
Flashback
Tok tok tok!
"Dian, buka pintunya Ibu mau bicara." Seru Bu Kades dari luar kamar.
"Apa sih Ibu ganggu aja!" Dian yang sedang fokus mengetik skripsinya berdecak kesal. Namun ia tetap melangkahkan kaki menuju pintu, memutar kunci pintu kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Dian masam di ambang pintu.
"Mukamu itu bisa nggak manis sedikit sama orang tua!" Sentak Bu Kades sambil menutup pintu dan kembali menguncinya.
Bu Kades mendaratkan bokongnya di tepi ranjang Dian mengeluarkan ponsel dari dalam saku.
"Abis Ibu tu ganggu aja, padahal tadi lagi serius. Sekarang buyar konsentrasiku!" Dian bersungut kembali duduk di meja belajarnya, berniat untuk meneruskan ketikan.
"Kamu bisa main Instagram?" Tanya Bu Kades.
"Bisa lah, hari gini masa nggak bisa. Kenapa?" Jawab Dian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Ada teman kamu yang punya Instagram dan butuh uang ngga?"
"Hmmmmm …. " Dian berfikir sejenak.
"Ada, si Nabilla. Dia nggak butuh uang sih, cuma matre aja. Dia bakal melakukan apapun untuk uang." Sahut Dian santai menilai rendah teman satu kelasnya
"Coba Ibu lihat Instagramnya." Pinta Bu Kades.
"Bisa nanti aja nggak Bu. Aku lagi fokus nih." Ucap Dian geregetan.
"Bantuin Ibu sekali ini saja! Ibu lebih penting daripada skripsi. Kamu nggak bakalan mati kalau skripsi nggak selesai. Bayar aja orang buat ngerjain skripsimu. Gitu aja kok repot!" Sergah Bu Kades memaksa.
Dian geleng-geleng kepala melihat sifat Ibunya yang absurd. Ia mengambil ponselnya dan membuka akun Instagram milik Nabilla. Ia mendekati Bu Kades, ikut duduk di ranjang.
"Nih orangnya!" Dian menunjukkan akun Nabilla.
"Banyak juga pengikutnya ya. Bilang sama dia Ibu mau kirim kue. Tapi dia harus posting di Instagram kalau kue itu dia yang beli. Cepat telepon dia sekarang. Kasih tahu juga nanti Ibu kasih uang sejuta kalau dia setuju." Ujar Bu Kades dengan mata berkilat riang.
"Kenapa Ibu suruh dia bohong dan pake kasih uang segala. Mending aku aja yang posting, duitnya buat aku!" Sungut Dian menadahkan tangannya tanda meminta uang.
"Bodoh. Kamu nggak bakal paham. Cepat telpon dia, tanyakan!" Bu Kades melotot kesal.
"Ya gimana aku paham kalau Ibu nggak jelaskan. Main nyuruh-nyuruh saja. Dasar otoriter kayak kompeni!"
"Anak ini! Nanti Ibu kasih tahu setelah temanmu setuju. Ibu janji." Desak Bu Kades.
Dian menatap mata tua Ibunya yang penuh kesungguhan. Mau tak mau dicarinya nomor kontak Nabilla dan melakukan panggilan. Ia menunggu beberapa detik hingga panggilannya diangkat.
"Halo, Na … ini aku Dian." Sapa Dian riang.
__ADS_1
"Iya halo, tumben nelpon. Skripsimu sudah sampai mana?" Sahut Nabilla tak kalah ceria.
"Baru pertengahan bab dua. Iya ini aku nelpon karena Ibu aku ada perlu dikit … butuh bantuan kamu. Bisa nggak ya?" Jawab Dian dengan suara lunak agar Nabilla mau membantu.
"Perlu bantuan apa tu? Kasih tahu dulu dong …. " Ujar Nabilla.
"Ibu mau kirim kue ke kost-mu. Tapi nanti kamu posting ke Instagram ya, terus bikin caption seolah-olah kamu yang beli. Nanti Ibu kasih uang jajan lah buat kamu." Bujuk Dian.
"Ih mau mau!" Sahut Nabilla tanpa pikir panjang.
"Ya udah kirim alamat kost dan nomor rekeningmu sekarang ya. Ke WhatsApp-ku aja." Ucap Dian.
"Siaaap, makasih ya Yan. Bilang sama Ibu kamu ngerti banget anak kost butuh duit hahahaha." Sahut Nabilla tergelak.
"Iya aku nanti sampaikan, makasih juga udah mau nolongin. Bye." Ucap Dian menutup panggilan.
"Sama-sama Yan. Bye."
Dian meletakkan ponsel pangkuan, ia mendesah berat menatap Ibunya yang tersenyum puas.
"Jadi sekarang ceritakan sama Dian. Untuk apa Ibu kayak gini." Dian menuntut.
Bu Kades melengos membuang muka, matanya menerawang ke satu sudut kamar.
"Ibu mau ngusir Julia dari desa kita. Ibu mau hancurkan reputasi dia. Ibu mau buat Julia nggak punya muka lagi berhadapan dengan keluarga Septian dan warga desa. Ibu sudah eneg melihat wajahnya yang sok baik dicintai semua orang." Kalimat itu meluncur ringan dari lisan Bu Kades.
"Ya Allah Bu … Jahat banget." Dian menutup mulutnya terkejut dengan niat tercela Ibunya.
