
Tak perlu waktu lama bagi Riska untuk membuat janji bertemu dengan Nabilla -- gadis yang menyebarkan berita tentang kue berisi cicak dari toko milik Septian dan Julia. Kelemahan Nabilla terhadap uang membuatnya sangat mudah terbujuk. Iming-iming uang ganti rugi sekaligus permintaan maaf dari toko atas insiden itu membuatnya setuju untuk bertemu dengan Septian, sang owner.
Dalam kamus Nabilla tak akan pernah ada kata loyal atau kesetiaan. Ia hanya akan menurut pada siapa yang akan memberinya lebih banyak uang.
Riska dan Septian menunggu Nabilla datang ke sebuah restoran yang berlokasi di sebuah hotel bintang lima. Sengaja mereka memberi perlakuan spesial agar Nabilla lebih mudah membuka mulutnya.
Drrrt drrrrt drrrrt.
Ponsel di genggaman Riska bergetar tanda panggilan masuk.
"Ya halo, Nabilla? Sudah sampai mana? … Oh, oke saya sudah disini. Di meja nomor sembilan ya." Jawab Riska tanpa basa-basi.
Septian mengelus jenggotnya untuk meredakan gelisah dan amarah. Rasanya ia ingin sekali segera memuntahkan kekesalannya. Karena fitnah Nabilla, ia harus mengalami prahara dan kerumitan dalam biduk rumah tangganya.
Riska melirik sekilas air wajah sepupunya yang meradang. Tampak jelas Septian berusaha mengontrol emosinya. Rahang yang mengeras, serat pembuluh darah yang menyembul dari kulit keningnya.
"Sabar ya Mas Tian. Tolong tetap waras. Jangan kalah dengan emosi, apalagi sampai mencak-mencak." Bisik Riska saat melihat sosok seorang gadis muda berjalan ke arah mereka.
"Kamu pikir aku anak-anak, marah nggak lihat tempat." Dengus Septian. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah gadis manis dengan dress biru dongker selutut yang telah berdiri dihadapannya.
"Hai, saya Nabilla." Ujar gadis itu melempar senyum manis, matanya bulat dan cemerlang seakan tak berbuat dosa.
"Hai Mba, Saya Riska dan ini Pak Septian owner gerai oleh-oleh Mbak Jul." Sambut Riska dengan gesture mempersilahkan Nabilla untuk duduk.
Nabilla mengangguk kecil sebagai tanda penghormatan pada Septian. Ia menyandarkan punggungnya santai ke kursi yang berhadapan dengan mereka.
"Sudah makan siang Mbak?" Tanya Septian berusaha ramah.
"Belum." Nabilla menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Silahkan pesan apapun yang Mbak mau. Jangan sungkan." Balas Septian sopan.
"Terima kasih." Sahut Nabilla sambil mengambil buku menu di hadapannya dengan semangat. Ia memanggil waiter untuk memesan rib eye steak dan tom yum seafood.
Riska menaikkan alisnya melihat pemandangan itu, untuk tubuh yang kecil nafsu makan Nabilla cukup besar.
"Mumpung dibayarin, saya boleh pesan apa saja kan?" Ujar Nabilla tanpa ragu seakan menjawab tatapan Riska.
"Silahkan Mbak. Tidak apa-apa." Riska melempar senyum canggung.
Mereka makan siang dalam kecanggungan. Riska sesekali menanyakan hal sepele pada Nabilla agar keadaan tidak terlalu kaku. Septian berusaha membaca situasi agar tidak terlalu terburu-buru untuk ke topik utama. Usai makan siang dan Nabilla tampak puas kekenyangan barulah Septian melancarkan misinya. Menguak kebenaran.
"Sebelumnya saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang Mbak alami. Saya yakin itu adalah pengalaman kuliner yang sangat menjijikkan sekali, menyantap kue yang berisi bangkai cicak. Membayangkan saja sudah membuat saya mual." Ucap Septian membuka percakapan.
"Untungnya saya belum sempat memakannya. Tuhan melindungi saya dari kejadian menjijikkan itu. Saya harap kedepannya toko Bapak lebih berhati-hati. Jadi bagaimana dengan kelanjutannya bisnis Bapak? Saya dengar toko Bapak tutup setelah kejadian itu. Dan saya yakin itu bukan salah saya. Karena sebagai konsumen saya berada di pihak yang dirugikan." Sahut Nabilla santai sambil memasang senyum di wajah polosnya.
