ibu-ibu di desa kita. Selain untuk meningkatkan ekonomi, juga sebagai wadah mengakrabkan diri dengan mereka secara positif. Ibu-ibu berkumpul untuk menjadi produktif, bukan bergosip." Jelas Julia.
"Itu bukan hal yang mudah lho. Susah merubah tabiat yang sudah mendarah daging." Suara Septian menyiratkan putus asa.
"Kamu mau buka usaha apa?" Mau tak mau Septian memasang telinga untuk ide Julia.
"Aku ingin punya gerai oleh-oleh khas desa kita. Lalu kita bisa merekrut wanita usia produktif sebagai penggeraknya. Bagaimana menurut Mas?"
Mata Julia membulat berbinar-binar, pipinya merona merah karena semangat memacu adrenalin menyebar mengisi setiap pembuluh darah. Ini adalah pemandangan yang Septian rindukan. Setelah berbulan-bulan Julia lebih banyak diam dan merenung terpenjara rasa kehilangan.
"Ide bagus …. " Septian mengangguk.
"Ya kan, ini ide bagus kan? Dengan usaha kecil yang kita rintis. Kita bisa memberi kontribusi di masyarakat. Dan mereka juga tidak memandang aku sebelah mata."
Julia menjentikkan ibu jari dan telunjuknya, bangga dengan ide yang menurutnya cemerlang.
Septian mengelus-elus jenggotnya untuk menghalau rasa ragu terhadap ide Julia. Ia sadar istrinya tidak punya latar belakang bisnis. Usaha obat herbal yang dikelola Julia sebelumnya bahkan tidak dilanjutkan pasca operasi. Julia beralasan ia terlalu lelah melayani customer secara online. Ia butuh istirahat untuk menenangkan diri.
Menurut Septian ide kali ini cukup gila dan beresiko gagal. Tapi bagaimana mungkin ia mematahkan semangat Julia yang baru saja muncul ke permukaan. Setelah lama terkubur gairah hidup Julia kembali. Septian tak akan sanggup menolaknya.
__ADS_1
"Sekarang, tugasmu pikirkan bagaimana alur usahanya. Aku akan membantu apa yang bisa kubantu. Aku akan ada di belakang layar. Kamu yang jadi Bos-nya." Jawab Septian mantap.
"Yeaaaay! Makasih Mas, aku akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh kali ini." Julia menghentakkan kaki berulang-ulang ke lantai. Ia sangat bahagia.
"Apapun akan ku lakukan asal binar dimatamu tidak lagi padam. Berapapun modal yang kau minta untuk usaha itu akan kuberikan!"
"Mau main air?" Tanya Septian memecah keheningan.
"Nggak mau, aku nggak bawa cadangan kaus kaki. Kita duduk-duduk santai sajalah." Tolak Julia memejamkan mata menikmati semilir angin sore.
Untuk kesekian kalinya Septian terpaku menatap wajah cantik Julia.
"Apapun untukmu wahai Juita …. " Bisik Septian dalam hati.
***
Matahari telah kembali ke peraduan, Septian mengajak Julia untuk sholat Maghrib di masjid sebelum pulang kerumah. Usai sholat ia menunggu Julia di parkiran motor. Ia memperhatikan area teras wanita, mencari-cari pujaan hati. Senyumnya tersungging saat melihat Julia keluar dari masjid.
Septian melambaikan tangan ke arah Julia agar mendekat ke arahnya.
"Lapar …. " Ujar Julia begitu sampai di depan Septian.
"Dasar!" Septian tertawa melihat wajah polos Julia.
"Habisnya tadi kamu nggak beli cemilan waktu di pantai. Waktu sholat perutku keroncongan, sampai terdengar lho. Jadi malu sama yang disebelahku. Sekarang tanggung jawab udah kasih aku makan angin!" Julia pura-pura merajuk.
"Iya maaf maaf. Kamu mau makan apa Juita-ku?" Goda Septian membujuk.
"Terserah." Julia mengangkat bahu.
"Lho kok terserah?" Jidat Septian berkerut.
"Iya apa ajalah yang menurut Mas enak. Kan kamu tahu aku nggak rewel soal makanan." Julia dengan santai duduk naik ke boncengan motor.
Septian termenung memikirkan menu apa yang bakal disukai istrinya.
"Sudah mikirnya? Ayo kita kemon!" Julia menepuk bahu Septian memberi perintah.
__ADS_1
Septian tersenyum, ada sebuah ide terlintas di kepala. Ia akan mengajak Julia mampir ke warung bakmi Jawa berkuah gurih favoritnya.
"Pegang yang erat jangan sampai lepas. Ayo kita kemon!" Ujar Septian terkekeh sambil menjalankan motornya.