"Tapi Dian nggak pernah kepikiran untuk menghancurkan nama baik orang. Mbak Julia memang baik kok Bu, buktinya dia menutupi kesalahan Dian tempo hari." Dian berusaha membuat Ibunya berubah pikiran.
"Tuh kan ... kamu ingat pernah mau ngajak Septian main gila kan. Pakai kirim kolor singlet segala. Memangnya kamu pantas disebut baik? Sekarang lebih baik kamu pura-pura nggak tahu dan biarkan Ibu selesaikan urusan dengan Julia." Ucap Bu Kades geram.
"Aku nggak mau terseret kalau Ibu kena masalah." Dian membuang muka, benci sekali rasanya melihat wajah Ibunya.
"Kalaupun Ibu kena masalah, Ibu tidak akan libatkan kamu. Ibu cuma ingin hidup kita kembali seperti dulu sebelum dia ada disini."
"Hidup kita baik-baik saja Bu. Kita yang ngusik dia!" Suara Dian meninggi.
"Dia mengambil perhatian warga desa. Harusnya kita yang dihargai, kita yang dihormati. Harusnya kamu yang jadi istri Septian!" Ucap Bu Kades terengah-engah.
"Kadang Dian nggak ngerti sama cara berpikir Ibu." Dian menatap Ibunya dengan ekspresi jijik.
"Karena kamu bodoh, makanya otakmu nggak pernah bisa mencerna situasi!" Lontar Bu Kades pedas.
Dian terdiam, kata-kata Ibunya meruntuhkan rasa percaya diri. Mentalnya jatuh berkeping-keping. Ia menekuri lantai, hatinya meronta untuk menggagalkan rencana jahat Ibunya. Tapi ia tidak punya nyali melawan.
Drrrt drrrt drrrt!
Sebuah pesan masuk dari Nabilla.
__ADS_1
"Ini nomor rekening dan alamat Nabilla." Dian menyodorkan ponselnya.
"Kirim ke Ibu. Biar Ibu selesaikan urusan dengan Nabilla." Titah Bu Kades.
Dian memforward chat dari Nabilla ke Ibunya. Setelah diterima, Bu Kades lantas keluar dari kamar Dian tanpa mengucapkan apapun lagi.
Dian menatap punggung Ibunya yang berlalu. Ia tak punya pilihan selain ikut dalam permainan.
"Ini yang kutakutkan, pelan namun pasti aku akan menjadi jahat sepertimu …. " Air mata Dian menetes.
***
Bu Kades menghidupkan mobilnya menuju ke sebuah ekspedisi kiriman kilat untuk mengirimkan paket kue pada Nabilla. Setelah itu ia menuju ke ATM terdekat untuk mentransfer uang. Setelah urusan selesai Bu Kades kembali pulang kerumah.
Menjelang malam Nabilla memberitahu Dian bahwa kiriman paket telah sampai. Dian memberi instruksi pada Nabilla apa yang harus dilakukan lewat chat.
"Hiyyyy kuenya ada cicak mati Yan. Jijik banget hueeeekkk!"
Nabilla mengirimkan foto kue dengan bangkai cicak yang telah terbelah dua.
"Foto yang banyak dari berbagai sudut, biar jelas." Perintah Dian.
"Udah!"
"Post di IG sekarang, tag nama tokonya dan akun-akun selebgram biar viral. Bilang kamu beli disitu dan kecewa. Pokoknya kamu marah dan komplain. Pinter-pinter kamu lah ngarang!" Balas Dian panjang lebar.
Dian menunggu balasan dari Nabilla, ia mengetuk-ngetuk jarinya cemas. Menit demi menit berjalan terasa lama.
"Udah aku post di IG-ku, sudah banyak yang nge-repost di story mereka. Aku nggak tahu maksud kamu dan Ibumu ke toko mereka apa. Tapi sekarang aku merasa bersalah." Tulis Nabilla dalam chatnya.
"Nggak perlu merasa bersalah, itu memang fakta kalau toko mereka nggak bersih. Justru kamu mengedukasi masyarakat, mengungkap kebenaran." Hibur Dian bersilat lidah.
"Kenapa nggak kamu aja yang posting sendiri. Kenapa harus aku?" Tanya Nabilla.
"Yang punya toko masih keluargaku. Takutnya mereka pikir kami mau jatuhkan reputasi mereka. Kamu kan dari awal udah setuju mau bantu Ibuku." Dian berbohong dan mengingatkan Nabilla.
"Ooh gitu. Baiklah aku ngerti. Lagian duitnya udah aku terima. Thanks." Balas Nabilla.
"Sama-sama. Ohya aku punya video bukti kalau toko mereka mempekerjakan orang yang sakit TBC disana. Bahaya banget kalau sampai menular kemana-mana." Pancing Dian melempar perangkap.
"Masa? Sumpah jahat banget tu toko. Kirimkan ke aku videonya biar aku sebar. Biar tu toko ditutup sekalian!"
Nabilla mengetik dengan perasaan berapi-api. Ia merasa sebagai pahlawan. Sejatinya ia adalah tumbal fitnah Bu Kades.
"Sudah aku kirim. Terima kasih banyak sudah bantu aku. Kamu temanku yang paling baik, paling bisa diandalkan." Balas Dian bermanis kata.
"No problem. Kita harus ambil bagian dalam mengungkap kejahatan Yan."
Balasan dari Nabilla membuat Dian tergelak miris.
__ADS_1
"Kamilah orang jahatnya teman … kamu yang terlalu polos."