Septian tersenyum getir. Gadis muda dihadapannya itu lihai berkata-kata dan memanipulasi keadaan. Sungguh gadis yang licik.
Senyum Nabilla memudar, wajahnya berubah seputih kapas. Riska bersiap merekam percakapan mereka dengan ponselnya yang ia sembunyikan di bawah meja.
"Sebenarnya apa hubungan kamu dengan Bu Kades. Kenapa bisa kue bangkai cicak yang ia buat bisa sampai ke kamu. Dan alih-alih menghubungi kami secara langsung untuk pertanggungjawaban, kenapa kamu malah memposting kejadian itu di sosial media? Apa maksud dan tujuan kamu?" Tanya Septian lembut namun tajam.
"Sungguh saya tidak tahu apa maksud dan tujuan Dian dan Ibunya meminta saya melakukan itu. Dian dan saya adalah teman satu kampus. Saya hanya dapat kiriman kue itu dari mereka. Dan saya dibayar untuk posting kejadian menjijikkan itu di sosial media." Nabilla panik menjelaskan.
"Jadi benar kalau kamu melakukan ini atas suruhan Dian dan Ibunya?" Riska menekankan sekali lagi, ia butuh pernyataan dari Nabilla sebagai bukti yang tak terbantahkan.
Nabilla menunduk gelisah, untuk sesaat bergeming.
"Iya, mereka yang membuat saya melakukan itu." Ujarnya pelan.
__ADS_1
"Kenapa kamu mau melakukan itu? Apa kamu tidak merasa perintah mereka pada kamu itu amat janggal?" Lontar Septian tak habis pikir.
"Saya butuh uang dan saya pikir itu hanya masalah sepele. Tidak tahu buntutnya akan sepanjang ini. Lalu sekarang apa? Kalian mau menuntut saya? Kalian salah orang! Tuntut Dian dan Ibunya!" Sergah Nabilla.
"Jujur saya tidak suka mempersulit keadaan dan memperpanjang urusan ini. Kamu masih muda, sayang sekali kalau rekam jejakmu tercoreng catatan kriminal. Asal kamu tahu tindakan kamu itu melanggar hukum, kamu bisa dipidana karena pasal fitnah dan pencemaran nama baik. Kasihan sekali orang tua dan masa depanmu, bisa-bisa kamu kesulitan mencari kerja. Saya hanya butuh pengakuan jujur dari kamu, dan itu sudah saya dapatkan." Septian menatap Nabilla yang masih menunduk dengan sorot mata prihatin.
"Baiklah saya bersyukur Bapak tidak mempersulit keadaan saya. Sebelum Bapak berubah pikiran, saya permisi dulu. Terima kasih atas traktiran Bapak." Nabilla bangkit dari kursinya. Ia merasa takut sekaligus malu berada di hadapan Septian. Seakan-akan tatapan pria itu menguliti dirinya.
"Hiduplah dengan jujur, kamu masih muda. Nurani-mu masih bersih, jangan mudah tergiur dengan uang yang didapat dengan mudah. Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini." Pesan Septian sambil meletakkan amplop putih diatas meja.
"Apa maksud Bapak dengan amplop itu?" Tanya Nabilla bingung.
"Ini untuk ongkos kamu pulang, atau sekedar uang jajan karena telah meluangkan waktu untuk menyampaikan kejujuran pada saya." Ucap Septian lembut.
"Tidak perlu." Nabilla menggelengkan kepalanya.
"Terimalah, ini bukan uang tutup mulut. Saya ikhlas."
"Baiklah kalau Bapak memaksa. Terima kasih." Nabilla menyambar amplop putih itu dan memasukkannya ke dalam tas cangklongnya. Ia tak berbasa-basi sebelum meninggalkan Septian dan Riska. Ia terlalu malu untuk berpamitan dengan mereka. Ia berharap ini adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan pria berkharisma itu.
Riska berdecak menggelengkan kepala melihat tingkah Nabilla.
"Bener-bener nggak punya attitude anak itu. Apa Dian kayak begitu juga tingkahnya Mas?"
"Lebih parah dari itu." Sahut Septian datar.
"Wow!" Riska terbelalak.
"Bersiaplah Ris, setelah ini kita ke rumah Bu Kades. Masalah ini akan diselesaikan hari ini juga. Pengakuan Nabilla tadi sudah kamu rekam kan?"
__ADS_1
"Sudah Mas, aman!"
"Kita berangkat sekarang." Septian bangkit meraih kunci mobilnya.